
"Ya. Aku akan segera kesana setelah karyawisata ini selesai. Apa? Dia ingin bicara?. Ah, halo. Kakak akan datang mengunjungimu beberapa hari lagi. Beberapa hari itu apa?. Mmhm---intinya tidak lama lagi Kakak akan kesana. Jangan nakal ya. Dah."
Telepon dimatikan. Ada rasa bahagia ketika tadi dirinya sempat berbicara dengan adik kecilnya. Sekarang, dia harus bisa menjalani karyawisata dengan baik kemudian pulang untuk mengunjungi adiknya.
Langkah kakinya terasa ringan, sungguh. Gadis itu memiliki banyak cerita untuk adiknya. Karyawisata yang akan berlangsung selama tiga hari kedepan, seharusnya tidak akan lama. Dia benar-benar rindu kepada adik kecilnya. Rasanya, dia ingin bertemu sekali saja. Entahlah, perasaan akan takut kehilangan keluarganya tiba-tiba saja muncul dan membuatnya takut.
Gadis itu berdiri dengan ragu didepan pintu. Didalam sana, ada orang tuanya. Dia bukan takut dimarahi karena melakukan suatu kesalahan, tapi dia merasakan ketakutan yang lain. Ketakutan itu tidak bisa dia jabarkan dengan detail. Intinya, dia takut untuk masuk kedalam.
"Sampai kapan mau berdiri disini?."
Suara itu mengagetkannya. Disebelah sana, seorang pria (mungkin usianya sekitar 50-an lebih) menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dia mengerti.
"Ma-maaf. Saya hanya takut."
"Takut kenapa?. Takut tidak bisa bertemu lagi?. Apakah kau merasa bahwa kau akan pergi ke tempat yang jauh dan tidak akan pernah kembali?."
Ucapan pria itu tidak salah dan benar-benar menyentak si gadis dari dalam pikirannya. Ditatapnya sepatu yang dia gunakan hari ini. Sepatu pemberian orang tuanya beberapa bulan yang lalu. Masih dia ingat dengan jelas saat itu, ketika ibunya dengan wajah ceria memberikan sepatu itu kepadanya, disaksikan oleh ayah dan adik kecilnya.
Waktu itu, ulang tahunnya dirayakan dirumah Kakek dan Neneknya karena satu dan lain hal. Gadis itu tidak mempermasalahkannya. Dia sangat senang karena dia akan menghabiskan waktu meski tidak lama bersama adiknya.
"Pergilah, masuk dan lihat wajah orang tuamu. Barangkali ada sesuatu yang penting didalam sana."
Tidak sempat gadis itu bertanya, pria yang berkata dengan penuh kedewasaan sudah tidak ada ditempatnya tadi. Pria itu seakan-akan menghilang.
"Rea?."
"Ah?."
Tanpa dia sadari, tangannya sudah bergerak duluan untuk membuka pintu. Kedua orang tuanya menatap dengan penuh tanda tanya, bahkan pria yang sedang menyuapi istrinya itu berdiri untuk memeriksa keadaan diluar karena putrinya tidak kunjung masuk.
"Kenapa Rea?. Kau menatap apa hm?."
Rea namanya, menggeleng pelan dan langsung masuk kedalam. Hal yang dia lakukan begitu kakinya menginjak lantai ruangan itu ialah memeluk ibunya.
"Ibu, Rea rindu."
Menanggapi pelukan putrinya, wanita yang dipanggil ibu itu mengusap surai Rea dengan lembut. "Apakah ini bentuk permintaan uang jajan tambahan?."
Bukan, itu bukan wanita yang dipanggil ibu yang berbicara, melainkan seorang pria yang berjalan mendekati mereka berdua.
Rea sontak menatap ayahnya dengan mata yang mendelik serta pipi yang mengembung sempurna. "Bukan ih. Ayah sekali nebak pasti salah semua,"sungutnya sembari mengerucutkan bibir.
"Ibu, lihat ayah ih. Masa Rea bilang rindu malah dibilang bentuk permintaan jajan tambahan ..."
__ADS_1
"Thomas," tegurnya, kemudian menatap gadis yang masih bertahan dalam pelukannya.
"Rea mainnya gak bagus. Langsung ngadu ke ibu. Gak seru."
Rea menjulurkan lidahnya. "Ibu, aku akan pergi karyawisata," ucapnya, seakan melupakan sesi berdebat antara dirinya dan sang ayah.
Alesha, wanita yang masih berada dalam pelukan putrinya itu mengangguk. "Tapi, bukankah sekarang sudah jam delapan?. Rea berangkat jam berapa?."
Gadis itu tidak langsung menjawab pertanyaan ibunya. Dia nampak menimbang-nimbang sesuatu, kemudian menjawab pertanyaan Alesha. "Rea berangkat nanti jam sepuluh ibu, masih ada dua jam sebelum Rea pergi karyawisata."
"Dua jamnya pasti pelukan di kasur sama ibu. Gantian kek."
Rea menatap tidak suka kearah Thomas. "Ayah, sebenarnya ayah umur berapa sih?. Tingkahnya kayak anak kecil. Ini juga Rea peluk ibu belum sampai satu jam. Ayah udah dari kemarin kemarin disini, masa ngga peluk ibu?. Pasti ada kan?. Curang banget."
"Makanya kalo disuruh datang, jangan nolak."
"Maaf, itu yang ngga kasih izin buat Rea datang ke rumah sakit karena takut sekolahnya Rea keganggu padahal aslinya mau monopoli ibu siapa ya?."
Kalau saja ini didalam dunia kartun, bisa dipastikan kalau sekarang ada api yang sangat membara dari keduanya. Alesha hanya bisa tersenyum menatap Rea dan Thomas.
"Kalian berdua ..."
Baik Rea maupun Thomas paham betul bahwa nada yang dikeluarkan oleh Alesha sekarang benar-benar berbahaya, dan keduanya harus berhenti dari sesi debat atau perang akan dimulai.
"Sayangnya Thomas, ini ada air minum kalau kamu haus."
Rea dan Thomas saling menatap selama beberapa detik. Keduanya harus mengakhiri sesi perdebatan atau wanita yang sedang duduk diatas tempat tidur akan membuang mereka ke jalanan.
...(☆▽☆)...
"Thomas, bisakah kau menelpon Rea sekarang?."
Pria yang sedang mengupas buah apel itu sontak menatap istrinya. "Bukankah tadi kita sudah menelpon Rea?," tanyanya. Bukannya dia tidak mau untuk menelpon putrinya, tapi mereka baru saja berbicara dengan Rea.
Alesha menggeleng kemudian memegang lengan Thomas sembari menatapnya penuh harap. "Kumohon Thomas, sekali ini saja," pintanya.
Ya, Thomas tidak bisa menolak permintaan Alesha, apalagi kalau wanita itu sudah menatapnya dengan tatapan penuh pengharapan. Mana sanggup dia berpaling dan berkata tidak.
"Baiklah. Aku akan menelpon Rea. Sebentar ya."
Wanita itu mengulas senyum. Ingin mendengar suara putrinya sendiri bukan suatu masalah kan?.
***
__ADS_1
"Rea, ponselmu berdering."
Seorang gadis yang tengah berjalan menuju bus nampak kaget.
"O-oh, terima kasih."
Ponselnya berdering, tapi dirinya tidak mendengar suara apapun sampai temannya yang berbicara. Entahlah, jiwanya seperti tidak ada didalam tubuh.
Gadis itu masih menatap layar ponselnya. "Ayah kenapa sih?. Hobi banget nelpon orang sibuk."
"Halo---"
"Rea?!. Rea sudah dimana?!."
"Ibu ... Rea bahkan belum menaiki bus ..."
"O-oh ... Ya. Lekas pulang lho ya?."
Gadis itu mengangguk. Dia memang akan langsung pulang.
"Rea?."
"Ya ibu?."
Hening. Tidak ada suara apapun dari seberang sana. Gadis itu menatap layar ponselnya untuk melihat apakah telepon itu masih berlangsung atau tidak.
"Ibu akan segera pulang hari ini. Ke rumah."
Langkahnya terhenti. Alesha memanggil namanya beberapa kali, tapi otaknya masih sibuk untuk memproses perkataan wanita tadi.
"Pulang? ... Pulang kemana?."
"Ibu akan pulang ke rumah. Rumah kita."
"..."
"Rea?."
"TUNGGU YA?!. REA UDAH NAIK BUS KOK INI. TUNGGU YA IBU."
Telepon dimatikan secara sepihak. Alesha memandang Thomas dengan senang. Sekarang, mereka berdua tinggal menunggu kepulangan Rea dan menjemput Ryan besok pagi.
"Aku tidak sabar."
__ADS_1
Thomas tersenyum. Hasil pemeriksaan kemarin benar-benar memuaskan, setidaknya. Sebentar lagi, Alesha bisa pulang dan keluarga kecilnya akan berkumpul lagi.