Nikah Saat SMA

Nikah Saat SMA
makan malam


__ADS_3

"KEYRAAA" terik Zahra yang kini sudah berada di dalam kamar anaknya. Membangunkan putrinya yang masih bergelit dengan guling serta selimutnya.


Keyra membuka matanya perlahan. Mengerjap, untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. "Ada apaan sih, bun? Keyra masih ngantuk tau! Lagian ini kan hari libur, jadi Keyra bisa tidur sepuasnya!" ucap Keyra dengan suara khas orang yang baru saja bangun tidur.


"Kamu ini anak perempuan. Seharusnya udah bangun dari tadi! Bukannya malah bangun siang kayak begini!" Zahra mengomeli Keyra habis-habisan.


"Cepat kamu mandi! Habis itu bantu bunda di dapur!" Zahra pergi berlalu dari kamar Keyra. Seperginya Zahra, Keyra pun memgambil handuknya dan berjalan ke kamar mandi. Memulai ritual paginya seperti hari-hari biasa.


***


Aroma rempah-rempah yang menyatu dengan masakan membuat siapa saja akan merasa lapar apabila menciumnya.


Keyra kini sedang membantu Zahra menyiapkan sarapan di dapur setelah tadi ia membersihkan diri.


"Itu telurnya mau bunda buat apa?" tanya Keyra yang tengah menuangkan sayuran ke dalam mangkok.


"Mau bunda buat omlet kesukaan ayah kamu." jawab Zahra.


Keyra menaruh mangkok sayuran pada meja makan. Dan kembali membantu Zahra untuk mencuci alat dapur yang tadi telah dipakai.


"Bunda, bau omletnya enak banget tau! Keyra jadi tambah laper nih!"


"Kamu ini sama kayak ayahmu ya! Kalau udah nyium bau omlet bawaannya laper aja!" ucap Zahra yang lagi membuat omlet.


"Habisnya baunya itu lho bun, menggugah selera makan" Zahra terkekeh mendengarkan ucapan Keyra.


Tiba-tiba ayah datang dari pintu dapur. "Waaaaah, ini yang masak Keyra sama bunda ya?"


"Iya dong, yah! Siapa lagi coba?" ucap Keyra.


"Yaudah, ayo segera di serbu!" sarapan pun di mulai.


"Ra, sebentar lagi kamu menikah." ucap Faisal di sela-sela makannya.


uhuuuuk uhuuuk


Zahra mengambilkan air dan memberikannya kepada Keyra. Keyra pun meminumnya secara perlahan. "Masih lama kali, yah!" ucap Keyra untuk memastikan dugaannya benar atau salah.


"Enggak. Kamu bentar lagi menikah. Kalau nggak percaya, tanya sama bunda!" Faisal lebih dulu menyelesaikan sarapannya.


Keyra beralih menatap Zahra untuk meminta jawaban yang benar. "Ayah kamu benar, Ra, kamu sebentar lagi menikah. Makanya kemarin bunda ajakin kamu beli gaun pernikahan!"


Keyra tampak lesu. Ia sudah tak mood makan. "Kenapa kabarnya mendadak sih, yah, bun? Lagian kan Keyra masih kelas 11. Belum seharusnya Keyra menikah."


"Ya harus bagaimana lagi. Melihat pergaulan anak jaman sekarang, ayah sama bunda nggak mau kalau sampai kamu kayal mereka." ucap Zahra menjelaskan pada Keyra. Sebenarnya ia juga tak setuju dengan pendapat Faisal yang harus menikahkan Zahra di bangku SMA ini.


"Kamu tenang aja! Calon suami kamu baik kok orangnya. Bunda yakin deh kalau dia bisa jaga kamu dengan baik!" Zahra memegang pergelangan tangan anaknya.


"Tapi Keyra nggak mau menikah sekarang. Keyra udah punya rencana kapan nikahnya. Dan kenapa Ayah sama Bunda nggak nanyain pendapat Keyra dulu sih? Keyra jadi badmood deh!"


"Memangnya kalau ayah sama bunda meminta pendapat kamu, kamu bakal setuju? Enggak kan? Makanya ayah sama bunda langsung buat pendapat ayah saja!" ucap Faisal.


"Nanti malam kita bakal ketemu sama mereka. Berbincang soal pernikahan ini. Ayah nggak mau tau, intinya kamu harus menerima pernikahan ini. Ayah sama Bunda nggak menerima penolakan!" setelahnya Faisal keluar dari ruang makan dan berlalu untuk pergi ke kantor.


"Maafin bunda ya, Ra? Bunda nggal bisa bantu kamu. Ini juga untuk kebaikan kamu." Keyra tak membalas ucapan Zahra. Ia memilih pergi ke kamarnya. Antara rasa marah dan juga kecewa. Semuanya menjadi satu. Keyra menangis tanpa mengeluarkan suara.


Ia maish berpikir bagaimana jadinya nanti saat ia menikah. Apakah calon suaminya ini orang baik atau bukan? Penyayang atau malah pemarah?


"Aaaaa, gue nggak mau menikah" gumam Keyra frustasi.


Menit demi menit telah berlalu. Kini cahaya matahari telah berganti menjadi cahaya rembulan. Langit yang semula berwarna biru telah berubah menjadi hitam gelap. Lampu rumah yang tadinya mati sekarang telah menyala. Rasanya cepat sekali berganti malam.


Keyra tengah menyiapkan dirinya. Malam ini ia akan memakai dress berwarna navy yang kemarin ia beli bersama Zahra. "Ck. Males banget gue makan malam sama calon keluarga. Mana mau bahas soal pernikahan lagi. Bikin badmood aja. Mana nggak boleh nolak lagi. Bikin badmood plus plus."


"Ra, kamu udah siap apa belum?" teriak Zahra dari lantai bawah.


"Udah, bun" Keyra keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga.


"Waaaaah, malam ini kamu cantik banget, Ra!" puji Faisal.


"Jadi selama ini Keyra cantiknya cuman malam ini aja?" ucap Keyra dengan wajah yang di tekuk.


"Ya enggak lah. Tiap hari kamu itu cantik. Tapi kalo hari ini cantiknya itu nambah." Faisal dan Zahra terkekeh.

__ADS_1


"Udah, wajahnya jangan di tekuk kayak gitu. Entar cantiknya jadi hilang lho!" Zahra mengelus rambut panjang Keyra.


"Yaudah, ayo kita berangkat!" ucap Faisal. Ketiganya pun memasuki mobil dan pergi meninggalkan pekarangan rumah.


Sampai di sebuah restaurant mewah. Faisal beserta keluarganya duduk di kursi yang sudah ia booking sebelum acara ini di mulai.


"Ck. Lama amat sih orangnya!" gumam Keyra yang masih bisa di dengar oleh Zahra.


"Sabar atuh. Jakarta kan terkenal dengan macetnya. Jadi ya kemungkinan mereka terkena macet di jalan." ucap Zahra.


Merasa bosan, Keyra mengambil handphonenya. Membuka aplikasi-aplikasi yang bisa menghilangkan rasa bosannya. Saking asyiknya ia sampai tak mengerti bahwa Keluarga Ananta telah sampai di hadapan mereka.


"Keyra, berhenti main hp ny! Itu Keluarga Ananta udah datang lho!" tegur Zahra. Keyra pun menuruti ucapan bundanya.


Benar saja. Kelurga Ananta sudah datang.


"Hai Tamara, udah lama kita nggak ketemu. Gimana kabarnya?" Zahra berdiri menyalami Tamara - Bunda Zidane. Lalu bercipika-cipiki


"Alhamdulillah, baik-baik aja. Kalau kamu sama keluarga gimama kabarnya?" tanya Tamara balik.


"Alhamdulillah baik juga"


"Hai Faisal. Saya udah lama nggak ketemu kamu juga nih! Terakhir ketemu kapan ya?" ucap Abi - Ayah Zidane.


"Hai juga. Terakhir kali ketemu itu waktu ada pekerjaan di Rusia" Faisal dan yang lainnya tertawa mengingat pertemuan terakhir mereka, tapi tidak dengan Keyra yang masih diam.


Faisal mempersilahkan Keluarga Ananta untuk duduk. "Oh iya, kenalin ini anak kami. Namanya Keyra Ghaida Maharani." ucap Zahra memperkenalkan Keyra pada Keluarga Ananta.


"Waaaaah, kamu udah besar ya! Tambah cantik lagi. Persis kayak namanya! Kamu kelas berapa?" ucap Tamara dengan senyum manis yang terbit di bibirnya.


"Ah, makasih tante. Keyra masih kelas 11 kok." jawab Keyra yang berusaha sebisa mungkin terlihat sopan.


"Ouh, sama kayak anak saya. Dia juga masih kelas 11 kayak kamu." ucap Tamara.


"Ngomong-ngomong, anakmu dimana, Tam?" tanya Zahra.


"Tadi sih katanya mau beli sesuatu gitu. Nggak tau, mau beli apaan!" jawab Tamara. Perbincangan berlanjut dengan masing-masing lawan bicaranya. Zahra dengan Tamara dan Faisal dengan Abi.


Rasa bosan kembali menimpanya. Keyra kembali mengambil hpnya dan membuka aplikasi penghilang rasa bosan.


"Assalamu'alaikum. Maaf saya datang terlambat. Tadi masih ada urusan." ucap seseorang yang tiba-tiba datang pada meja mereka.


"Wa'alaikumsalam" jawab semuanya kecuali Keyra.


"Nggakpapa kok. Ayo silahkan duduk!" cowok tersebut pun duduk saat dipersilahkan oleh Zahra.


"Ra, calon suami kamu udah datang tuh!" Keyra memasukkan hpnya.


"Namanya Zidane Ali Ananta" Keyra mendongakkan kepalanya.


Kedua mata mereka pun tak sengaja bertemu. "LO?!" ucap keduanya bersamaan.


"Loh, kalian udah saling kenal ya?" tanya Zahra dan Tamara juga bersamaan.


"Gimana nggak kenal, bun. Secara Zidane itu cowok yang sering Keyra ceritain ke bunda. Dia itu jail banget sama Keyra!" ucap Keyra menggebu-gebu.


Merasa tak terima, Zidane pun protes. "Lo yang ngajak gue ribut!"


"Lah, lo nuduh gue?" tanya Keyra dengan wajah menantang.


"Gue nggak nuduh! Emang kenyataannya begitu!" ucap Zidane.


"Sudah. Keyra duduk!" Keyra terpaksa duduk. Hancur sudah moodnya hari ini.


"Zidane, duduk!" perintah Tamara.


"Maafin kelakuannya Keyra ya, Tam?" ucap Zahra merasa bersalah.


"Ah nggakpapa. Zidane juga sama aja!"


"Bunda" panggil Keyra.


"Kenapa?" tanya Zahra.

__ADS_1


"Bunda sama Ayah yakin mau jodohin Keyra sama dia?" tunjuk Keyra pada Zidane.


Zahra dan Faisal saling bertatap muka. "Yakinlah" jawab keduanya bersamaan. Kalau seperi ini, Keyra mah pasrah aja sama yang di atas. Berdoa semoga Zidane menolak perjodohan ini.


"Bunda sama Ayah juga yakin mau jodohin Zidane sama cewek itu?" tanya Zidane pada kedua orang tuanya.


"Yakinlah" Sudah cukup. Jawaban mereka akan tetap sama. Percumah saja ia menolak. Hasilnya nanti juga akan tetap sama.


"Zidane" panggil Faisal.


"Iya, om?" respon Zidane.


"Om yakin kalau kamu itu anak yang baik dan juga bisa menjaga Keyra dengan baik. Kamu mau kan menerima perjodohan ini?" Zidane beralih menatap Keyra yang kini tengah menatapnya dengan puppy eyesnya.


Berharap bahwa ia akan membatalkan perjodohan ini. Namun, Zidane malah mengeluarkan senyum seringai. "Mau, Om." Zidan menahan tawanya agar tak kelepasan ketika ia melihat wajah Keyra yang berubah menjadi datar.


Pupus sudah harapan gue - batin Keyra.


Keyra memakan makanan yang ada di hadapannya. Tap peduli dengan orang-orang yang ada di hadapannya sekarang. Moodnya telah hancur.


Tampa semua orang tersenyum bahagia mendengar jawaban yang keluar dari mulut Zidane. "Baiklah, kalian akan menikah di Hari Selasa besok." ucap Faisal.


Uhuuuuk uhuuuuuk


Keyra tersedak makanannya. "Pelan-pelan sayang makannya!" Zahra mengelus punggung Keyra, berniat mengurangi rasa sakit akibat tersedah.


"Ayah, nggak terlalu cepat apa?" tanya Keyra dengan wajah manjanya.


Sungguh, ekspresi Keyra yang saat ini sangat menggemaskan. Zidane sendiri ingin mencubit kedua pipi calon istrinya ini.


"Keyra, lebih cepat lebih baik" jawab Faisal dengan tenang.


"Ck. Yaudah deh kalau gitu!" Keyra kecewa dengan mereka semua. Ia mengambil hpnya. Membuka aplikasi Whatsapp, menekan kontak yang akan ia kirimi pesan, dan mengetik pesannya setelah itu mengirimnya dengan perasaan dongol.


KeyraGM


Lo kenapa sih pake nerima perjodohan ini?!


Cowok Sialan👊


Emang kenapa? Lo nggak terima?


KeyraGM


Yaiyalah gue nggak terima. Secara lo adalah musuh bebuyutan gue! Cowok yang gue benci se-antero sekolah!


Cowok Sialan👊


Yaudah sih ya. Udah terlanjur gue terima nih? Jadi gimana?


KeyraGM


Batalin lah, ****! Gitu aja susah!


Cowok Sialan👊


Oh nggak bisa! Kalau gue tolak, mau di taruh dimana muka gue?!


KeyraGM


Di kepala lah! Lo tuh **** banget ya ternyata?! Bisa suram masa depan gue, kalo nikah masa cowok kayak lo!


Cowok Sialan👊


Siapa bilang? Masa depan lo malah bakal indah kalau sama gue😂


KeyraGM


Ciiiihhhh, najis!


Keyra menutup hpnya. Ia beralih menata Zidane dengan tatapan sinis. Namun, Zidane malah tersenyum miring sambil manaikkan sebelah alisnya.


Makan malam pun berlanjut dengan perbincangan keempat orang tua dan 2 orang insan yang sibuk dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2