
Hujan deras mengguyur bumi di tengah malam membuat Syah berhenti sejenak untuk berteduh di masjid terdekat usai bertemu Fadli.
Syah melanjutkan mengenderai motornya dengan hati-hati untuk kembali ke apartemen nya saat hujan sudah agak reda.
Namun ketika di tengah jalan hujan kembali turun dengan derasnya.
Tidak membuang-buang waktu, Syah terus melanjutkan perjalananya meskipun pakaiannya basah kuyup.
Melewati jalanan yang gelap dan sunyi. Dia mendapati cahaya redup tidak jauh dari pandangan di depannya dan Syah melanjutkan perjalananya ke menuju cahaya itu.
Terkejut dia melihat sebuah mobil yang sangat dia kenal mirip seperti mobil atasannya.
Syah terus mendekat dan melihat keliling mobil dan.mendapati kondisi ban yang kempes.
Dengan tubuh dan pakaiannya yang basah. Syah terus melihat-lihat ke dalam mobil. Amat terkejut sekali dia melihat sosok tubuh yang dikenalinya.
Dira. Memeluk lutut dan meletakkan kepala di atas lutut seolah takut atau kedinginan.
"Sepertinya benar ini mobil Dira," kata Syah sendirian terusan mengintai di balik kaca jendela mobil itu.
Syah khawatir langsung mengetuk perlahan kaca mobil itu dan memanggil nama Dira. Tidak lama kemudian, kaca jendela itu diturunkan perlahan. Tapi....
"Bu ....Bu.....aduh pingsan segala, gimana ini, lagi deras hujannya, arrrghhhhhh masuk aja dalam mobilnya.....temanin dia duluan sampai sadar," ucap Leo sendirian.
Hujan kembali deras, menemani malam mereka. Syah langsung membetulkan posisi Dira. Menurunkan posisi tempat duduk Dira agar lebih selesa.
"Ya Allah, bagaimana dia bisa begitu panas, sepertinya dia demam nih,"
Syah tidak dapat membuat pilihan dan dia terpaksa memeluk Dira untuk membantu menurunkan panas tubuhnya agar berkurang.
Syah menemani Dira sehingga dirinya juga terlena. Tanpa mereka sadar mereka tidur hingga subuh menjelang.
Suara azan subuh terdengar membangunkan seluruh umat Islam.
Dira terbangun ketika dia mendengar banyak suara yang mengganggu tidurnya. Dia mengamati keliling. Sepertinya dia masih di dalam mobilnya.
Dan kaget saat di sebelahnya ada sosok pria. Dira cuba mengingat apa yang terjadi malam kemarin. Tanpa berpikir Dira langsung membuka pintu mobilnya dan.......
"Wah wahhhhh....,lihat nih...cantik-cantik bikin masalah. Kalian berdua telah mempermalukan daerah kami dengan melakukan zinah...apakah kalian tidak tau dosa..ngak malu sama sekali?!!," bentak salah seorang pria paruh baya.
Syah yang mendengar riuh saking kagetnya melihat beberapa tetangga baru nya ada di situ. Lantas membuka pintu.
"Eh kamu nak Putra.. benarkan kamu yang baru tinggal di apartmen itu kan"
"Iya pak,....erm kenapa ramai-ramai begini pak?"
" Begi-----," langsung dipotong sosok pria berkumis.
__ADS_1
"Kalian telah membuat kawasan kami busuk dengan perilaku kalian"
"Maaf Pak, saya tidak ngerti, kami tidak melakukan apa-apa kesalahan, cuma---,"
"Argghhhh mana ada maling mau ngaku, tuh, udah seneng dapet enak-enaknya," ucap pria berkumis ngompar.
"Baru aja tinggal di daerah ini udah buat mesum, udah ngak ada perasaan malu!!," bentak salah seorang pria berkaos abu- abu.
"Pak seharusnya kita langsung bawa mereka ke masjid, ada pak RT juga Pak imam, kita nikahin aja terus," kata salah seorang pria gendut.
"Maaf bapak-bapak semua, ini salah faham, kami tidak ngelakuin apa-apa yang salah, kami tidak berzinah, sumpah?!!," Jelas Syah lagi.
Dira hanya diam, tidak berkata. Dira benar-benar masih terkejut dengan apa yang barusan orang- orang yang tidak ia kenali itu ucapkan.
Putra kasian melihat Dira yang masih keliru dan kaget karena tetangganya dengan mudahnya menuduh mereka berzinah.
Tiba di masjid, mereka menunaikan kewajiban dahulu. Setelah itu, mereka berkumpul di ruang tengah masjid untuk berbincang.
"Pak RT, kami memergok mereka di dalam mobil dalam keadaan mencurigakan," jelas pria paruh baya yang berkumis.
"Benar kalian melakukan perkara itu," Tanya Pak RT
"Tidakkk!!" jawab Dira dan Putra serempak.
"Tidak Pak Imam ban mobil saya kempes dan masa itu hujun sa....," kata Dira malah dipotong.
"Ya benar!!!!, Setuju," jawab bapak-bapak serentak.
Dira dan Putra hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa. Mereka buntu.
"Kalian sila hubungi orang tua kalian atau wakil kalian sekarang," tanpa bantahan Dira dan Putra mendail nombor orang kepercayaan mereka.
Dira menangis kerana malu dengan peristiwa yang datang tanpa duga dan menyesak dadanya.
Putra bingung lalu mencoba mendekati Dira.
"Bu Dira maaf, saya mohon maaf, sepatutnya ini semua ngak akan terjadi kalau saya tidak datang Bu,"
"Boleh aku pinjam ponsel mu..hiks hiks," Dira mengabaikan ucapan Syah dan meminta ponsel untuk menghubungi om Don.
Dira menjauh dari Syah dan mendail nomor di balik benda pipih itu.
📞" He-- Hello Om, bantuin Dira om hiks hiks," ucap Dira sambil teresak.
📞"Non Dira kemana saja, kenapa non...apa terjadi....Om ngak bisa hubungi kamu sejak kemarin, om ---,"
📞"OOmmm.... Dira hiks hikss,"
__ADS_1
📞"Non kenapa nih, nomor siapa ini, kamu kemana non Dira, nih dimana kamu sekarang ....om ak..," pinta Don dipotong Dira.
📞"Dira shareloc Om, hiksss..nanti dira jelasin ...hiks hiks,"
📞"Iya non,"
Hampir 30 menit mereka menunggu. Assisten Syah dan Asisten Dira tiba. Mereka melihat Ada sesuatu yang tidak kena.
"Apa yang berlaku, kok di masjid," batin Bima sudah pikir yang aneh-aneh.
Bima mendekati Syah dan menarik lengan Syah yang sedang duduk di kelilingi beberapa orang pria paruh baya.
"Bang," panggil Syah.
"Apa semua ini Syah, apa lagi olah mu tuan muda," bisik Bima di balas pandangan tajam oleh Syah.
Terdengar esakan seorang gadis muda tidak jauh dari mereka berdua. Syah sungguh kasian pada atasannya itu.
Bima yang melihat Syah memandang ke arah seorang gadis cantik langsung menyengol sikunya.
Syah menceritakan semuanya kepada Bima apa yang terjadi.
"Hikss hiksss Ommmm, aku ngak bersalah om, aku--," belum sempat Dira menjelasin semuanya, bapak-bapak memotong menyuruh mereka segera menikah dan mereka tidak mahu menanggung dosa.
"OMG," Bima masih tidak percaya apa yang terjadi dan hanya mengukir senyuman.
"Bang, napa kamu senyum-senyum, kamu ingin mengeledeku ya,"
" Ngak, tapi hihi, itu bukan kah atasan mu Pak OB," bisik Bima memukul perlahan kepala Syah.
"Iya benar bang,"
" Hahahahahahah,"
" Ngakak terus, aku lagi pusing kok bang, kasian tuh Bu Dira, sepertinya ini ngak adil kok," bisik Syah pada Bima yang hanya santai.
" Jodoh kali Tuan Muda," jawab Bima tenang.
"Jodoh jodoh, Ish jangan bilang gitu dong bang, aku merinding tauk,"
" Hihihii,"
"Argghhhh," ucap Syah dalam hati.
"Urusan ku akan mudah setelah ini, " tawa Bima dalam hati.
Bima mendekati asisten Bu Dira berbincang bersama imam dan mereka sepertinya tidak dapat membantu. Semua berdasarkan bukti nyata.
__ADS_1
Hanya satu saja jalannya...