
Lesya berani bersumpah kalau pemandangan didepannya benar-benar menakutkan, lebih menakutkan daripada stok cemilannya yang kosong di malam hari.
"Ngapain sih?."
Savier menatapnya dengan takut-takut. "Adelle tidak baik-baik saja."
"Adelle?."
Lesya mendekat, berusaha untuk melihat apa yang sedang terjadi melalui jendela besar di ruangan itu.
Gadis bersurai merah muda itu sedikit mengerutkan dahinya, bingung dengan perkataan Savier tentang Adelle yang tidak baik-baik saja.
"Tadi aku melihatnya di koridor. Dia nampak baik-baik saja kok. Apa maksudmu dengan tidak baik-baik saja?."
Savier menundukkan kepalanya. Dengan ragu-ragu dia menjawab pertanyaan Lesya. "Hari ini, Adelle nampak beda. Kau tahu kan maksudnya?."
Gadis itu mengangguk. Savier benar, pikirnya.
Adelle nampak sedikit kacau hari ini, dan itu tidak seperti biasanya. Diantara mereka semua, Adelle bisa dibilang satu-satunya orang yang konsisten dengan ekspresi di wajahnya. Maksudku, dia tidak seperti Lesya yang kadang-kadang mengeluarkan ekspresi marah tanpa sadar, ataupun Kaila yang kelepasan memasang senyum bahagia.
"Hm, mungkin dia mengalami sesuatu?."
"Sesuatu yang seperti apa?."
Lesya mengangkat kedua bahunya sembari berjalan menuju pintu keluar. "Mari kita amati saja dari kejauhan. Untuk sekarang, jangan dulu mencampuri urusan pribadi seseorang. Paham, Savier?."
...🥀🥀🥀...
Aku tidak mau pulang ...
Langkahnya sedikit pelan, seakan-akan ada beban yang sangat besar di atas punggungnya yang kecil.
Surainya sedikit menari mengikuti hembusan angin. Beberapa kali dia nampak menghela napas untuk mengusir perasaan yang dirasanya benar-benar mengganggu.
"Aku tidak mau pulang."
Baiklah, dia tidak mau pulang tapi sekarang dia berdiri tepat didepan pintu rumahnya sendiri. Tinggal membuka pintunya dan dia sudah berada di dalam rumah, alias dia sudah pulang.
Sungguh, jika saja robot kucing yang katanya berasal dari abad 21 itu nyata adanya, Adelle ingin meminjam pintu kemana saja dan pergi jauh dari tempat ini.
Siapa yang menyangka kalau gadis yang terkenal seantero sekolah itu sering tersenyum dan bertingkah kekanak-kanakkan, ternyata hidup di tempat yang situasinya benar-benar berbeda dari pandangan orang lain?.
"Aku hidup di neraka."
Itu adalah kalimatnya untuk diri sendiri. Bahkan ketika dia dikelilingi oleh teman yang sangat baik sekalipun, itu tidak dapat membantunya.
Begitu dirinya melangkah masuk, bukan ucapan selamat datang yang menyambutnya, melainkan beberapa botol bekas minuman keras yang berceceran di lantai seakan-akan menyambut dirinya yang baru saja masuk ke dalam rumah.
Adelle menghela napas, lagi. Kejadian seperti ini sudah seringkali terjadi.
"Ma ..."
Wanita itu berbalik dan mendapati seorang gadis sedang menatapnya.
"Eh, Adelle sudah pulang."
Menyadari kalau botol bekas minuman keras miliknya berada di tangan Adelle, wanita itu tiba-tiba langsung berdiri dan berusaha merapikan botol-botol lainnya yang masih berserakan di lantai.
"D-duh, ini cuma kadang-kadang kok, ahaha ..."
__ADS_1
Apanya coba yang kadang-kadang?
"Mama ... Berhentilah minum."
Mira menatap Adelle dengan tatapan sendu. " Ini juga cuma sekali kok minumnya."
"Total botolnya ada lima belas."
"Oh, bukan cuma sekali ternyata."
Ya Tuhan.
Adelle menghela napas. Dia bahkan belum masuk ke dalam kamarnya dan sudah disuguhkan dengan pemandangan seperti ini.
"Pertama-tama, mari kita bersihkan dulu semua botol ini."
Begitu mata mereka berdua bertemu, Mira dengan cepat memalingkan wajahnya, berusaha untuk menghindar dari tatapan gadis bersurai merah itu.
"Mama tahu kan, kalau kita harus membersihkan rumah?. Dan lagi, gara-gara siapa ruang tamu kita berantakan?."
Mira mengangguk tanpa sadar. Duh, kalau dia tidak membersihkan ruang tamu, bisa-bisa dia tidak akan minum alkohol lagi karena gadis itu akan membuang semua persediannya.
"Kakak dimana Ma?."
Mira menatap ke arah tangga menuju lantai dua. "Kayaknya belum pulang. Tadi sih minta izin ke mama, mau pergi kerja kelompok, gitu katanya."
Adelle menatap Mira dengan bingung. "Tumben banget si kutu buku mau kerja kelompok?."
Mira hanya mengangkat kedua bahunya, kemudian lanjut membersihkan ruang tamu. Adelle menghela napas seraya melihat pintu depan.
Tidak, pasti dia tidak pergi untuk kerja kelompok.
"Mantap udah sedikit---- Lho he?!. Adelle mau kemana Nak?."
Bayangan gadis itu menghilang di balik pintu. Belum lama Adelle pergi, sebuah pesan masuk ke ponsel Mira.
"Duh, kenapa mereka semua main pergi sih---"
Adelle
Online
~Ma, aku pergi sebentar ya. Jangan minum alkohol disaat aku tidak ada. Awas ya. Aku tetap tahu apakah Mama minum alkohol atau tidak.
16.00
"K-kok dia bisa tahu ..."
Mira melanjutkan kegiatannya yang sedikit tertunda tadi. Mengambil botol, membuangnya di tempat sampah, kemudian mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai.
Ya, dia harus berubah. Tidak boleh seperti ini terus, atau dia akan mengalami hal-hal yang buruk lainnya.
Mira hendak membersihkan meja kecil dekat ruang tamu ketika pandangannya tidak sengaja tertuju ke sebuah pigura kecil yang ada di dinding.
Mira mengambil pigura itu, kemudian membuangnya ke tempat sampah.
__ADS_1
"Bajingan sepertimu tidak layak hidup," ucapnya setelah selesai membersihkan seluruh penjuru rumah yang berantakan karena dirinya sendiri.
Wanita itu menatap pintu depan cukup lama. "Lagipula, dua anak itu kemana sih?."
...🥀🥀🥀...
"Bisakah kau berhenti melakukan hal itu?."
Baiklah, dia sudah mencoba untuk mengusir pemuda yang sedang menggambar--entahlah apa yang dia gambar--itu.
Lesya menatap dengan kesal. Raut wajahnya benar-benar menampakkan kalau dia sangat tidak menyukai keberadaan orang lain selain dia disitu.
"Kuperingatkan kau. Cepat keluar dari sini!."
Seakan-akan dirinya tuli, pemuda itu tetap bersikeras duduk di tempatnya, bahkan ketika si gadis bersurai merah muda itu berdiri dari tempatnya.
"Tolong aku."
"Aku bukan penolong, bukan pahlawan, aku harus bagaimana agar kau pergi dari sini?."
Mungkin sebentar lagi, rambut Lesya akan pulang tak kembali karena gadis itu terus menarik rambutnya sendiri karena kesal.
"Bantu aku. Aku mengenalmu."
"Aku tidak mengenalmu sialan. Kenapa sih?!."
Memilih untuk meredam emosinya sendiri, Lesya berjalan menuju jendela besar di ruangan itu.
Seorang pemuda, mungkin berusia sekitar dua puluh tahun atau lebih, tiba-tiba datang dan tidak mau beranjak dari tempatnya, seraya berkata 'bantu aku' atau 'aku mengenalmu'.
"Aku---"
Brak!
Dua orang yang sedang larut dalam pikirannya itu sontak menatap ke arah pintu masuk. Tepat di pintu masuk, berdiri seorang gadis. Surainya dibiarkan bergerak bebas tanpa ada ikatan apapun di kepalanya. Netranya menatap tajam pemuda yang sedang duduk itu.
"Maafkan aku Lesya," sesalnya kepada gadis bersurai merah muda itu. Tatapannya sedikit melembut ketika berbicara dengan Lesya, kemudian berubah tajam ketika berhadapan dengan pemuda tadi.
"Kau, apa yang kau lakukan disini?." Menggunakan tangan kanannya, Adelle dengan cepat dan juga sedikit kasar menarik keluar pemuda yang entahlah dari kapan dia duduk manis disitu.
Lesya hanya bisa menatap kepergian dua orang yang memiliki warna mata yang sama. Kejadian didepannya terlalu singkat untuk dijabarkan.
"Hm?. Kukira tadi disini ada orang lain?."
"Ah, aku mendengar suara bising dari sini."
"Bukankah itu Adelle?."
Duo kocak nan guoblok, yaitu Kenzo dan Andreas serta trio pintar nan baik hati yang tentu saja itu adalah Savier, Adriell dan Berhyl, entah dari mana saja tiba-tiba muncul.
Savier sedikit menutup pintu ketika mereka semua masuk. "Lesya, tadi Adelle disini kenapa?. Sepertinya dia marah besar ya ..."
"Kalian bertengkar?." Kenzo ikut bertanya. Bohong kalau mereka berlima tidak penasaran dengan teman mereka sendiri ketika gadis itu keluar sambil menyeret seorang pemuda di belakangnya.
"Entahlah. Tadi ada seorang pemuda yang masuk, kemudian Adelle datang dan menyeret keluar pemuda itu. Tamat. Ada pertanyaan?."
Tidak ada satupun orang yang bertanya, membuat Lesya mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang. "Ay?. Kenapa kalian berlima masih ada di sekolah?."
Lima pemuda itu tersenyum seraya melakukan aktivitas kecil seperti merapikan rambut atau kemeja masing-masing sebelum serentak menjawab pertanyaan gadis itu.
__ADS_1
"Remedial hehe."
Lesya menatap mereka berlima dengan datar. Oh, dia melupakan fakta bahwa wajah mereka semua sangat menipu. Luarnya kelihatan pintar, aslinya mah, dua tambah dua masih cek di kalkulator saking gak percayanya.