
"Alland!."
Panggilan itu membuatnya menoleh ke belakang dan menemukan seorang gadis sedang melambaikan tangan kearahnya.
Alland, pada waktu itu berusia sepuluh tahun, menyambut panggilan itu dengan senyum lebar.
"Kak Rea!."
Alland sedikit berlari dan hampir jatuh, namun dengan cepat ditangkap oleh Rea. Hening menyambut keduanya, kemudian diganti dengan gelak tawa.
Eh, kenapa aku ikut Kak Rea?
"Jangan kau kira aku bodoh. Anak kecil sepertimu, bagaimana bisa sampai di tempat yang sangat jauh dari rumahnya sendiri?."
Alland menunduk, sedikit takut dengan suara yang dikeluarkan oleh gadis didepannya. Tidak, Rea tidak memarahi Alland. Gadis itu tanpa sadar mengeluarkan nada yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
Perkataan Rea tentang dirinya tidak bodoh itu keluar begitu saja ketika matanya menangkap hal yang aneh dari Alland.
Anak lelaki berusia sepuluh tahun itu tergolong anak yang sangat rapi. Buku-bukunya dia atur dengan sangat baik agar muat didalam tas sekolah, kaus kaki yang diatur agar sejajar, dan sepatunya yang bersih.
Tapi hari ini, Rea tidak mendapati semua hal yang biasanya dia lihat didalam diri Alland. Anak itu berdiri sendirian di ujung jalan sana, dengan pakaian yang tidak rapi. Kaus kaki yang kotor di beberapa bagian, sepatunya yang nampak terkelupas dan buku-bukunya yang seakan berusaha untuk keluar tapi tidak bisa karena tasnya dikunci rapat-rapat.
Rea memaklumi hal tersebut. Mungkin saja Alland sedang buru-buru, makanya penampilan anak itu sedikit berbeda dari biasanya. Tadinya Rea ingin berpikir seperti itu kalau saja sudut bibir Alland tidak menarik perhatiannya.
Di sudut bibirnya, nampak ada darah yang sudah mengering. Karena itu, Rea akan membawa Alland bersamanya.
...(つ✧ω✧)つ...
"Jangan berurusan dengan sekolah sebelah."
Lesya menatap langit yang mulai mendung diatasnya. "Siapa juga sih yang mau berurusan dengan sekolah sebelah ..."
Benar, jika saja perwakilan dari sekolah sebelah tidak mendatangi dia dengan tubuh yang basah kuyup serta bibirnya yang gemetar saat menyampaikan permintaan untuk datang ke sekolahnya, gadis itu tidak akan berada disini sekarang.
Bangunan didepannya tidak terlihat mencurigakan. Gerbangnya nampak kokoh dan bersih. Tidak ada sampah yang berserakan. Semuanya benar-benar rapi dan bersih.
Lesya sedikit menarik kedua sudut bibirnya. Ya, bukan sekolahnya, tapi penghuninya yang kotor.
Hampir semua penghuni sekolah seberang mengenal Ketua OSIS dari SMA Saint's Peterson itu. Ini semua tak luput dari kunjungannya yang seringkali bisa berhari-hari dan tentunya siswa-siswi disana bisa melihat dia.
Oho, jadi sepi ya sekarang.
Gadis itu langsung melangkahkan kaki jenjangnya menuju ruang guru. Ah ralat, dia tidak jadi pergi kesana. Tubuhnya dia bawa ke arah belakang sekolah. Dia pernah mendengar rumor kalau sekolah ini mempunyai taman tepat di belakang sekolah.
Lesya bukannya penasaran tentang taman itu, hanya saja ...
"Kali ini, kasus apa yang menimpa sekolah anda?."
Orang yang diberi kepercayaan untuk menjadi kepala atas sekolah seberang ini, sering berada di taman belakang, menghabiskan waktunya untuk sekedar melihat langit sembari meminum kopi instan.
__ADS_1
"Biarkan aku menghabiskan kopi ini terlebih dahulu," pintanya seakan-akan dia tidak punya waktu lagi begitu berhadapan dengan gadis bersurai merah muda itu.
Tanpa dia meminta pun, Lesya tidak akan merebut kopi itu dari tangannya. Dia bisa membeli kopi itu kalau dia mau.
"Jadi?."
Pria yang mengenakan kemeja putih sebagai atasannya itu tersenyum. "Tidakkah kau bosan datang kesini setiap ada masalah?."
"Saya sangat bosan dan keberatan, lelah letih dan lesu. Datang kesini sama saja dengan mengantarkan jiwa saya menuju yang maha kuasa."
Arthur, kepala sekolah yang senang menghabiskan waktunya di taman sekolah itu mengangguk. Ketua OSIS itu mengatakan isi pikirannya dengan sangat jujur, dan tidak ada kebohongan didalamnya.
Pria itu menarik satu napas panjang sebelum mengatakan hal yang sedari tadi menari di dalam benaknya.
"Beberapa hari yang lalu, seorang wanita datang dan mengatakan kalau anaknya adalah korban perundungan dua tahun yang lalu."
...(☉。☉)!...
"Apakah kau mau memakan sesuatu?."
Seorang pria, tengah berdiri sembari memegang sebuah nampan berisikan makanan serta minuman.
Didepannya, seorang gadis sedang duduk diatas kasur sembari menatap jendela besar di sampingnya.
"Kau tahu ..."
"... Kita harus makan agar sehat."
"Selamat sore."
Atensinya dia alihkan dari nampan makanan ke arah pintu utama.
Disana, berdiri seorang gadis dengan payung ditangannya.
Ah, diluar hujan ya. Aku tidak menyadarinya.
"Lesya, apakah kau pernah mogok makan?."
Gadis yang sedang menunduk untuk mengecek kursi yang akan dia gunakan itu menatapnya dengan bingung.
"Tidak, sama sekali tidak pernah. Kenapa memangnya?."
Allend sedikit mengusap tengkuk lehernya. Jika boleh jujur, dia ingin meminta bantuan Lesya.
"Kenapa?."
Allend memilih untuk mengurungkan niatnya. Belum tentu juga kalau gadis bersurai merah muda itu mampu melakukan apa yang dia mau.
"Apakah disini ada yang tidak menyentuh makanannya sampai anda terlihat sangat frustasi?."
__ADS_1
Hebat. Harusnya aku tahu kalau gadis di depanku ini bisa menebak sesuatu dengan benar.
"Sebenarnya ..."
.
Gadis itu tidak bergerak sama sekali dari posisinya. Dia terus menatap jendela, seakan-akan tubuhnya akan keluar dari dalam bangunan itu hanya dengan menatap jendela.
Suara pintu yang dibuka pun tidak mampu menarik atensinya dari jendela itu, seakan-akan ada magnet besar disana.
Pintu ditutup. Gadis itu tanpa sadar menoleh ke arah pintu dan menemukan seseorang sedang melihat ke arahnya.
Perlahan tapi pasti, Lesya berjalan maju, menuju gadis yang sepertinya terobsesi dengan dunia luar itu.
"Halo," sapanya dengan lembut, berusaha agar gadis didepannya tidak berteriak histeris atau melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirinya sendiri.
"Namaku Lesya."
"Kuharap kau bisa membantuku."
"Aku dengar dari Kakakmu, kau tidak menyentuh makanan yang dibuatnya ya?."
"Tolong bantu aku. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat."
Gadis itu tidak mengeluarkan suara sama sekali. Sebelum Lesya menginjakkan kakinya ke dalam kamar ini, dia tidak menyangka kalau didalam sini benar-benar sunyi.
Lesya mengusap tangannya sendiri. Benar, Allend tidak berbohong kepadanya. Gadis ini tidak bisa berbicara, atau singkatnya, dia bisu.
Si surai merah muda ikut menatap jendela yang menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu. Hangat dan menenangkan, pikirnya.
Gadis didepannya nampak menulis sesuatu di buku hitam yang tidak terlalu tebal. Lesya penasaran, apa yang dia tulis disitu?. Apakah dia ingin mengusir dirinya karena mengganggu?.
Semua ekspektasi tentang tulisan yang dibuat oleh gadis itu langsung menghilang begitu buku hitam miliknya diangkat.
"Kupikir, kau ahli dalam masalah seperti ini Lesya."
Gadis bersurai merah muda itu mengangkat pandangannya. "Masalah apa?," tanyanya.
Allend sedikit menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Niala ingin menjadi penyanyi."
Lesya menaikkan satu alisnya. Apa hubungannya dia dengan cita-cita gadis itu?.
Lesya memilih untuk diam dan mendengarkan perkataan Allend.
"Terjadi sesuatu kepadanya dua tahun yang lalu dan----."
Dapat dia rasakan kalau tubuhnya sedikit meremang. Apakah ini kebetulan?. Tadi dia baru saja duduk mendengar tentang seorang wanita yang mengaku kalau anaknya adalah korban perundungan dua tahun yang lalu.
"Maaf, dimana orang tua kalian?."
__ADS_1
Allend menatap Lesya dengan sendu. Baiklah, keheningan yang diciptakan oleh Allend sudah mampu menjawab pertanyaannya.