Patency

Patency
Bab 11


__ADS_3

[□][□][□]


"Kau tahu, mendorongku masuk kedalam air adalah sebuah tindakan yang menakutkan."


Aerylin mendongak. Disampingnya, Beryhl mengerucutkan bibir. Rasanya ada perempatan imajiner di atas kepalanya.


"Aku tidak mendorongmu kok."


"Kau--"


Tatapan Aerylin benar-benar senjata yang ampuh. Tatapan yang seakan-akan mengatakan "aku tidak bersalah"  itu menusuk hatinya sampai dalam. Beryhl sudah jatuh kedalam pesona mbak-mbak tiada ekspresi.


Aerylin memainkan surainya sembari berjalan.


"Aku pulang dalam keadaan basah.."


"Makanya kalau tidak bawa baju ganti, jangan coba-coba untuk main air."


Keduanya berjalan beriringan, dan itu membuat mereka menjadi pusat perhatian. Ah, sebenarnya bukan karena keduanya berjalan sama-sama, tapi karena mereka berdua basah sekujur tubuh dan berjalan dari pantai sampai kedepan rumah yang ditinggali selama karyawisata.


Agak agak memalukan tapi yasudahlah.


"Mak, takut masuk aku. Takut dibombardir Kaila."


"Lesya pasti cuma senyum tapi matanya kayak laser."


Seakan ada kilat yang menyambar pikiran, keduanya pun sepakat untuk melihat keadaan didalam rumah melalui jendela.


"Bentar, jendelanya kok..."


Angin berhembus pelan. Keduanya hanya bisa pundung disamping rumah sembari memeluk erat tubuh masing-masing.


Mak, Zeline ternyata pasang tirai...- Aerylin dan Beryhl


"Ahahaha, pasang tirai biar cantik ya~" - Zeline, hari kedua karyawisata.


Aerylin mendongak. Ditatapnya langit yang mulai gelap. "Beryhl, sekarang jam berapa?," tanyanya pada lelaki yang sedang melakukan kegiatan yang sama. "Mungkin sekitar jam lima, atau jam enam sore. Maksudku, sore menjelang malam." Beryhl menjawab sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah usai menatap langit.


Nihil. Apapun yang dicari Beryhl, entah kayu atau apapun itu, tidak ada. Beryhl sempat berpikir untuk masuk lewat pintu belakang, namun dicegat Aerylin dengan alasan keduanya akan dimarahi lebih parah karena tidak mengucapkan salam saat masuk kedalam rumah. Dan yah, karena mereka berdua benar-benar basah dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Kau tahu, apapun yang terjadi hari ini, aku benar-benar senang dan tidak marah. Meskipun aku tidak menunjukkan ekspresi apapun, bukan berarti aku tidak menyukai bahkan membencimu."  Aerylin tersenyum di akhir kalimatnya. Senyum yang belum pernah dilihat Beryhl selama dia mengenal gadis itu.


Beryhl mengusap lehernya pelan. "Maaf, tapi aku tidak pernah sekalipun berpikir bahwa kau membenciku. Kenapa itu bisa terlintas di benakmu?."


Si gadis yang memiliki surai berwarna abu-abu kehitaman itu menatap lurus kedepan. "Aku, memiliki masalah dengan ekspresi wajahku. Banyak yang salah mengartikan, tapi bukan sepenuhnya salah mereka sih."


Beryhl mengangguk beberapa kali. "Yah, sebenarnya aku juga begitu," ucapnya sembari mengulas senyum.


"Kukira kau gadis yang, yah jahat begitu. Hehe, hanya pemikiranku saja ternyata."


"Cih, sendirinya juga berpikir begitu." Aerylin bergumam pelan. Dengan cepat dirinya seakan-akan dipenuhi aura suram sembari dirinya menggumamkan kalimat "aku anak payah" atau"kenapa wajahku seperti ini?"


"Oh, apa yang kalian lakukan disi--tunggu.."


Beryhl merasakan kalau sekujur tubuhnya langsung merinding saat mendengar suara itu. "Ma-ma.."


Aerylin yang masih pundung disampingnya tidak tahu akan kehadiran sosok lain disitu.


Dia masih asik berpundung ria dan menggumamkan kalimat-kalimat yang mengandung unsur tidak percaya diri atau lebih tepatnya, sedang melawan rasa insecure yang teramat dalam kayak lubang hitam.


Beryhl seakan kehilangan kemampuan berbicaranya. Beberapa kali dia berusaha memanggil Aerylin, tetapi gadis itu tidak mendengar suaranya.


Suaranya tidak mau keluar sama sekali!

__ADS_1


Sungguh, Kaila tidak melakukan apapun kepada Beryhl, namun kenapa raut wajahnya seakan-akan Kaila akan memukulnya sampai mati?. Kaila tidak habis pikir dan menggelengkan kepalanya, yang mana hal itu membuat Beryhl semakin merinding.


Ayolah, jika Aerylin melihat ini, pasti harga dirinya akan jatuh merosot tajam kebawah kiri kanan atas bawah alias, parah sekali.


"Aiya Kaila? Kenapa menghalangi jalan seperti itu?"


Mamak!!! Bukan cuma Kaila tapi ada---


"Oh? Lesya. Mereka berdua sedang duduk disitu dan baju mereka basah. Basah semua dari ujung rambut sampai ujung kaki kau tahu." Kaila menjelaskan apa yang terjadi dengan nada yang datar, seakan bisa menebak apa yang akan ditanyakan oleh gadis yang bersamanya sejak tadi.


Lesya awalnya tidak berkata apapun. Dirinya masih asik melihat Aerylin yang masih belum menyadari kehadiran dirinya, dan Beryhl yang rasanya mau mati ditempat.


Tahan Lesya, tahan. Jangan sampai tertawa didepan mereka.


Lesya mati-matian menahan tawa akibat ekspresi yang ditampilkan oleh Beryhl. Sungguh, jika kalian bisa melihat atau membayangkannya, ekspresi Beryhl seperti anak kecil yang ketahuan berbuat buruk.


Kurang lebihnya seperti itu sih.


"Bisakah kalian masuk kedalam? Sekarang benar-benar sudah gelap dan kalian bisa sakit." Kaila mengusulkan--lebih tepatnya memaksa mereka agar masuk kedalam rumah.


Angin di malam hari berhembus sedikit lebih kencang dan tentunya sedikit dingin ketimbang siang hari.


Sesampainya didalam rumah, aroma makanan yang baru saja selesai dimasak langsung menyambut indera penciuman mereka.


"Ah, kalian sudah pulang." Savier tersenyum lebar, kedua matanya bahkan sampai membentuk bulan sabit. Lihat, dia benar-benar senang ketika mendapati  Lesya berdiri dihadapannya.


Zeline menatap mereka semua secara bergantian, kemudian menepuk tangannya beberapa kali. "Baiklah, lekas ganti--ah maksudku lekas mandi dan kita akan makan bersama."


Usai Zeline menyampaikan "berita baik" alias makan bersama, Andreas yang entah dari mana tiba-tiba menerjang masuk kedalam rumah, lengkap dengan pakaiannya yang basah di beberapa bagian.


"Woah, aku sampai dirumah dengan selamat, wuhuu!,"teriaknya sembari mengangkat kedua tangan keatas, tidak melihat situasi dengan benar. Iya, situasi.


Sungguh, Andreas yang malang. Dirinya tidak menyadari bahwa Kaila sudah berdiri dibelakangnya sembari mengulas senyum.


Menurut anggota OSIS, senyum Kaila itu mematikan setelah Lesya. Jadi, di urutan pertama tetap ada Lesya yang menakutkan, baik diam ataupun bergerak.


Yeuh dahlah. Capek banget udah kek orang gila tapi si bodoh ngga paham. 


Kenzo mengulas senyum, mengacungkan kedua jempolnya untuk Andreas. Dirinya sudah pasrah akan segala macam bentuk kebodohan milik Andreas yang tidak peka akan kode darinya.


Yah, mau berusaha bagaimanapun, Kaila sudah berada tepat di belakang Andreas yang masih menaikkan satu alisnya.


Semua orang kecuali Andreas dan Kaila hanya bisa tersenyum pasrah. Iya. Pasrah. Pasrah akan segala keadaan Andreas dalam beberapa menit kedepan karena Kaila sudah mengangkat tangannya.


[□][□][□]


Jam 7 malam. Semuanya berkumpul di ruang tengah sesuai perintah Zeline tadi. Berhubung ruang makannya tidak terlalu besar alias tidak bisa menampung mereka semua, mereka pun mengangkat semua makanannya dan memindahkan ke meja di ruang tamu.


Ya, ruang tamunya sedikit lebih besar ketimbang ruang makan yang berisi empat kursi dan satu meja.


Ekspektasinya sih, semua duduk di sofa. Tapi kita tahu bersama kalau ekspektasi tidak selalu sesuai realita. Jadilah empat orang duduk manis di lantai, lengkap dengan tangan yang memegang piring masing-masing.


*Lesya memberikan mereka piring, tapi tidak mengizinkan mereka untuk mengambil makanan kalau belum berdoa.


Lesya mengambil piring terakhir dan berjalan menuju ruang tamu. "Oke semua, tolong letakkan piring kalian dan satukan tangan karena kita akan segera berdoa."


Semua langsung melakukan apa yang dibilang Lesya tadi. Si surai merah muda berdiri di dekat sofa dan mulai berdoa.


"Amin," ucap mereka bersama-sama ketika Lesya sudah selesai berdoa.


Zeline tersenyum mengingat hal tadi. Iya, hal tadi. Masakannya dipuji enak oleh Kenzo. Tadi sih, tidak tahu sekarang masih enak apa tidak. Andreas yang duduk paling dekat dengan Kenzo, sontak menyenggol lelaki berkacamata itu.


"Uy, tadi kau ngapain?," tanyanya dengan nada yang tidak terlalu keras.

__ADS_1


Kenzo dengan cepat menjawab pertanyaan Andreas. "Hah? Apanya? Dari tadi aku diam kok."


Andreas rasanya ingin melempar Kenzo ke laut. Bagaimana tidak, di ujung sana, Kaila seakan-akan menyuruhnya diam dan makan saja, padahal Kaila tidak mengatakan apa-apa dan hanya memakan makanan miliknya dengan tenang.


"Oiya, kita pulang besok ya kan ya? Udah beres-beres belum?"


Itu Adelle yang bertanya. Pertanyaan itu langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Adriell, disusul Lesya dan Kaila.


"Mungkin kita pulang besok sekitar jam 12 siang?." Adelle berpikir keras usai menanyakan pertanyaan yang sepertinya, ditanyakan untuk dirinya sendiri.


Beberapa orang, seperti Andreas, Kenzo dan Beryhl, nampaknya tidak mendengar pertanyaan Adelle. Terbukti dari tadi mereka bertiga asik makan.


Kalau Andreas dan Beryhl, mereka berdua lapar. Kalau Kenzo, dia lapar sekalian bucin, makanya dari tadi makan terus biar nanti selesai makan, bisa puji Zeline.


Lumayan, meningkatkan tingkat kebucinan.


Yah, bisa dibilang, makan malam hari itu berjalan dengan baik.


[□][□][□]


Jadi kita sekarang, apa?


Monic meremas beberapa kali ujung rok berwarna hitam miliknya. Demi apapun, dia penasaran dengan hubungannya dan si es batu. Iya, Pak Ryan yang tersayang.


Karena 'kejadian' itu, Monic mulai membayangkan hal-hal yang berbau 'romantis'.


Tapi, meskipun Monic membayangkan hal tersebut sampai rasanya wajahnya memerah seperti tomat, hubungan mereka tidak jelas.


Sungguh tidak jelas, membuat dirinya menggerutu.


Apa ini? Padahal aku tidak menjalin hubungan apa-apa dengannya.


Kenapa sih tidak diberi kepastian?!


Monic menutupi dirinya dengan selimut.


Tidak tidak, dia bukan tidur. Dia sedang bermain ponsel.


Ingin mencari tahu sedikit tentang pujaan hatinya.


Ah ralat, bukan pujaan hati maksudnya.


Detik menjadi menit, menit menjadi jam.


Kalian tidak akan percaya kalau dari tadi, Monic memainkan ponselnya dan jam di ponselnya sudah menunjukkan angka dua belas lebih lima belas menit.


Ponselnya bergetar beberapa kali. Monic hampir melempar ponsel itu ke luar selimut kalau saja dirinya tidak melihat siapa yang menelponnya.


"Aduh, angkat tidak ya?


Menggeleng pelan, Monic menunggu sampai telpon itu mati sendiri dan mematikan ponselnya sendiri.


Pandangannya jatuh ke kemeja yang akan dikenakannya besok. "Ku angkat pun, yang ada hanya akan membebani pikiranku."


Monic mengganti posisinya. Kini dia berbaring telentang dan memandang langit-langit kamar.


Tidak ada yang istimewa dari langit-langit kamarnya.


Gelap, tidak ada stiker yang bisa menyala dalam gelap diatas sana.


"Ah, apa sih yang aku harapkan"


Monic menghela napas dalam-dalam. Kejadian yang sebelumnya, lupakanlah. Toh, Ryan tidak menyukainya.

__ADS_1


Di umurnya yang sekarang, cinta bukan hal yang sangat penting.


Ya, dirinya akan berusaha melupakan kejadian itu dan bagi dirinya, lebih baik sekarang pergi menggapai mimpi ketimbang mengejar cinta.


__ADS_2