Patency

Patency
Bab 28, Dia tidak seperti itu!


__ADS_3

Adelle menatap langit sore diatasnya. Ah, sore menjelang malam maksudku, maaf. Dia sedang duduk di bangku taman, tentu saja dengan pemuda tadi yaitu Alvin, kakaknya yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.


"Sikapmu kelewatan. Apa-apaan itu, datang mencari Lesya?."


Adelle tidak mempermasalahkan tentang kakaknya yang pergi keluar, dia hanya tidak habis pikir, kenapa datang mencari temannya jika itu adalah masalah pribadi mereka?.


Alvin tidak menjawab. Pemuda itu nampak sibuk menggulung ujung ikat pinggang yang dia kenakan itu, membuat Adelle ingin melemparnya ke laut


"Kenapa kau mencari Lesya, Kak?."


Kak, panggilan yang disukai oleh Alvin. Dia menyukai setiap hal yang dilakukan oleh Adelle, meskipun itu akan merugikan dirinya sendiri.


Tapi sekarang, rasanya semua mustahil. Adik kecilnya sudah tumbuh, dan panggilan itu sudah lama tidak menyapa pendengarannya.


"Aku ... Kupikir dia bisa membantu kita."


Adelle memijat pangkal hidungnya. Bagaimanapun, Lesya adalah manusia biasa dan masalah mereka tidak boleh dilimpahkan kepada orang lain bukan?.


"Kak, cobalah untuk berpikir lebih dewasa."


Alvin tersenyum remeh. "Dewasa?. Adelle, kau menyuruh Kakak untuk bersikap dewasa?."


Cukup. Hati kecilnya tidak mau berkata kasar ataupun melakukan kekerasan, tapi mulutnya seolah-olah bergerak sendiri.


Lihatlah, sekarang gadis itu menatap ke arahnya, bingung dengan perkataannya.


Alvin meremas rambutnya. Dia lelah dengan semua ini. Kenapa papanya harus pergi dengan wanita lain disaat mamanya sendiri sudah sangat sempurna bagi pria itu?.


Mamanya adalah wanita yang kuat, tidak banyak menuntut dan bisa bekerja. Kenapa papanya malah tega melakukan perbuatan itu?.


"Kau selalu disayangi oleh Mama sejak Papa pergi dengan wanita itu. Aku harus bersikap dewasa seperti apa?."


Taman sedang sepi saat itu, sangat mendukung mereka berdua untuk berdebat dan melampiaskan seluruh kekesalan yang ada.


"Berhenti bertingkah seakan-akan kau adalah orang yang paling menderita di dunia ini. Kita semua menderita!."


"Tapi aku yang paling menderita karena mereka dibandingkan denganmu!."

__ADS_1


Adelle menggertakkan giginya. Dia sudah muak dengan drama yang dimainkan oleh Alvin. Dia yang paling menderita?. Tahu apa dia tentang menderita?.


"Kau selalu mementingkan pelajaran daripada Mama, bagaimana bisa kau berkata seakan-akan Mama yang mencampakkanmu padahal kau yang melakukannya duluan?!."


Alvin tidak berkata apapun. Tidak, dia tidak mementingkan pelajaran ... Dia hanya ingin menjadi yang terbaik agar Mira melirik dia.


Hanya saja ...


"Kau selalu dimanja."


"Kau selalu disayang."


"Selalu diutamakan."


"Selalu, selalu, selalu saja, kau di depan."


"Tidak ada celah untukku."


Alvin mengepalkan tangannya. "Aku benci hal itu. Aku benci ketika kau selalu saja dilirik oleh semua orang dan aku ..."


"... dibiarkan begitu saja. Sendirian, tanpa ada satupun yang----"


Adelle berdiri dan menunjuk pemuda itu. "Kalau dari awal kau tidak pergi dan tetap bersama dengan Mama, kau tidak akan seperti ini!."


"Nyatanya aku dicampakkan!!."


"Mama menyayangi kau sama seperti Mama menyayangiku!!."


"Buktinya apa?!."


Suara mereka sama-sama meninggi, tidak ada yang mau mengalah. Alvin dengan segala penentangan bahwa Mira tidak menyayangi dirinya, dan Adelle yang selalu mengatakan kalau Mira sama-sama menyayangi mereka berdua dengan porsi yang sama.


"KALAU MAMA TIDAK MENYAYANGI BAJINGAN SEPERTIMU, BAHKAN UNTUK MEMBUKA MATA PUN TIDAK AKAN BISA KAU LAKUKAN HARI INI!!!."


Usai berteriak, Adelle berusaha untuk mengambil napas sebanyak yang dia bisa. Dia sudah berteriak dengan sangat keras kepada Kakaknya sendiri, dan dia merasa sangat bersalah.


"Kak, cobalah untuk melihat kasih sayang Mama kepadamu," lirihnya, berusaha meyakinkan Alvin bahwa Mira tidak seperti yang dia lihat.

__ADS_1


"Bagaimana bisa ... Seseorang yang merawat, menjagamu dari kecil, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya agar kau bisa melihat dunia ... Begitu tega membiarkanmu begitu saja seperti tidak ada hubungan apa pun?."


"Tidakkah kau merasakan kasih sayangnya yang begitu besar terhadapmu?."


"Apakah kau tidak melihat pancaran kebahagiaan yang ada di matanya?."


"Se-tidak peka itukah dirimu Kak?."


Meskipun Alvin tidak mengatakan apa pun, Adelle tahu kalau pemuda itu sedang menahan tangis. Gadis itu maju dan memegang kedua bahu Alvin.


"Mama menyayangimu, sama seperti dia menyayangiku. Kita berdua lahir dari satu wanita yang sama Kak. Jangan berpikir seolah-olah kau sendirian karena aku bersamamu, disini ... Dan dimana pun kau membutuhkanku."


...🥀🥀🥀...


"Bukankah anda tidak boleh meminum Alkohol?. Bagaimana jika anak gadis anda tahu?. Apakah dia akan marah?."


Glek!


Mira dengan cepat memutar badannya dan melihat ke arah pintu depan.


"Halo. Saya rasa kedatangan saya akan membawa perubahan besar," katanya seraya melenggang masuk, melewati wanita yang masih menatapnya dengan bingung. "Bercanda deh," sambungnya.


"Saya membawa benda yang sepertinya, milik kalian. Ah, atau mungkin ... Salah seorang dari kalian?."


Mira berani bersumpah kalau pemandangan di depannya sangat menakutkan. Dapat wanita itu rasakan kalau jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Tatapan gadis itu sedikit melembut. "Saya hanya ingin mengembalikan buku ini. Sepertinya anak anda berusaha dengan sangat baik ya. Universitas itu bukan sembarang tempat yang bisa dimasuki. Anak-anak yang memiliki prestasi gemilang saja yang bisa masuk. Anda mengerti maksud saya kan?."


Mira mengangguk. Dia tidak sebodoh itu. Wanita yang sedang membersihkan ruang tamu itu paham betul tentang universitas yang dimaksud oleh gadis bersurai merah muda dengan tampang manis namun mengintimidasi itu.


"Dimana dapurnya?."


Mira mengangkat pandangannya dari buku berwarna biru muda itu, kemudian menatap Lesya dengan bingung. "Ya?."


"Dapurnya. Saya tanya dimana dapurnya?. Ini sudah sore dan sebentar lagi malam. Anak-anak anda pasti lapar dan sebentar lagi mereka akan pulang. Apakah anda tidak mau memasak apapun?."


Butuh waktu bagi Mira untuk memproses semua perkataan Lesya. Seorang gadis manis datang ke rumahnya, melenggang masuk dan menjelaskan tentang universitas terkenal di kota mereka, kemudian bertanya tentang dapur. Ini terlalu---

__ADS_1


"Oh, ini dapurnya."


... Menakutkan.


__ADS_2