
Hari yang cukup melelahkan, pikirnya. Ya, itu adalah pikiran Lesya. Sebagaimana dalam kehidupan sehari-harinya sebagai pelajar, siapa yang menyangka kalau dia adalah pekerja paruh waktu?
"Ah, aku lelah. Aku benar-benar lelah sekarang," ucapnya sungguh-sungguh ketika selesai membersihkan meja terakhir.
Ya, Lesya mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai pelayan di sebuah cafe yang cukup dekat dari rumahnya. Berterima kasih karena pada waktu itu dia haus dan ingin pergi mencoba minuman baru, yang kebetulan tempatnya sedang mencari pekerja tambahan.
Merapikan sedikit pakaiannya yang terkena debu, netranya tidak sengaja menangkap pergerakan aneh diluar. Jujur, jika saat itu dia tidak mengingat dimana dia berada, kemungkinan besar dia akan berteriak.
"Ah, apa yang dia lakukan disitu," ujarnya dengan lesu.
Tenggelam dalam lamunan, seorang pria datang menepuk pelan bahunya. "Oh,ada apa pak?," tanya Lesya.
Allend namanya, pemilik cafe tersebut, tersenyum pelan kepadanya sembari menggeleng pelan, "Sudah malam, kamu tidak pulang?." Lesya melihat pergelangan tangannya,dimana sebuah jam kecil melingkar disitu."Sudah jam tujuh ternyata."
Allend tersenyum, " Mau saya antar pulang? Sudah malam dan akan berbahaya jika anak perempuan pulang sendiri."
Anak perempuan katanya? Maaf saja ya, tapi aku ini sudah kelas dua SMA, harusnya bukan anak lagi!
"Tidak usah pak, rumah saya tidak sejauh itu sampai harus diantar pulang. Lagian saya sudah kelas dua SMA, saya bisa menjaga diri," ucapnya sembari tersenyum dan dengan penuh penekanan pada kata 'SMA'.
Lagi-lagi tersenyum, Allend mengangguk pelan kepadanya sembari berjalan menjauh.
Pemilik surai berwarna cerah itu menaikkan sebelah alisnya, menandakan bahwa dirinya bingung.
Senyum mulu,lagi menerapkan prinsip senyum seakan tiada hari esok apa gimana?
[□][□][□]
"Serius lho! Aku melihatnya kemarin," ujarnya dengan nada yang sangat bersemangat, berbanding terbalik dengan dua orang didepannya.
Adelle yang menyadari kalau dua orang didepannya -Kaila dan Lesya- sangat tidak bersemangat, sontak menyudahi ceritanya tentang pria aneh yang muncul semalam.
"Ah, kenapa berhenti? Aku baru saja datang."
"Oh, Aerylin."
Berdeham, Aerylin langsung duduk di sebelah Lesya, kemudian memakan makanan yang dibelinya dikantin tadi. "Jadi, lanjutkan ceritamu, aku baru saja datang dan kau sudah berhenti. Aku langsung penasaran, semenarik apa ceritamu sampai mereka berdua langsung suram," ucapnya dengan wajah yang senantiasa datar, tidak menyadari kalau ucapannya tadi menyindir Adelle yang tengah duduk manis.
"Huh, ceritaku itu, tentang pria yang bertingkah aneh semalam. Entahlah, tapi sudah empat kali dia lewat disitu, gitu. Aku tidak pernah melihat dirinya berkeliaran ketika siang hari, tapi pada malam hari, dia akan muncul," jelasnya dengan menggebu-gebu, sedangkan ketiga orang didepannya, yang sekarang bertambah satu orang lagi, mengangguk, memberi tanda bahwa mereka paham.
"Jadi anak-anak, kita kedatangan murid pindahan. Ayo nak, masuk dan perkenalkan dirimu," ucapnya dengan lembut, tak tahu kalau tutur katanya mampu membius seorang Lesya yang tengah menatap lurus kearahnya, tentu saja, tidak lupa tersenyum.
Ah, dia sangat tampan dengan kacamata yang membingkai wajahnya. Sungguh, dirinya sangat mempesona----
"Lesya, kamu baik-baik saja?"
Aduh mak, ditegur ama yang terkasih, uwu!
Mengulas senyum, Lesya menggeleng pelan, " oya, saya tidak apa-apa."
Merasa bahwa murid tersebut tidak sakit parah, guru yang memiliki paras menawan itu tersenyum lega, " Kalau sakit, bilang ke bapak ya? Nanti bapak antar pulang."
"Hm, selamat pagi"
Netranya sedikit membesar, merespon ucapan yang keluar dari mulut lelaki didepan sana, si murid pindahan.
Dengan cepat dia menggulirkan atensi dari lelaki didepannya, ke arah jendela kelas.
Hah...
kenapa dia lagi.
Kenapa dia yang muncul.
"Hey, kata guru didepan aku duduk disampingmu."
"Maksudmu, di sebelah kan? Posisi tempat duduk sekarang tidak berpasangan,tetapi sendiri-sendiri. Kuharap kau mengerti, dan tolong singkirkan kursimu, itu mengangguku."
Lelaki tersebut, yang tidak diketahui namanya oleh Lesya, terpaksa menyeret kursinya ke tempat semula, kemudian bersiap untuk belajar.
Lesya melirik ke samping, ke tempat dimana murid pindahan tersebut duduk.
Bagus, hari yang sangat indah tetapi langsung tertampar kenyataan.
Pembelajaran saat itu berjalan dengan lancar. Guru yang menjelaskan dengan metode yang menyenangkan dan murid yang sigap mencatat segalanya.
Benar-benar pemandangan yang indah, pikir Lesya.
"Hey."
Ah, mantap. Kutarik perkataanku tentang sesuatu yang indah tadi.
Menghela napas kasar, Lesya berusaha untuk fokus kedepan, mendengar penjelasan guru sembari mencatat.
"Hey," panggilnya lagi, kali ini sedikit lebih keras dari yang tadi.
Yang dipanggil tidak menyahut. Gemas karena panggilannya tidak dibalas, murid pindahan tersebut sontak berdiri.
"Hey!?---,"
"Penyampaian bagi anggota OSIS untuk segera berkumpul di aula. Sekali lagi, disampaikan untuk segera berkumpul di aula, terima kasih."
Oke, waktunya benar-benar tepat!. - Lesya yang berbahagia
Zeline baru saja tiba ketika Kenzo masuk ke dalam Aula.
Kenzo yang melihat Zeline sontak membungkuk untuk menyapa, kemudian berdiri tegap karena salah tingkah.
Ah, tadi kau kenapa pake acara membungkuk >//< - Kenzo.
"Pffft--, hahahaha, " tawanya seusai melihat lelaki didepannya yang membungkuk tanpa sebab. "Ah, maafkan aku, tapi kenapa kau membungkuk? Kacamatamu saja hampir jatuh tadi, " ujarnya setelah selesai tertawa.
Merapikan sedikit kacamatanya, berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar dengan cepat di permukaan wajahnya. " Aku tidak tahu. Refleks saja."
Zeline terkesiap. Tadi, wajah Kenzo yang penuh dengan rona merah seketika berubah menjadi datar.
Heee-- kenapa wajahnya tidak merona lagi!?
__ADS_1
"Aduh, kalian kenapa disini?"
Melihat dengan cepat ke arah suara berasal, mereka menemukan seorang wanita paruh baya tengah berdiri di depan pintu masuk ke aula. "Ah kami disini karena tadi ada penyampaian untuk ke aula."
Wanita paruh baya itu mengangguk pelan, kemudian pergi dari situ, entah kemana.
"Aneh sekali, apakah dia tidak mendengar penyampaian? Dan juga, kalian berdua, cepatlah berbaris, kepala sekolah dan wakil sudah dekat."
Oh! Aerylin, kukira hantu. - Zeline
Aerylin memang selalu datang tiba-tiba ya, aku jadi kaget dan hampir berteriak.- Kenzo
Kepala sekolah dan wakil memasuki aula, disusul anggota OSIS lainnya dari belakang.
Diantaranya adalah Lesya, Kaila, Savier, Adelle, Adriell, Beryhl, dan Andreas yang paling terakhir masuk.
"Baiklah, sehubungan dengan kegiatan yang akan kita lakukan, mari kita memulai rapatnya."
.
.
.
"Hey, kau anak baru, belikan aku roti di kantin."
Cih, mentang-mentang aku anak baru disini, dia berani memerintahku? Aku? Alfred yang tak takut apapun ini?.
Kutatap wajahnya yang sangat menyebalkan itu.
"Siapa kau, sehingga berani menyuruhku? Memangnya kau tidak punya kaki?"
Hah, rasakan itu, pikirmu aku penakut hah?
Kulihat wajahnya yang memerah, entahlah. Mungkin dia malu, tidak mungkin kan dia tersipu seperti anak gadis yang baru mengenal cinta. Apalagi, dia lelaki dan aku juga lelaki, tidak mungkin dia sudah belok--
"Ahh, Alfred memang keren~ kyaa!"
Bagus, sekarang para gadis bodoh itu mulai berteriak. Ah, bisa-bisa telingaku rusak karena suara mereka yang sangat nyaring.
Rasanya seakan-akan berputar di dalam kepalaku.
"Kau... anak baru, tidak mau menuruti perkataanku?!"
Oh, sekarang dia menaikkan volume suaranya.
Mau apalagi? Kan aku tidak melakukan hal yang buruk. Memangnya, bertanya kalau dia punya kaki itu masalah?
Tanpa sadar aku menyeringai.
Ah, sepertinya ini akan menjadi hal yang menyenangkan.
Aku akan memukulnya sampai--
"Selamat siang teman-teman, mohon perhatiannya sebentar."
"Sehubungan dengan hasil rapat yang sudah diadakan tadi, maka diambil keputusan untuk melakukan kegiatan study tour pada tanggal 6 september sampai 10 september 2021. Apabila ada pertanyaan bisa ditanyakan sekarang," ucapnya dengan lantang.
Seorang siswa mengangkat tangannya, nampak ingin bersuara. "Maaf, apakah kita semua harus ikut serta dalam kegiatan tersebut?."
Kaila yang berada di samping Lesya langsung menjawab pertanyaan tersebut, kalau memang ada halangan, bisa disampaikan secara langsung kepada guru yang bersangkutan.
"Sebenarnya, ini diwajibkan. Tapi menurut usulan dari wakil kepala sekolah, maka hal ini menjadi kegiatan yang tidak diwajibkan.
Dan apabila memang siswa atau guru memiliki urusan yang sangat mendesak, maka dia diizinkan untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut, " Jelas Lesya lebih lanjut.
Dibelakang sana, si murid baru atau mari kita sebut namanya, Alfred sedang duduk manis.
Sebelumnya, dia tengah menyusun rencana untuk memukul salah seorang dari kelasnya karena berani kepadanya, tapi ketika Lesya datang, rencananya mendadak sirna.
"Maaf, apakah si murid baru bisa ikut? Kan dia baru masuk sekolah tadi pagi."
"Apa yang--"
Lesya tersenyum. Kini dirinya maju mendekati meja terdekat dari tempatnya, kemudian menatap mereka semua. " Ah, karena dia tidak menuruti permintaanmu untuk membeli sebungkus roti, kau tidak suka kalau dia ikut? Parah sekali~. Sepertinya, kau yang harus tidak ikut~."
Kaila yang melihat itu hanya diam memaklumi.
Mampus.
"Kau sudah menyampaikan di kelas sebelah?."
" Ya."
Ah, dingin sekali.
Beryhl namanya, salah satu anggota osis. Kini sedang berjalan bersama-sama dengan Aerylin. Ya, keduanya mendapatkan tugas untuk menyampaikan isi dari rapat tadi, ke setiap kelas yang ada, khususnya, kelas 1.
Berjalan dengan ritme biasa, langkahnya tiba-tiba berhenti, membuat lelaki disampingnya otomatis melakukan hal yang sama. "Ah, maafkan aku," ujarnya.
Beryhl menggeleng pelan, memberi gestur bahwa dia tidak apa-apa. " Kenapa berhenti?."
Aerylin menatapnya. Cukup lama sampai Beryhl berdeham untuk mengurangi rasa gugup yang menyerang secara tiba-tiba. "Ada apa, Aerylin?."
Aerylin diam. Ya, bukan itu respon yang diharapkan oleh Beryhl. Jika saja Beryhl tidak sigap, bisa dipastikan kalau dia akan jatuh begitu Aerylin, yang tadinya diam, kini dengan cepat menarik pergelangan tangannya, menjauhi ruang kelas mereka.
"Tunggu--."
.
.
.
Eh, kenapa ini, kenapa dia menarik tanganku!? Aku bisa saja jatuh tadi kalau tidak sigap.
Aerylin belum melepas pegangannya pada tanganku.
__ADS_1
Itu cukup membuatku tersenyum kecil, sampai kemudian dia melepaskan pegangan tangannya. Ah, aku sakit hati sesaat.
Kulihat dirinya, nampak tergiur akan sesuatu didepan sana tapi raut wajahnya tidak menampakkan ekspresi apapun.
Ya, sorot matanya, sangat berbeda dengan yang tadi. Kali ini, rasanya berbagai kembang api sedang meledak-ledak dibelakangnya.
Sebenarnya apa yang kau lihat sampai berlari seperti itu?
"Beryhl."
"Ah, ya Aerylin, ada apa?."
Nampak gadis tersebut diam. Menundukkan kepalanya sembari menatap ke samping kiri, dirinya perlahan mengutarakan apa yang dari tadi mengganjal di benaknya.
"Aku,"
"Ah, Zeline. Sudah selesai?."
Yang ditanya mengangguk, menandakan bahwa dia sudah selesai dengan kegiatannya didalam sana. Ya, dia dan Kenzo, ditugaskan untuk menyampaikan isi rapat yang tadi, kali ini untuk kelas 3 yang berada di lantai dua.
Menaikkan sedikit kacamata hitam miliknya, Kenzo mengusulkan sesuatu. " Bagaimana kalau kita kekantin? Kurasa kita bisa pergi makan walau hanya sebentar."
Zeline nampak menimbang-nimbang usulan Kenzo. Dirasa bahwa dirinya juga sedikit lapar, dirinya menyetujui ajakan Kenzo.
"Baiklah, ayo kita kekantin!."
"Ah, kupikir kau akan menolak ajakan tadi"
"Tidak, mana mungkin aku menolak ajakan ke kantin sedangkan aku lapar~."
Keduanya nampak asik berbincang sambil berjalan menuruni tangga, menuju kantin.
Entah ingin bercerita tentang apa, keduanya terlihat sangat akrab. "Ya, tinggal 5 langkah lagi dan kita akan sampai."
"Ya~."
Selepas Zeline bersuara, sayup-sayup mereka berdua mendengar suara, tak jauh dari tempat mereka berdiri. " Tunggu, bukan hantu kan?."
"Tentu saja bukan Zeline, ini saja siang hari. Beda ceritanya kalau ini sudah malam."
Zeline mengiyakan perkataan Kenzo tersebut dalam hati. Menyadari sesuatu, kini keduanya tertawa lepas sembari berjalan terus menuju kantin.
Tidak ada yang namanya hantu. -Kenzo dan Zeline yang sedang menguatkan hati masing-masing.
.
.
.
Bagus. Tidak menemukan hantu!- Zeline
Ya, tidak menemukan hantu tapi menemukan mereka yang sedang kasmaran. - Kenzo
Kalian berdua juga kasmaran tuh - Beryhl
Auk ah penting makan - Aerylin.
"Hah.. kukira hantu."
Zeline tersenyum menanggapi ucapan Kenzo. Ya, dirinya juga mengira kalau dua orang didepan mereka adalah hantu, ternyata bukan.
"Ya maaf, aku mana tahu kalau kalian berdua mengira sampai kesana. Kejauhan itu," sungutnya pelan pada kalimat terakhir.
Memaklumi perkataan Beryhl, Zeline menatap Aerylin yang sedang makan dengan lahap.
Ah, Aerylin imut sekali.
"Oi, kalian berempat, double date apa gimana?."
Dua lelaki disitu sontak tersipu malu, sedangkan dua gadis disitu hanya menatap tak berkedip.
"Ah aku sangat berdebar. Apakah dia sekolah dengan baik di hari pertamanya?."
Perlahan, yang ditunggu pun muncul, menampakkan dirinya dengan tampang yang bersih, tidak ada noda maupun lainnya. Darah misalnya. Ayolah bung, dia sudah sma :(
Perkelahian itu wajar, yang tidak wajar itu merebut pasangan orang. Parah itu mah.
"Alfred! Apa kau baik-baik saja? Apa kau menjalani harimu dengan baik tadi?," sambutnya dengan berbagai pertanyaan, bukan sapaan. Menghela napas kasar, Alfred mengangguk pelan, mengiyakan bahwa harinya baik-baik saja. Ingatkan dia untuk tidak bercerita tentang kejadian tadi. Iya yang tadi, pas dikelas itu lho.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu jemputan juga, kau kan selalu sibuk."
Meringis, pria yang lebih tinggi dari lawan bicaranya itu tersenyum. "Tentu saja aku sibuk. Tapi aku akan tetap meluangkan waktuku untukmu."
Menepis tangan besar nan hangat yang sedang mengusap rambutnya, Alfred terus membuat ekspresi seakan-akan dia membenci semua hal yang dilakukan lawan bicaranya itu.
"Singkirkan tanganmu itu sialan, " umpatnya pada pria didepannya, tak peduli bahwa pria tersebut akan sakit hati atau tidak atas perkataannya.
"Baiklah baiklah, mari kita segera pulang. Hari akan gelap dan kurasa kau tidak memakan apapun di sekolah, betul?."
Tepat setelah Alland menyelesaikan perkataannya, terdengar tanda bahwa seseorang didekatnya itu, lapar. Intinya gitu lah.
"Huh, cepatlah."
Ah, masih dan akan tetap menggemaskan.
"Sudah kubilang kan, makanya bangun pagi. Kau sih, susah sekali mendengar saran orang lain."
"Maaf. Tidak akan kuulangi."
"Halah."
Netranya melebar, merespon pergerakan seseorang didepan sana, atau lebih tepatnya, dia hanya fokus pada seseorang bersurai merah muda didepan. "Apa yang--"
"Hey? Cepatlah, katanya mau pulang?."
Tersadar dari lamunannya, Alland menggeleng pelan kemudian tersenyum. " Maaf, kau lama menunggu? Ayo kita pulang sekarang."
__ADS_1