Office Boy Itu Suamiku

Office Boy Itu Suamiku
04


__ADS_3

Dira yang barusan turun dari lift khusus CEO sambil menenteng tas tangannya dan laptop kesayangan terus ke kawasan parkiran mobilnya.


Dia lelah mengharungi keseharian dengan bermacam-macam ragam manusia. Dia bersama asisten yang juga merupakan bodyguard nya menuju ke arah mobil. 


"Om, aku pulang duluan ya, aku mau ketemu temanku di cafe Ceria," mohon Dira pada Om Don.


"Tapi Nona tempat itu jauh sekali, malah udah mau menjelang malam nona," Om Don khawatir.


 Om Don sudah lama berjasa sejak armarhum ibu dan ayahnya ada. Dia sudah menganggap Dira seperti anaknya.


"Ngak pa pa Om, aku bisa sendiri, jangan khawatir om, Hanya satu jam aja ke Desa Y,," jelas Dira memohon mengharap.


" Tapi Dir-"


" Om, percaya kan sama aku,"


"Baiklah, kamu harus hati-hati, langsung kabari aku jika ada apa-apa," ucap Om Don jelas kelihatan kekhawatirannya.


"Iya om, aku pamit ya,"


"Hmmm, hubungi aku terus jika ada apa-apa," 


Akhirnya Dira dapat pergi bertemu temannya. Banyak sekali mobil berderetan di jalan dan bunyi klakson bergema sana dan sini. 


Hati yang senang membuat Dira bersabar dan hampir satu jam dia lega saat lepas dari macet yang berjejeran. Dira melajukan mobilnya dengan kecepatan sederhana.


Setelah hampir dua jam di jalanan. Jam mununjukkan angka 8. Dan Dira sampai ke tempat tujuannya. Teman-temannya sudah menunggu.


"Hai kalian, maaf ya macet,"


"Iya ngak pa pa lho, ngerti kok," ucap salah satu temannya.


Dira terlalu happy saat bertemu dengan temannya. Tanpa buang masa mereka mengombrol santai dengan minuman dan cemilan di meja santapan mereka.


"Lama ngak ketemu lo Dir, sibuk banget sih?," Lin menanya.


"hemm, biasala, gue kan penerus, mau gimana lagi Lin, pusing gimana pun harus aku harungi,"


"Iya lah, oh ya kalian gue ajak ketemu ni ada hajat lho," pungkas Suri


"Apa saja hajat mu itu, mau tunangan ya," seloroh Lin.


"Ngak, tapi gue.... gue m-mau nikahan terus hihi,"

__ADS_1


" Uhuk..uhukk, jangan bercanda dong Su," Dira keselek langsung mengambil air dan di tepuk pundaknya oleh Lin.


" Apa an sih lor... kok tiba tiba aja sih, jangan bilang--," pikir Lin yang menganggap Suri telah hamil duluan.


"Iihhhh ngak ah, keterlaluan pemikiran kalian tauk,"


" Iyalah, tiba- tiba aja, kaget tau ngak, coba kasi tau, siapa aja ngak kaget kalau lo terus bilang mau nikahan,"


" Hihi,iya maaf dong, oh ya hari ini gue akan traktir kalian makan malam, ya," kedua sahabat itu melongo tidak percaya.


Seorang Suri mau melepaskan zaman lajangnya. Sungguh memang penuh pertanyaan di hati mereka.


"Gue ngak mimpi kan Dir, cuba lo cubit gue," pinta Lin kepada Dira langsung mencubit Lin.


"Awwww sakit bodo, kuat banget nyubit nya,"


"Lah kan tadi lo yang minta, hahahahah,"


"Hahahahah, napa? kalian ngak percaya, tauk dong aku ngak kayak kalian, bergaya, cantik, ber make up malah aku?," jelas Suri menunduk.


"Hahaha ya ngak la gitu, gue hanya bercanda dong, cuma kaget aja, tapi kamu cantik lor,"


"Sebenarnya...gu....gue gue di jodohin!!!," lagi-lagi mereka terkejut.


"Jadi gue terima aja dong, gue ngak mau jadi anak durhaka," jelas suri pada temen-temannya.


"Kapan nikahnya Su," tanya Dira.


"Satu minggu lagi Dir," balas Suri.


" WHATTTT!!!," kaget keduanya.


"Allahuakbar, apaan sih kalian teriak-teriak, lihat tuh semua mandang," ucap Suri menunjuk ke sekeliling.


"Maaf, hihihi, siapa yang ngak kaget Suuuu, coba bilang," kata Lin.


"Iya dong, apa pun gue dukung lho," kata Dira.


"Terima kasih, doakan gue semoga segalanya berjalan lancar ya," pinta Suri.


" Aamiin," ucap mereka bertiga.


Lin, Dira bersama Suri berpeluk mesra, mengucapkan selamat keatas Suri. Sekalian Suri menyerahkan kad undangan kepada mereka.

__ADS_1


Meraka sangat happy dengan pertemuan singkat mereka hingga sampai lupa akan waktu.


Jam menunjukkan 11 malam dan Dira terpaksa berpamitan karena malam sudah terlalu lewat.


...🚗🚗🚗🚗...


Ketika dalam perjalanan pulang, Dira melewati jalan berhampiran kompleks- kompleks perumahan sederhana mewah. 


Namun tiba-tiba sungguh sayang sekali saat di jalan yang sunyi dan sepi ban mobil kempes. Dira yang sendirian mulai panik.


"Arghhh, gimana ni, oh ya Om Don,"


.Layar ponsel gelap.


"Eh.....ya ampunnnn, lupa aku ngecas , gimana ini ya Allah, aku tunggu aja mungkin akan ada yang lewat," harap Dira menenangkan hatinya.


"Waduh, Gelapnya," situasi Saat ini langit sangat gelap, angin bertiup kencang dan sangat dingin.


"Ahhhh dingin amat, aduhhhh kayaknya mau hujan nih, hiks hiksss, hikss, aku takutttttt," Dira menggigil namun tidak seorang pun lewat di jalan itu.


"Kemana ini orang ngak seorang pun lewat hiks hiksss hikss,"


"jjjeeeeedaaaaarrrrr," petir bersahut sahutan


"Aaaaaaaaaaaa, Ya Allah, hiks hiks hiks,"


Dira menangis sekencang-kencangnya seperti derasnya hujan yang turun, petir terus menyambar. 


Trauma yang dialami Dira kumat. Dira mengalami trauma sejak orang tuanya meninggal dunia.


Saat Dira dengan tangisnya. Seseorang mengetuk jendela mobilnya.


"Siapa?," gumam Dira.


Kaget. Dira yang takut dengan trauma yang dialaminya selama ini, coba untuk menenangkan dirinya dan perlahan coba menurunkan kaca jendela mobilnya.


Dia sedikit lega karena melihat sosok pria yang dikenalinya datang membantu. 


Namun Dira yang masih dalam kondisi trauma membuat dirinya tidak sepunuhnya sadar.


Tubuh Dira semakin gementar dan tidak lama kemudian Dira hilang kesadarannya.


Dira langsung pingsan karena dia tidak membawa obat penenang yang sepatutnya dia minum.

__ADS_1


.


.


__ADS_2