
"Baiklah teman-teman, kuharap telinga kalian berfungsi dengan baik."
Didalam sebuah ruangan yang berisi sepuluh orang, salah satunya berdiri didepan mereka sembari memegang sebuah buku yang tidak terlalu tebal.
Hening beberapa saat sebelum gadis yang berdiri didepan sembilan orang lainnya mengangkat suara. "Bulan depan, kita akan merayakan ulang tahun sekolah," katanya dengan serius, berusaha untuk tidak terlihat kalau dia sedang bercanda.
"Kita akan mengadakan beberapa lomba selama tiga hari, dan kita akan mendapatkan bantuan dana dari sekolah. Tentunya, untuk ulang tahun sekolah."
"Definisi dari 'olehku untukku' ya."
Lesya menarik kedua sudut bibirnya. "Baiklah, apa ada diantara kalian yang memiliki saran?."
Kaila yang masih berdiri didepan sana sedikit membuka buku yang dia pegang. "Bagaimana dengan lomba lari?."
"Jangan, nanti jatuh." Andreas menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan Kenzo. Kaila memutar matanya dengan malas. "Lalu lomba apa?."
Diujung sana, Aerylin nampak mengangkat tangan kanannya. "Bagaimana kalau lomba makan kerupuk?."
Adelle menggeleng, menolak usulan gadis bersurai pendek itu. "Lomba itu sudah sering dilaksanakan. Bagaimana kalau lomba cari siput?."
Sembilan orang yang berada didalam ruangan itu menatap Adelle. Mantap, kepintarannya diambang batas kewajaran manusia pada umumnya.
"Lalu bagaimana?."
Lesya menatap Savier yang duduk manis ditempatnya sendiri. Jika dipikir lagi, Savier termasuk murid yang rapi, selalu datang pagi dan tidak terlambat, rajin mengumpulkan tugas ...
"Lesya?."
"Ah ya?."
Bohong kalau Kaila tidak melihat Lesya yang menatap Savier dengan sangat intens. Sebenarnya, baik anggota OSIS ataupun seluruh penghuni sekolah Saint's Peterson tahu betul kalau pemuda berkacamata (Savier) itu menyukai si ketua OSIS.
__ADS_1
Dari caranya Savier menatap dan memperlakukan Lesya, itu sudah menunjukkan kalau pemuda itu menyukainya. Sayang sekali bagi Savier karena gadis yang disukainya sama sekali tidak peka akan urusan percintaannya sendiri.
"Kau tidak mendapat usulan dari guru?."
Gadis bersurai merah muda itu sedikit memainkan ujung dasi yang dia gunakan. "Yah ... Sepertinya ada."
Andreas menatap dengan antusias ke arah Lesya. "Oh ya?!. Lomba apa?!."
Gadis itu menarik senyum simpul, kemudian menatap Andreas dengan tatapan kosong.
"Lari dari kenyataan."
...(・o・)...
"Pak Ryan, selamat pagi.~"
Dih, caper.
Aerylin memandang tak suka kearah Ryan yang mulai dipenuhi oleh segerombolan siswi. Yah, dia hanya kebetulan lewat dan menemukan pemandangan yang sangat bagus.
Oh, guru kesukaannya Lesya.
Aerylin membungkuk sedikit, kemudian berkata kalau dia akan segera pergi ke ruang guru untuk membawa beberapa kertas.
Gadis bersurai pendek itu undur diri dan melangkah menuju ruang guru, meninggalkan pria bermata empat yang memandangi kepergiannya.
"Baiklah, saatnya menuju kantin!."
Yah, sayang sekali karena kantin benar-benar ramai. Raymond sedikit menyesali keputusannya untuk pergi ke kantin, tapi mau bagaimana lagi?.
Kalau putar balik terus pergi ke rumah makan di depan sana, masih sempat gak ya? ...
__ADS_1
"Mampus, kantin udah penuh."
Raymond sedikit melirik pemuda disampingnya. "Nak, mau makan bersama saya di rumah makan di depan sana?," tawarnya.
Alfred nampak menimbang-nimbang tawaran guru itu. Kalau dilihat-lihat, guru itu tidak mencurigakan sama sekali. Malahan, guru itu nampak lengah dan gampang diculik. Setidaknya itu kesan pertama dari Alfred untuk Raymond.
"Boleh."
Keduanya berjalan beriringan, menuju rumah makan di depan sekolah. Raymond sering makan di tempat itu karena makanannya enak dan higienis.
"Oh?. Kalian berdua mau pergi ke rumah makan didepan sana?."
Raymond dan Alfred sontak berbalik dan mendapati seorang pemuda yang menggunakan kacamata tengah menatap mereka berdua.
Sial, nambah lagi manusia melawan alam yang gampang diculik. Ini mereka salah gender apa gimana sih?. Tampang lelakinya hampir gak ada.
Alfred menghela napas. "Iya, kenapa memangnya?. Kau mau ikut?."
Savier menunduk, kemudian menjawab pertanyaan Alfred dengan sedikit takut-takut. "Ti-tidak. Aku hanya ingin bilang kalau rumah makan itu baru saja ditutup ..."
Raymond tidak mengatakan apapun, sedangkan dari sorot mata Alfred, jelas sekali kalau pemuda itu meminta penjelasan lebih.
"Ya, katanya mereka mengalami kerugian besar dan memutuskan untuk menutup rumah makan itu," cicitnya, tidak berani menatap Alfred karena tatapan pemuda itu benar-benar menakutkan.
Tidak lama setelah Savier mengatakan hal tersebut, perut Raymond dan Alfred berbunyi dengan nyaring.
Keduanya saling menatap. Ada rasa kesal dan menyesal disana, namun keduanya hanya bisa pasrah.
"Ka-kalau kalian berdua mau, aku punya tiga roti rasa cokelat ..."
Alfred menatap uluran roti dari Savier. Tangan pemuda itu bergetar hebat, padahal tidak ada yang memarahi dia.
__ADS_1
Oh Alfred, tidakkah kau sadar kalau tatapanmu itu sedikit menakutkan bagi pemuda manis yang berada di depanmu?.
Sepertinya hanya Nalea yang tidak takut dengan tatapannya.