Patency

Patency
Bab 10


__ADS_3

[□][□][□]


Surainya seakan menari dibawah sinar matahari. Kaki jenjangnya berjalan setengah berlari. Jarum jam di pergelangan tangannya berada di angka 4, yang artinya sudah lebih dari 2 jam dia berada di luar.


Kaila sialan, begitu umpatnya dari tadi. Lesya menatap ke sekeliling dan menemukan sebuah halte. Ya, dirinya pun memilih untuk beristirahat sebentar. Lima menit harusnya cukup kan?


Lesya yang tadinya berniat duduk sebentar, tidak sengaja melihat sebuah kertas yang ujungnya basah dan menempel di tempat duduk.


Si surai merah muda itu melihat sekelilingnya. "Tidak ada orang selain aku, tapi kertas ini bukan punyaku. Milik siapa ya? Apa ketinggalan saat dia naik bus?," tanyanya pada diri sendiri sembari menebak-nebak isi dari kertas itu.


Berusaha untuk melawan rasa penasarannya, nyatanya Lesya tidak tahan dan mengambil kertas itu.


"Alamat? Kertas ini berisi alamat? Hanya itu? Ih?"


Sedetik kemudian, seakan ada petir yang menyambar dibenaknya, Kaila muncul tiba-tiba dihadapannya. Ah, bedanya Kaila membelakangi Lesya, jadi dia tidak melihat si surai merah muda itu.


Lesya menajamkan penglihatannya, berusaha agar tidak salah melihat. "Benar! Itu Kaila, tapi apa yang dia lakukan disini? Maksudku--"


Lesya melihat ke kiri dan kanan. Didepannya kan jalan raya, dan Kaila tepat berada di seberang jalan ini. Dia harus memastikan jalurnya aman dari segala kendaraan agar dia tidak terlibat dalam kecelakaan.


Dengan tiga langkah yang menurut Lesya adalah langkah terbesar dalam hidupnya, dia berhasil mencapai seberang jalan.


Kaila tampaknya masih belum menyadari kehadiran si surai merah muda itu, terbukti dari dirinya yang tidak bergeming sama sekali.


Niatnya Lesya mau memberi salam dengan sedikit nada yang semangat, tapi Kaila dengan tiba-tiba langsung berbalik dan mendapati eksistensinya yang sedang berdiri, seperti tertangkap basah sedang melakukan suatu perbuatan yang salah.


Kaila yang mendapati Lesya, tidak memberikan respon yang berarti.


"Hai? Maksudku, kenapa kau disini?," tanya Lesya dengan lembut, berusaha untuk mencairkan suasana.


Kaila masih bungkam, tidak mengatakan sepatah kata pun. Si surai merah muda itu sedikit paham kenapa Kaila tidak mau berbicara dengannya, jadi, dirinya dengan cepat-- tentunya setelah memastikan jalurnya aman--menarik Kaila untuk pergi ke halte tadi. Untuk apa? Untuk duduk bersantai menikmati angin.


"Demi apapun Lesya, aku sudah lelah." Kaila mengawali percakapan diantara mereka dengan keluhan. Lesya yang mengerti akan hal itu pun mengangguk, memberi tanda bahwa si gadis bersurai sebiru langit itu bisa mencurahkan segala keluhannya disini, pada dirinya.


Dan dalam satu jam kedepan, Lesya duduk manis dan mendengarkan semua keluhan Kaila, dari awal dia menunggu sampai dia diganggu.


***


Sudut pandang si surai sebiru langit.


Hari ini aku datang ke sebuah Kafe. Kata Andreas, ini tempat yang baik jika kita merasa senang ataupun sedih. Aku penasaran, apakah efeknya sehebat itu?.


Baiklah, aku datang ke tempat ini dan menemukan sebuah fakta baru. Kopinya lumayan enak.


Memang betul ternyata, kita tidak boleh menilai buku dari sampulnya.


Semoga pemilik kafe ini memaafkan aku karena sebelum masuk kesini, aku sempat mengumpat dalam hati.


Ya, kupikir memesan segelas kopi sekali lagi sembari menunggu Andreas tidak masalah. Toh, kopinya enak.

__ADS_1


Tiga puluh menit berlalu dan sepertinya Andreas tidak menunjukkan tanda kedatangannya. Aku berpikir, apakah aku lupa mengatakan kepadanya bahwa aku akan datang kesini? Lagipula, dirinya tadi mengatakan akan kesini. Kenapa dia belum datang?


Berbagai kejadian yang diawali dengan kata mungkin mulai memenuhi pikiranku. Beberapa kali aku mendengar bunyi lonceng yang artinya ada orang yang masuk ataupun keluar, tapi itu bukan Andreas.


Detik menjadi menit, menit menjadi jam. Ya, jika kuhitung lagi, sekiranya sudah lebih dari satu jam aku menunggu Andreas.


Menunggu itu membosankan juga, apalagi kalau kau menunggu yang tidak pasti, macam Andreas.


Lama-lama aku bosan, marah dan lelah. Dalam hati aku berjanji, jika sekali lagi ada orang masuk dan itu bukan Andreas, maka aku akan pulang.


***


"Lalu? Siapa yang datang?." Lesya bertanya kala Kaila menggantungkan ceritanya.


Si surai biru langit sebenarnya tidak akan berhenti bercerita kalau gadis didepannya ini tidak menyela terus menerus.


"Bagaimana caranya aku bercerita kalau kau menyela diriku? Sehat kau? Mau bergelud dimana kita berdua?," sungut Kaila, kesal luar biasa namun tidak bisa marah karena Lesya sudah mendengarkan ceritanya.


"Ya sabar. Kau sih, ceritanya kebanyakan tarik napas buang besok. Kan jadi penasaran."


Kaila tersenyum manis namun langsung disambut sindiran dari Lesya. "Gak usah senyum. Semutnya bukan datang karena manis tapi terhipnotis."


"Halah, palingan juga semutnya terhipnotis karenamu. Dah tau aku."


Ya, dua manusia ini yang tadinya aman nyaman tentram malah adu mulut. Aksi keduanya berhenti setelah sebuah suara menyapa.


"Lesya dan Kaila?"


"Oh bapak, apa yang bapak lakukan disini?." Alih-alih memberikan salam, Lesya malah bertanya kepada gurunya itu. Ya, jangan ditiru ya, berbahaya. Nilaimu nanti dipangkas. Tapi tenang, guru didepan mereka berdua ini guru yang lemah lembut pengertian baik hati dan tidak sombong, serta menggunakan kacamata.


Idaman si Lesya banget. Jangan tanya apakah Savier masuk list idaman apa tidak.


Kaila tidak bertanya apapun kepada guru itu, melainkan membungkuk sedikit, memberi gestur hormat tanpa kata. Guru itu mengangguk, mengerti dengan maksud Kaila.


"Ah, saya baru saja balik dari minimarket diujung sana. Kalian berdua, sedang apa disini?," tanya guru itu kepada Kaila dan Lesya yang sontak langsung menatap satu sama lain.


Lesya menarik kedua sudut bibirnya keatas, membentuk sebuah senyuman kecil."Kami hanya jalan-jalan sebentar. Ah, apakah bapak mau kembali ke penginapan?"


Ya, mungkin kalian bosan dengan sebutan guru itu atau bapak fisika idaman Lesya. Nyatanya, dia memiliki nama selayaknya orang-orang pada umumnya. Namanya siapa? Nanti dikasih tahu. Bukan sekarang. Takutnya memspoiler ria.


Guru itu sedikit memiringkan kepalanya, membentuk pose yang menurut Lesya, sangat berbahaya bagi jantungnya. "Mmhm, saya mau langsung kembali ke penginapan. Berhubung besok kita pulang, saya mau menata barang-barang saya agar tidak ada yang tertinggal," jawabnya sembari mengulas senyum.


Kaila tidak tersenyum seperti Lesya yang sudah berflower-flower ria disebelahnya. Kebalikannya, aura-aura suram mulai memenuhi diri Kaila, kontras dengan aura flower-flower ria milik Lesya.


Flower-flowernya Lesya ini bisa dicabut terus ditanam gak sih?


Kaila menunduk kecil, kemudian undur diri dari situ. Tentunya, dengan usaha setengah menyeret si surai merah muda yang sedang menerapkan prinsip senyum seakan tiada hari esok.


"Ah~ kenapa kita langsung pergi sih Kaila~." Kaila berpura-pura tuli, tak ingin mendengar lebih jauh rengekan Lesya yang ingin kembali untuk melihat guru mereka tadi.

__ADS_1


Ayolah bung. Rasanya Kaila ingin melempar Lesya ke--kemana saja. Ada Savier yang menunggunya disana, kenapa dia masih tergila-gila dengan seorang guru yang bahkan belum tentu menyukainya?


Oh, omong-omong, guru yang diwoahkan Lesya itu masih sendiri. Kesendiriannya itulah yang membuat Lesya semakin menjadi-jadi. Katanya :


"Ah kenapa dia masih saja sendiri dan tak punya pasangan?"


"Apa dia memiliki kelainan? Maksudku--"


"Atau dia sedang menungguku siap?"


Dan berbagai ocehan lainnya dari ketua OSIS mereka. Tolong, ini bukan hal yang pantas untuk ditiru di dunia nyata. Kaila masih asik menyeret Lesya ketika netranya tak sengaja bersitatap dengan netra milik seorang gadis mungil. Tidak terlalu kecil bagi Kaila, tapi tidak terlalu tinggi juga.


Kaila menyipitkan kedua netranya. Rasanya tidak asing tapi siapa sih?.


"Ah, kau sudah selesai?"


Lesya dengan heboh menarik Kaila dari jarak pandang gadis mungil tadi, dan dengan tak kalah hebohnya menepuk--setengah memukul pundak Kaila. Tentunya, tidak sekuat itu.


"Kaila Kaila! Alfred lho itu! Woah, cepet banget prosesnya buat dapat pacar!. Aku kalah cepat!"


Kaila menatap Lesya yang masih heboh dengan Alfred didepan sana. "Kau juga punya, maksudku, orang yang menyukaimu."


Lesya tidak menghiraukan perkataan Kaila. Atensinya benar-benar tertuju pada gadis mungil disamping Alfred. Netranya seakan berseri-seri kala Alfred berbicara dengan gadis mungil itu. Surainya, parasnya, segala yang ada pada gadis mungil itu sontak membuat Lesya hampir berteriak sangking gemasnya.


Keduanya tidak menyadari kalau sedari tadi, ada dua anggota OSIS yang mengamati mereka. Alfred dengan cepat menyambar kedua tas belanjaan yang tadi sempat dipegang sebentar oleh Nalea. Aksi itu mengundang protes dari Nalea. "Apa-apaan kau ini?"


Alfred menunjukkan senyumannya. "Tidak baik membiarkan seorang gadis memegang sesuatu yang terlampau berat untuknya. Itu tugas lelaki. Dan aku lelaki, sedangkan kau gadis. Ya biar kau tidak kesakitan sih," jelasnya berterus terang, niat ingin menggoda gadis disampingnya mendadak sirna.


Nalea menunduk. Niatnya tadi ingin menyindir Alfred habis-habisan setelah membuat dirinya menunggu begitu lama. Namun ketika mendengar perkataan tadi, semua sindiran yang sudah tersusun rapi di benaknya mendadak hilang.


"A-aku sudah terbiasa dengan beban berat. Bukan berarti aku membiarkan kau menolongku ya. Aku hanya ingin menguji kemampuanmu sebagai lelaki"


Alfred mengangguk. "Aku terbiasa dengan beban berat, ya? Kau mengingatkanku pada seseorang.."


"Apa? Pacarmu?"


"Cobalah untuk jangan mengaitkan apapun dengan urusan percintaan. Anak kecil sepertimu tidak tahu betapa berbahayanya ketika kau mengenal cinta"


Nalea mengerucutkan bibirnya. "Sendirinya bilang cinta itu berbahaya, aslinya kau tidak pernah jatuh cinta kan?"


Alfred berhenti sesaat, kemudian menatap lurus kedepan kala angin sedikit berhembus. "Aku sekarang merasakan cinta. Dan cinta itu akan membawaku ke kehancuran jika aku--"


"Jika aku apa?"


Alfred sedikit kaget. Nalea dengan sangat cepat memotong perkataannya. Niatnya ingin tampil tampan keren nan rupawan ketika menceritakan tentang cinta (yang sebenarnya belum pernah dia alami) tapi dipotong oleh Nalea dengan wajah datar tapi antusias.


Alfred mendadak cemberut. "Hobi banget sih potong perkataan orang. Kalau tidak sedang memegang tas, sudah lama pipimu itu melar karena kucubit"


Nalea menjulurkan lidahnya. "Hehe, coba tangkap aku. Kalau bisa, pipiku jadi hadiahnya deh," serunya sembari berlari menjauh dari Alfred.

__ADS_1


Alfred tersenyum, kemudian memegang tas belanjaan dengan sekuat tenaga agar tidak jatuh. "Kutangkap kau gadis mungil!"


__ADS_2