
Sementara di tempat lain, Dira sedang memeriksa semua berkas yang membuatnya pusing. Ada beberapa masalah yang perlu ditangani segera sebelum semua investor mengetahuinya.
Hanya Tuan Alex dan manajer departmen operasi keuangan Tuan Alex saja yang tahu.
Tuan Alex memberi waktu 3 bulan untuk menyelesaikannya dan sekarang hanya tinggal 2 bulan lagi dari pertemuan kemarin.
"hufffttt," keluhan Dira.
Dira teringat amplop yang ditulis oleh almarhum ayahnya yang mengatakan bahwa Dira telah dijodohkan dengan anak temannya bernama Armanda Alex. Ayahnya yang ingin membalas kebaikkan temannya karna telah membantunya ketika dia hampir bangkrut.
Dira terpikir sejenak. "Wait wait, adakah Armanda Alex itu Tuan Alex----, om my"
" Seharusnya aku harus ketemu terus bertanya langsung Kepada Tuan Alex tapi.. tidak tidak.., malu kok,"
Setelah beberapa menit berpikir, dia bingung, lalu dia memikirkan sesuatu. Om Don. Ya. Dulu om Don selalu bersama ayahnya yang juga temannya saat kuliah sehingga menjadi assisten pribadi ayahnya sehingga untuk dirinya saat ni .
"Om mesti tau semua ini, aku akan segera bertanya hal ini,"
...😘😘😘...
Waktu makan siang hampir tiba, Syah berkutik di dapur apartemen nya menyiapkan makan siang untuk ratu hatinya sambil bersiul.
Setelah berdiskusi singkat bersama dengan sepupunya Bima. Bima terus pulang dan terus melihat kekacauan di tempat persembunyian yang dibuat untuk orang yang telah mengkhianati perusahaan istri sepupunya.
Melangkah masuk ke salah satu gudang kosong milik Bima. Tanpa membuang masa. Dia menghampiri anak buahnya yang bernama John.
"Bos tuh mereka sudah ku negosiasi namun dia gak buka mulutnya" kata John.
"Hmmm, Kita tunggu Tuan muda arahan selanjutnya dari Tuan muda, jangan biarkan dia terlepas" kata Bima tegas.
Syah menyuruh Bima menyembunyikan Om Affan dan Raden karena tidak mau Arya ketahui bahwa mereka telah pun diperintah keluar dari perusahaan itu.
Seterusnya rancangan awalnya agar Arya tidak tau sampailah Arya jatuh anjlok.
...🤫🤫🤫...
"Ngak salah jika aku mula menyukai istriku,"
Hari ini Syah memasak nasi putih, sup sayuran, udang goreng kunyit dan sambal terasi.
Setelah mengambil masa yang singkat untuk memasak, memasukan semua makanannya me dalam bekas khas untuk mereka menjamahnya.
Seperti yang telah ia janji dia terus kantor Dira.
Sesampainya di kantor, Syah langsung menuju ke ruang kantor Dira dengan hati senang.
Semua karyawan melihatnya hampir pingsan saat melihat senyuman indah seorang OB yang tampan. Syah tau dia di menjadi perhatian malah dia hanya menyapa dengan menunduk hormat.
Saat tiba di depan meja secretary nya Dira.
"Assalamualaikum Bu Laili,"
"Waalaikumsalam, wah wah happy banget sih Putra, baru dapat jackpot apa ya?"
"Hahahhaah, ngak la bu, oh ya... Bu Dira ada gak, mau hantarin makan siangnya,"
"Waduhhh, Baik banget... sekarang udah ngak payah di suruh, langsung dibeli in terus, heheh, ada Put, masuk aja udah di tungguin,"
Belum sempat masuk Bu Laili memanggil nya semula.
"Tunggu Put..."
__ADS_1
"Ya?" Heran Putra menoleh.
"Hmmmm Put lepas anterin makanan buat Bu Dira, mau ngak Kamu makan dengan ku... yuk kita ke kantin makan siang dengan ku Put,"
"Oh itu...,hmm Maaf ya Bu, aku juga udah ditungguin oleh ratu hatiku, maaf ya" ucap Syah menggunakan bahasa yang tidak menyakitkan hati.
"Ohh!!, Ngak pa pa kok," kata Laili sungguh hatinya kecewa namun mau gimana dia sudah yang punya.
"Da dah Bu," dengan senyum melebar Syah melangkah masuk ke ruangan ratu hatinya.
"Dua kali Aku ditolak, hahahahah rupanya udah punya pacar....Argghhhh udah punya pacar ya Put, aduhhh kasian aku jomblo terus," kecewa Laili dalam hati.
CEKLEK
"Assalamualaikum Bu Dira, saya masuk ya," ucap Syah.
"Waalaikumsalam, Pak Putra, masuk aja, heheheh, sila duduk," tak mau kalah Dira juga bercanda dan disambut senyuman dari Syah yang akan meruntuhkan hati yang beku.
Dira terkasima.
Sedetik
Dua detik
Tiga detik
"Duh ada yang kenyang hanya liat senyuman suami ganteng ni Bu," goda Syah membuat jantung Dira berdetak hebat.
Plak
Dira menepuk perlahan di lengan Syah lalu menunduk malu dengan pipi merona merah.
"Narsis!!, Ngak usah geer banget, aku lapar nih, ntar ku makan kamu mas" kata Dira sudah mulai ramah membuat Syah termenung.
"Mas.. mana makanan ku" Panggil Dira lagi malas melayan Syah kerna nantinya dia akan diledek lagi dan lagi. Panggilan itu telah ia pikir karena lebih sopan di banding nama.
"Kamu manggil aku apa tadi?,"
"Kamu ngak makan sekali?" Ucap Dira Salah tingkah kerna Syah mulai mengoda.
"Aku tanya kamu manggil aku apa..hmmm, cepat bilang, kalau ngak aku cium!!" Lalu mencuit dagu Dira.
" M-mass" Dira merona lalu membuka bekal makanannya tanpa peduli Syah lagi.
" Manis sungguh,"
" Mas udah ahh...aku mau-"
"Iya iya makan...,sila kan Tuan putri, ratu hatiku," lagi- lagi membuat Dira Salah tingkah,"
"Masssssss, udah... Yuk makan..nanti keburu dingin,"
"Aku liat kamu aku udah kenyang sayang,"
"Udah ngombalnya mas ihh,"
"hahaahah Mas udah makan sebelum ke sini, kamu lanjutkan aja," rasa hati Dira sejuk tenang saat penerimaan Syah untuk memanggil dirinya mas.
"Aku diperboleh ngak manggil kamu mas?" tanya Dira
"Iya boleh dong, lagi mesra, heheheh,"
__ADS_1
"Aku udah lama mau nanya kamu, ini masakan dari mana ya mas, enak banget, ngak pernah aku dibeliin makanan seenak ini,"
"Aku bikin sendiri khas buat kamu...ratu hatiku,"
"Uhuk Uhukk," Syah terus menghulur air putih.
"Makan itu slow slow, napa ngak percaya ya, lihat!!," Syah menunjukkan lengannya yang Atlantis.
"Masa iya kamu yang masak sebaik ini,"
"Terserah,"
Dira tidak lagi seperti mulanya bertemu, sekarang Dira ramah dan menghormati Syah sebagai suaminya. Dira akan coba sebaiknya untuk menjadi istri Syah.
Syah hanya bisa tersenyum. Syah tau lama-lama Dira akan tahu siapa dirinya.
"Aku akan buat kamu jatuh cinta padaku istriku," gumam Syah.
"Napa lihat aku kayak gitu mas?"
"Lagi rindu,"
"Mula deh,"
"Hahahahah, "
"Sana gih aku mau makan, kayaknya susah aku mau nelan,"
"hahahah iya sayang iya aku bangun, udah jangan nolak-nolak "
Langsung Syah tersenyum melihat wajah merona istrinya yang dipanggil sayang itu. Syah mendekat kearah jendela berhampiran meja kerja Dira.
Dia melihat beberapa berkas yang menumpuk dan di antaranya ada satu berkas yang aneh. Syah mengerling sejenak kearah istrinya lalu dengan perlahan dia mengambil bekas itu dan menyembunyi di balik kaos OB nya. Berkas itu mengandungi bukti utama kasus yang dia mahukan.
"Yes!!! ketemu " batin Syah.
"Istriku Dira, aku pamit duluan ya, ada kerjaan yang harus aku beresin,"
"hmmm, terima kasih makanannya"
" Esok dan seterusnya ya mas, aku suka"
" Segalanya untuk mu ratuku," Lalu Dira tersenyum mesra.
Degupan jantung Syah Saat ini benar-benar parah. Senyuman nya manis. Syah berlalu pergi.
" Rasa mau copot aja jantungku, Dira.... Kau membuatku jatuh cinta," gumam Syah terus ke arah pintu namun di tangan ditarik.
Dira mengerti bekerja sebagai OB, perlu di selesaikan sebelum waktu berkerja setelah makan siang selesai. Dira bangun lalu menarik tangan Syah dan mencium. Syah tersenyum senang lalu membalas kembali dengan mengecup kening Dira lembut. Dira tersenyum malu dan mengundur kembali duduk dan meneguk minumannya.
"Tunggu aku malam nanti ya sayang," Syah menggoda istrinya.
"Uhuk Uhuk uhuk "Dira keselek.
"Hati-hati Dira, hahahahahah, maaf ya sayang.. aku pamit ya, kali ini yang betul, mas pamit ya,"
"Muahhhhh, "sekilas Syah memberi kecupan di pipi Dira.
"Maaaasssss, " lansung Dira melempar bantal kecil yang di sofa dimana Dira duduk. Namum Syah sempat berlari keluar dari pintu.
"Hahahhahaah," kedengaran tawa Syah berbekas dari luar kamar kantor Dira.
__ADS_1