
[□][□][□]
Begitu membuka mata, yang pertama kali dilihat adalah seorang pria. Pria yang menjadi suaminya itu, nampak terlelap dengan satu tangan menjadi bantalan di atas kasur rumah sakit.
Dirinya adalah wanita beruntung, pikirnya. Dinikahi seorang pria yang sangat mencintainya, dua orang anak yang penurut serta baik, kurang dimana lagi hidupnya?.
"Selamat pagi---oh, Pak Thomas sedang tidur ya ... Baik ibu Alesha, saya akan memeriksa anda."
Ah ya, kekurangannya ialah, dia berbaring di rumah sakit. Sekitar dua tahun yang lalu ketika dia sedang bersama putranya, entah bagaimana, tiba-tiba kegelapan menghampirinya. Suaminya yang menemukan dia pingsan di kamar, langsung membawanya ke rumah sakit.
Putra mereka yang berusia satu tahun itu, dititipkan di rumah keluarga suaminya untuk sementara. Tidak ada yang tahu kan kalau ternyata dia terserang penyakit yang bahkan tidak tahu kapan sembuhnya?
"Terima kasih dokter."
Wanita cantik berusia sekitar tiga puluhan itu tersenyum, kemudian keluar dari ruangan itu.
Alesha, wanita yang memiliki surai sepanjang bahu itu ingin membangunkan suaminya, namun dia mengurungkan niatnya. Suaminya terlihat sangat lelah, jadi mari biarkan dia tidur untuk sementara waktu.
[□][□][□]
"Ya Nenek, ya. Aku makan dengan sangaaat teratur. Mmhm ... mungkin hari sabtu nanti aku kesana. Terlalu lama?, heee~ aku berusaha untuk mengatur waktuku karena sekarang aku orang sibuk. Apa?, hahahaha. Baiklah baiklah, aku mengerti. Aku matikan sekarang ya?. Iya, dadaah."
Menatap layar ponselnya, pria itu tersenyum dengan sangat lebar. Telpon tadi adalah bentuk penyemangatnya. Neneknya baru saja menelpon dan berkata, buah kesukannya sudah panen dan wanita paruh baya itu akan mengolah makanan favoritnya, tentunya jika pria itu pergi ke rumahnya.
"Hah, baiklah!. Aku harus semangat menjalani hari ini!. Semangat Ryan!!."
"Dor."
"Akh!."
Ryan, pria yang baru saja berkata dengan sangat semangat untuk menjalani harinya, terkejut karena suara datar dari belakang tubuhnya. Itu adalah Aerylin. Gadis itu menatap dirinya dengan datar. "Maaf, saya pikir anda tidak akan kaget."
"Itu bahaya!. Aku tidak suka!," sungutnya dengan nada khas anak-anak yang merajuk. Aerylin berdeham. "Saya yang salah, atau hari ini anda yang bertingkah seperti anak kecil?."
Ryan terkesiap. "Apa ... tingkahku seperti itu?."
Aerylin mengangguk. "Anda terlihat seperti anak kecil, sungguh."
Ryan menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal. "Huft ... pokoknya Aerylin, jangan mengejutkankan orang seperti itu. Orang manapun akan terkejut."
"Lesya tidak terkejut setiap kali aku berkata 'dor' dibelakangnya."
Ryan menghela napas. Gadis didepannya benar-benar menatapnya dengan datar, dan pria itu tidak tahu bagaimana cara untuk menang dari perdebatan itu.
"Sudahlah. Mari cepat masuk kedalam karena sebentar lagi jam pertama akan dimulai."
Aerylin menunduk, kemudian menatap Ryan. "Aku anggota OSIS, jadi aku---"
"Oh, ayolaah!. Masuk saja karena jam pertama akan dimulaiiii!."
[□][□][□]
"Kau dimarahi."
"Tidak, kata Lesya aku tidak dimarahi."
"Dia hanya menenangkanmu."
"Inilah kenapa aku tidak suka denganmu, Kaila."
Si surai biru langit memasang senyumnya. "Tidak suka denganku tapi minta tolong kepadaku. Maksudnya gimana ya?," godanya.
Aerylin membuang muka. "Seh seh. Kerjakan saja tugasmu."
Keduanya dimintai tolong oleh guru untuk mengambil beberapa kardus berisikan peralatan, dan Aerylin meminta bantuan Kaila karena Lesya yang biasa dimintai tolong itu tidak berada ditempat biasa. Katanya sih, ada urusan dengan beberapa guru terkait sekolah mereka. Entahlah, Aerylin tidak mendengarnya lebih lanjut.
"Hey cebol, ambil ini."
"Kalau mau bertumbuk bilang. Lapangan luas banget disana."
"Wah, kalian berdua betul disini."
Membalikkan badan, keduanya mendapati gadis bersurai merah tengah memasang senyum dan melihat ke arah mereka. "Biarkan aku membantu kalian."
Aerylin menyerahkan kardus yang tadinya diberikan kepadanya, ke gadis itu. "Terima kasih ya Adelle. Tapi, kenapa kau kesini?," tanyanya penasaran. Tak biasanya gadis itu melewati area perpustakaan kalau tak disuruh guru.
Gadis itu tersenyum. "Aku kesini karena ingin mengajak kalian makan bersama. Yang lain sudah berkumpul, tinggal kalian berdua dan Lesya yang belum ada."
__ADS_1
Kaila menatap Aerylin. "Lesya belum kembali?."
Gadis yang memiliki surai sepanjang bahu itu menggeleng. "Nampaknya belum."
"Lesya bilang padaku tadi sebelum dia pergi, berkumpulah di tempat biasa, dia akan datang kok. Makanya aku lekas kesini untuk membantu kalian agar cepat selesai."
Kedua gadis yang sedikit berdebu di bagian kemeja dan rok itu mengangguk. Sekarang mereka berdua tahu, alasan gadis bersurai merah datang ke perpustakaan.
[□][□][□]
"Hah ... akhirnya selesai."
Gadis bersurai merah muda itu sedikit meregangkan kedua tangannya ke atas. "Usahaku patut diapresiasi bukan?," tanyanya pada diri sendiri.
Kali ini, dia berhasil menyelesaikan satu masalah. Sekolah tetangga, terletak di perbatasan kota sebelah dan kotanya mengalami masalah. Beberapa muridnya terlibat tawuran, dan sekolah mereka kesusahan untuk membuktikan bahwa anak didik mereka tidak bersalah, dan hanya terseret masalah itu.
"Eii, kalau dipikir lagi, sekolah tetangga berbahaya ya. Aku benar-benar tidak boleh terlibat dengan segala masalah mereka lagi."
Bayangan seorang pria yang berjalan dengan cepat muncul di hadapannya. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian memperingati pria itu, kalau didepan jalan sana ...
"Ah!, awas!. Didepan sana ada genangan air yang dalam!."
"Genangan a---
"pfft---"
Didepan sana, pria yang memakai kemeja berwarna cokelat muda menatap tak percaya ke bawahnya. Celana yang baru saja dipakainya itu basah, dan jangan lupakan kaus kaki favoritnya yang bermotif bebek putih itu, kini berubah menjadi cokelat.
Lesya berusaha untuk tidak tertawa. "Sialan, dia umur berapa sih?. Kenapa pula pakai kaus kaki motif bebek?."
Begitu mata mereka berdua bersitatap, Lesya bisa melihat kalau pria yang menatapnya itu hendak menangis seperti anak kecil.
Gadis itu berhenti tertawa, kemudian menatap dengan cemas. "Oh tidak, jangan menangis, jangan jangan, kau tidak boleh menangis," ucapnya sembari berjalan ke tempat pria itu, tentunya melewati jalan yang aman tanpa genangan.
"Hik--- kaus kakiku ... kaus kaki kesukaanku." Begitu Lesya tiba di tempatnya, dengan cepat dia menarik pria itu. Sepatunya seakan larut didalam genangan itu, dan pria tadi mulai menangis. Lesya memelankan suaranya. "Untung aku terbiasa dengan Adelle yang hobinya menangis. Ah, bicara tentang Adelle, aku harus mengabarinya kalau aku akan terlambat."
Keduanya memutuskan (lebih tepatnya Lesya yang memutuskan) untuk duduk di sekitar minimarket. Tidak terlalu jauh ataupun terlalu dekat dengan tempat tadi, membuat Lesya memutuskan agar mereka duduk disana saja. Kalau haus atau lapar, salah satu diantara mereka bisa masuk untuk membeli sesuatu kan?.
"A-apakah, kaus kaki motif bebek ini, dijual di-di dalam?," tanyanya dengan sesegukan. Lesya menatap pria itu dengan datar. "Maaf, tapi saya tidak tahu apakah didalam minimarket dijual kaus kaki motif bebek seperti punya anda," ucapnya dengan penekanan pada kata bebek tanpa sadar.
Pria tadi langsung menatap Lesya dengan tatapan yang berseri-seri. "Ah, bagaimana kau tahu kalau disitu ada genangan air yang dalam?."
Lesya menatap kedepan. "Tadi, sudah ada empat orang yang jatuh disitu."
"Ja-jatuh?!."
Lesya mengangguk. "Makanya, bersyukurlah sedikit, soalnya hanya kaus kakimu yang basah, bukan bajumu."
Pria tadi menatap dengan sedih kaus kakinya. Lesya menelpon Adelle sebentar, ingin memberi tahu gadis itu kalau dia akan sedikit terlambat.
"Namaku Alland. Kalau kau?."
Lesya menatapnya dengan datar. "Lesya."
Keduanya tidak berniat untuk membuka pembicaraan. Lebih tepatnya, Lesya yang diam, sedangkan pria itu nampaknya ingin mengeluarkan suara.
"Kau tahu, aku berniat untuk mengunjungi makam temanku."
Kata makam langsung menarik atensi gadis itu. Yah, dia bisa menduganya karena pria itu datang ke area pemakaman, dan jika ada orang yang baru pertama kali datang ke tempat itu, mereka akan lewat jalan yang salah. Pria tadi tidak salah jalan,tapi ya, lupakan genangan air itu. Lesya menduga kalau dia sering datang ke tempat itu, atau mungkin dia hapal dengan jalannya saat pertama kali datang.
"Temanku, yang pertama ... dan yang terakhir ... "
Lesya tidak berkata apapun. Dia fokus untuk mendengarkan ucapan pria itu. Barangkali, pria itu ingin meluapkan segala keluh kesahnya tapi tidak tahu kepada siapa, kan?.
"Mau cerita tentang temanmu?. Aku bisa duduk dan mendengarkannya."
[□][□][□]
"Hm, kupikir kau harus pulang Alland. Masa sih orang tuamu menyuruh anak mereka yang masih sekolah dasar ini untuk berada di luar rumah?."
Alland, pada waktu itu berusia sekitar sepuluh tahun, memandang tanah dibawahnya. Bukannya dia tidak mau pulang, hanya saja ...
"Apa menurutmu ... aku pembawa sial?."
Seorang gadis, berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun, memandang Alland yang menunduk di ayunan sebelah.
"Tidak, kau bukan pembawa sial kok."
__ADS_1
"Kau berkata seperti itu karena kau belum kena kesialannya."
Gadis tadi mengeluarkan satu bungkus cokelat dari dalam tasnya. "Lihat, aku baru saja membeli cokelat ini dan---Alland?, kau baik-baik saja?."
Disampingnya, anak kecil itu nampak mengusap air matanya beberapa kali. "Maaf, aku tidak menangis, sungguh. Air matanya keluar sendiri."
Gadis itu tersenyum. Dia mengusap pelan pucuk kepala Alland. "Kau bukan pembawa sial Alland. Siapapun yang berkata hal seperti itu kepadamu, mereka hanya melihat luarnya saja."
Perkataan itu membuat suasana hatinya sedikit membaik.
.
.
.
.
"Dan kemudian, kejadian itu merebutnya dariku."
Lesya mengusap air matanya. Tidak tidak, dia bukan sedih karena terbawa suasana, melainkan dia baru saja menguap. Cerita pria itu memang menyentuh hatinya, tapi pembawaan ceritanya membuat gadis itu mengantuk.
"Ya, dia orang yang baik dari ceritamu. Sayang sekali ya. Aku benar-benar turut berduka atas kejadian itu."
Alland mengangguk. "Ayo, kuantar kau ke sekolah. Kau harus cepat kembali bukan?."
Lesya menatap pria itu dengan seksama sebelum berdiri. Benar, dia harus kembali ke sekolah. Jam istirahat hampir habis, dan dirinya belum makan sama sekali.
"Ini."
"Oh, terima kasih."
Roti? Dia memberiku roti?. Tidak masalah sih, toh tetap makanan.
Lesya membuka bungkus roti itu dan langsung memakannya. Ukuran roti itu tidak terlalu besar atau kecil, memungkinkan Lesya untuk langsung memasukannya kedalam mulut, tanpa khawatir roti itu tidak akan muat.
Gadis itu nampak seperti hamster yang memenuhi rongga mulutnya dengan beberapa kacang. Bayangan itu muncul di pikiran Alland begitu dia berbalik untuk melihat, apakah gadis itu mengikutinya atau tidak.
"Sekolahmu dimana?."
"Lurus saja di sepanjang jalan ini. Sekolahku tepat berada di pertigaan jalan."
Alland nampak ragu-ragu untuk bertanya, namun Lesya menangkap perubahan raut wajahnya dan mempersilahkan pria itu untuk bertanya. "Sekolahmu itu ... SMA Saint's Peterson?."
Lesya mengangguk. "Ya, kau benar. Kenapa?."
Alland menatapnya dengan antusias, sedikit mengagetkan gadis itu. "Adikku, adikku bersekolah disitu!."
"O-oh ... siapa namanya?, ah maksudku, kelas berapa?."
Alland menyalakan mobilnya. "Kelas dua. Dia belum lama pindah ke sekolah itu. Ah, namanya adalah Alfred."
"Oh, Al-- siapa?."
"Alfred. Kau kenal?."
WHAT THE NANI?!, KAKAKNYA DIA TOH?! BEDA BANGET ANJ----
[□][□][□]
"Uhh ... Lesya lama sekaliii ..."
Adelle mengangkat kedua tangannya, kemudian menurunkan tangan yang satunya, kemudian menurunkan tangan yang lain, dan mengangkatnya lagi. Begitu seterusnya sampai mereka melihat sosok bersurai merah muda berlari ke arah mereka.
Aerylin menatap lurus-lurus kedepan. "Yah, kau tidak akan melihat surai merah muda selain dia."
"Maaf teman-teman, kalian jadi menunggu lama. Ugh, tadi ada sesuatu dan itu menyebabkan aku terlambat," ungkapnya begitu sampai di hadapan teman-temannya.
Lesya masih mengambil napas ketika dia tidak sengaja melirik beberapa bungkus makanan yang belum dibuka. "Lho, kalian belum makan?."
Kenzo yang paling dekat dengannya menggeleng. "Kami semua setuju untuk menunggumu. Toh, kita kan OSIS."
Aerylin menopang dagunya, kemudian menatap Kenzo dengan tatapan yang sedikit aneh. "Jangan menyalahgunakan posisimu, kacamata sialan."
Lesya menatap mereka semua dengan berseri-seri. "Ah, kalian memang terbaik!."
__ADS_1