
Jam dinding menunjukkan pukul 04.30 pagi. Keyra bangun dari tidurnya Berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Setelah dari kamar mandi, ia membangunkan Zidane untuk melakasanakan sholat subuh secara berjamaah.
"Dan. Zidane. Bangun!" Keyra menggoyang-goyangkan tubuh Zidane.
"Hem?"
"Cepetan wudlu sana, habis itu sholat subuh."
"Hem" Zidane duduk sebentar agar kepalanya tidak pusing. Lalu menyibakkan selimut dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu.
30 menit kemudian. Keduanya telah selesai sholat subuh berjamaah. Keyra juga sudah selesai mandi. Sekarang ia berada di dapur menyiapkan sarapan pagi. Untung bunda-nya kemarin membawakan roti tawar 1 pak beserta selainya. Jadi bisa untuk mengganjal perut saja
"ZIIIDAAAAANE" teriak Keyra dari lantai bawah.
"Apaan sih, ra?! Pagi-pagi udah teriak-tetiak! Kasihan tetangga kita, entar kaca jendela rumahnya jadi pecah semua!" ucap Zidane sambil menuruni anak tangga, menghampiri Keyra yang sedang berdiri di depan kulkas 2 pintu.
"Ini kenapa bisa nggak ada bahan-bahan makanan sih?! Punya kulkas tapi nggak ada isinya!" omel Keyra.
"Lo tuh bawel banget ya! Bisa-bisa gue sumpel tuh mulut pake kaos kaki!"
"Jawab pertanyaan gue dulu!"
"Hem. Kemarin kan kita sibuk, mana sempat beli bahan-bahan makanan." jelas Zidane pelan.
Tampak Keyra yang sesang berpikie. "Benar juga ya! **** amat sih gue!" cercanya pada diri sendiri.
Zidane memutar bola matanya, berbalik untuk menonton televisi. "Baru nyadar kalo dia itu emang ****." gumamnya.
"Gue denger lho ya!" peringat Keyra. Kerya kemudian kembali ke kamar untuk mengambil roti tawar beserta selainya, setelah itu kembali ke dapur lagi untuk membuat 1 piring sarapan pagi untuk dirinya sendiri. Masa bodo sama Zidane yang kelaparan.
Keyra duduk menonton tv sambil membawa sepiring sarapan pagi. "Buat gue mana?" tanya Zidane.
"Masih punya 2 kaki sama 2 tangan kan?" tanya Keyra balik.
Diam. Zidane tak berniat membalas pertanyaan Keyra yang membuat dirinya merasa kesal sendiri.
"Nanti anterin gue beli bahan-bahan makanan ya?" pinta Keyra setelah selesai mencuci piring dan berdiri di samping Zidane.
"Hem." Keyra kembali ke kamar. Meninggalkan Zidane yang masih menonton tv di bawah.
Keyra mengambil hp-nya. Membalas pesan dari temannya yang menanyakan keberadaanya kemarin dan menanyakam alasan ia tidak masuk sekolah.
Setelag selesai berkutat dengan hp-nya, Keyra berjalan menuju ruang pintu sebuah ruangan yang ada di dalam kamar tersebut.
Betapa terkejutnya ia saat pintu itu sudah terbuka. "Buset. Ini beneran perpustakaan mini? Aaaaaaa, jadi suka deh! Bakal betah gue tinggal disini kalo ada perpus mininya." Seperti menemukan ide baru, ia menjentikkan jarinya, kembali ke kamar lagi. Membuka kopernya, memgambil semua novelnya, lalu kembali ke perpus mini lagi untuk menaruh novel tersebut di rak-rak yang telah tersedia.
Keyra tersenyum. Entah karena apa dia tersenyum, intinya dia ingin tersenyum ketika ia melihat perpus mini berada di dalam rumah. “Aaaaaaaa, seneng baangeeet! Nggak nyangka kalau disini bakal ada perpustakaannya! Pokoknya seneng banget!” Segitu bahagianya ya Ra?
__ADS_1
Keyra berjalan sambil melihat-lihat buku-buku yang tertata rapi dalam rak. Langkahnya terhenti ketika matanya tak sengaja menemukan sebuah buku ber-cover hitam polos yang tergeletak di samping deret buku terjemahan.
Tangannya terulur untuk mengambil buku tersebut. Dahinya mengernyit membaca judul yang tertera pada cover tersebut. Tidak mungkin kalau ini milik Zidane. Dia kan laki-laki, sedangkan buku ini kebanyakan dimiliki oleh perempuan. Jari-jari tangannya sempat membuka, namun terhenti karena cekalan tangan Zidane.
Zidane mengambil buku tersebut.
“Jangan pernah lo ambil buku ini tanpa seizin gue atau lo akan tahu akibatnya!” ucap Zidane datar. Zidane memasukkan buku tersebut ke dalam almari kecil lalu menguncinya, pergi berlalu meninggalkan Keyra dengan banyak pertanyaan yang terambang di kepalanya.
Kenapa Zidane emosi gitu ya? Tau ah, bodo amat! Gumam Keyra dalam hati.
Keyra memilih membaca novel yang kini sudah berada di tangannya. Saking seriusnya, dia tidak merasa bahwa jam dinding sudah menunjukkan pukul 09.00. Keyra menutup novelnya, mengembalikannya ke tempat semula. Menutup pintu perpustakaan, dan kini ia sedang berganti pakaian untuk berbelanjan. Keyra mengambil handphone, dompetnya serta tas untuk berbelanja, lalu memasukkan barang tersebut ke dalam slingbag-nya.
“Yuk Dan, berangkat sekarang!” ucap Keyra sambil menuruni anak tangga.
“Hem.” Balas Zidane kemudian berdiri dari sofa menuju kamar untuk berganti pakaian. Lalu ia mengambil jaket serta kunci mobilnya. Zidane berjalan menuju garasi untuk mengeluarkan mobilnya dengan melewati Keyra dan itu pun tanpa menyapa.
“Zidane kenapa sih?” Keyra bingung. Mengapa Zidane cuek kepadanya? Apa masalah buku tadi ya? Keyra bingung sendiri memikirkannya.
Keyra berjalan keluar rumah. Menutup pagar lalu duduk di atas kursi di samping pengemudi. Mobil Zidane pun melaju meninggalkan pelataran rumah.
Selama di perjalanan, Zidane tetap diam. Bahkan saat sampai di mall, ia pun tetap diam. Entah apa yang sedang dia pikirkan dan apa yang sedang dia diamkan.
Keyra pun sudah jengan dengan sikap Zidane dan suasana canggung di antara mereka, lantas ia memilih membuka pembicaraan duluan.
"Dan, jangan diem dong!" Keyra menyenggol bahu Zidane, namun itu tak berpengaruh sama sekali.
"Lo diem kenapa sih? Lo marah sama gue? Gue punya salah sama lo?" tanya Keyra. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan tersebut, Keyra diam sebentar.
"Lo marah karna buku tadi?" Zidane langsung melirik tajam.
"Maaf deh kalo gitu" Keyra beralih ke hadapan Zidane berjalan membelakang "Lo tenang aja, gue nggak baca isinya kok!" Keyra mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.
Tampak Zidane menghembuskan nafas gusar.Sebenarnya ini juga sepenuhnya bukan salah Keyra. Dia juga bersalah karena tidak menyimpan buku tersebut dengan hati-hati. “Maafin gue juga. Gue juga bersalah karena nggak nyimpen buku itu dengan hati-hati.” ucap Zidane lembut.
“Dimaafin.” balas Keyra dengan senyum termanisnya.
Segitu cepatnya dia maafin gue? batin Zidane.
“Yaudah kita belanja yuk!” ajak Keyra.
“Yuk!” seru Zidane, lalu menggandeng tangan Keyra. Keyra sempat terkejut, namun cepat-cepat ia tutupi dengan senyuman.
“Kemana dulu?” tanya Zidane menoleh pada Keyra.
“Kita beli jubah mandi dulu aja!” Keyra dan Zidane memasuki toko pakaian terlebih dahulu untuk membeli jubah mandi. Selesai membeli, keduanya memasuki toko buah-buahan.
“Eh, ke toko buku dulu yuk!” ajak Keyra. Namun di balas gelengan kepala oleh Zidane. “Gue nggak ikut, perut gue udah laper, tadi belum sarapan. Lo beli sendiri aja, gue tunggu di cafe itu!” Zidane menunjuk cafe yang ia maksud.
__ADS_1
Keyra mengedipkan matanya sebelah sambil mengacungkan jempol. Ia pergi ke toko buku sendirian. "Maafin gue Zidane, tadi nggak ngambilin lo roti. Lo sih ngeselin banget jadi orang!” gumamnya.
Selesai dengan kegiatan membeli buku, Keyra menyusul Zidane yang sedang berada di cafe. Bel pintu cafe berbunyi, tandanya ada seseorang yang masuk ke dalam cafe.
Keyra duduk di depan Zidane. “Lo udah makan?” tanya Keyra. Pasalnya saat ia datang tadi, tidak ada 1 pun piring yang berada di atas meja.
“Belum.” jawab Zidane jujur.
“Kenapa nggak makan duluan?” tanya Keyra kesal.
“Nungguin lo.” Jawab Zidane.
“Seharusnya lo nggak usah nungguin gue, entar kalo lo sakit gimana coba? Ngeselin banget sih jadi cowok! Lo tunggu disini, biar gue yang pesen!” ucap Keyra lalu berdiri menuju meja pemesanan.
Demi apa pun, Zidane tersenyum bahagia melihat nada kekhawatiran yang keluar dari mulut Keyra. Ada rasa bahagia melihat Keyra yang kesal.
Tak lama Keyra membawa nampan yang berisi makanan untuk mereka. “Nih makan!” Keyra memberikan 1 piring nasi goreng dan segelas es teh pada Zidane. Ya! Itulah makanan kesukaan Zidane. Entah darimana Keyra bisa tahu, mungkin dari teman-teman Zidane. Zidane dan Keyra mulai makan.
“Oh iya, kita beli bahan makanannya di pasar aja ya, Dan? Kalau di mall mahal-mahal!” ucap Keyra di sela-sela makannya. Zidane mengangguk sambil terus menghabiskan makanannya.
Selesai makan, kini mereka berjalan menuju parkiran. Sesampainya di parkiran, keduanya masuk ke dalam mobil, menaruh barang belanjaan tadi di jok belakang mobil. Mobil melaju meninggalkan pelataran mall.
20 menit kemudian, mereka sampai di sebuah pasar yang lumayan besar. “Lo yakin mau beli disini?” tanya Zidane untuk memastikannya lagi.
“Yakin lah. Emang kenapa? Lo nggak suka ya? Kalo lo nggak suka, kita bisa pindah ke supermarket kok.” ucap Keyra sambil menoleh-noleh untuk melihat bahan-bahan apa saja yang ia butuh kan.
"Nggak kok, gue biasa aja! Bunda juga pernah ngajakin gue kesini, ya meskipun nggak sering sih!"
Sederhana sekali ya Keyra. Nggak banyak cewek yang mau belanja di pasar, kebanyakan cewek itu pada jijik kalau di ajak ke pasar. Tapi Keyra? Ia malah meminta untuk di antar ke pasar. pikir Zidane.
"Lo mau beli daging apa enggak?" tawar Keyra.
"Boleh juga" Keyra dan Zidane membeli daging pada salah satu penjual yang ada di pasar tersebut.
Selesai berbelanja di pasar, Keyra menyuruh Zidane untuk berhenti di supermarket dulu untuk membeli beberapa camilan.
Keyra memasuki supermarket. Mengambil beberapa snack, minuman dingin, dan es krim. Lalu ia berjalan menuju kasir untuk membayarnya. Keyra mengeluarkan kartu atm-nya. Karena uangnya sudah habis untuk berbelanja di mall dan pasar tadi.
Ia kembali ke mobil. "Cus jalan! Gue udah capek banget!" Selama di perjalanan tak ada pembicaraan yang terbahas. Zidane yang fokus menyetir dan Keyra yang sudah terlelap saking lelahnya berbelanja.
Sampai di rumah, Zidane memarkirkan mobilnya di garasi. Menggendong Keyra ala bridal style menuju kamar, membaringkannya di atas ranjang, menutup pintu secara perlahan agat Keyra tidah terbangu dari tidurnya, lalu kembali lagi ke garasi untuk mengambil barang belanjaan mereka dan menatanya di dapur.
Finish dengan kegiatannya, Zidane kembali ke kamar dengan membawa 1 paperbag besar berisi 4 jubah mandi yang tadi telah mereka beli. Menaruhnya di atas meja, lalu masuk ke kamar mandi untuk mebersihkan diri.
"Gila! Seger banget!" ucap Zidane di bawah sower yang menyala.
Zidane keluar kamar mandi dengan memakai celananya selutut. Sengaja tidak memakai atasan, karena ia akan langsung berbaring.
__ADS_1
Hari ini tenaganya terkuras habis hanya untuk berbelanja bersama Keyra. Ia membaringkan tubuhnya di samping Keyra dan tak berapa lama, Zidane sudah terhanyut dalam tidurnya.
Mungkin mereka memang sangat kelelahan, hingga mereka tidur terlelap tanpa ada satu pun yang bermimpi.