
Dengan gerakan yang terbilang cukup cepat, jari nya menekan sebuah tombol pada remote sehingga benda persegi didepannya yang awalnya menampilkan layar berwarna hitam, kini berubah dan menampilkan kartun kesukannya.
"Oh ya, inilah saat-saat terindah dalam hidup" ucapnya ketika berhasil menelan makanan yang tadi dikunyahnya.
"Berita hari ini, hilangnya 5 anak berusia sekitar 3 sampai 5 tahun. Berdasarkan informasi---"
Layar didepannya kembali menampilkan warna hitam.
Gadis yang tadinya masih asik memakan sarapan yang dibuatnya dengan kerja keras sendiri, kini berdiri dan berniat untuk mencuci alat makan yang tadi dipakainya.
Membasuh tangannya usai mencuci piring, netranya beralih ke arah jam yang terletak tak jauh dari situ.
"Ah, aku hampir terlambat"
[□][□][□]
Bel sekolah yang sudah berbunyi sekitar 20 menit yang lalu, tak mengurungkan niat Kaila untuk terus berjalan menuju ke kelasnya sendiri.
Atau kata lainnya, dia terlambat.
"Hm? Gurunya tidak ada," ucapnya sedikit bingung ketika mendapati kelasnya sangat ramai.
Menoleh ke samping kiri dan kanan,sepertinya seluruh kelas mengalami hal yang serupa dengan kelasnya, yakni tidak ada guru yang masuk.
"Oya Kaila. Terlambat lagi? Sepertinya kau harus bangun lebih pagi agar tidak terlambat "
Menoleh ke samping, dirinya mendapati seorang perempuan yang memakai seragam yang sama, dengan tambahan jas.
Ya, jas yang menandakan bahwa mereka adalah anggota OSIS, tak terkecuali perempuan yang ada didepannya.
"Kau tahu kenapa tidak ada guru yang masuk, begitu kan yang ingin kau tanyakan padaku?" Tanya perempuan yang kini berada di samping nya.
Kaila yang tadinya baru saja mau bertanya, seketika terdiam karena sudah diketahui oleh perempuan yang berdiri di sampingnya.
"Ya Lesya,kau benar," ucapnya yang membuat sosok di samping nya tersenyum.
Lesya namanya, adalah salah satu murid di SMA Saint's Peterson, yang juga menjabat sebagai ketua OSIS sejak 3 bulan yang lalu.
Kini dirinya sedang menjelaskan alasan kenapa guru-guru tidak masuk mengajar ke kelas mereka.
"Jadi begitu,ya aku mengerti " tukas nya begitu Lesya mengakhiri perkataan yang keluar dari celah bibir nya.
Tersenyum ,satu tepukan pelan mendarat di bahu Kaila.
Yang ditepuk bingung,lantas bertanya
"Kenapa?"
"Mohon bantuannya, yah?"
Lesya sialan. Begitu kira-kira umpatan yang terus dilontarkan Kaila begitu tahu apa yang dimaksud dengan perkataan Lesya tadi.
Mohon bantuannya, ternyata disuruh nge babu. Hilih
Andreas, salah satu teman mereka yang juga kebetulan berpartisipasi dalam kepengurusan OSIS, berkata dengan lantang bahwa kegiatan ini akan membawa mereka pada sesuatu, yang entahlah apa itu, cukup mengagumkan.
Untuk info, mereka berdua,dihukum oleh Lesya karena melakukan pelanggaran.
Kaila datang terlambat, Andreas mematahkan hiasan kelas sebelah.
Jadilah mereka berbabu ria di gudang sekolah.
"Kau tahu Kaila, ketika selesai melakukan hal ini, kita akan diberitahu tentang sesuatu, yang pastinya sangat mengagumkan," ujarnya dengan sedikit efek dramatis pada kata 'mengagumkan'.
Kaila yang mendengar itu dengan cepat merotasikan bola matanya dengan malas.
"Singkirkan pikiran mu tentang hal mengagumkan itu. Memangnya apa yang akan kita dapatkan begitu kita selesai membersihkan gudang ini? Ucapan terima kasih?"
__ADS_1
Tepat ketika jarum jam yang menempel pada pergelangan tangan Andreas berada di angka 12, bel sekolah berbunyi.
Andreas yang sudah selesai dengan tugasnya, tersenyum lebar ke arah Kaila.
"Lihat,mengagumkan bukan?--aduh!"
"Dasar bodoh, hanya pengumuman biasa dan kau bilang ini mengagumkan!?."
Andreas menatap dengan penuh kegembiraan ke arah Kaila, yang sedang menatapnya balik dan seakan-akan ada pancaran api yang keluar dari belakang tubuhnya.
"Kaila, menurutmu pengumuman ini tidak istimewa?" Tanya Andreas sembari tersenyum.
Kaila yang sudah bersiap untuk memukuli Andreas, terdiam seketika.
Melihat Kaila yang kebingungan,Andreas kembali bersuara, " Istimewa dong, artinya kita selesai dengan acara babu ini. "
Kaila menatapnya, tersenyum manis.
Satu pukulan indah mendarat dengan mulus di atas kepala Andreas.
Serius, Andreas bersumpah kepada dirinya sendiri untuk tidak mengulangi candaannya yang terlampau lucu.
"Sakit Kaila, " sungutnya sungguh-sungguh
Kaila menatapnya dengan tatapan malas.
Andreas tersenyum," Tidak apa-apa Kaila, sudah sembuh kok."
Nanti kalau aku bicara lagi,dia akan memukulku. -Andreas yang tersakiti
Bicara lagi kau,ku tebas lehermu. - Kaila yang 'baik hati'
Bayangkan jika kau baru saja ingin bersantai di sela kegiatan yang begitu menguras tenaga, dan ada panggilan yang mendesakmu untuk segera beranjak meninggalkan tempat yang menurutmu santai itu?
Ya, itulah yang dirasakan oleh Zeline sekarang. Siswi SMA itu tidak mengeluh secara terang-terangan bahwa dia terganggu, namun raut wajahnya menunjukan itu semua.
Yang tadi nya sunyi kini berubah menjadi ramai.
Menghembuskan nafas dengan ritme yang pelan, netra nya memandang dengan serius ke depan.
"Tolong katakan sekali lagi dan saya akan percaya."
Pria yang berusia sekitar 42 tahun itu mengulangi perkataan yang baru diucapkannya sekitar 7 menit yang lalu, untuk meyakinkan siswi didepannya.
"Kita akan mengadakan study tour, pada bulan september."
Lesya diam sesaat sebelum akhirnya menyuarakan apa yang sedari tadi mengganjal dalam benaknya.
"Maaf jika saya lancang, setahu saya,ini kali pertama diadakannya study tour semenjak sekolah ini ditutup, atau lebih tepatnya sesudah kasus yang terjadi pada masa lampau. Apakah tidak apa-apa?."
Pria yang memegang jabatan sebagai kepala sekolah itu tampak serius ketika mendengar kata 'kasus pada masa lampau'.
"Ya, tidak apa-apa. Lanjutkan saja."
"Baik."
Kenzo baru saja kembali dari toilet untuk merapikan celana panjangnya ketika melihat Zeline berjalan dengan serius. Berusaha akrab, Kenzo menegurnya duluan, berharap bahwa gadis itu menjawabnya.
"Hai Zeline."
"Oh, Kenzo, halo. Ada apa memanggilku?" Tanyanya langsung ke inti pembicaraan, nampak tidak ingin membuang waktu percuma dengan meladeni sapaan tak berguna.
Entah bagaimana, rasa percaya diri yang tadinya berada tepat di atas kepalanya, kini menguap entah kemana, menyisakan rasa gugup yang luar biasa, padahal dirinya hanya menyapa.
"Hey, jangan menghalangi jalan," ujarnya.
Kenzo dengan cepat menoleh untuk melihat siapa yang sudah menyelamatkannya secara tidak langsung dari kondisi yang kurang bersahabat itu.
__ADS_1
"Ah Aerylin, kau mau pergi ke ruang OSIS?"
Aerylin mengangguk, mengiyakan pertanyaan yang dilayangkan Zeline kepadanya. Diliriknya lelaki yang tampak kikuk itu, kemudian atensi nya beralih kepada Zeline yang tengah menepuk pelan rok nya, mungkin sedikit berdebu, pikir Aerylin.
"Sama-sama saja, toh tujuannya sama."
Kaila baru saja ingin memakan roti isi keju yang dibawanya dari rumah ketika Andreas dengan elegannya masuk tanpa memberi salam dan sedikit menendang pintu.
"Eh ada Kaila, bagi dung rotinya," pinta Andreas ketika melihat Kaila yang tengah duduk dan sedang memegang roti.
"Kau ingin roti ini?" Tanya Kaila dengan nada dan tatapan yang seakan-akan memperbolehkan Andreas untuk mengambil sedikit dari roti yang sedang dipegangnya.
Andreas mengangguk antusias, kebetulan dia belum makan sama sekali dan ketika melihat roti, perutnya seakan-akan meronta untuk diisi.
Kaila tersenyum sebelum berdiri dari tempatnya, berjalan pelan menuju tempat dimana Andreas sedang berdiri dengan tatapan senang, dan sedetik kemudian, roti tersebut dimakan oleh Kaila, didepan Andreas yang sedang menatapnya dengan binar-binar kebahagiaan.
"Oh, jadi kau baru mau memesan makanan dan informasinya berbunyi?."
"Iy---"
"Kaila jahat sekali!!!!." Teriak Andreas dari dalam ruangan yang menyebabkan ketiga orang yang berada tepat di ambang pintu masuk, harus menutup telinganya karena suara Andreas yang begitu indah di gendang telinga.
"Yo, kenapa kalian bertiga diluar?"
Membalikkan badan serentak dan mendapati salah satu teman mereka, Adelle yang kini tengah tersenyum sumringah.
Aerylin dengan cepat menjawab pertanyaan Adelle.
" si bucin garis keras tadi teriak."
Ber oh-ria, Adelle memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, diikuti oleh tiga orang yang tadi.
"Oh, tepat sekali. Kalian sudah berkumpul disini."
Enam orang yang berada dalam satu ruangan itu menatap ke arah pintu masuk, dimana seorang pria yang memakai kemeja berwarna biru langit itu tengah tersenyum kepada mereka, sambil menjinjing dua tas plastik berukuran jumbo yang entahlah isinya apa.
Lesya yang baru saja masuk ke dalam ruang OSIS, terkejut karena disuguhkan dengan pemandangan yang cukup mengherankan.
Di dalam sana, sembilan orang yang berpartisipasi dalam kepengurusan OSIS yang diketuai oleh dirinya, sedang berpose seperti orang yang mempunyai beban hidup yang luar biasa beratnya.
Jika saja ini didalam dunia fantasi, mungkin di sekitar sembilan orang tersebut akan ada api imajiner yang menggambarkan seserius apa suasana di sekitar mereka.
Menghela napas, Lesya melirik ke arah meja yang berukuran sedang di sampingnya.
"Tas plastik apa ini? Sampah yah?," Tanyanya sambil mengangkat tas tersebut,mencoba menimbang-nimbang apakah isi dari tas tersebut adalah sampah.
"Ah! Jangan!!!," Teriak mereka serentak yang untungnya, tidak membuat Lesya kaget sampai-sampai bisa menjatuhkan tas plastik yang sedang dipegangnya.
Lesya menatap mereka semua,kemudian meletakkan kembali tas plastik tersebut ketempat semula.
" Kalian tahu? Jika saja ada orang lain yang melihat kalian tadi, mungkin mereka akan merasakan panasnya dunia sangking seriusnya wajah kalian."
Andreas tersenyum, seakan-akan Lesya sedang memujinya. " Terima kasih," ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Kaila merotasikan bola matanya dengan cepat. " Itu bukan pujian, bodoh."
"Oh! Isi nya ada banyak jenis cemilan,juga minuman!--tidak. Rasanya aneh. Siapa yang mengirim ini?."
Enam orang yang sudah terlebih dahulu berada disitu, tersenyum dengan tidak ikhlas.
"Pak Nicko. Tadi dia yang bawa itu kesini, sambil senyum," Jelas Adelle.
Lesya mengerutkan keningnya, bingung.
"Kenapa tiba-tiba dikasih cemilan sama pak Nicko?."
Kaila melihat ke arah Lesya, kemudian mengalihkan atensinya ke tas plastik berukuran jumbo disamping Lesya.
__ADS_1
Mencurigakan. Dia saja jarang terlihat baik didepan kami. Kenapa dia malah memberi cemilan? Bahkan dalam jumlah yang banyak.
"Tidak harus berpikir serumit itu, Kaila." Andreas tertawa pelan. "Kalau memang mencurigakan,yasudah. "