
Cahaya matahari yang menyeruak melalui sela-sela jendela, perlahan mengusik tidur seorang pria yang berada didalam balutan selimut. Ketukan pintu yang singkat, mampu membuat dirinya kembali ke dalam dunia nyata. Ryan menatap ke dinding di sampingnya. Jam dinding dan juga kaca yang sengaja diletakkan disitu, membuatnya menyaksikan diri sendiri yang tampil dengan tampilan yang jauh dari kata rapi dan dirinya yang terlambat bangun dari jam yang disetelnya semalam.
"Pak Ryan? Anda sudah bangun?"
Monic sedang memegang ponselnya ketika Ryan membuka pintu kamarnya, lengkap dengan tatapan khas orang yang baru bangun. "Saya kira anda belum bangun," ujarnya dengan santai. Sosok didepannya tidak bergeming sama sekali, tetap pada posisi semula. "Kenapa?" Ryan bertanya dengan nada yang terkesan kurang bersahabat. Monic yang awalnya santai dengan berbagai ucapan yang siap di kepalanya, mendadak gugup karena pria didepannya, menatap dengan tatapan tajam. Monic menunduk pelan, kemudian menaikkan pandangannya, berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara. "Kita akan pergi ke museum, ingat? Saya harap anda segera bersiap dan tolong jangan terlambat."
Ryan mengangguk. Dirinya langsung masuk kedalam kamar ketika Monic menyelesaikan perkataannya. "Ck, benar-benar tidak sopan. Apa dia tidak dididik oleh orang tuanya?."
Monic menunduk. "Alangkah baiknya kalau anda tidak berkata seperti itu, bu. Anda tidak tahu kondisinya," tandasnya.
***
"Buset, apaan dah kesimpulannya."
Kaila yang mendengar sungutan Andreas, perlahan mendekat karena penasaran. "Kenapa kesimpulannya?" Kaila bertanya dengan cepat. "Ah, disuruh buat kesimpulan. Kan kalo ke museum ya kesimpulannya sama semua," bibirnya mengerucut, " masa kesimpulannya gini 'saya melihatnya, wah indah sekali' kan tidak mungkin."
Lesya yang kebetulan berada di dekat Kaila ikut menimpali perbincangan mereka. "Catat aja, museumnya sangat indah, sayangnya gak ada makanan. Dah gitu."
"Kek ada selipan curhatan ya disitu." Kenzo berkata dengan nada sarkas.
Lesya mengangguk. Kenzo menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot. "Yah, kesimpulannya samain aja semua. Gak mungkin juga diperiksa sama guru."
Aerylin baru saja menaikkan satu kakinya ke atas kursi ketika Berhyl keluar dari kamar dengan hebohnya, sembari memegang ponsel.
"Gila! Pak ryan telfon nih!."
***
"Udah banyak nyamuk, mereka berdua disana cuma diem pula. Niat gak sih kencannya?."
Kaila memejamkan matanya. Sudah satu jam terhitung sejak mereka keluar dari rumah. Iya mereka, anggota OSIS yang sedang bersantai ria karena buntu akan kesimpulan tentang museum. "Heboh bener si Berhyl, dah kayak kencan. Orang ini cuma diam mulu didepan sana." Lesya menggerutu. Berhyl mengerucutkan bibirnya. " Mana kutahu kalau mereka cuma diam-diaman didepan sana. "
Aerylin menatap kedepan dengan cermat sembari menggumam dengan tidak jelas. "Pak Ryan tadi tanya apa?" Berhyl menjawab dengan cepat. "Tempat-tempat yang bisa dikunjungi oleh dua orang," ujarnya dengan bingung.
"Kenapa?"
Aerylin mengangguk beberapa kali kemudian memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana, lalu berjalan dengan cepat kedepan. Sembilan orang yang berada disana masih diam, tidak mengerti kenapa gadis bersurai pendek itu berjalan dengan cepat.
"Ayo, kita akan bantu agar kencan mereka sukses." Aerylin berkata dengan cepat.
***
"Udaranya sedikit dingin ketika sudah malam."
"Ya."
__ADS_1
"Anda ingin menaiki wahana apa?."
"Tidak tahu."
Wah... parah sekali pak Ryan. Pantas anda tak pernah menggandeng seorang wanita.
"Psst Lesya, sudah selesai belum?."
Yang dipanggil menoleh, mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa hal yang sedang dia lakukan sudah selesai. "Oke, sekarang bagian kita." Zeline berujar dengan semangat kemudian menarik Kenzo menuju bianglala.
Monic terus berjalan kedepan, melupakan fakta bahwa ini adalah pasar malam dan pria yang berjalan disampingnya mengajak dirinya untuk jalan-jalan. Ya, jawaban singkat selalu dilontarkan oleh Ryan kala Monic bertanya.
Kenapa gak pergi sendiri aja sih. Dingin sekali jadi orang ah.
"Ah, bagaimana kalau kita naik bianglala sayang?"
Atensi Monic yang tadinya entah difokuskan kemana, kini tertuju kepada pasangan didepan mereka yang sedang menautkan tangan. Alisnya menukik tajam, tidak suka dengan pemandangan didepan.
Pasangan didepan begitu romantis, pikirnya. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya dan manusia es disampingnya. Sadar akan kenyataan, dengan cepat Monic memukul kedua pipinya menggunakan telapak tangannya sendiri.
Sadar sadar. Kalian berdua bukan pasangan jadi wajar saja jika dia tidak menggandeng tanganmu. Bisa saja dia punya pacar--
"Eh?"
"W-woah"
Keduanya berjalan di bawah langit yang bertaburan banyak bintang. Bianglala, satu-satunya wahana yang muncul di pikiran Ryan. Pria tersebut membayar dan kemudian mempersilahkan Monic yang masih bingung ditempatnya, untuk segera naik.
"Maaf, saya tidak tahu wahana apa yang anda sukai. Saya pikir anda akan menyukai pemandangan dari atas sini."
Monic mengangguk pelan, tidak menyangka bahwa dari semua wahana yang ada, yang dipilih oleh Ryan adalah bianglala. Sepertinya dia mengajak Monic untuk naik bianglala karena ada pasangan didepan mereka yang punya tujuan yang sama. Yah, apapun alasannya Monic tidak mempermasalahkan hal tersebut. Toh, niat mereka berdua hanya ingin jalan-jalan. Nilai plus jika mereka berdua bisa bersenang-senang di pasar malam ini.
Ah, rasanya Monic ingin berterima kasih kepada pasangan didepannya tadi.
Malam ini, dirinya benar-benar senang. Bisa merasakan sensasi seperti ini, sudah seperti keajaiban besar baginya. Dirinya tidak akan pernah menyesal telah mengajak wanita didepannya untuk jalan-jalan.
"Wah. Mereka cuma diam-diaman diatas sana? Ngga ada adegan selip rambut gitu? Gak ada?"
Ya, tentu saja dibalik 'kencan' kedua guru mereka yang bisa dibilang agak sukses itu, ada sepuluh muridnya yang bekerja keras.
Lesya yang mati-matian menawarkan pemandangan langit dengan menaiki bianglala didepannya, tentu menggerutu luar biasa.
"Sialan, udah capek-capek aku narik pasangan-pasangan disana biar naik bianglala ini, mereka berdua diatas cuma diam."
Savier menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot. "Mungkin mereka tipe pasangan yang sukanya diam-diaman." Lesya mengangguk meskipun raut wajahnya menunjukkan bahwa dia sedikit kesal.
__ADS_1
Wahana didepan mereka berhenti berputar. Yang pertama kali turun adalah Zeline dan Kenzo. Keduanya
naik bianglala atas permintaan Aerylin, demi memancing Monic dan Ryan yang berjalan tanpa tujuan.
"Nyaman banget gandengan tangannya pak." Lesya
menyindir Kenzo yang masih anteng menggandeng tangan Zeline. Tak sengaja netra mereka bertemu, keduanya seakan memancarkan pancaran listrik dari netranya masing-masing.
"Digandeng dong, kan, aku dan Zeline berpacaran." Kenzo mengangkat tangannya yang masih bertautan dengan tangan Zeline ke atas, berusaha memamerkan hubungan mereka berdua kepada delapan teman seperjuangan mereka yang menatap dengan berbagai ekspresi.
"Wah wah, sudah resmi berpacaran. Pantas saja kalian menyetujui permintaan Aerylin tadi. Ah, aku tak menyangka hari ini akan datang."
"Hentikan ucapanmu, kau terdengar seperti orangtua yang melihat anaknya."
Zeline menyikut pelan pinggang Kenzo agar dia berhenti adu mulut dengan Lesya yang sudah tersenyum kepadanya. "Su-sudahlah Kenzo. Ini sudah larut. Mari kita semua pulang saja, ya?." Zeline menatap mereka semua dengan harapan penuh agar mereka mengiyakan permintaannya dan berjalan kembali ke rumah.
"Terus, mereka berdua gimana? Ditinggal?." Kaila menunjuk Monic dan Ryan yang bersiap untuk turun dengan dagunya. Lesya mengangguk." Sudah besar kan? Bisalah mereka berdua pulang sendiri."
Dengan langkah yang agak gontai, sepuluh orang tersebut berjalan kembali, menuju rumah yang mereja tinggali.
[□][□][□]
"Aku pulang Alfred! Lihat, aku tadi membeli-- ah."
Pria yang menenteng dua tas plastik khas belanjaan itu tersenyum sendu. Diletakkannya kedua tas tersebut ke atas meja di dapur.
"Aku merindukannya."
Nada dering dari ponsel pintar miliknya berbunyi, mengagetkan si pemilik benda tersebut. Dengan cepat dia melihat siapa yang menelponnya. "Ah, halo alfred!."
Pemuda yang belum lama pindah ke sekolah barunya itu nampak gugup. Alfred tidak terbiasa berbicara dengan kakaknya, Alland. Maka dengan tangan yang sedikit gemetar, Alfred berusaha menelpon kakaknya, dengan harapan Alland tidak mengangkat telponnya, meski ada sedikit rasa rindu terhadap Alland. "Tidak perlu berteriak seperti itu bodoh. Aku tidak tuli."
Ya, bukannya salam yang diberikan Alfred, melainkan umpatan kecil yang didengar Alland.
Di seberang sana, terdengar suara tawa. "Bagaimana karyawisatamu? Eh, karyawisata apa study tour ya," ujarnya sembari menopang dagu menggunakan jari telunjuk.
Mengedarkan pandangannya ke sekeliling penjuru rumah, Alland tersenyum sembari meremas kuat ponsel yang masih menempel di dekat telinganya itu. "Kalian, kira-kira pulang hari apa?"
Alfred tampak menimbang-nimbang satu potongan buah yang sudah ditusuk dengan garpu."Entah. Mungkin hari jumat nanti?," ujarnya setelah berhasil menelan buah apel. "Mungkin jumat. Kan, katanya lima hari."
Alland mengangguk. "Kalau begitu, tiga hari lagi ya?."
Hening. Keduanya tidak mengeluarkan sepatah katapun. Alfred melirik bukunya. Disana, harusnya sudah penuh dengan tulisan-tulisan tentang kesimpulan akan museum, tapi, tidak ada satupun kalimat yang berhasil dirangkainya.
"Kau bisa membuat kesimpulan?."
__ADS_1