
" Jika kamu ingin menguji karakter seseorang ...., hormati dia. Apabila dia punya karakter yang baik maka dia akan lebih menghormati kamu. Namun apabila dua punya karakter yang buruk maka dia akan merasa paling baik dari semuanya "
*
*
*
*
*
Keesokan paginya Bara berangkat lebih awal untuk menuju perusahaan BS untuk mengajukan kontrak kerjasama karena setelah beberapa kali pertemuan dengan CEO perusahaan BS akhirnya sudah ada kesepakatan antara perusahaan Bara dan perusahaan BS.
Setelah urusan dengan perusahaan BS selesai Bara langsung menuju kantor perusahaan milik Salju istrinya untuk mengurus perusahaannya. Memang agak sedikit berat, karena perusahaan Bara dan perusahaan Salju bergerak dalam bidang yang berbeda. Tapi sedikit banyak Bara sudah mengetahui bagaimana manajemen di perusahaan Salju karena Bara sudah sering membantu pekerjaan Salju meskipun tidak seratus persen.
Baru saja Bara duduk di kursi CEO milik Salju ..., pintu ruangan Salju diketuk oleh sekretaris salju.
" Mohon maaf pak Bara ..., ada pak Raffi di luar. Apa bisa dipersilahkan masuk ?" tanya sang sekretaris pada Bara yang mulai saat ini akan mengurus perusahaan Salju pemberian dari papanya.
__ADS_1
" Dipersilahkan masuk saja mba ...., " Bara memerintahkan sekretarisnya untuk mempersilahkan Raffi untuk masuk ke ruangannya.
" Apa kabar bro ..., sepertinya kita sudah satu bulan ini nggak pernah ketemu. Sibuk mulu ..., susah sekali kalau diajak ketemuan. Jangan jangan sekarang lu sudah jadi suami takut istri ..., maklumlah si ChaCha marica sepupu gue itu kan super galak," Raffi mengejek Bara yang sekarang susah sekali kalau diajak ketemuan apalagi diajak nongkrong meskipun itu di kafe sekedar ngobrol dan ngopi bareng teman temannya.
" Gue baik baik saja ..., sehat wal afiat. Bukannya gue takut sama istri tapi guel kan harus bekerja keras buat bikin anak istri gue bahagia. Lu mah enak ...., tinggal nerusin bisnisnya bokap nyokap lu yang konglomerat. Lah kalau gue ..., harus bating tulang biar bisnis gue tambah besar," ujar Bara menimpali ucapan Raffi.
" Bercanda bro ...., sejak kapan sih lu jadi seperti kanebo kering gitu. Biasanya lu paling suka bercanda dan paling usil diantara kita berempat," Raffi menepuk bahu Bara sahabatnya yang sudah lama nggak pernah kelihatan batang hidungnya.
" Iya gue juga tau kok kalau lu itu cuma bercanda. Gue ngundang lu ke sini buat sharing ...., masalah perusahaannya Salju. Lu tau sendiri kan, setelah melahirkan otomatis Salju waktunya lebih banyak untuk ngurusin Askara dan juga ngurusin gue jadi masalah perusahaan di serahin ke gue. Cuman masalahnya ...., perusahaan Salju dan perusahaan gue itu bidang bisnisnya itu beda. Gue lebih banyak ke properti sementara Salju seperti perusahaan lu," ujar Bara yang sengaja mengundang Raffi yang dulu pernah mengurus perusahaan Salju sebelum Salju bersedia menjalankan perusahaan papanya.
" Oh ..., jadi ceritanya lu minta bantuan gue. Oke baiklah ..., gue akan selalu siap sedia buat bantuin sahabat gue sekaligus kakak ipar gue," Raffi dengan percaya dirinya menyimpulkan bahwa pasti Bara bakalan meminta bantuannya untuk mengurus perusahaan Salju sepupunya.
" Gue nggak disuruh duduk nih ...., dasar teman nggak ada akhlak. Udah telfon mendadak ...., maksa banget agar gue bisa datang ke sini. Boro boro di kasih minum dipersilahkan duduk aja enggak ...., lu pelit amat sih," Raffi sedikit kesal dengan ulah Bara sahabatnya.
Bara hanya tersenyum kecil melihat tingkah Raffi yang sedikit kesal karena ulahnya.
" Iya maaf ..., gue lupa. Harusnya lu itu maklum ..., yang ada di otak gue sekarang bagaimana gue bisa mengurus perusahaan gue dan perusahaan Salju yang keduanya sama-sama penting. Gitu aja marah ...., sensi amat lu kayak anak gadis mau datang bulan," Bara pun mempersilahkan Raffi untuk duduk kemudian meminta sekretarisnya untuk membuatkan kopi untuknya dan juga Raffi sahabatnya.
Baik Bara maupun Raffi ...., keduanya merupakan pengusaha muda yang sedang naik daun termasuk Zhafran dan juga saudara kembar Raffi sementara Salju juga termasuk pengusaha wanita yang masih muda cukup populer dengan kepiawaiannya mengembangkan bisnis sang papa dan juga bisnis supermarket yang lumayan ramai karena berada di lokasi yang sangat strategis.
__ADS_1
Setelah hampir dua jam sharing-sharing tentang masalah perusahaan ..., Bara dan Raffi pun kemudian keluar untuk makan siang bersama dengan Zhafran dan juga Kenzo sahabatnya.
" Thank you ya ...., untuk semua saran dan juga masukkan masukan yang luar biasa dari lu. Mudah mudahan gue bisa mengurus dua perusahaan sekaligus agar bisa menjadi lebih maju dan lebih berkembang dari sebelumnya. Ngomong ngomong si Zhafran bisa datang nggak secara dia kan abadi negara pasti lebih mengutamakan kepentingan negara," Ujar Bara yang meragukan kedatangan Zhafran yang notabenenya seorang perwira angkatan darat.
" Lu tenang aja bro ..., Zhafran pasti datang. Dalam satu Minggu ini dia ngambil cuti tahunan ...., memangnya lu cuti nggak cuti tetep aja susah diajak nogkrong di kafe," Raffi pun menyindir Bara sahabatnya yang sangat susah dihubungi apalagi diajak nongkrong.
" Iya ..., gue terlalu sibuk nyari nafkah buat anak bini gue. Kayak lu aja nggak susah diajak ketemuan ...., kalau nggak gue paksa lu nggak bakalan datang ke kantor gue tadi buat sharing sharing masalah perusahaan," Bara pun nggak mau kalah dari Raffi yang dari tadi berusaha memojokkannya.
Zhafran dan Kenzo yang melihat Bara dan Raffi sedang berdebat pun nggak heran lagi karena memang Raffi dan Bara akan selalu bertengkar apabila ketemu. Zhafran dan Kenzo menghampiri Raffi dan Bara yang tidak menyadari kehadiran mereka.
" Aku itu heran ..., kalian itu selalu saja bertengkar kalau ketemu. Sebenarnya apa sih yang kalian perdebatkan, ingat kalian itu sudah bangkotan ...., sudah ad anak juga di rumah," ucapan Zhafran membuat Raffi dan Bara terdiam dan langsung berdiri memeluk Zhafran sahabatnya yang sudah lama nggak ketemu.
" Ya Tuhan ...., apa kabar bro. Tambah kenceng aja badan lu ..., kayak Gatot Kaca. Otot kawat balung Wesi ...., nggak kayak si Raffi adik ipar lu, badannya kaya kasur busa," Bara menyidir Raffi yang badannya sudah mulai melar kemana mana.
" Gue itu ..., saking bahagianya. Bini masih muda, cantik dan perhatian pula. Makanya makanan yang gue makan semuanya jadi daging semua bukan malah jadi tulang belulang kayak si Kenzo yang selalu saja ngenes hidupnya. Istrinya galak ...., udah gitu cemburuan lagi, makanya hidupnya itu nggak tenang," Raffi mencoba menyidir Kenzo, tapi Kenzo tidak memperdulikan ucapan Raffi yang jelas jelas sudah mengejeknya.
Kenzo bukanlah orang yang mudah tersinggung apalagi terbakar emosinya. Diantara lima sekawan ...., Kenzo lah orang yang paling tenang dalam mengambil sikap meskipun dia tidak sekaya lainnya.
" Terserah lu mau ngomong apa ..., hidup hidup gue, yang galak juga istri gue. Tapi gue beruntung karena istri gue itu cinta mati sama gue ...., nyatanya dia sangat cemburuan apalagi kalau gue bilang mau ketemu klien wanita pasti dia akan buru buru ngikutin gue," Kenzo dengan bangganya menceritakan kehidupan rumah tangganya yang dianggap nggak baik baik saja oleh teman temannya.
__ADS_1
" Suka suka lu aja bro ...., yang penting lu happy dan bahagia dengan keluarga kecil lu," ujar Bara yang sedikit tersentuh dengan kesabaran Kenzo menghadapi istrinya.