
Setelah pertemuan singkat mereka, Syah langsung ke pantry untuk membereskan semua dengan tugasnya sebagai OB di perushaan DIra. Ya dia masih dalam menyamar. Dia yang sentiasa di cover oleh Raka rakan kerjanya.
"Woi Put!!, kemana aja sih kamu....wah wah lo busy banget ya,"
"Hahahaha biasa aja Ra, oh ya gimana nyokap lo, apa udah mendingan?"
"Alhamdulillah, syukur deh, lo udah banyak bantuain gue, malu gue Put sama lo, gue janji udah gajian gue langsung bayar dikit dikit. Boleh ya Put,"
"Hahahaah udah ngak usah mikir, gue ikhlas Raka mau bantu lo, lagian lo udah banyak bantuin aku,"
"Mana boleh gitu Put, bukan dikit lo kasi uang untuk operasi ibu gue,"
"Dengar gue, itu pantas buat lo, sekarang pastikan nyokap lo sihat dan aku udah anggap lo itu saudara gue, ngerti!!"
"Tapi, Put,...erm....Makasih Putra," Syah menepuk perlahan dan langsung meninggalkan Raka yang masih terharu.
Rakalah juga telah menggantikan tempat Pak Raden yang telah mengkhianati perusahaan Dira.
Jam sudah menunjukkan time makan siang, Syah langsung ke ruangan kantor Dira tanpa menyapa Laili yang masih busy mengetik sesuatu di layar laptop.
Tanpa mengetuk pintu, Syah langsung masuk ke ruangan Dira.
"Assalamualaikum sayangku,"
"Allahuakhbar!!, waalaikumusalam, ya Allah Mas, kaget aku, " langsung bangun dari duduknya dan mendekat kearah Syah, mencium tangan Syah lalu Syah membalas mencium kening Dira lama dan lembut.
"Maaf, hehehehe, makan siang yuk!!," ajak Syah.
"Hah!!" Masih tertegun karena Syah tidak pernah mengajaknya makan diluar.
"Kita sekalian kencan ya ya ya ya sayang," bisik Syah santai di telinga Dira sengaja menggoda Dira.
"I-iya mas, tapi dimana?"
"Di cafe di jalan XX" memikir sesuatu.
__ADS_1
"Sejak kapan ada cafe di sana mas, ngak pernah aku lihat,"
"Ayo kita liat, aku laper dong sayang," terus Syah menarik tangan Dira lembut lalu keluar ruangan dan melepaskan tangan saat keluar ruangan.
Dira memberitahu kepada Laili bahwa mereka akan makan siang diluar. Laili adalah type cewek yang tidak pernah masuk campur dalam urusan peribadi atasannya.
Jadi dia hanya tersenyum melihat perilaku atasannya dengan Syah yang terlalu romantis. Walau dalam hati selalu bertanya ada apa dengan mereka. Tapi di urung. Biar atasan nya yang mulai. Dia hanya tunggu.
Setelah sampai di mobil, Syah meminta kunci mobil pada Pak supir karena dialah yang akan menjadi supir kepada istrinya siang ini.
Syah membuka pintu di sisi depan penumpang. Segera Dira masuk dan hal manis dari Syah tak pernah hilang adalah dengan meletakkan tapak tanganya di kepala Dira agar kepala Dira tidak terbentur. 😍🥰
Setuasi manis tersebut tak luput dari beberapa karyawan yang lewat di lobi. Salah seorang karyawan membuka suara.
"UUUUiiiiihhhhh so sweeeetttttttt bangetttt!!" ucap Dina saking meleleh melihat adegan romantis live.
"Bukankah itu mas Putra si OB, apa hubungannya dengan Bu Dira ya, kok kayak pasangan pacaran romantissss banget, ada yang kita ketinggalan ya?" penasaran mbak Tina karyawan pemasaran.
"Iya la, OB yang baru aja satu bulan lebih kerja itu ya.....wah.... wah wah....yang bener aja Bu Dira suka sama OB?," mulut Chini yang mulai ghibah.
"Males ah, paling tidak dia bilang, jangan ngosip, ngak baik ," ucap Tina.
"Udah ngak laku kayaknya.....atauuuu si OB itu simpanannya......," kata Chici membuat Laili, Tina dan Dina melongo.
"Ya ampun mulut kamu aku sumpet baru tau kamu!!, udah jangan ngomong kayak ibu ibu tetangga dong, menghibah sana sini, ngak tau pucuk pangkal terus di joloki orang jahat aja," jelas Laili tegas.
"Kalian tau ngak ada CCTV yang selalu memerhati, mau dong kamu di pecat, mana lagi mau cari kerja, cuba kamu mikir ...ni mulut jangan malah main nyosor aja ngomongnya," jelas nya sambil di tonyoh mulut temannya dengan jari tunjuknya.
"Lagi satu, kalian harus tau, Bu Dira udah ada seeeegaaaalanya, apa lagi yang tidak ada, kan kalian tau, jodoh atau pertemuan itu bukan kita yang gariskan, ingat!! ," jelas Laili membuat mereka terpana sejenak.
"Iya juga ya, ah biar aja dong, kalau ada apa apa ya ngak pa pa, Bu Dira udah ada segalanya,heheheeh,"
"Iya yuk la, kita ngak lapar ya, asiiik banget ghibah, dosa loh " merinding Tina lalu menarik lengan Dina.
Mereka terus menuju ke kantin untuk segera menikmati makan, ada yang membeli, ada juga yang membawa bekal dan ada yang hanya minum.
__ADS_1
...☘️☘️☘️...
Kembali kepada Dira dan Syah. Saat ini mereka sudah pun berada di depan kafe yang ingin mereka menghilangkan rasa lapar.
SYADIRA CAFE. Seperti tidak asing bagi Dira dengan nama itu. Dia hanya mengabaikan dan terus mengikuti tangan yang dirangkul oleh Syah.
Tiba di depan kafe, salah seorang karyawan menarik pintu dari dalam untuk mereka. Dan mengucapkan sesuatu.
"Selamat datang, Silakan Bos, Bu ," sapa salah satu karyawan.
"Terima kasih, mbak Lina," balas Syah mesra Dan Syah menunduk kepada istrinya mempersilakan masuk layak seperti seorang putri. Karyawan Syah tersenyum melihat Bos mereka melayan tetamu Bosnya itu.
Dira memerhati meja yang di rias cukup indah dengan penataan hiasan yang simple tapi manarik. Saking kagetnya dia, tanpa dia sedari mulut Dira melongo dengan matanya berkedip-kedip.
Dengan pantas Syah mendekat dan berbisik sekali menggoda.
"Mau aku tutup mulut kamu pake tangan atau pake mulut?, hm," refleks dari ucapan Syah, Dira terus menutup mulut nya dan mencubit lengan Syah,
"Awwww sakit yank,"
"Heheheeh ,rasain,"
"Maaf bos, bu," beberapa orang karyawan kafe sudah mulai menata makanan dan Syah menarik kerusi untuk Dira duduk berhadapan dengannya. Dira duduk dan bertanya.
"Bos? " tanya Dira saat sudah duduk di salah satu meja khas mereka yang telah di saji bermacam jenis menu.
"Jangan bilang ini kafe kamu," Syah mengangguk tanda ya.
"Sejak kapan mas, kok aku ngak tau," tanya Dira lagi.
"Setelah makan, aku jelasin semuanya, ayo makan, nanti dingin, langsung Dira memulakan makan hidangan yang berada di depannya.
.
.
__ADS_1