Patency

Patency
33. Pujian


__ADS_3

Langkahnya sedikit tergesa-gesa. Jalanan saat hari mulai gelap terlihat sangat berbeda dan memberikan rasa nyaman yang aneh.


Kupikir aku akan gila. Rasanya semua benar-benar seperti tidak terhingga. Apakah aku pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya?


Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, sama sekali tidak pernah.


Seketika ingatan tentang anak-anak di sekolah yang tertawa dengan riang memenuhi pikiranku yang mulai kalang kabut.


Apa ya namanya ... kupu-kupu di dalam perut? Ah entahlah! Aku benar-benar tidak tahu dan tidak mau tahu.


Tapi wanita di depanku, benar-benar curang.


Bagaimana bisa dia mencuri semua perhatianku hanya dengan senyumnya yang begitu manis?


"Oh? Pak Ryan sudah sampai~"


Sial, tambah manis.


Aku mengikuti langkahnya ke dalam rumah. Sebenarnya aku sedikit takut. Bagaimana kalau ada yang melihat kami?


Secara, kami berdua adalah guru dan di sekitar sini penuh dengan anak sekolah.


"Maaf yah, rumah saya tidak sebesar itu."


Apa ini?


Kalian tahu apa yang kulihat sekarang?


Sebuah meja makan lengkap dengan kursi, tapi bukan itu poin pentingnya.


"Anda ... menyiapkan ini semua?," tanyaku tanpa sadar karena terlalu terpukau.


"Y-ya?"


Ah, dia gugup. Kenapa dia begitu lucu?


Ngomong-ngomong, kami tidak berada di dalam rumah. Kami duduk di luar, di sebuah kursi yang sudah disiapkan oleh Monic.


Monic memang mengatakan kalau rumahnya tidak sebesar itu, tapi apa yang kulihat sekarang benar-benar tidak terduga.


Disini, di belakang rumahnya ada meja kecil dan dua kursi serupa.


Ya, aku sudah mengatakannya tadi. Sepertinya aku sangat kaget sampai-sampai mengatakan hal yang sama dua kali.


Halaman belakangnya benar-benar bagus!


"Saya hanya membersihkan meja dan kursi, kemudian membuat kue ... ya, saya hanya melakukan itu."


Melihat Monic yang tersenyum membuat pria itu ikut tersenyum. Pria dengan raut wajah datar itu sedikit tersipu saat Monic menarik kedua sudut bibirnya membentuk suatu senyuman. Entahlah, mungkin dia tidak terbiasa dengan hal itu.


Cuaca di malam hari pun sangat mendukung. Mereka berdua makan dengan tenang, sesekali saling menanyakan satu sama lain dan berakhir dengan rona merah yang menjalar di wajah masing-masing.


"Oh, kue ini enak."

__ADS_1


Monic mengangkat pandangannya tanpa sadar dan menatap pria didepannya. "Enak? Kue ini? Maksudnya, yang saya buat ini enak?," tanyanya beruntun kepada Ryan.


Ryan mengangguk, langsung menjawab dengan spontan. "Iya, ini enak. Saya tidak menyangka kalau anda pintar membuat kue."


Baiklah, kali ini rona merah dengan sangat cepat menjalar di seluruh permukaan wajah wanita itu.


"A-ah, saya hanya mengikuti resep yang ada ..."


Ryan tersenyum. "Meskipun begitu, anda berhasil membuat kue ini dengan sangat baik."


Siapapun tolong aku!


Wajahnya ... wajahnya yang rupawan benar-benar mematikan dengan senyuman yang ada!!!!


Huaa, sepertinya aku akan mati!


"Anda baik-baik saja?"


Tidak! Aku tidak baik-baik saja, apalagi kalau kau yang tanya!


"Ya, saya baik-baik saja."


Tidak!!! Aku benar-benar tidak baik-baik saja!


...🥀🥀🥀...


"Maaf sudah merepotkan kalian, harusnya tadi aku pergi membelinya sendiri."


"Santai, toh searah juga."


"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak pergi membelinya sendiri?"


Zeline menatap Aerylin yang bertanya kepada Lesya. Gadis itu belum berbicara sama sekali dan cenderung membantu Adelle di dapur, sesekali dia pergi ke ruang tamu untuk melihat apakah ada yang memerlukan bantuannya.


"Aku hampir pergi keluar ketika ada panggilan masuk di ponselku."


Aerylin mengangguk dan memberikan kode agar gadis dengan surai merah muda itu melanjutkan ceritanya.


"Hanya panggilan dari teman yang hampir memiliki nasib yang serupa."


"Serupa?," tanya Zeline yang kebetulan ada di ruang tamu.


"Yah, serupa. Kau mengerti kan Zeline?"


Yang ditanya mengangguk. Aerylin dan Kaila yang ada disitu juga mendadak canggung usai Lesya berkata seperti itu.


"B-bagaimana kalau kita main monopoli?"


"Tidak terima kasih, aku sudah cukup kaya di dunia nyata." Tolakan halus dari Adelle yang tiba-tiba datang mendapat tatapan sinis dari Kaila.


"Ngomongnya gjtu, pas di kantin ngutang tuh."


"Ho'oh, kaya darimananya itu," sambung Aerylin yang memang duduk dekat dengan Kaila.

__ADS_1


"Ga kukasih makan kalian berdua wahai manusia jahanam," tandas Adelle seraya meledek dua gadis yang menatapnya dengan cemberut.


"Yang punya makanan Lesya kok."


"Kan yang masak aku, wlee."


Aerylin yang kalah telak dari Adelle sontak menatap Lesya, meminta bantuan dari gadis bersurai merah muda itu.


Lesya yang melihat Aerylin pun sontak mengangkat kedua bahunya. "Yah Adelle benar, bagaimana pun dia yang memasak."


"Aku akan memasak sendiri kalau begitu." Kaila langsung berdiri dan mendapat acungan jempol dari Aerylin.


"Bercanda Kaila ih, mainnya langsung pergi masak sendiri," ujar Adelle yang mulai tertawa.


"Adelle masak apa?," tanya Lesya yang mulai penasaran. Sedari tadi mereka berbicara di ruang tamu, indera penciumannya menangkap bau yang sangat enak dari dapur.


"Sup makaroni sama nasi goreng, mantep ga tuh?"


Lesya bertepuk tangan beberapa kali. "Mantap Adelle, kau memang terbaik."


"Tapi aku masih penasaran Lesya."


Yang ditanya langsung berbalik dan menatap lawan bicaranya. "Penasaran kenapa?"


"Tadi aku mendengar kalau ada seseorang yang menelponmu, katamu teman lama? Apa aku mengenalnya?"


Nampak gadis bersurai merah muda itu berpikir sebentar. "Mhm ... sepertinya tidak? Kapan-kapan akan kukenalkan kepadamu, Adelle."


Aerylin yang sampai lebih dulu di ruang makan sontak duduk di dekat dispenser air, Adelle yang berdebat dengan Kaila karena ingin duduk di samping Lesya, dan Zeline yang datang paling akhir pun langsung duduk di samping gadis bersurai merah muda itu, tanpa menyadari kalau dua temannya berdebat hanya karena ingin duduk di tempatnya.


"Tahu gitu ga usah jambak-jambak rambut sama Kaila."


"Au ah."


"Enak betul duduk dekat dispenser," ucap Adelle begitu duduk di samping Kaila. Ya, karena keduanya tidak berhasil duduk di sebelah Lesya, mereka pun duduk di depan gadis itu.


Aerylin yang pada dasarnya sibuk memakan makanan buatan Adelle, sontak langsung memuji dengan terang-terangan di depan orangnya langsung. "Enak! Masakanmu enak Adelle!"


"Oh!? Benarkah!?"


Tiga orang yang baru saja menelan makanan itu pun langsung memberikan komentar yang serupa.


Seperti :


"Makanannya enak, terima kasih Adelle " - Zeline dengan sopan dan polos memberikan komentar yang baik.


"ENAK!"


"HO'OH!"


Dua orang dengan akhlak minus yang memberikan komentar baik.


"Hehe, biasa saja kok ..."

__ADS_1


Tidak dapat dipungkiri kalau wajah dari gadis bersurai merah itu merona hebat. Ya, Adelle mulai salah tingkah karena empat temannya memuji masakan yang dia buat.


__ADS_2