Patency

Patency
Bab 22, Kalau bisa, apakah mungkin akan terjadi?


__ADS_3

Lahir dari keluarga yang nampaknya tidak pernah bertengkar, tidak berarti akan membuat hidupnya menjadi lebih baik.


Alland mengetahui itu secara menyeluruh, dan ingin membalas semua orang yang berkata, Kau tidak pernah mengerti penderitaan kami, karena kau lahir di keluarga yang baik-baik saja.


Hei bung, semua orang akan dan sudah menderita. Entah kapan, apakah sudah terjadi di masa lalu ataupun akan terjadi di masa depan. Semua orang akan mengalaminya, dan itu adalah sesuatu yang pasti. Tidak ada orang yang tidak pernah menderita dalam hidupnya.


Alland, pada waktu itu berusia sepuluh tahun, merasakan penderitaan yang luar biasa. Dari luar, dia memang tersenyum sepanjang hari, kemudian menangis ketika tidak ada seseorang didekatnya.


Disaat anak-anak seumurannya bisa bermain dengan teman, dia hanya duduk sendirian di taman dekat sekolah.


Menyedihkan memang, tapi dia tidak peduli. Sampai ketika seseorang menghampiri dirinya yang duduk di ayunan.


Suaranya lembut menyapa pendengaran Alland. Bagi anak seumurnya, sosok yang datang menghampirinya seperti seorang kakak. Kakak yang datang ketika adiknya mengalami kesulitan, kemudian menenangkannya, sembari berkata bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini.


Alland yang pada saat itu memang membutuhkan seseorang, merasa bahwa kedatangan seseorang itu adalah berkat baginya.


Mereka duduk bersama, dan menghabiskan beberapa cemilan serta minuman. Tertawa, berbagi cerita, memberikan kekuatan agar bisa menghadapi hari esok, Alland benar-benar melupakan kesedihannya.


Seorang gadis, berusia sekitar enam belas tahun,dialah yang menghampiri Alland kecil yang tengah duduk di ayunan, tanpa teman di sampingnya.


Gadis itu memiliki paras yang rupawan, serta tutur kata yang sopan. Alland menyukainya, dan berjanji ketika dewasa nanti, anak itu akan menjaganya ,tidak peduli apa yang terjadi. Tidak masalah jika Alland hanya bisa melihatnya dari jauh, katanya saat itu.


Hari-hari mereka lalui. Perlahan, Alland berjalan dan bertemu dengan gadis itu didepan gerbang sekolahnya. Entah sengaja atau tidak, nyatanya Alland merasakan perasaan yang baru. Memiliki teman, mempunyai tempat bersandar, Alland benar-benar bersyukur.


Alland menghela napas. Paras gadis itu benar-benar melekat dengan sempurna didalam ingatannya.


Tenggorokannya seakan-akan tercekat. Pria itu berusaha untuk tidak menangis, tapi air matanya lebih dulu turun dengan cepat.


Tidak apa-apa. Dia berada di tempat yang tepat untuk menangis. Mau menangis sebanyak apapun, tidak akan ada orang yang memarahinya. Ini adalah tempat dimana semua orang bisa menangis sesuka hati. Jika kau ingin menangis namun tidak tahu mau dilimpahkan kemana, cobalah datang ke pemakaman terdekat.


Kau bisa menangis sepuasnya tanpa khawatir akan tatapan orang lain. Menangis saja, ini benar-benar cara yang ampuh.


Bahkan ketika kau tidak bisa berkata-kata, baik itu senang maupun sedih, kau bisa mengatasinya dengan tangisan.


Alland menatap makam didepannya dengan tatapan sendu. Tepat tujuh belas tahun, gadis dengan paras rupawan itu pergi dan tidak pernah kembali lagi.


"Harusnya saat itu kau tidak pergi. Kalau bisa, apakah mungkin kau akan kembali lagi kepadaku?."


...( ╹▽╹ )...


Ryan berjalan dengan perasaan senang. Akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana dia akan memakan makanan kesukaannya, dan bisa bersantai sepanjang hari.

__ADS_1


Pria itu memutuskan untuk menaiki kendaraan umum ketimbang menaiki motor kebanggaannya. Pikirnya sih, biar lebih terasa perjalanan menuju rumah nenek yang sedikit jauh.


Matahari nampaknya sangat bersemangat. Sinarnya terasa hangat begitu menyentuh kulit pria itu.


Ryan memilih untuk pergi dari pagi-pagi betul, agar dia bisa sampai lebih cepat. Memakan waktu sekitar dua jam jika menggunakan kendaraan umum, makanya dia ingin tiba dengan cepat.


Harusnya kalau mau cepat, pakai kendaraan pribadi kan, tapi entahlah. Suasana hati pria itu sedang berada di puncak kebahagiaan. Berjalan kaki menuju halte, menyapa setiap orang ataupun hewan, apapun yang dirasa butuh disapa, Ryan menyapanya.


Pria itu menyalakan ponselnya yang memang dimatikan sejak tadi, alasannya karena ponsel itu kehabisan daya dan begitu mengisi daya, ponselnya memang mati total.


"Oh, baru mau jam enam toh," gumamnya sembari menatap layar ponsel.


Pria itu membuka beberapa aplikasi, kemudian berakhir dengan ponsel yang dimatikan.


"Semuanya tentang pacaran. Kenapa sih?," Kesalnya karena tidak mendapat info yang penting.


Barangkali, ada informasi dari kepala sekolah atau guru-guru, yang mana itu adalah sesuatu yang penting.


Tapi, bukannya informasi penting yang menyambutnya, malah beberapa notifikasi tentang tips dan trik dalam berpacaran, membuat pria itu langsung bergerak cepat untuk mematikan ponselnya.


Ryan menghela napas. Tidak, dia tidak boleh merasa sedih di hari ini. Dia akan bertemu dengan nenek, kakek, serta bibi yang sudah merawatnya sejak kecil. Dia harus tampil dengan perasaan bahagia didepan mereka. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.


Pria itu menatap sendu langit diatasnya. Bayangan tentang keluarga yang lengkap terus menghampirinya. Ryan tersenyum. Mau berusaha bagaimanapun, ibu dan kakaknya tidak akan pernah kembali lagi kepada dia dan ayahnya.


Pada waktu itu, Ryan ditugaskan untuk bertanya kepada siswa itu, kenapa nilainya bisa merosot tajam?.


Ketika Ryan mendatangi siswa itu di rumahnya, nampak kalau saat itu, semuanya sedang tidak baik-baik saja.


Siswa itu marah, kemudian sambil menunjuk Ryan tepat di wajahnya, dia berkata, "Apakah kau tahu penderitaanku?. Orang tuaku bercerai. Aku lebih memilih orang tuaku mati daripada bercerai."


Ryan masih ingat perkataan itu. Dia menyimpannya baik-baik didalam hati. Entah bagaimana, tiba-tiba Lesya datang dan memintanya untuk kembali ke sekolah karena ada rapat dengan kepala sekolah. Ryan iya-iya saja, dan kemudian, besoknya siswa itu sudah kembali bersekolah dengan biasa, dan nilai-nilainya perlahan naik.


Ryan tidak tahu apa yang dikatakan Lesya kepada siswa itu sampai nilai-nilainya kembali seperti semula dan dia bersekolah dengan biasa.


Gadis bersurai merah muda itu memiliki aura yang misterius, sekaligus menghangatkan bagi siapapun yang berada didekatnya.


Bus datang, dan pria itu lekas naik, kemudian mencari tempat duduk yang dirasa terbaik baginya. Oh ya, dekat jendela adalah tempat terbaik bagi Ryan.


Bus melaju dengan kecepatan normal, membelah jalanan kota di siang hari. Ryan ingin membuka ponselnya, namun mengurungkan niat karena masih kesal dengan notifikasi pacaran yang muncul di layar ponselnya tadi.


"Kesel banget. Pengen banting ponselnya tapi belum gajian," gerutunya pelan sembari menyisipkan curhatan.

__ADS_1


Sedikit menyandarkan kepalanya ke belakang, Ryan memilih untuk tidur sebentar. Toh, rumah neneknya masih jauh. Masih ada waktu baginya untuk tidur.


...( ╹▽╹ )...


"Angin malam tidak bagus untuk kesehatan. Kenapa masih bersikeras duduk didepan jendela sih?,"sungutnya sembari berjalan ke arah wanita didepan jendela.


Wanita itu memutar sedikit kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara kepadanya. Seorang pria, nampaknya sangat lelah dari raut wajah, menatap tak suka kearahnya.


Alesha tersenyum. "Kau baru pulang? Sudah makan? Mau tidur?."


Thomas, pria yang tadinya kesal setengah mati karena istrinya itu duduk didepan jendela saat malam hari hanya bisa menghela napas. Pria itu mendekat dan kemudian menarik Alesha kedalam pelukannya, berusaha menghirup dalam-dalam aroma istrinya, tidak peduli meskipun disekitar mereka berdua, bau obat-obatan menguar dengan kuat.


Alesha membalas pelukan itu. Hangat, itulah yang dia rasakan. Tidak masalah meskipun bau obat-obatan menguar dengan kuat di sekeliling mereka.


"Thomas, apakah kau akan terus memelukku seperti ini?,"tanyanya dengan lembut. Pria itu tampak menggeleng, namun pelukannya tidak melemah sedikitpun, seakan-akan wanita itu akan menghilang begitu pelukan itu dilepas.


Alesha mengusap surai hitam pekat milik suaminya. Kegiatan itu dilakukan selama beberapa kali, dan Thomas nampaknya menikmati itu.


Selang beberapa menit, Thomas merubah posisinya. Kini, dia memeluk Alesha dengan posisi yang berbeda. Jika tadi dia bisa menghirup aroma wanita itu, maka sekarang, Alesha bisa menghirup aromanya. Singkatnya, sesi pelukan mereka belum selesai.


Alesha hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali, bingung dengan situasi yang ada.


"Berjanjilah padaku kalau kau akan terus bersama kami."


Alesha tersenyum. Pandangannya menyayu. Bukannya tidak mau bersama, tapi dia bukan siapa-siapa. Dia hanya manusia biasa, tugasnya hanya mengikuti alur yang ada.


Alesha menangkup wajah Thomas. Dapat dia lihat kalau pria itu tengah menahan tangis. Matanya berkaca-kaca dan Alesha berani bertaruh, sebentar lagi Thomas pasti menangis.


"Tolong jangan tinggalkan aku."


"Aku tidak akan meninggalkanmu Thomas. Aku masih disini, bersamamu."


Pelukan itu semakin erat, Thomas tidak berani untuk melepaskan Alesha, bahkan untuk pergi tidur,membuat wanita itu mengusap rambutnya lagi, kemudian berkata kalau dia tidak akan kemana-mana.


"Aku janji Thomas, aku tidak akan kemana-mana. Aku tetap disini, ditempat yang sama. Jangan menangis, kau pria yang kuat kan?."


Melupakan segala masalahnya, Thomas menangis. Malam itu, ruangan dimana Alesha berada, dipenuhi dengan suara tangisan.


Pria itu menangis sampai subuh, kemudian tertidur dengan posisi duduk.


Jika saja Alesha sehat, mungkin sekarang dia akan tertawa dan segera mencari ponsel untuk memotret wajah suaminya.

__ADS_1


Tapi dia tidak akan pernah melakukan hal itu. Bisa menatap wajah suaminya merupakan kesenangan baginya. Tidak apa-apa. Semuanya akan berjalan dengan semestinya. Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi dirinya, bagi suaminya dan bagi keluarga kecilnya.


Tapi, jika harapannya akan didengar, apakah dia bisa meminta untuk tinggal sedikit lebih lama lagi?.


__ADS_2