Patency

Patency
Bab 7, Hujan deras di hari itu.


__ADS_3

"Sia-sia aku memakai pakaian pendek, ternyata hari ini mendung, dingin pula."


Alfred menatap ponselnya yang sedari tadi bergetar, menandakan bahwa ada panggilan atau mungkin saja pesan masuk.


"Getar getar mulu daritadi, apa sih?," sungutnya.


Mengambil handuk di atas kursi kayu, netranya tak sengaja melihat pesan yang tadi masuk ke ponselnya. Penasaran, Alfred mengambil ponselnya dan duduk kembali di kursi kayu.


"Pengumuman, bagi siswa sma....akan pulang pada bla bla bla...oh pulangnya besok."


Alfred masih asik membaca pengumuman ketika hujan turun dengan derasnya.


Ketukan pintu yang keras menyentak Alfred yang tengah melamun menatap air hujan yang jatuh dengan deras. Berjalan dengan cepat, Alfred baru saja membuka pintu ketika sebuah tangan menariknya keluar dari kamar.


"Apa yang---"


"Bicaranya nanti saja!."


Yang ditarik diam, pasrah saja dengan kenyataan bahwa dirinya sedang ditarik oleh seorang gadis, menuju lantai satu.


"Ini mau apa sih, kau tidak ada rasa sopan sama sekali." Alfred menggerutu ketika dirinya sampai di lantai satu, walaupun tadi dia hampir jatuh karena tidak bisa mengimbangi kecepatan lari si gadis.


"Nih."


Alfred menatapnya. Gadis tersebut balik menatapnya. Mereka berdua saling tatap sampai gadis didepannya memutuskan kontak mata mereka dan bertanya,


"Apa?"


"Kau menarikku keluar dari kamar, hanya untuk ini?."


Ya, sebuah mie instan yang kelihatan baru saja dimasak. Asapnya dengan cepat naik ke atas, dan kemudian menghilang di atas kepala mereka. Gadis didepannya mengangguk beberapa kali sebelum mempersilahkan Alfred duduk. "Ibuku menyuruhku untuk memanggilmu makan bersama, tapi karena kau tidak mendengar panggilan ibuku, akupun disuruh untuk naik ke lantai dua."


Benar-benar hanya mie instan, pikirnya.


Alfred sudah bersiap jikalau gadis didepannya menarik dirinya secara tiba-tiba, mungkin dia memerlukan bantuan seorang lelaki,pikirnya. Tapi apa ini? Hanya beberapa mie instan yang dimasak, dan gadis didepannya dengan tidak sopan langsung menariknya keluar dari dalam kamar.


Menghela napas, Alfred memilih untuk menyantap mie instan didepannya. "Makan juga ternyata."


"Kalau aku tidak makan, sia-sia tenagamu yang dengan sopannya menarikku keluar kamar. Kuhargai usahamu, makanya aku makan."


"Iyain."


Tidak butuh waktu yang lama untuk memakan makanan didepannya, terlebih hanya tiga bungkus mie instan kuah. Alfred tanpa sadar terus menatap gadis didepannya. "Kulihat lagi, kau tampaknya mungil sekali. Kau kelas berapa?."


"Apakah aku harus menjawab pertanyaan orang yang tuli sepertimu?."


Tersedak, Alfred menatap gadis didepannya dengan tatapan tidak percaya.


Sampulnya saja yang kelihatan polos, tapi tutur katanya ngga polos sama sekali, pikirnya.


"Kau itu, kalau ada orang yang lebih tua darimu bertanya, usahakan jawab." Alfred mengambil tisu kemudian membersihkan pipi gadis didepannya dari kuah mie instan.


Jangan tanya kenapa dia melakukan hal tersebut.


Tangannya seakan bergerak sendiri, dan gadis didepannya tidak mempermasalahkan hal tersebut.


"Ya ya, aku akan mengingat pesan dari seorang yang lebih tua dariku ini."


Alfred memilih untuk mengalah. Berdebat dengan gadis didepannya yang namanya tidak diketahui itu akan mendorong dirinya ke jurang kekalahan.


Sia-sia banget tau gak sih. Capek diri ini.


"Namaku Nalea. Namamu siapa pak tuli?."


Perempatan imajiner muncul di atas kepala Alfred. "Baiklah. Namaku Alfred, bukan pak tuli."


Nalea mengangguk. Tangannya terulur untuk mengangkat piring bekas mereka makan tadi, sebelum Alfred mengangkat piring tersebut sedikit lebih cepat darinya. "Eh?."

__ADS_1


"Kubantu kau mencuci piring." Nalea terdiam beberapa saat, kemudian mengikuti Alfred dari belakang. Pemuda yang kelihatan cukup barbar itu mencuci piring dengan lihai, membuat Nalea terpukau sesaat. Bilah bibirnya sempat terbuka, kemudian tertutup. "Kau bisa mencuci--ah."


"Pfft--"


Alfred melanjutkan kegiatan cuci-mencucinya sembari mencuri pandang ke Nalea. "Puji lagi dong, aku tidak mendengar pujianmu tadi." Nalea membuang wajahnya sembari mengerucutkan bibir. Pandangannya tertuju pada sandal yang dipakai Alfred. Entahlah, mungkin sandalnya memiliki daya tarik tersendiri. "Aku memujimu karena tampangmu tidak kelihatan seperti anak rajin kau tahu?. Kau lebih mirip berandalan sialan yang berkeliaran di jalanan."


Gelas terakhir selesai di cuci. Alfred meletakkannya bersama-sama dengan beberapa piring yang tadi, kemudian dia mengeringkan tangannya dan membalikkan badan, bersiap untuk pergi ke kamar dan mandi. Ya, dirinya sudah membayangkan bagaimana indahnya kalau dia sudah selesai mandi ketika petir menyambar.


Alfred menoleh. Dirinya mendapati Nalea yang menatapnya dengan datar. "Kenapa?"


"Tidak. Tidak ada apa-apa." Alfred berjalan menuju tangga, kemudian dirinya berhenti.


"Hei mungil, mau minum susu cokelat panas bersamaku sesudah aku selesai mandi?. Kebetulan aku membawanya."


Nalea menatapnya. Posisinya sedikit membelakangi Alfred tadi, sehingga dia tidak melihat ekspresi pemuda tersebut.


"Ya. Kita bisa meminum susu cokelat panas sehabis kau mandi."


[□][□][□]


Ryan menatap pantulan dirinya didepan cermin. "Aku tidak gugup. Haha, apa itu gugup?. Lihat, aku tidak gugup."


Ya, suatu pembohongan besar. Bohong jika dia mengatakan kalau dia tidak gugup. Dirinya akan pergi menemui seseorang diluar sana, yang entah apakah sudah siap atau tidak. Ryan mengambil ponselnya untuk melihat jam.


"15 menit lagi harusnya, tapi aku benar-benar tidak tahan."


Dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi, Ryan keluar dari kamarnya, mengunci pintu tersebut, kemudian berjalan menuju penginapan yang tak jauh dari tempatnya.


Pukul 12 siang, matahari harusnya bersinar dengan cerah, tetapi sekarang hujan deras. Ryan menatap jalanan didepannya sembari menghela napas. "Aku tidak punya payung.."


"Paman, anda mau payung?"


Ryan menoleh ke samping dan menemukan seorang anak perempuan berusia sekitar 7 tahun, sedang berdiri dan menawarkan payung kecilnya. Dirinya tersanjung  dengan kebaikan gadis kecil didepannya.  Atensinya tertuju kepada pakaian gadis kecil didepannya yang basah kuyup. Gadis kecil didepannya sesekali gemetar, namun tangannya tetap memegang payung kecil bermotif kupu-kupu itu.


Ryan mensejajarkan dirinya dengan anak didepannya. Jaket yang tadi dipakai di tubuhnya dengan cepat dilepas dan dipakaikan di tubuh mungil anak didepannya. "Dimana orang tua mu nak?."


Ryan celingukan. Dirinya berkali-kali menatap jalanan dan anak didepannya. Anak itu beberapa kali menggertakkan giginya dan menggenggam erat tangan Ryan.


Dengan sigap dia memeluk anak kecil didepannya ketika seseorang yang berlari menembus hujan itu memegang pergelangan tangannya.


"Cepat lari!."


[□][□][□]


"Mmhm~ mmhm~."


Angin berhembus dengan pelan, memainkan sedikit surai hitam pekatnya. Memegang kemudi mobil, pria tersebut memarkirkan mobilnya didepan minimarket.


"Baiklah, aku butuh satu botol air putih dan dua roti isi cokelat...."


Surainya berwarna hitam pekat. Senyumannya memikat para gadis--maksudku, semua yang melihatnya. Rata-rata sih.


Siapa dia? Yep, dia adalah--


"Alland!"


"Ya?-- ah, bukan memanggil diriku.."


Iyes, Alland namanya. Adiknya adalah Alfred, ingat? Murid berandalan yang lihai mencuci piring itu mempunyai kakak lelaki tampan nan gagah yang bernama Alland.


Parasnya yang rupawan serta tutur katanya yang sopan benar-benar menjadi kombinasi mematikan.


Tidak berlaku untuk Alfred.


"Namanya mirip dengan namamu?."


Alland menoleh. Dirinya mendapati seorang pria tua berusia sekitar 60-an tahun tengah duduk dan menatapnya lurus-lurus. Mata pria tua itu seperti membentuk bulan sabit. Dia tersenyum kepada Alland.

__ADS_1


"Ah. Iya, namanya mirip dengan nama saya. Makanya tadi saya kira ada yang memanggil saya, ahaha." Alland tertawa hambar.


Merasa canggung, Alland menunduk sedikit, pamit kepada pria tua tadi. "Permisi pak, mohon undur diri ya."


"Ya anak muda."


Alland masuk ke minimarket tadi, mengambil satu botol air dan satu bungkus roti, kemudian menuju kasir.


Dirasa tidak cukup, dirinya balik lagi mengambil beberapa bungkus roti dan satu botol air, kemudian benar-benar pergi ke kasir dan membayar semuanya.


Pria tua tadi boleh makan roti apa tidak ya..


Ah, kalau dia tidak bisa memakan roti, aku akan pergi membeli nasi saja.


Tidak ada. Begitu Alland keluar dari minimarket, pria tua tadi tidak ditempatnya. Alland melihat ke sekitarnya, barangkali pria tua tadi belum jauh dari sini.


"Padahal aku ingin memberikan roti dan air. Ah, apa karena hanya roti maka pria tua tadi pergi? Harusnya memang beli nasi."


Alland berbalik, kemudian pergi dari situ. Tujuannya bukan hanya membeli roti dan sebotol air, tapi pergi ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari minimarket itu.


Kaki jenjangnya terus melangkah. Matahari bersinar dengan sangat cerah, membuat dirinya berkeringat. Ya, harusnya dia tidak memarkirkan mobilnya di parkiran minimarket tadi kalau jaraknya sejauh ini.


Tapi ini kebiasannya sejak dulu. Dulu sekali, sebelum semua menjadi seperti ini.


Netranya melebar, bibirnya membentuk kurva melengkung keatas. Dirinya sudah sampai di tempat tujuan.


Angin bertiup pelan, membawa rasa sejuk yang berasal entah darimana. Alland menatap makam didepannya. Rumput liar tumbuh di sekitar makamnya, menambah kesan yang mendalam bagi Alland. Perlahan dirinya mensejajarkan tingginya dengan makam itu, kemudian mengusap pelan tangannya sendiri.


Binar di matanya perlahan meredup. Ingatan tentang beberapa tahun yang lalu mulai bermunculan di benaknya.


"Baiklah. Aku tidak menangis."


Alland menatap susunan nama didepannya.


"Aku datang membawa bunga. Bunga didekat sekolah yang kau suka." Hari itu matahari bersinar dengan penuh semangat. Cuaca yang disukai Alland, ketika matahari bersinar cerah dan tak ada satupun awan yang muncul.


"Kau tahu, kupikir aku sudah menjadi orang yang sukses."


Angin berhembus sedikit lebih kencang. Dedaunan jatuh dengan cepat ke tanah. Tidak ada siapapun disitu, selain dirinya sendiri.


Alland terus berbicara, tak mempedulikan fakta bahwa tidak ada yang membalas perkataannya.


Perlahan pria itu memejamkan matanya. Awalnya ingin menikmati desiran angin, tapi dirinya tidak bisa berbohong.


Pria itu tertidur dalam posisi sedikit bersandar pada makam disampingnya.


Tetesan air dan hembusan angin yang berbeda dari sebelumnya membangunkan seorang pria. Matanya mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan dengan kondisi sekitar. Di ujung jalan, seorang anak berusia sekitar sepuluh tahun berdiri seakan memanggil dirinya. Pria itu masih bersandar di makam disampingnya itu. Pria itu berdiri, tidak diperdulikannya celana panjang hitamnya yang sedikit kotor. Kaki jenjangnya terus melangkah kedepan, berusaha menggapai anak kecil di ujung jalan sana.


Kabut mulai memenuhi tempat itu. Suasana yang sepi mendukung suasana di saat itu. Pria tadi mempercepat langkahnya. Dia mulai berlari, berlari untuk menggapai anak didepannya.


Tubuh pria itu menyusut. Dirinya kembali pada tahun-tahun sebelumnya. Anak didepannya berubah menjadi gadis berumur sekitar tujuh belas tahun. Gadis itu, menarik tangannya, dan memeluk pria yang menyusut tadi.


Pria tadi tidak bisa melihat mata gadis didepannya, tapi dia bisa melihat senyuman dari gadis itu.


Senyuman yang familiar, batin pria itu.


Gadis didepannya tetap memeluk pria tadi, sembari mengusap surainya dengan lembut.


"Alland."


"...man."


"Paman!."


Ah.


Alland terbangun dari tidurnya. Dia menatap anak kecil didepannya. Anak itu sedang memayunginya, berusaha agar dia tidak basah karena air hujan.

__ADS_1


Sejak kapan?


Alland berdiri dan menggendong anak didepannya. Payung berwarna hitam itu kini beralih ke tangan Alland. Dengan cepat dia pergi dari tempat itu, meninggalkan segala tanda tanya tentang anak didalam mimpi.


__ADS_2