
[□][□][□]
Kenzo berlari di sepanjang koridor. Teman-temannya sudah selesai dengan kelas masing-masing, dan hari ini dirinya piket.
"Maaf teman-teman, kalian jadi menunggu karena aku. Aku benar-benar lupa kalau hari ini jadwal piketku," sesalnya begitu sampai dihadapan mereka semua.
Lesya yang memang mengusulkan agar mereka menunggu pemuda itu tersenyum. "Yah, setidaknya kau sudah ada disini kan?. Kita bisa pergi sekarang."
Memakan waktu yang memang sedikit lama karena mereka semua sepakat untuk berjalan kaki. Alasannya klasik,
"Jalan kaki aja. Uangnya dah abis buat jajan tadi."
"Ngomong-ngomong, apakah ada yang pernah melihat orang tua Zeline?."
Pertanyaan Kaila disambut keheningan. Mereka semua belum pernah melihat orang tua Zeline. Suara Lesya menarik atensi mereka semua. "Sepertinya aku pernah melihat ayahnya Zeline. Wajahnya cukup datar waktu itu, padahal nilai Zeline waktu penerimaan hasil cukup baik."
Andreas berusaha mengambil kesimpulan. "Mungkin ayahnya adalah tipe orang tua yang menuntut nilai sempurna dari anaknya."
"Kemudian, ketika nilai anaknya tidak sesuai dengan harapannya, ayahnya pun marah besar dan memarahi Zeline," Adelle menambahi ekspektasi Andreas tentang ayahnya Zeline, membuat Aerylin jengah dan akhirnya menyuruh mereka berdua untuk diam.
Disamping Berhyl, Kenzo terus berjalan tanpa menghiraukan candaan teman-temannya tentang orang tua Zeline. Sedari tadi, pemuda itu tidak berkata apapun. Dia terlalu larut dalam pikirannya sendiri.
"Hm, kita sudah sampai." Lesya mengeluarkan ponselnya untuk melihat apakah benar ini rumahnya, dan ternyata inilah rumahnya. Ketika mereka semua asik dalam lamunan, suara gerbang yang dibuka langsung menarik atensi mereka semua.
Disana, berdiri seorang wanita tua yang berusia sekitar lima puluh tahun, menatap mereka secara bergantian.
"Kalian semua, silahkan masuk."
[□][□][□]
Tentang kemewahan rumah Zeline memang tiada habisnya. Mereka semua tidak berhenti untuk melihat dan kagum. Hiasan-hiasan yang diletakkan pada tempatnya memang membuat rumah itu nampak elegan dan terkesan modern dengan peralatan elektronik yang ada.
"Maaf mengganggu kegiatan kalian," kata wanita tua itu, "yang bernama Lesya, dipanggil oleh Tuan saya, di ruang kerjanya. Selain dia, kalian bisa naik ke lantai dua untuk mengunjungi Nona Zeline."
Lesya mengangguk. "Baiklah. Bisakah anda menunjukkan kepada saya dimana ruang kerjanya?," tanyanya dengan sopan.
Wanita tua itu mengangguk dan pergilah mereka berdua menuju ruang kerja itu. Lesya sedikit berbalik dan memberi tanda kalau dia akan segera kembali.
Kaila menangkap tanda itu dan berkata kepada mereka untuk lekas naik ke lantai dua untuk mengunjungi Zeline.
Tidak butuh waktu yang lama bagi mereka untuk sampai didepan kamar Zeline. Begitu mereka mengetuk pintunya, seorang gadis langsung muncul dari balik pintu, lengkap dengan senyum sumringah.
__ADS_1
Aerylin berdeham. "Maaf, bisakah kami masuk kedalam?."
Kaila menatapnya tak percaya. Aerylin sangat berani, pikirnya. Zeline memundurkan sedikit badannya agar mereka semua bisa masuk kedalam kamarnya.
"Aku sangat senang sekaligus kaget begitu tahu kalau kalian akan datang," kata Zeline sembari tersenyum. Kedua matanya sampai membentuk bulan sabit karena senyumnya.
Kaila tersenyum kecil. "Ya, kemarin kami sedang belajar bersama ketika Lesya dan Savier datang untuk mengatakan kalau kita akan pergi mengunjungimu."
"Oh iya. Daritadi aku penasaran, dimana Lesya?. Dia datang kan?," tanyanya penasaran.
Mereka saling melempar pandang. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Zeline sampai gadis itu bertanya sekali lagi tentang keberadaan pemilik surai merah muda itu.
Aerylin menghela napas pelan. "Dia dipanggil oleh ayahmu. Kata wanita tua dibawah tadi, selain Lesya, bisa naik ke lantai dua."
[□][□][□]
Jauh juga ruang kerjanya. Orang kaya memang beda ya.
"Kau yang namanya Lesya?."
Suara dari kegelapan itu mengagetkan Lesya. Bukan apa-apa sih, hanya saja, didalam ruangan ini, pencahayaannya kurang. Gadis itu tidak bisa melihat siapa atau apa didepan sana, hanya suara yang terdengar.
"Ya, saya adalah Lesya."
Lesya akhirnya bisa melihat dengan jelas, siapa sosok dibalik kegelapan di ruangan itu.
"Maaf atas ajakan yang tidak sopan ini. Kau temannya Zeline kan?," tanyanya dengan hati-hati.
Lesya menarik senyum. "Ya, saya adalah temannya Zeline."
Jika Lesya tidak salah menebak, pria didepannya pasti orang tua Zeline. Tidak semenakutkan yang dibayangkan olehnya ternyata. Nampak seperti orang tua pada umumnya. Pasti dia akan menanyakan tentang kehidupan Zeline di sekolah, pikirnya.
"Bagaimana Zeline di sekolah?."
Kan, apa kubilang.
Lesya mengangguk sebelum menjawab. "Zeline anak yang baik dan rajin. Dia pintar."
Pria itu nampak ragu-ragu untuk bertanya. Lesya yang menangkap perubahan raut wajah pria itu masih tersenyum. "Maaf, aku hanya penasaran tentang kehidupannya di sekolah. Aku orang tua yang buruk, aku sama sekali tidak tahu tentang perkembangannya."
Hmm, sepertinya aku tahu kenapa Zeline tidak masuk sekolah selama beberapa hari belakangan.
__ADS_1
"Jika kau berkenan," katanya, " maukah kau menjaga Zeline?."
"Menjaganya dari apa?."
Pria itu nampak kikuk. "Dari segala hal yang tidak bisa kujangkau ketika dia berada di sekolah."
Lesya berniat untuk mengakhiri perbincangan ini, namun dia berpikir untuk memancing pria didepannya.
"Lantas, bagaimana kalau Zeline menyukai atau bahkan memiliki pacar?."
Pria itu tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang kaget. "Pa-pacar?!. Zeline punya pacar?!."
Lesya berdeham. "Semisal dia memiliki pacar. Apa respon anda?."
Pria itu nampak sedih, mungkin sedih karena ternyata Zeline sudah punya pacar dan dia tidak tahu akan hal itu. Lesya menikmati setiap raut wajahnya yang berganti dari gugup menjadi kaget, dari kaget menjadi sedih.
"Aku...tidak bisa melarang kalau dia memang memiliki pacar," katanya dengan wajah yang muram.
"Tapi!," katanya, dengan nada yang berapi-api, "jika dia menyakiti Zeline, aku tidak akan pernah memaafkannya."
Lesya bertepuk tangan sembari tersenyum. "Jadi, apakah saya bisa keluar sekarang?."
Pria itu mengangguk. "Ya!. Oh, apa kalian ingin jalan-jalan dengan Zeline?. Kalian bisa mengajaknya kemanapun. Ah maksudku--"
Lesya tidak kuasa menahan tawanya. "Baiklah, saya mengerti. Kalau begitu, saya permisi."
Begitu pintu dibuka olehnya, yang pertama kali menyapa penglihatannya adalah Zeline yang berdiri dengan raut wajah yang bisa dibilang, khawatir?
"Oh, Lesya!. Apa, apa kau terluka?! Kau dimarahi?! Ah, biar aku bicara dengan ayahku!," ucapnya dengan penuh emosi, ingin masuk kedalam tapi tidak diberi ruang oleh Lesya untuk lewat.
"Tenang Zeline, aku tidak dimarahi, dan aku tidak terluka, lihat?," ucap Lesya, berusaha untuk meyakinkan Zeline yang kelihatannya siap untuk memukul siapa saja.
"Oh, kau mau keluar Zeline? Ayahmu sudah memberi izin kepadaku." Lesya mengingat perkataan pria tadi, dan berniat untuk mengajak mereka semua ke taman bermain.
"Kemana?"
"Taman bermain. Didekat sini ada taman bermain, lengkap dengan wahana yang kau sukai itu lho."
Seketika, suasana diantara mereka berdua langsung berubah menjadi bunga-bunga. "Iya?! Kau janji?! Kapan?!," tanyanya penasaran.
Lesya nampak berpikir. "Mmhm...kapan ya?. Sekarang?."
__ADS_1
Zeline langsung bertepuk tangan dan berlari ke lantai dua. "Aku akan memanggil mereka semua dan kita akan pergi kesana sekarang juga!."