Patency

Patency
Bab 21, Siapa?


__ADS_3

Monic meregangkan kedua tangannya. Hari ini dia sudah mengerjakan banyak sekali laporan, khususnya laporan tentang mata pelajaran yang dipegangnya, kemudian tentang OSIS karena dia adalah pembina.


"Makan apa ya nanti ..."


Menyadari kalau tinggal dirinya sendiri di ruang guru, wanita itu memutuskan untuk pulang. Toh semua sudah selesai. Kalau ada yang kurang, dia bisa kembali lagi ke sekolah, kapanpun itu. Tidak akan ada yang memarahinya kalau pulang terlambat, karena dia tinggal sendiri.


"Agak sepi sih, tapi mau bagaimana lagi," katanya sembari tersenyum miris.


Begitu dirinya sampai didepan gerbang sekolah, seorang pria nampak berlari kearahnya. "Apakah masih ada siswa didalam sana?,"tanyanya dengan napas terengah-engah.


Monic mengerjapkan matanya beberapa kali. "Ya ... Semua siswa sudah pulang dari tadi."


Pria itu nampak kecewa, cemas, dan lelah. Mungkin dia sudah berlari sejak tadi, dan sesuatu yang dicarinya tidak ada disini, pikir wanita itu.


Membantunya tidak akan mengurangi apapun kan?.


"Siapa yang anda cari pak?." Monic bertanya dengan sopan. Barangkali, dia mengenal sosok yang dicari dan bisa menemukannya.


Aku bisa pulang.


Pria itu tersenyum, sangat bahagia mendapati seseorang yang mau membantunya. "Namanya adalah---"


...(☆▽☆)...


"Alfred ya ... Kira-kira kemana sih anak itu?,"gerutunya begitu masuk kedalam rumah. Memilih untuk duduk sebentar sebelum pergi membersihkan diri, Lesya menatap langit-langit rumahnya.


"Mandi dulu, makan, abis itu pergi ke sekolah tetangga. Oke sip, gitu aja,"ucapnya, kemudian berdiri dan berniat untuk pergi mandi.


Ponselnya berbunyi beberapa kali, namun dia tidak mendengarnya karena berada didalam kamar mandi. Begitu dia keluar dan mengecek ponselnya, notifikasi panggilan tak terjawab serta pesan langsung memenuhi layar.


"Wah, apa ini?."


Gadis itu tersenyum, entah kepada siapa. _______________________________


Kaila


Online


~Lesya


17.59


~Oi


17.59


...Panggilan tak terjawab...


~Angkat telponku, ini penting.


18.00


...Panggilan tak terjawab...


~Susah bener ya kalau orang sibuk.


18.00


...Panggilan tak terjawab...


~asli sih, angkat telpon dari rakyat jelata memang susah ya. Aku mah rakyat jelata gak tahu malu. Sadar diri banget aku.


18.01


_______________________________


Lesya tersenyum. "Hadeh, manusia ini mengeluh mulu. Dilempar pake buku fisika yang tebalnya lima ratus halaman itu kayaknya mantap banget," ujarnya kemudian meletakkan ponselnya di atas tempat tidur.


Gadis itu cepat-cepat memakai pakaiannya kemudian pergi ke dapur untuk membuat makanan.


"Baiklah. Aku harus makan. Aku benar-benar harus makan. Pergi ke sekolah tetangga akan menguras tenaga serta sukacita. "


Tidak banyak yang dibuat oleh gadis itu. Dia hanya membuat nasi goreng dan membuka bungkus cemilan yang baru saja dibelinya tadi dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


"Hm, seperti yang kuduga," katanya usai satu suap nasi goreng berhasil ditelan.


Gadis itu menatap miris nasi goreng didepannya.


"Gak enak banget."


Meskipun mengeluarkan komentar yang buruk tentang nasi goreng buatannya sendiri,gadis itu tetap menghabiskan makanannya. Tentu saja, cemilan yang sudah dibukanya itu tetap menjadi makanan favorit.


"Kalau nasi gorengku enak, cemilan ini ya tetap jadi favorit sih, hehe."


Lesya menatap layar ponselnya. Disana, jam menunjukkan angka sembilan belas, yang artinya sudah jam tujuh malam. Dia masih harus keluar rumah. "Kenapa pula sekolah sebelah selalu buat masalah. Kesel."


Merapikan alat makan serta pakaiannya, Lesya keluar dan langsung mengunci rumah.


"Jalan kaki apa naik bus ya ..."


Lesya tidak langsung pergi begitu saja. Gadis itu masih berdiri didepan pintu dan masuk kembali ke dalam. "Uangku masih cukup gak ya ..."


Begitu membuka dompet, wajahnya seakan-akan diterpa cahaya. "Aduh aduh, silau banget. Pasti ada uangnya----"


Lalat keluar dari dalam dompet merah mudanya. Gadis itu terdiam beberapa saat. "Ya, sudah kuduga. Baiklah, aku akan jalan kaki saja."


...ರ_ರ...


Monic merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Dia sudah mencari siswa yang dimaksud, dan syukurlah, gadis itu ternyata hanya salah naik bus


Gadis?


Tentu saja. Kalian tidak berpikir bahwa aku akan membuat Monic dan Alfred bertemu bukan?. Wanita itu masih mengingat dengan jelas raut wajah bahagia dari pria yang berlari dengan terengah-engah kesana-kemari.


"Syukurlah tadi hanya salah naik bus. Kukira dia lari dari rumah astaga."


Monic merubah posisinya. Kali ini, dia menatap langit-langit kamar.


"Oh, baru ingat ..."


Monic keluar dari kamar. Tubuhnya dia bawa masuk ke dalam kamar lain. Waktu dia kecil, salah satu benda yang menurutnya bukan benda berbahaya bagi anak kecil, disimpan baik-baik oleh ibunya.


Satu buku yang terlihat mulai dimakan usia, nampaknya bukan sesuatu yang berbahaya. Monic meyakinkan dirinya kalau benda itu hanyalah buku biasa.


Begitu Monic membuka buku yang berdebu itu, satu foto jatuh dari dalam. Foto yang nampaknya sangat dijaga, karena terlihat seperti baru diambil kemarin.


"Cuma ini?. Cuma satu foto kok kenapa dijaga banget sih ..."


Foto itu diambilnya, kemudian dia keluar dari kamar tersebut. Sekarang dia ingin melihat, foto apa sampai ibunya sangat menjaganya?.


Lampu dihidupkan, Monic memilih untuk duduk di ruang tamu. Beberapa kali dia mengerjapkan matanya karena merasa bahwa penglihatannya bermasalah.


"Mmhm---, mirip siapa ya?. Kayak pernah liat tapi dimana?."


...(⌐■-■)...


"Yo."


Gadis itu menghela napas. "Ngapain?. Jam segini kok diluar?."


Alfred menatap gadis didepannya dengan riang. "Bertemu denganmu. Apalagi memangnya?."


Nalea menggelengkan kepalanya, heran dengan jawaban pemuda didepannya. Bertemu dengannya? Memangnya dia siapa? Dewi keberuntungan? Dewi cinta? Dewi yang bisa memberikan kemakmuran? Ngga kan. Aneh betul si Alfred, pikirnya.


Nalea membetulkan letak topi yang dia gunakan. Dia tidak mau rambutnya kena angin malam, apapun alasannya. Entahlah, sesuatu yang aneh.


Alfred benar-benar tidak mengalihkan pandangannya dari Nalea. Dia tidak melakukan apapun selain berdiri dan menatap gadis itu, sembari tersenyum.


"Kenapa sih?." Gadis itu sungguh penasaran dengan Alfred. Tiba-tiba menghubunginya dan berkata ingin bertemu. Kebetulan hari ini Nalea sedang menginap di rumah bibinya yang dekat dengan area sekolah di perbatasan.


"Kau, kenapa bisa keluar rumah jam segini?."


"Kau juga. Kau kan seorang gadis. Tidak baik kalau keluar malam-malam, apalagi sendirian begini."


Kalau ada batu disekitarnya, Nalea ingin melemparkannya tepat di kepala pemuda itu. Yang mau ketemu siapa, yang kasih nasihat siapa. Nalea menyesal keluar dari rumah yang hangat dan malah memilih untuk bertemu dengan Alfred, di tempat yang tentunya tidak hangat karena mereka berada di luar ruangan.


"Denger ya manusia, yang ngajak ketemuan kan situ, kenapa pula malah bilang 'gak baik kalau keluar malam-malam' sehat kau?,"sungutnya, tak terima dengan perkataan Alfred.

__ADS_1


Pemuda yang memakai jaket untuk meminimalisir rasa dingin yang menyerangnya itu hanya mampu tersenyum miris. Dia juga tidak tahu, alasan dirinya memanggil Nalea untuk bertemu.


"Gapapa, ketemu doang ga masalah kan?."


" He'em. Ga masalah banget," ucapnya dengan penuh penekanan.


Keduanya memilih untuk duduk di ayunan dan menatap langit malam.


Suatu kegiatan yang sebenarnya tidak ada gunanya tapi tetap dilakukan oleh mereka.


...(・o・)...


Monic sedikit mengangkat kedua tangannya. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan, tapi perutnya mulai meminta untuk diisi.


Foto yang tadi ditemukannya ada di atas meja. Benar-benar tidak disentuh karena Monic disibukkan dengan pekerjaannya.


Meskipun wanita itu sangat penasaran, pekerjaannya seakan-akan tidak membiarkan dia untuk melihat benda yang baru saja ditemukannya tadi.


"Hah ... Lapar, belum makan, kayaknya gak ada makanan."


Perutnya benar-benar meminta untuk diisi. Monic menatap layar laptop dengan miris, kemudian menggelengkan kepalanya. " Ga ada uang lagi. Haduh ..."


"Eh ada, tapi ga cukup maksudnya." Monic meralat ucapannya dengan cepat. Dia tidak boleh bilang kalau uangnya habis. "Kata Lesya, perkataan adalah doa. Aku orang kaya, orang kaya ..."


Meyakinkan diri sendiri kalau dia adalah orang kaya, nyatanya membuat Monic tertawa. Dia tertawa dalam keheningan malam, tentunya hanya dia sendiri yang ada didalam ruangan tersebut.


"Baiklah, mari pergi ke dapur dan melihat apa yang bisa dimakan!."


Tidak ada. Benar-benar tidak ada. Monic tersenyum, merasa bahwa dirinya akan mati.


"Ga ada makanan. Makan hati saja lah aku."


Bunyi ketukan pintu menarik atensinya dari kulkas yang kosong. "Siapa ya yang bertamu malam-malam begini?."


Ketukan itu menjadi semakin kuat dan membuat Monic sedikit takut. Bagaimana kalau itu adalah pencuri?


"Mana ada pencuri yang ngetuk pintu dulu. Au ah."


Monic mengintip dari lubang kunci. Tidak jelas, siapa yang berdiri didepan pintu, tapi Monic berani bertaruh kalau itu adalah perempuan.


"Siapa sih ..."


"Oh, dibukain pintu."


Lesya?!


Gadis didepannya tersenyum. "Halo ibu, mau makan sama-sama?. Saya bawain ibu makanan, sekalian berkas dari sekolah tetangga. Ah, makanannya saya beli agak banyak, soalnya buat saya juga."


Monic menatap dengan datar. "Dimanisin dulu ya, Lesya."


Gadis itu tersenyum, sedikit menunjukan deretan giginya. Monic mempersilahkan Lesya untuk masuk kedalam rumahnya.


"Wah, cukup gelap ya didalam sini ... Anda tidak punya lampu?,"tanya Lesya penasaran. Tanpa sadar, pertanyaannya itu menusuk hati Monic.


Lesya melihat-lihat kondisi didalam rumah wanita itu. Cukup bersih, tetapi pencahayaannya kurang. Bisa berbahaya bagi mata kalau bekerja dibawah pencahayaan yang kurang.


"Ibu~. Mau makan seka--- lah? Ibu?!."


Lesya menghampiri Monic yang masih berdiri di belakangnya. Wanita itu mengusap air matanya beberapa kali, namun tetap saja, air matanya tidak berhenti keluar.


"A-aku, sangat berterima kasih Lesya ..."


Lesya sedikit merapikan kemeja yang dia gunakan. Wanita didepannya masih menangis tersedu-sedu, sembari bergumam terima kasih, aku benar-benar bersyukur.


Gadis itu mengajak Monic untuk duduk di ruang tamu. "Sepertinya anda sedang sibuk ya?,"tanyanya begitu tak sengaja melihat tumpukkan kertas di atas meja kecil didepan mereka.


Monic mengangguk. "A-aku benar-benar sibuk,"katanya sembari mengusap air mata.


"Semua berkas yang harus aku kerjakan, kubawa pulang ke rumah, lalu aku ingin ma-makan. Tapi ...,"belum selesai Monic menjelaskan kejadian tadi, tangisnya malah semakin menjadi-jadi.


Lesya hanya diam ditempatnya, tidak berniat untuk menyela atau menenangkan Monic. Dia membiarkan wanita itu menangis sampai puas.


Pasti gak punya makanan sampe nangis gini, pikir gadis itu sembari tersenyum miris.

__ADS_1


__ADS_2