
" Loe benar ..., gue mau berubah atau tidak itu bukan karena loe.Tapi boleh dong gue jadiin loe sebagai motivasi gue,"
" Suka suka loe aja ..., gue mah kagak masalah," ucap Salju.
" Gue itu kagak tau apa apa tentang loe ..., tapi jujur sejak ijab qobul gue ngerasa nyaman aja dekat sama loe,"
Salju dan Bara tertawa mengingat bagaimana mereka menikah tanpa tau siapa calon mempelainya.
" Seminggu sebelum hari H, mama Ratu datang ke rumah kita .., gue nggak ada curiga sama sekali dengan kedatangan mana loe,"
" Pas dua hari sebelum pernikahan ..., mama ratu juga datang ke sini lagi dan berbicara banyak dengan gue tentang loe,"
" Loe tau kenapa gue terima loe jadi suami gue, karena ada seorang ibu yang begitu sayang sama loe dan pengin loe berubah," ucap Salju.
" Gue makasih banget sama loe ..., udah terima gue," ucap Bara.
Salju juga nggak tau saat mamanya Bara datang dan meminta dia untuk mau menikah dengan Bara dengan tabiat Bara yang buruk, dia langsung menerimanya.
" Tuhan selalu punya cara yang tidak pernah kita duga untuk menyatukan dua insan dalam satu ikatan pernikahan," batin Salju.
" Loe sekarang kepala rumah tangga ..., loe pasti tau harus bagaimana,"
__ADS_1
" Gue sih kagak minta apa apa ..., kecuali satu kejujuran. Jangan pernah loe sekali kali bohongi gue karena seumur hidup gue nggak akan pernah percaya lagi sama loe. Meskipun mungkin yang loe katakan suatu kebenaran," ucap Salju.
" Ingat baik baik ..., jangan pernah bohongin gue. Karena gue sangat menghargai sebuah kejujuran," lanjut Salju.
" Ya gue ngerti dan gue juga tau bagaimana rasanya di bohongi dan di khianati jadi nggak mungkin gue ngelakuin hal yang sama," ucap Bara.
Malam kedua pernikahan mereka, tidak ada sesuatu yang istimewa ..., hanya ngobrol dan bertukar cerita.
" Entah kebaikan apa yang gue perbuat hingga Allah mengirimkan seorang wanita yang baik hati dan mau menerima gue dengan segala kekurangan gue," batin Bara.
" Udah yuk kita tidur, gue udah ngantuk sekali," ucap Salju.
" Gue masih ada kerjaan, loe tidur aja dulu nggak usah nungguin gue," ucap Bara.
" Iya, gue ngerti ...., tidurlah dulu. Ntar gue nyusul," ucap Bara.
Salju itu suka ketus kalau ngomong di sisi lain dia wanita yang tegas berpendirian dan berpikiran dewasa dari cara dia menyikapi masalah.
" Gue sangat bersyukur ...., bisa nikah sama loe. Meskipun karena gue di jebak oleh nyokap gue sendiri," batin Bara.
" Nikah karena jebakan ...., konyol tapi menyenangkan," gumam Bara.
__ADS_1
Bara kembali melanjutkan pekerjaan, mengecek dan menandatangani berkas perjanjian kerjasama yang baru masuk tadi siang.
" Kelar juga ..., besok biar Bang Ke sinting itu yang ngambil berkasnya ke sini. Gue mau ambil cuti dua hari,"
" Gue mau ajak Salju tinggal di rumah pribadi gue ..., kagak sebesar rumah papa Keenan sih tapi itu hasil jerih payah gue," ucap keenan.
" Udah jam sebelas malam ..., gue tidur aja. Kerjaan udah beres ini," gumam Bara.
Bara naik ke ranjang king size milik istrinya dan tidur nyenyak di samping istrinya. Bara masih sungkan untuk menyentuh istrinya.
Salju dan Bara tertidur lelap hingga adzan subuh membangunkan mereka. Salju membangunkan suaminya untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim.
" Manusia bar bar ..., bangun dong. Lepasin dulu pelukan loe ..., gue enggap,"
" Loe berisik amat sih, gue masih ngantuk tau," ucap Bara semakin mempererat pelukannya.
" Buset ..., suami gue susah amat bangunnya. Emang sampai jam berapa dia ngurusin kerjaannya," batin Salju.
" Bar bar ..., papa udah nungguin loe mau di ajak ke masjid. Udah ih, buruan bangun ..., ntar gue siram pakai air mineral kalau kagak bangun bangun juga,"
" Iya iya gue bangun ..., mana handuknya gue mau mandi," ujar Bara.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Bara kelar mandinya dan memakai baju Koko yang sudah di siapin istrinya.
" Wow ....," ucap Salju.