Patency

Patency
Bab 9, Keadaan yang berbeda antara satu dengan yang lain.


__ADS_3

[□][□][□]


"Mmhm, cuacanya sudah cerah yah, kalau begitu aku pergi dulu~ dadah!"


Gadis bersurai merah terang itu tidak menyadari ya kalau daritadi sudah cerah?


Gadis yang memiliki surai sedikit bergelombang itu membalikkan badannya dengan cepat, dan mengangkat kedua tangannya ke atas. "Sampai berjumpa lagi di lain kesempatan, Niala."


Cahaya matahari benar-benar seperti menusuk kedua matanya ketika dia mencoba untuk terus menatap senyum yang lebar dari pemilik surai merah terang didepannya.


Gadis bersurai hitam legam itu beberapa kali mengerjapkan kedua matanya, berusaha untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitar.


Gadis itu-- Niala maksudnya, merapikan bukunya kemudian berdiri dan melangkah menjauh dari tempat itu, entah kemana dirinya hendak pergi.


***


Kedua insan yang berjalan dibawah cahaya matahari itu tampak saling bergandengan tangan. Keduanya tidak berbicara sepatah kata pun, dan terus melangkah maju, seakan menghalau apapun yang ada didepan mereka.


Atmosfer disekitar mereka berdua perlahan menjadi hangat, seperti mendukung suasana kencan pada saat itu.


Walaupun pada kenyataannya, mereka hanya berpura-pura berjalan selayaknya kekasih di depan umum.


"Kenapa anda memegang tangan saya?"


"Kenapa kau tidak melepaskan tanganku?"


"Saya tidak mau anda tersesat di tempat ini. Kalau anda tersesat.."


Salah satu dari mereka berdua menggantungkan perkataannya, membuat yang satunya berhenti dan menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Kalau aku tersesat, kenapa?," tanyanya penasaran.


Wanita yang berada disampingnya itu tidak bersuara selama beberapa detik. Lidahnya seakan kelu dan tidak mau mengeluarkan suara sampai pria yang beralih tempat ke depannya itu memegang kedua lengannya.


"Apa kau baik-baik saja?"


Wanita tadi mengangguk beberapa kali. Tatapannya terkunci ke suatu tempat didepan sana. Bukan bukan, bukan ke wajah pria tadi, tapi ke depan sana, sebuah taman kecil yang sepi.


Tangannya menarik pria tadi dan berjalan dengan cepat ke taman itu.


Dan seperti apa yang dilihatnya, taman itu tampak bersih dan baik untuk digunakan, hanya saja tidak anak-anak yang datang bermain.


Dia mengusap besi yang tertancap di tanah dengan lembut sembari menatap ke ayunan.


"Katanya disini, banyak anak-anak yang datang bermain ke taman. Entah apa yang terjadi"


Ryan, yang entah darimana dia mendapat sebuah minuman pun mengangguk beberapa kali. Bilah bibirnya terbuka beberapa saat setelah selesai meminum minuman dingin yang sekali lagi kukatakan, entah darimana dia mendapatkannya. "Mungkin karena mereka sudah dewasa? Maksudku, mungkin sekarang mereka bermain bersama, tapi tidak di taman ini"


Monic masih diam ditempatnya. "Bukankah kau sangat bersemangat saat menarik tanganku tadi? Anak kecil yang kugendong bahkan hampir jatuh," sindir Ryan usai tak mendapat respon apapun dari wanita didepannya itu.


Anak kecil yang dimaksud Ryan itu sekarang sudah pergi. Kedua orang tuanya ternyata mencari-cari anak mereka dan bertemu dengan Monic yang sialnya sudah panik duluan karena Ryan tak kunjung datang menjemputnya. Ketika Monic tidak sengaja melihat Ryan sedang berdiri menunggu hujan reda dengan seorang anak kecil, dengan cepat dirinya langsung berlari menerobos hujan, dan menyuruh pria itu agar lari.


"Saya tidak bermaksud--saya sudah terlanjur panik karena anda tidak datang juga. Ketika ada orang tua yang bertemu dengan saya, dan tidak lama kemudian saya tak sengaja melihat anda, yang terpikirkan saat itu adalah lari secepat mungkin"


Ryan menatap Monic dengan malas. Atensinya bergulir dari taman kecil, lalu berpindah kepada Monic yang masih betah berdiri. "Lalu, apa yang kau ingin lakukan di taman ini? Bermain ayunan?"


Monic menatapnya dengan tajam. "Anda memperlakukan saya seakan-akan saya anak kecil," gerutunya kepada Ryan yang tak kunjung merubah tatapannya.


***


"Ck, kenapa pula aku harus ikut denganmu?"


Seorang gadis, bersurai cokelat kehitaman sepanjang bahu, sedikit lebih pendek dari lawan jenisnya itu menggerutu luar biasa.


Alfred yang berada disamping Nalea hanya bisa tersenyum miris. Keduanya sekarang berjalan kaki menuju minimarket terdekat.


Tadinya Alfred mengajak Nalea untuk minum susu rasa cokelat bersama karena hari sedang hujan. Pikirnya, minuman hangat bisa menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan karena hujan. Perubahan rencana terjadi secara tiba-tiba. Dua kemasan susu cokelat yang diyakini Alfred sudah berada didalam tasnya, mendadak hilang. Entah hilang sungguhan atau dia salah meletakkannya.


Dan ketika dia turun untuk memanggil Nalea, matahari sudah melakukan tugasnya.


Ya, tidak jadi minum susu cokelat panas dan berakhir berjalan kaki menuju minimarket dibawah teriknya matahari.

__ADS_1


"Duh, memangnya apa sih yang mau kau beli sampai harus jalan kaki seperti ini? Kau tidak tahan ya, berdiam diri saja dirumah?"


Alfred terus berjalan sembari menatap kedepan. "Apa ya, kau mau beli apa? Makanan? Minuman? Barbie?"


Nalea langsung merespon ucapan Alfred begitu telinganya menangkap kata Barbie.


"Apa apa? Kau akan membelikanku sebuah Barbie? Sungguhan?!"


Seperti anak kecil saja.


"Iya Naleaa~ aku akan membelikanmu Barbie. Kau puas? Mau menemaniku berbelanja? Tidak banyak sih, tapi--"


"Ya ya! Aku akan menemanimu kemanapun kau mau!"


[□][□][□]


"Kalian melihat Kaila?"


Zeline dan Kenzo dengan cepat menengok ke sumber suara. Disana, Lesya berdiri dengan selimut yang masih berada di kedua bahunya. Wajahnya menampakkan kesan yang sangat serius dicampur rasa khawatir, tapi sialnya selimut bermotif bunga sakura itu merusak suasana.


Zeline menaruh jari telunjuknya di depan bibir. "Kalau tidak salah, tadi Kaila keluar sebentar tanpa memberi tahu mau kemana. Katanya sih, tidak lama." Kenzo mengangguk beberapa kali, mengiyakan perkataan Zeline karena tadi dia bersama-sama dengan Zeline ketika Kaila pergi keluar. "Andreas juga tidak ada. Kupikir mereka berdua pergi bersama-sama."


Lesya mengangguk. si surai merah muda itu dengan cepat melesat ke kamarnya, dan tak kalah cepat kedua kakinya yang jenjang melangkah ke pintu keluar.


"Aku akan pergi sebentar." Itu yang dia katakan sebelum pintu tertutup.


[□][□][□]


"Terima kasih sudah berbelanja~"


Alland menarik senyum simpul yang dia bisa. Ya, meskipun dia memaksakan agar senyumnya tidak nampak seperti orang yang sudah pasrah akan kehidupan, nyatanya hal itu tetap terpatri di wajahnya.


Mau kuapakan anak ini? Aku saja hampir tidak bisa merawat Alfred.


"Paman. Aku ingat kalau aku punya seorang teman lagi."


Alland menatapnya dengan cepat. Anak itu tidak bergeming sama sekali usai mengatakan hal tersebut. Kakinya dia rapatkan, dan tangannya memegang erat kemeja yang dikenakan Alland.


Anak itu menatap lurus-lurus kedepan. "Temanku, masih ada dibawah sana."


Alland menghela napas dengan kasar. Dirinya hanya ingin mengunjungi makam seseorang dengan damai, kemudian pulang kerumahnya tanpa adanya gangguan, tapi takdir berkata lain. Anak kecil disampingnya-yang entah berasal darimana-muncul tiba-tiba.


"Aku akan mengantarmu pulang. Tolong beritahu aku, dimana rumahmu?"


Sorot matanya menyayu. Alland masih menatap, berusaha agar gadis kecil didepannya ini mau membuka bilah bibirnya dan menjawab pertanyaannya.


Hanya menyebut tempat tinggal, dimana susahnya?


[□][□][□]


Beryhl mengusap dadanya dengan luar biasa. Ya, dia sudah berjalan sejauh--intinya jauh sekali dari ujung dan ke ujung. Jangan tanya kenapa dia mau berjalan sejauh itu. Tanyakan kepada gadis didepannya, kenapa kuat sekali jalan-jalan?.


"Aerylin, kau tidak lelah?"


"Tidak. Tidak sama sekali."


Tuh kan. Ngga lelah sama sekali katanya. Capek diri ini, tapi gak enak mau bilang.


Jika dihitung, sekiranya sudah 3 jam mereka jalan kaki dari ujung sampai ujung pantai ini.


Ya, ajaib sekali mengingat Aerylin yang jarang bersuara ini mengajak Beryhl untuk jalan-jalan. Dipikirnya, jalan-jalan yang dimaksud ya jalan kemana kek gitu, eh malah menyusuri pinggir pantai, mana jauh pula.


Yang bisa Beryhl lakukan ialah menghela napas dengan ikhlas. Sabar dia mah, penting pujaan hati seneng. Aerylin mundur beberapa langkah dan memegang tangan Beryhl.


Beryhl yang kaget akan 'serangan tiba-tiba' dari Aerylin sontak merona. Dibenaknya, sudah terbayang adanya adegan romantis kala matahari terbenam dengan indahnya. Ya seperti yang kita semua ketahui bahwa, ekspektasi tak sesuai realita. Aerylin dengan cepat 'melempar' lelaki itu ke air, dan kemudian tertawa dengan penuh rasa bahagia. Iya, penuh rasa bahagia dan tidak ada perasaan bersalah sama sekali karena sudah 'melempar' Beryhl ke dalam air.


"Huaa--aku tidak bawa baju ganti!. Ah, Aerylin, apa yang kau lakukan?," tanya Beryhl. Ya, lupakan soal bajunya yang mulai menerawang itu. Aerylin yang sadar pun dengan cepat melompat masuk kedalam air, melepaskan jaket yang dia pakai, kemudian jaket itu berpindah tempat ke tubuh Beryhl.


"Wanita-wanita disana mulai menatap kesini dengan tatapan yang menjijikan. Ayo kenakan ini dan mari bermain air."


Beryhl masih memproses informasi ketika netranya tidak sengaja bertemu dengan netra wanita-wanita yang dikatakan Aerylin tadi.

__ADS_1


Wah, mereka menatap dengan ganas.


Beryhl yang tidak mau jauh-jauh dari gadis bersurai pendek itu dengan cepat berjalan setengah berenang ketika dirasa kakinya mulai tidak menginjak apa-apa dibawah.


"Ah sayang~ tunggu aku~"


Aerylin yang mendengar itu sontak mendengus pelan. "Menjijikan--tapi tak apa ketimbang wanita-wanita disana."


Usai Beryhl memegang tangan Aerylin, mereka berdua pun berenang dan melupakan fakta bahwa mereka lupa membawa baju ganti.


[□][□][□]


Kenzo menatap Zeline yang sedang sibuk mencampur ini itu ke satu wadah dan mulai mencicipinya. "Kau lebih tepat seperti penyihir yang sedang meracik ramuan ketimbang koki yang sedang memasak."


Zeline menatap kenzo sembari mengerucutkan bibirnya. "Tidak ada penyihir yang mencicipi ramuannya sendiri. Itu bodoh, dia bisa mati," tandasnya kemudian melanjutkan kegiatan tadi yang sempat tertunda.


Kenzo mengangkat kedua bahunya. "Ya siapa tahu ada penyihir yang mencicipi ramuannya sendiri."


Zeline tak menghiraukan Kenzo. Dibenaknya sekarang ialah, apakah masakan ini akan enak?.


Tentunya enak karena yang memegang dapur adalah Zeline dan bukan Adelle ataupun Aerylin yang hanya bisa memasak telur dan nasi goreng, itupun sedikit hangus.


Berbeda dengan Kaila dan Lesya, keduanya bisa memasak dengan sempurna. Rasa yang pas, tidak hangus, manisnya pas dan tidak keasinan, keduanya bisa memasak dengan baik, begitupun dengan gadis satu ini.


Lain cerita dengan pemuda sinting bermata empat disampingnya ini. Kenzo sama sekali tidak bisa memasak. Bisa sih kalau ada yang mengajarinya. Seperti saat ini--


"Tidak Kenzo! Itu gula, letakkan kembali sebelum kau merusak masakan itu."


Si pelaku hanya bisa cemberut. "Aku kan ingin membantu. Anggaplah ini permintaan maaf--"


"Tidak tidak, lebih baik kau duduk manis saja dan jangan melakukan apapun di dapur." Zeline memotong perkataan Kenzo yang belum selesai itu.


Dengan wajah yang super kesal, pemuda bermata empat itupun memilih untuk pergi menonton televisi. Dengan langkah yang lebar serta menghentak khas anak kecil yang merajuk, Kenzo pun pergi ke ruang tengah, meninggalkan Zeline sendirian didapur.


Zeline terkikik geli melihat tingkah Kenzo. "Jangan begitu, nanti kau tidak akan mendapat jatah kue lho."


"Tidak mau tahu!." Terdengar balasan dari ruang tamu.


Memilih untuk melanjutkan kegiatannya, baik Zeline dan Kenzo tidak menyadari kalau Andreas, teman mereka yang satunya itu turun dengan cepat dari lantai dua.


"Ah! Kalian melihat Kaila tidak?!"


Zeline baru saja ingin menjawab pertanyaan Andreas, sayangnya kalah cepat dengan Kenzo yang notabenenya lebih dekat. "Kaila keluar tidak tahu kemana, Lesya juga pergi keluar entah kemana. Kau darimana sih? Perasaan aku tidak melihatmu masuk kerumah dan--"


"Terima kasih atas infonya Zeline!!"


"Hei, yang jawab tadi itu aku! Kenzo!"


Ya, untuk kesekian kalinya perkataan kenzo dipotong, dan Andreas malah berterima kasih pada Zeline, dan bukan dirinya.


"Huh, yang jawab aku, yang dapat terima kasih kamu. Parasmu memang menggoda ya?"


Usapan lembut dapat Zeline rasakan dipucuk kepalanya. "Maafkan aku. Aku bahkan tidak mengatakan satu kata pun tadi."


Kenzo menggeleng pelan, berusaha meyakinkan gadis didepannya bahwa kejadian tadi bukanlah sesuatu yang salah. "Aneh juga. Tadi Lesya datang mencari Kaila, sekarang Andreas--ya ngga heran sih, kan Andreas bucin garis keras tebal miringnya Kaila."


Zeline merespon perkataan Kenzo dengan tawa kecil yang keluar. Si pemuda bermata empat itu tidak melepaskan pandangannya dari Zeline.


"Padahal aku ingin menikmati waktu berdua denganmu."


Si gadis yang memiliki poni rata itu merona.


Surainya perlahan disibakkan kebelakang kala rona merahnya dirasa sudah menjalar ke permukaan wajahnya. "O-oh ya?. Mmhm-- ya."


Kenzo tak henti-hentinya menatap Zeline, tak sadar bahwa tatapannya membuat gadis itu merona hebat. Ah ya, posisinya sekarang, Zeline berdiri membelakangi Kenzo dengan alasan untuk melihat masakan tadi.


"Ke-kenapa kau menatapku seperti itu?. A-apakah ada noda di wajahku?."


Zeline sedang mengaduk masakan ketika suara Kenzo membuyarkan segalanya.


"Sesungguhnya aku tidak mendapati kecacatan pada wajahmu yang rupawan, sayangku."

__ADS_1


Oke, jangan tanyakan keadaan Zeline.


Wajahnya merona, mengalahkan tomat yang matang sempurna.


__ADS_2