Patency

Patency
34. Apa?!


__ADS_3

"Kenyang ..."


"Asli ga mengecewakan makanan Adelle," puji Lesya sekali lagi yang mendapat acungan jempol dari Kaila yang duduk di lantai.


"Miskin banget pake acara melantai," sindir Aerylin kepada Lesya yang asik berceloteh tentang enaknya makanan tadi.


Zeline menatap Aerylin yang berada di sebelah Adelle. "Yah, melantai juga tidak masalah kan? Lagipula, ini dilapisi karpet yang cukup lembut."


Melihat Aerylin yang mulai rileks dan menikmati kelembutan dari karpet seperti yang dikatakan Zeline, Adelle pun mengangkat suara.


"Ngomong-ngomong Kaila, hubunganmu dengan Andreas bagaimana?"


"Kai, ditanyain tuh jawab, bukannya taruh perona di pipi. Eh kayaknya merona betulan."


Lesya menggoda Kaila habis-habisan saat mengetahui kalau gadis bersurai biru itu menaruh hati kepada Andreas, pemuda yang menang di tampan tapi kalah di akhlak.


"Ueueue, Kaila ciee~"


"B-berisik!"


Zeline yang sedang memakan cemilan bersama Aerylin pun ikut menimpali perbincangan itu. "Jadi statusnya apa? Pacaran?"


Kaila yang tadinya sudah bersiap untuk mencakar Lesya, sontak terdiam di tempatnya.


Dia bingung, hubungannya dengan Andreas itu apa?


"A-aku dengan Andreas b-belum pa-pa-pa ..."


"Ciee, kalau ada kata 'belum' artinya akan terjadi, cie Kaila cie~"


Aerylin masih asik mengunyah cemilan yang dibeli tadi sembari menatap Kaila yang merona hebat karena godaan dari surai merah muda.


"Kalau Aerylin dan Berhyl bagaimana?" Zeline bertanya dengan nada antusias, mengingat kejadian saat karyawisata benar-benar tidak terduga.


Tanpa pikir panjang, Aerylin langsung menjawab pertanyaan itu. "Ya, aku menyukai Berhyl."


"UEUEUE AERYLIN SEMAKIN DI DEPAN!!!!"

__ADS_1


Lesya bertepuk tangan dengan heboh, Adelle bersiul dan Zeline menatap dengan mata yang berbinar-binar.


Kaila sedikit maju dan menyentuh pundak Aerylin.


"Ponselmu bergetar beberapa kali. Kupikir ada pesan masuk."


"Ah, ya. Terima kasih Kai--"


Lesya sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dan berusaha melihat apa yang ada di layar ponsel Aerylin.


"Hai Aerylin, apa kabar?"


Adelle langsung menatap Lesya dengan tatapan ada sesuatu disini!


"Ih, kepo~"


Aerylin langsung meletakkan ponselnya begitu beberapa kata terkirim kepada seseorang di seberang sana.


Adelle yang tidak sempat melihat apa yang diketik Aerylin hanya mendengus pelan.


"Anak kecil tidak boleh mengetahui urusan orang dewasa," ucap Aerylin dengan penekanan pada kata dewasa.


Beberapa saat kemudian, ponsel milik Zeline berbunyi. Pemilik ponsel itu pergi ke kamar mandi tepat ketika ponselnya berbunyi dengan nyaring.


Lesya menatap mereka semua secara bergantian, kemudian menggulirkan atensinya ke ponsel milik Zeline yang masih berbunyi. "Kali ini, apa yang harus kita lakukan?"


Kaila menelan salivanya dengan susah payah. "Kupikir, ini lebih sulit ketimbang soal fisika dari pak Raymond."


Adelle dan Aerylin menyetujui ucapan Kaila. Keempat gadis itu masih menatap ponsel Zeline yang tak kunjung diam sedari tadi.


Di layar ponselnya tertera nama seseorang yang membuat mereka tidak berani mengangkat panggilan itu.


"Oh, ponselku berbunyi."


Ah, pemiliknya datang.


Zeline masih memproses ketika ponselnya berhenti berbunyi. Keempat temannya menatap dengan sangat penasaran ke arah gadis itu.

__ADS_1


"Telepon dari Kenzo? Maksudku-- ah dia menelpon lagi."


Baik Lesya maupun yang lainnya langsung kaget. Bagaimana bisa gadis yang terkenal karena kepolosannya itu tidak berteriak atau bereaksi berlebihan padahal itu telepon dari seorang pemuda!?


Ditambah lagi, pemuda itu menyukainya!?


"Halo Kenzo, kenapa? Oh, kami masih di rumah Lesya. Ingin bergabung? Kalian itu cowok semua, bergabung dengan kami sama saja mengundang cibiran tetangga. Aku? Aku baik-baik saja disini, kenapa? Ah, teleponnya mati lagi."


EKSPRESINYA KENAPA BIASA SAJA!? - Respon berlebihan dari empat gadis yang masih senantiasa menyimak.


"Ngomong-ngomong, kenapa kalian menatapku seperti itu?"


Adelle mengibaskan satu tangan di depan wajahnya. "Ti-tidak kok. Kami hanya duduk saja dan kebetulan melihatmu yang ditelepon Kenzo seakan-akan kalian berdua pacaran dan--"


Lesya menatap Adelle dengan datar. "Ah ... dia mengatakannya dengan terang-terangan."


Aerylin dan Kaila yang duduk di sebelah Adelle pun turut menatap gadis itu dengan datar, sama seperti yang dilakukan Lesya.


Zeline menatap mereka semua dengan bingung. Yang ditatap sontak menundukkan wajah, takut sekaligus bingung dengan apa yang akan dilakukan gadis bersurai cokelat itu.


"Aku dan Kenzo kan berpacaran, kalian lupa ya?"


"Ha?"


"Kalian?"


"Kau dan Kenzo?"


"P-p-p-pacaran!?"


Zeline menaikkan satu alisnya. "Iya, aku dan Kenzo berpacaran. Kenapa?"


Bisa dibilang, reaksi dari Lesya dan lainnya kurang lebih :


"Aku tidak menyangka orang seperti Kenzo bisa menaklukkan hatimu Zeline!" - Adelle yang masih tidak percaya.


"Kalau dia membuatmu menangis, akan kupatahkan lehernya dan ku cincang kaki beserta ususnya." - Kaila

__ADS_1


"Yah, apapun itu semoga berbahagia dan dijauhkan dari cabe murahan." - Aerylin


"Sepertinya aku sudah tahu kalau kalian pacaran, tapi nampaknya aku lupa. Entahlah, semoga langgeng ya~" - Lesya dengan semua ucapan manis yang disertai senyuman.


__ADS_2