Patency

Patency
38. Ponsel (2)


__ADS_3

"Kaila, kau serius tidak apa-apa?"


"Iya, kau bisa istirahat atau kau bisa kembali ke rumah. Wajahmu pucat sekali ..."


Si surai biru menggeleng pelan. Enam orang yang kini bertambah jadi sembilan menatap Kaila dengan iba. Gadis itu terus-terusan menolak untuk pulang dan berkata kalau dia baik-baik saja dengan raut wajah yang sebenarnya berbanding terbalik.


"Yasudah, kau kuat ikut pembelajaran hari ini?"


"Ya."


"Jawabanmu singkat sekali Kaila," celetuk Adelle yang mengundang decakan dari Aerylin.


"Kau tidak lihat kalau dia gemetar dari tadi? Bisa jawab pertanyaan itu saja harusnya bersyukur," jelas gadis dengan surai sebahu itu.


Adelle merotasikan bola matanya dengan malas. "Ya santai, kan ku cuma bilang," balas Adelle dan memusatkan seluruh atensinya kepada Kaila yang masih duduk.


"Kenapa kau ketakutan seperti itu?"


Pertanyaan Zeline yang bisa dibilang sangat mendadak itu mengundang atensi mereka semua.


Gadis dengan surai hitam kecokelatan itu menatap mereka semua dengan tatapan apa aku salah?


Lesya memegang kepalanya yang terasa mau pecah. "Kaila takut darah, makanya dia gemetar saat melihat kecelakaan tadi," ujar Lesya dengan tenang, sesekali mengusap punggung temannya yang masih gemetar.


"Yah, pengendara itu juga salah, tapi anjing itu juga tidak sepenuhnya benar."


Delapan orang disitu mengangguk, setuju dengan perkataan Savier karena pemuda itu melihat kejadian tadi secara langsung dengan matanya sendiri.


Bel pertanda jam pertama akan dimulai berbunyi tepat ketika Kaila berdiri dari tempat duduk.


Beberapa orang dari mereka keluar dari kelas itu dan akan bertemu kembali usai jam sekolah.


...🥀🥀🥀...


"Selamat pagi," ucapnya dengan sopan kepada satpam yang sedang mengatur surainya agar terlihat rapi.


Satpam itu tersenyum sesaat sebelum menjawab sapaan dari anak tersebut. "Oh, selamat pagi Nak. Ada yang bisa saya bantu?," tanyanya dengan ramah.


Anak tadi nampak merogoh saku celananya sebelum menjawab. "Anu, aku ingin memberikan ponsel ini kepada kakakku, tapi aku tidak tahu dimana kelasnya. Bisakah Paman membantuku?," tanyanya penuh harap kepada pria tersebut.


"Siapa nama kakakmu itu Nak?"


"Kaila," jawabnya dengan mantap seraya menatap lawan bicaranya.


"Oh, Nak Kaila toh." Anak tadi mengangguk beberapa kali, senang karena orang yang dia tanya mengenal kakaknya.


"Siapa namamu Nak?"


"Dio. Namaku Dio," ujarnya dengan senyuman yang terpatri di wajah.


"Kelas kakakmu berada di lantai dua, setelah kau naik tangga nanti lurus saja dan cari kelas '2-3'."

__ADS_1


Dio mengangguk. "Terima kasih Paman."


"Apa perlu diantar?," tawarnya kepada anak tersebut.


"Mhm, tidak perlu Paman, aku bisa sendiri," tolaknya dengan halus dan tak lupa dia mengucapkan kata terima kasih sebelum berjalan masuk ke dalam.


"Anak tadi sopan sekali, lebih cocok jadi adiknya Lesya ketimbang Kaila," monolog satpam tadi begitu punggung Dio sudah tidak terlihat.


...🥀🥀🥀...


"Naik tangga, lurus saja dan cari kelas '2-3' ..."


"Ah, ini tangganya."


Dio sedikit mempercepat langkahnya karena dia tidak ingin dirinya menjadi penghalang (jika ada orang yang berada tepat di belakangnya saat naik tangga, Dio akan berjalan lebih pelan karena gugup) di sekolah kakaknya.


"Lantai dua," ucapnya dengan bangga karena sudah sampai sejauh ini.


Anak itu celingukan. "Kelas '2-3' itu dimana?," tanyanya kepada diri sendiri, bingung dengan tempat yang dia pijak sekarang.


"Mencari siapa?"


Dengan cepat Dio berbalik dan mendapati seorang pria lainnya berdiri tepat di belakangnya.


"A-anu, saya mencari kelas d-dua ..."


"Adiknya Kaila ya?"


"Santai, saya tidak makan orang."


Dio menunduk, sama sekali tidak berani menatap pria tadi. Dia takut, sangat takut dan semakin takut dengan segala pikiran yang berasal dari dirinya sendiri.


"Dio? Apa yang Dio lakukan disini?"


Mendapati ada suara yang dia kenal, anak itu sekali lagi berbalik dan menemukan gadis bersurai merah muda yang sedang menatap ke arahnya dengan bingung.


Lesya menatap Ryan dan Dio secara bergantian seraya menaikkan satu alisnya.


"Kenapa kalian berdua menatapku seperti itu?"


...🥀🥀🥀...


"Maaf dan terima kasih Kak Lesya, aku benar-benar tertolong."


Ya ampun, adiknya Kaila yang satu ini sangat menggemaskan.


"Tidak apa-apa, kebetulan tadi aku memang disuruh guru untuk mengambil buku di perpustakaan dan kemudian aku melihatmu," jelasnya panjang lebar begitu menyadari raut wajah tak enak dari adik temannya itu.


"Bisakah Kak Lesya memberikan ini kepada Kakak?"


Lesya mengangkat kedua tangannya, sejajar dengan dada dan menggeleng pelan. "Kenapa harus aku?"

__ADS_1


Dio melihat kesana-kemari, sangat jelas kalau dia menghindari tatapan Lesya. "Aku takut kalau Kakak malu melihatku dengan tampilan seperti ini."


Lah mana ada.


"No no no, mumpung Dio ada disini, kenapa bukan Dio saja yang memberikan ponsel itu secara langsung kepada Kaila?," balas Lesya dan mendorong pelan adik temannya itu.


"Tapi Kak--"


"Tidak ada tapi-tapi," potongnya dengan cepat dan terus mendorong Dio sampai ke depan kelas Kaila.


Ketukan pintu berhasil menghentikan penjelasan guru di dalam. Wanita dengan surai yang di sanggul itu menatap heran ke arah pintu.


"Siapa?"


"Saya bu." Terdengar sahutan dari balik pintu.


"Lesya? Kenapa?"


Pintu dibuka, menampilkan seorang gadis dengan surai yang diikat satu ke belakang dan tentu saja, dengan seorang anak lelaki yang terus menunduk.


"Dio?"


"Kau mengenalnya Kaila?," tanya guru tersebut begitu melihat reaksi salah satu muridnya.


Yang ditanya mengangguk dan berjalan ke arah pintu.


"Izin sebentar bu," ujarnya dengan sopan sebelum keluar kelas.


...🥀🥀🥀...


"Astaga pantas saja," desah Kaila saat benda persegi itu sampai ke tangannya.


"Aku pikir jatuh di jalan tadi."


Lesya menyikut pinggang Kaila dengan pelan. "Adikmu yang mengantarkan ponsel itu. Bilang apa ke dia?," bisiknya setengah menggoda gadis bersurai biru langit itu.


"Dio, terima kasih ya sudah mengantarkan ponsel ini."


Usapan lembut dapat dia rasakan di kepalanya. Anak lelaki itu hanya bisa tersenyum dan sedikit merona karena pujian yang dia dapat.


Sungguh, apakah aku bisa memacari adiknya Kaila? Dia sangat menggemaskan ...


Seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Lesya sedari tadi, gadis bersurai biru itu menatapnya dengan tajam.


Akan kupukul kau kalau berani melakukan hal itu kepada adikku.


Gadis yang menjabat sebagai ketua OSIS itu memeluk tubuhnya sendiri. "Kaila kejam sekali~"


"Sialan kau, mengundang pukulan massa sekali dirimu," gumam Kaila dengan suara tertahan, tidak mau ucapan kasarnya didengar sang adik.


Walaupun kedua gadis itu bersuara dengan nyaring, Dio yang notabenenya masih tersipu dengan usapan lembut sang Kakak di kepalanya tidak akan mendengar apapun.

__ADS_1


Kakak mengusap kepalaku dengan lembut ...


__ADS_2