
Zidane terus menggenggam tangan Lauren. Bercerita mulai dari pertama mereka bertemu sampai bersahabat. Sedangkan Keyra hanya melihat kejadian itu di sofa belakang Zidane.
"Udah kayak obat nyamuk aja gue." miris Keyra pada dirinya. Eits, nggak boleh gitu batin Keyra.
"Zidane, ini udah malam loh. Kamu tidur aja, biar aku yang ganti jaga Lauren." ucap Keyra bermaksud membantu Zidane yang sebenarnya terlihat lelah.
"Nggak, Ra. Aku aja yang jagain Lauren. Kamu tidur aja." tolak Zidane.
Keyra menghembuskan nafas gusar. Membiarkan Zidane dengan kegiatannya. Tapi itu malah membuatnya cemburu.
"Zidane, kamu mau nitip nggak? Aku mau ke kantin nih." tawar Keyra, tapi Zidane membalasnya dengan menggelengkan kepalanya.
Akhirnya Keyra memilih keluar dari ruangan tersebut untuk membeli makanan. Kasihan perutnya yang dari tadi sudah menahan lapar.
"Dasar ngeselin! Udah lupa apa kalau dia punya istri?!" Keyra berjalan menuju kantin sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bunda, Keyra cemburu nih. Sakit banget rasanya. Tapi Keyra bisa apa. Lauren juga hal penting di hidup Zidane." rengek Keyra dengan suara yang pelan dan gaya seperti anak kecil yang meminta permen.
Sampai di kantin, ia pun langsung memesan nasi goreng juga es jeruk, paket komplit favoritnya. Tak lama pesanannya pun jadi dan langsung ia santap.
Saat akan memasukkan suapan yang ketiga Keya merasa sesuatu yang tidak enak. Seperti ada seseorang yang mengawasinya dari tadi.
Keyra menengok ke belakang. "Nggak ada siapa-siapa. Cuman gue sama 3 suster yang lagi makan." gumamnya lalu melanjutkan makanannya.
"Wait. Ini jam berapa ya?" Keyra melihat jam yang ada di benda pipihnya.
Keyra menutup mulutnya karena terkejut. "Jam dua belas malam." ucapnya pelan.
"*****, merinding gue." Keyra buru-buru menghabiskan makanan juga minumannya. Lalu bergegas pergi dari sana.
"Jangan-jangan salah satu suster itu adalah suster ngesot." Mulai halu nih.
"Be*o lo, Ra. Mana ada jaman sekarang suster ngesot. Tapi gue jadi parno gini." Keyra terus melangkahkan kakinya dengan terburu-buru.
"Sial, kok gue lupa kamarnya yang mana ya? Masak iya gue buka satu-persatu kamar. Yang ada entar gue di kira mau maling lagi. Tanya Zidane aja deh."
Keyra mengeluarkan HPnya dari dalam saku seragamnya. Lihat. Dia bahkan belum ganti baju. "Wah wah wah, hebat sekali. Udah lupa ruangan, HP malah mati. Benar-benar double sial gue."
Keyra melangkahkan kakinya menuju resepsionis. "Mbak pasien atas nama Lauren Mazinda di kamar mana ya?" tanya Keyra. Bagaimana bisa ia menghafal nama orangnya bukan kamarnya.
Ya begini nih kalau sudah du penuhi api cemburu, selalu ingat nana orangnya.
"Di kamar lavender nomor dua puluh, mbak." jawab sang petugas resepsionis.
"Okey, mbak. Terimakasih." Keyra mengakhirinya dengan tersenyum. Ia pu melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Lauren.
"Kok kayak ada yang ngikutin gue ya?" Keyra berhenti lalu menengok ke belakang.
"Nggak ada siapa-siapa. Mungkin halusinasi gue aja." Ia meneruskan langkahnya lagi.
Tapi perasaan tidak enak kembali muncul. "Hola halo, apa ada orang?" tanya Keyra pada udara yang melayang.
"Bodo amat." Berusaha tidak peduli. "Tapi kalau beneran ada suster ngesot gimana? Huaaa, takuuut." Karena terlalu berpikir yang aneh-aneh Keyra samapai tidak tahu bahwa di depannya ada orang.
Bruuuuk.
Dahi Keyra membentur dada bidang seorang laki-laki. Laki-laki itu memakai celana panjang hitam, hoodie hitam, kacamata hitam, serta memakai tudung hoodienya, menunduk menatap Keyra.
Keyra menutup mulutya lagi karena terkejut. Meskipun orang itu sedang menatapnya, tetapi Keyra tidak bisa mengenali laki-laki tersebut meski hanya melalui bibir.
"Lo yang ngikutin gue dari tadi ya? Ngaku lo!" ucap Keyra pelan. Laki-laki tersebut tak menjawabnya.
"Lo mata-matain gue ya? Atau jangan-jangan lo hantu yang naksir gue lagi. Ah tapi masak sih hantu?" Laki-laki tersebut meniup wajah Keyra.
"Kok bau mulut lo mint ya? Tunggu sebentar. Kok udaranya jadi dingin banget. Bulu kuduk gue berdiri semua lagi. Itu berarti, lo.. lo.. hantu. Iya, lo hantu." Keyra masih belum menyedari ucapannya.
"Hantu?" Berpikir sejenak.
"Haaantuuuuu." Keyra berlari meninggalkan laki-laki tersebut dengan kening yang berkerut.
__ADS_1
Ia terkekeh. "Cewek aneh! Tapi menggemaskan." ucap laki-laki tersebut kemudian pergi berlalu.
Sampai di depan ruang rawat Lauren, Keyra langsung masuk tanpa babibu. Menutup pintunya lalu menguncinya. Nafasnya masih memburu.
"Kamu kenapa?" tanya Zidane bingung.
"Zidane, ayo pergi! Jangak kesini lagi! Disini banyak hant, Zidane." rengek Keyra di depan Zidane.
Bukannya berbelas kasihan, Zidane malah tertawa. "Kok kamu malah ketawain aku sih?" kesal Keyra.
"Kamu tuh mengada-ada ya. Mana ada hantu disini." Zidane masih tertawa.
"Iiiih, aku beneran tau. Masak tadi pas mau kesini aku nabrak hantu. Dan lihat kening aku jadi sakit." Keyra memajukan bibirnya, seperti orang yang akan menangis.
"Itu berarti dia bukan hantu, Ra. Kalau emang hantu, dahi kamu nggak bakal sakit." Zidane mengusap-usap dahi Keyra. Meniupnya agar bisa sembuh.
"Zidane." panggil Keyra.
"Aku say-" ucapan Keyra terjeda saat Zidane merasakan jari-jari Lauren bergerak lalu bibir yang memanggil-manggil namanya.
"Zidane." panggil Lauren dengan suara yang parau.
"Iya, Re? Gue disini." Zidane menggenggam erat tangan Lauren.
"Air. Air, Zidane." Zidane langsung mengambilkan air untuk Lauren, lalu menbantnya minum.
"Pelan-pelan." ucap Zidane. Setelah membantu Lauren minum, Zidane pun memencet tombol di samping ranjang Lauren untuk memanggil dokter.
Tak lama seorang dokter dan seorang suster datang. Dokter tersebut bernama Palo. Orang yang selama ini di percaya Zidane untuk mengawasi perkembangan Lauren.
Dokter tersebut mengecek Lauren. "Keadaan Nona Lauren mulai membaik. Ini sebuah keajaiban dari Tuhan. Kebanyak orang yang memiliki riwayat penyakit jantung lalu koma maka setelah itu dia akan meninggal. Tapi Nona Lauren bisa melewati ini semua. Saya sarankan, jangan membuat Nona Lauren terkejut mendengarkan kabar-kabar buruk. Dan jangan sampai Nona Lauren kembali depresi lagi, karena itu akan mempengaruhi kesehatan Nona Lauren" ucap Dokter Palo.
"Baik, dok." balas Zidane.
"Baiklah, sementara waktu Nona Lauren akan di rawat disini. Jika keadaannya memang sudah sepenuhnya pulih, maka dia bisa di pulangkan." sambung Dokter Palo.
"Baik, terimakasih, sus." Suster itu menganggukkan kepalanya kemudian pamit pergi.
"Suster, tunggu dulu." henti Keyra.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya suster tersebut.
"Emmm, saya mau tanya nih, sus. Tapi suster jangan marah ya?"
"Iya, memangnya ada apa?" tanya suster bingung.
"Suster bukan suster ngesot kan?" tanya Keyra dengan polosnya.
Suster itu terkekeh. "Mbak ini apa sih? Saya kan masih hidup. Lihat nama saya nih, Diana." tunjuk Suster Diana pada pin namanya.
"Lagian jaman sekarang mana ada suster ngesot sih, mbak." sambungnya yang masih tak habis pikir dengan pertanyaan orang di depannya ini.
"Ya kan barangkali gitu, sus. Yaudah deh kalau gitu, suster boleh pergi. Sana! Pergi!" Suter Diana pun pergi meninggalkan ruangan itu.
Kok gue serasa ngusir susternya ya. Ah, jadi merasa bersalah. Minta maaf deh kalau gitu pikir Keyra.
"Suster Diana" panggip Keyra, Suster Diana pun menghentikan langkahnya.
"Iya, ada yang bisa di bantu?" tanya Suster Diana.
"Eee, saya mau minta maaf, sus. Soalnya tadi saya kayak ngusir Suster Diana gitu" ucap Keyra meminta maaf.
"Hahaha, nggakpapa, mbak. Saya sudah mengerti kok." ucap Suster Diana.
"Suster yang nggakpapa, tapi saya merasa nggak enak" balas Keyra.
"Sudahlah, mbak. Lupain aja! Oh iya, saya mau kasih tau mbak.." ucapan Suster Diana menggantung karena dia tidak tau nama Keyra.
"Panggil Keyra aja, sus."
__ADS_1
"Okey. Jadi Mbak Keyra, disini tuh kalau tengah malam kayak gini, suka ada yang misterius" bisik Suster Diana.
"Misterius gimana, sus?" tanya Keyra bingung.
"Ya gitu lah, mbak."
"Maksudnya suster itu, misterius kayak ada orang yang pakai pakaian hitam semua gitu?" tebak Keyra.
"Bisa jadi tuh, mbak."
"Wah, tadi aku nggak sengaja ketemu sama orang itu loh, sus."
Suster Diana membulatkan mulutnya terkejut. "Masak sih, mbak?" Keyra mengangguk.
"Wah, hati-hati ya mbak, kalau udah ketemu dia."
"Emangnya kenapa, sus?" tanya Keyra penasaran.
"Biasanya itu, orang yang udah ketemu dia, si pakaian serba hitam maksudnya, suka dengar orang yang nangis-nangis sendiri terus minta tolong gitu, mbak."
"Ah suster ini, jangan nakut-nakutin Keyra dong" ucap Keyra.
"Lihat nih, bulu kuduk Keyra jadi berdiri semua." Keyra memperlihatkan bulu-bulu yang ada di tangannya.
"Kalau udah kayak gitu, mendingan Mbak Keyra di kamar aja terus. Jangan keluar! Nanti ada yang ngikutin loh." ucap Suster Diana.
"Oke oke, sus. Yaudah, aku masuk dulu ya, sus. Makasiu atas informasinya. Suster juga hati-hati, entar Suster Diana di samperin saka orang hitam itu" ucap Keyra.
"Kalau saya sudah terbias, mbak" ucap Suster Diana.
"Ouh gitu. Yaudah saya balik dulu ya, sus. Bye." Keyra balik ke ruang rawat Lauren.
Sampai di ruang rawat Lauren, Keyra menutup pintunya dengan sedikit keras dengan jantung yang berdegup kencang karena ketakutan. Keringatnya sudah seperti orang yang lari maraton.
"Kamu kenapa, Ra?" Tanya Zidane bingung dengan sikap Keyra.
"Zidane, Lauren di pindah yuk rumah sakitnya. Disini banyak hantunya. Aku takut" ucap Keyra.
"Kamu apa-apaan sih? Jaman sekarang mana ada hantu?" Zidane bingung sendiri dengan Keyra.
"Ih ada tau, tadi kata Suster Diana loh ada" kekeuh Keyra.
"Terus kamu percaya?" Keyra menganggukkan kepalanya.
"Hahaha, Suster Diana tuh cuman nakut-nakutin kamu" balas Zidane.
"Masak sih?" gumam Keyra.
"Ehm" dehem Lauren karena merasa di abaikan.
Keyra tersadar, kemudian mengahampiri Lauren dengan senyum manisnya.
"Lauren, Keyra ini is-" ucapan Zidane terpotong karena sudah di dahului oleh Keyra.
"Gue temennya Zidane." Keyra mengulurkan tangannya bermakasud berjabat tangan seperti orang yang berkenalan.
"Ouh. Gue Lauren, sahabatnya Zidane. Mungkin sebentar lagi juga jadi pacar." balas Lauren dengan senyum manisnya.
Keyra melepaskan tangannya. "Ouh gitu. Yaudah, gue pulang dulu ya." Pamit Keyra.
"Eh jangan! Ini udah malam loh, mending lo nginep disini aja. Bahaya kalau malam-malam gini cewek pulang sendirian." Keyra menyetujui ucapan Lauren.
Nggak asik ih, masak gue udah kayak obat nyamuknya mereka gerutu Keyra dalam hati.
"Mana Zidane diam aja. Awas aja kalau tuh cewek sampai demen ama Zidane, gue mutilasi!" gumam Keyra sambil meninju-ninjukan tangannya di udara seperti orang yang kesal.
"Kamu ngapain, Ra?" tanya Zidanen dengan wajah tanpa dosanya.
Keyra membalikkan dirinya. "Eh, nggak kok. Nggak ngapa-ngapain." Keyra tersenyum kikuk karena tertangkap basah seperti orang gila.
__ADS_1