
Jarum jam menunjukkan angka sembilan. Monic mengerjapkan matanya, kemudian terdiam di atas tempat tidur.
"Aku terlambat bangun lagi ..."
Wanita itu turun dari tempat tidur. Baiklah, ini hari sabtu dan sekolah libur. Tidak masalah kalau dia terlambat bangun di hari ini. Anggaplah ini hadiah karena semalam dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya yang menumpuk.
Wanita itu baru menginjak dapur ketika hidungnya menangkap aroma masakan. Monic menaikkan satu alisnya, bingung karena aroma masakan itu sangat enak, padahal tidak ada siapa-siapa disana.
Tunggu ... jangan bilang kalau itu adalah hantu?!
Monic yang pada dasarnya adalah orang yang penakut, perlahan berjalan mundur dan tanpa sengaja menjatuhkan ponsel yang dia pegang.
Oh no! Ponselku!!!!
Kaki jenjangnya perlahan terlihat, kemudian disusul dengan satu tangan lalu seluruh tubuhnya nampak di ambang dapur.
Tangannya memegang pisau yang seakan berkilauan, membuat Monic berteriak dan lari ke dalam kamar.
Gadis itu menggeleng pelan. "Padahal aku sudah minta izin untuk menggunakan dapurnya, bahkan semalam aku menginap disini. Kenapa dia bertindak seakan-akan aku adalah pencuri?."
Lesya mengetuk pintu kamar yang tadi dimasuki Monic. Gadis itu sudah meletakkan pisau tadi ke tempatnya, jadi sekarang kedua tangannya tidak memegang apapun.
"Bu Monic?. Halo?. Saya Lesya, saya sudah meminta izin untuk menggunakan dapur. Saya membantu anda mengerjakan laporan serta menginap disini. Apakah anda lupa?."
Tepat setelah Lesya mengakhiri perkataannya yang panjang, pintu itu langsung dibuka dan seorang wanita berdiri di ambang pintu dapur sembari tersenyum kaku.
"Anda lupa?."
"Maafkan aku. Kupikir aku hanya sendiri disini,"sesalnya.
Monic menarik pintu dibelakangnya, kemudian berjalan menuju dapur. Lesya dengan cepat menahan wanita itu ketika kakinya hampir menginjak lantai dapur. Seketika Monic menatapnya dengan bingung.
"Anda mau kemana dan mau apa?."
Pertanyaan Lesya membuat Monic bingung. Dia mau ke dapur dan mau membantu gadis itu untuk memasak, sesuatu yang biasa kan?.
Monic berani bersumpah, tatapan Lesya benar-benar kosong, kemudian berubah menjadi sangat menakutkan.
"Tolong, menjauh dari dapur, sekarang."
"Ba-baik ..."
Cari aman saja daripada perang, pikir Monic. Lesya menatap punggung wanita itu yang mulai menjauh.
"Meskipun nasi gorengku tidak maknyus kayak di televisi, bukan berarti aku tidak bisa membuat makanan enak lainnya," gumamnya sembari melanjutkan sesi masak-memasak tadi yang sempat tertunda. Jika saja ini didalam dunia kartun, maka bisa dipastikan kalau aura membara akan menguar dari gadis bersurai merah muda itu.
Lesya menatap sebentar panci yang dia gunakan. "Aku menginap disini, ada yang tanya tidak ya? ...
...(・∀・)...
__ADS_1
"Nenek~. Dimana buahnya?."
Seorang wanita tua, surainya diikat satu dan raut wajahnya penuh keteduhan menatap seorang pria yang baru saja datang dari tempat jauh.
"Aiya Ryan. Dimana salammu?."
Pria itu sontak menatap wanita tua yang berada didepannya. Seakan melakukan kesalahan besar, Ryan mundur beberapa langkah dan membentuk gestur satu tangan didepan dahi, persis seperti sedang melakukan penghormatan bendera.
"Saya Ryan, meminta maaf kepada Nenek, karena Ryan tidak mengucapkan salam. Sekian permintaan maaf dari Ryan!."
Wanita tua itu tertawa, kemudian berjalan keluar dan memeluk Ryan. "Menginaplah selama beberapa hari Ryan. Kau harus menginap disini, atau semua buah kesukaanmu akan Nenek buang."
"Baik." Mau tidak mau, pria itu mengiyakan permintaan (sedikit mengarah ke pemaksaan) Neneknya itu.
Pria yang belum lama sampai di rumah Neneknya itu menarik napas panjang.
Tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari Nenek, pikirnya.
Wanita tua yang berjalan masuk kedalam rumah itu menatap sendu lantai dibawahnya. Pria yang datang berkunjung itu sudah besar. Dia sadar betul kalau pria yang sedang berjalan di belakangnya itu pasti menyimpan masalahnya sendiri.
Anak itu sudah tumbuh besar. Dia tahu betul kalau hal yang disembunyikan, ujung-ujungnya akan ketahuan. Menghela napas, wanita tua itu berbalik dan mendapati seorang wanita lainnya.
"Lho, kok Riana yang disini?. Ryannya mana?,"tanya wanita tua itu, sedikit penasaran.
Riama mengangkat kedua bahunya. "Tidak tahu Nenek. Riana baru keluar dari kamar mandi dan mengikuti Nenek kesini. Oh, Ryan sudah sampai?!,"teriaknya dengan cepat, tidak menyadari kalau anak lelaki yang sekarang sudah tumbuh menjadi pria tampan itu sudah sampai.
"Ryan?!."
Keduanya berpelukan cukup lama, sampai-sampai pria tua yang baru saja masuk kedalam rumah sedikit berdeham untuk menyudahi sesi pelukan mereka berdua.
"Kalian berdua seperti anak-anak saja."
Riana menyunggingkan senyum terbaiknya sembari merangkul Ryan. "Aiya Kakek~. Tidakkah Kakek melihat kalau kami masih mempesona?. Oh salah, tetap mempesona maksudnya."
Pria tua yang masih memegang topi miliknya itu menggeleng pelan, kemudian menggulirkan atensinya ke arah dapur. "Dimana Nenek kalian?. Apakah dia sedang memasak?."
"Aku disini. Baru selesai masak." Seorang wanita tua, sedikit berjalan keluar dari dapur dan melambaikan tangannya.
Riana menarik tangan Ryan. "Kita keluar saja. Kalau kita berdua terus berada disini, nanti kita jadi obat nyamuk."
Mengangguk antusias, keduanya perlahan berjalan menuju pintu belakang. Meskipun Kakek dan Neneknya sudah tua, keromantisan mereka berdua patut diacungi jempol. Disaat seperti ini, rasanya Ryan ingin memakan apa saja yang ada didepannya.
Riana menatap dua orang didepannya dengan kesal. "Sampai kapan sih mereka berdua akan saling menatap seperti itu?,"keluhnya. Mereka berdua tidak jadi pergi ke taman belakang, dan berakhir melihat sesi keromantisan dari pasangan lanjut usia didepan sana.
Ryan mengangguk. "Mana gak punya pacar lagi. Kan makin menjadi-jadi rasa iri didalam hati ini."
...(☆▽☆)...
Tubuhnya dia bawa menuju suatu tempat. Hari ini, pemuda itu hendak membantu teman-temannya untuk membersihkan gudang sekolah. Mumpung hari ini libur dan dia tidak memiliki kesibukan.
__ADS_1
"Oh?. Bukankah itu Adelle?."
Tanpa sadar dirinya pergi bersembunyi dibalik halte. Sungguh, Adriell tidak tahu kenapa dia bersembunyi, padahal Adelle bahkan tidak melihat kearahnya. Tubuhnya bergerak sendiri, kau tahu?.
Saat sedang serius menatap gadis bersurai merah didepan sana, tetesan air perlahan jatuh dan mulai membasahi kemeja putih yang dia gunakan.
"Ah!. Gawat gawat!!."
Dingin, tapi atensinya tetap tertuju pada gadis bersurai merah. Gadis itu tidak beranjak sama sekali dari posisinya, membuat Adriell penasaran dan memutuskan untuk menghampirinya
"Ade--"
Baru saja berjalan tak jauh dari halte, nampak didepan sana, Adelle berlari dengan sangat cepat, menjauhi Adriell.
"Apa yang---- larinya cepat sekali!!."
Aksi kejar-kejaran itu masih berlanjut. Tentunya, Adelle tidak tahu kalau ada seseorang yang mengejarnya. Gadis itu masih terus berlari dan tidak mempedulikan sekelilingnya, terbukti dari teriakan Adriell yang tidak dihiraukannya.
Sungguh, sepertinya Adriell akan meminta Lesya untuk menambahkan Adelle ke dalam peserta lomba lari. Bagaimana tidak, gadis itu masih berlari dan sialnya, jarak diantara mereka berdua benar-benar jauh.
"Aku ... Hah ... Larinya benar-benar ... Cepat ..."
Tidak, dirinya tidak boleh menyerah. Adelle bukan tipe orang yang akan berlari secepat itu. Dia baru pertama kali melihat Adelle berlari secepat itu, dan dia harus mengejar Adelle.
"Dia larinya gak belok-belok kan?. Oke sip."
Setelah aksi lari-perlarian yang dilakukan oleh Adelle dan Adriell, tanpa sadar mereka berdua sudah sangat jauh dari sekolah, atau singkatnya, dua orang itu sudah berada di kota sebelah.
Hebat banget Adelle. Kapan-kapan minta resep ah.
Gadis itu menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Ditatapnya jalanan didepan sana. Baru saja dirinya melangkahkan satu kaki ke depan, sebuah tangan lain menarik dirinya.
"Eh? Eh?!."
Ditatapnya sosok yang barusan menarik tangannya itu. Wajahnya tidak jelas karena Adelle sedikit menutup matanya karena ingin bersin.
"Maaf, saya pikir anda terlalu dekat dengan jalan. Mobil bisa saja menabrak anda."
"O-oh ..."
Gadis itu terdiam. Dia baru saja menyadari kalau ini bukan kotanya, melainkan kota sebelah. Sedikit menunduk, Adelle meminta maaf sekaligus berterima kasih kepada pria itu karena sudah menarik dirinya ke trotoar.
Pria itu menampilkan senyum sembari mengibaskan tangannya. "Kebetulan saya sedang mengantar adik saya ke toko buku didekat sini, anggap saja saya penolong yang diutus Tuhan untuk membantu kamu."
Adelle masih menatap pria itu. Sungguh, dia benar-benar tidak sadar kalau sekarang dia berada di kota sebelah. Lamunannya pecah ketika ponsel lain didekatnya berbunyi.
"Ah, maafkan saya. Adik saya sudah selesai dengan segala urusannya. Jika Tuhan berkenan, semoga kita dipertemukan lagi. Senang bertemu dengan anda, Nona."
Adelle menatap punggung pria itu yang mulai menjauh. Kali ini, dia akan berlari lagi menuju kotanya sendiri. Baru saja ingin berbalik, dirinya dikejutkan dengan sosok lainnya.
__ADS_1
"Adriell?!. Tunggu, kenapa kau basah?!."
"Yang harusnya aku tanyakan, kenapa kau tidak basah padahal sudah berlari sejauh itu?. Padahal tadi hujan ..."