
Tangan Adriell naik, memperbesar dan menggeser sedikit foto yang terpampang nyata di ponsel temannya seraya bergumam beberapa kali.
"Screen protectormu pecah ya? Ganti gih," gurau Lesya seraya mengambil botol berisi air dan meminumnya.
Andreas menekuk wajahnya, kesal karena orang-orang didepannya tidak menangkap apa yang dia maksud.
"Yang ku maksud itu--"
"Darah. Kami melihatnya, bahkan sebelum kau mengambil foto itu," potong Zeline dengan cepat, seakan tak membiarkan Andreas berbicara.
Aerylin mengangguk sekali, membenarkan ucapan si gadis bersurai hitam kecokelatan itu. "Darahnya benar-benar banyak, bahkan ada di beberapa sudut rumah itu dan mulai mengering. Beberapa diantaranya nampak sudah kering dari lama."
Pemuda yang selalu bercanda itu tertegun. "Jadi ... kalian sudah tahu?"
"Jangan meragukan kepekaan mereka berdua."
Andreas mengalihkan atensinya dari Aerylin dan melihat gadis bersurai merah muda itu dengan seksama. "Maksudmu?"
"Kau tahu kan," Lesya memandang mereka semua, terlebih khusus Aerylin dan Zeline, "kepekaan mereka berdua tinggi. Mungkin paling tinggi diantara kita semua."
Dengan senyuman yang khas, Lesya mengakhiri ucapannya dan kembali membuka cemilan baru. "Sebetulnya, aku berpikir kalau itu adalah cat. Mengingat rumah itu milik seorang guru dan tidak mungkin dia melakukan hal seperti itu."
Sembilan orang disitu mengangguk, sedikit setuju dengan ucapan ketua OSIS yang asik memakan cemilan dengan tenang.
"Tapi kemudian, dengan adanya foto yang diambil oleh Andreas membuatku yakin kalau ada sesuatu yang sedang, atau mungkin sudah terjadi," tandasnya dengan mantap.
"Tapi apa? Hal apa yang sedang terjadi dan apakah kita berhak ikut campur?"
Yang ditanya menggeleng pelan. "Pertanyaan bagus dan inilah poin pentingnya," ujarnya seraya menatap Zeline. "Menurutmu," tanyanya, "apakah kita berhak ikut campur?"
Kedua sudut bibir ditarik dengan pelan, membentuk senyuman yang sangat manis. "Tentu. Tentu saja kita tidak berhak ikut campur akan masalah mereka."
"Dan kita selalu ikut campur," tambah Aerylin dengan nada yang sangat datar.
Tujuh orang kecuali mereka bertiga mengangguk. "Benar sekali."
"Kita tidak boleh melakukan hal itu."
Lesya sontak melihat ke arah suara dengan satu alis yang naik. "Kenapa?," tanyanya dengan bingung.
Kaila selaku orang yang menolak perkataan teman-temannya itu meneguk ludah dengan kasar. "Bisa saja ini urusan berbahaya. Tidak lama lagi kita kelas tiga, kelas ujian dimana kita akan disibu--"
"Lalu?"
Pertanyaan itu seakan menyadarkan dirinya dari segala kemungkinan yang ada. Bahwa,
Aku tidak bisa menghentikan dia yang mulai berjalan ke depan.
Kenzo berdeham, berusaha melerai perkelahian dalam diam ini. "Singkatnya, kita tidak akan ikut campur kalau tidak ada yang mengusik," ucap Kenzo seraya berharap si gadis dengan surai merah muda mengerti apa maksudnya.
"Memang seperti itu," ujar Lesya seraya memasukkan kepingan cemilan yang terakhir.
Dan akan seperti itu bagaimana pun caranya.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
"Kau menghindariku," ucap Lesya to the point begitu hanya ada dia dan Kaila di dalam ruangan OSIS. Teman-temannya yang lain sedang pergi mengambil tas di kelas masing-masing.
Gadis bersurai biru itu nampak kikuk. "Aku tidak menghindarimu."
"Aku tahu kalau ada sesuatu yang terjadi kepadamu. Kau tidak mau cerita?"
Helaan napas dapat dia dengar. Butuh waktu hampir tiga menit sebelum Kaila membuka suara. "Kau tahu," ujar adis itu seraya memutar tubuhnya dan menghadap kepada Lesya. "Aku muak dengan diriku sendiri."
Lesya hendak memotong perkataan Kaila namun diurungkannya niat itu.
Lebih baik banyak mendengar saat ada yang curhat.
"Aku ... membenci diriku sendiri."
Tatapannya berubah sendu. Gadis bersurai merah muda itu sedikit merasakan aura pilu yang menguar dari Kaila.
"Aku tidak pantas hidup."
"Kau pantas. Semua orang pantas untuk hidup."
"Pengecualian untukku."
Lesya menggertakkan giginya, berusaha untuk menahan emosi yang seakan-akan meluap. "Dengar," ucapnya dengan pelan namun tegas, berusaha mengambil atensi lawan bicaranya yang seakan tidak berada di tempat.
"Kau, manusia. Banyak cobaan di setiap langkah hidupmu, dan solusi untuk semua cobaan itu tidak kalah banyak. Itulah inti dari kehidupan."
Pegangan Kaila di bahu Lesya semakin kuat, seakan-akan berusaha menyampaikan perasaan yang tidak dapat diungkapkan.
Mulutnya terbuka sesaat. "Aku takut."
"Aku tahu."
Aku selalu seperti itu, hanya saja tidak terlihat.
"Lesya, beberapa hari yang lalu ayahku datang berkunjung."
...🥀🥀🥀...
"Ada apa?"
Seorang pria, berdiri di ambang pintu seraya tersenyum kikuk. "Mau pergi makan di luar?"
Satu alisnya naik, bingung dengan ajakan tersebut. "Tiba-tiba? Kenapa?"
"Ya ... kau tahu," ujarnya sebelum melangkah masuk dan duduk di pinggiran kasur. "Kadang-kadang kita harus pergi makan di luar."
Curiga nih bos.
"Masakanmu kacau?," tebak si pemuda yang seketika membuat rona merah dengan cepat menjalar di permukaan wajah lawan bicaranya.
Beneran kacau kayaknya, wajahnya sampai jadi merah.
"M-mau tidak? Tawaranku hanya sekali loh!"
Aku tidak yakin hanya sekali ini kau menawariku makan di luar.
__ADS_1
Menggaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal, Alfred berdiri dari tempatnya dan sedikit mendorong Alland untuk keluar dari kamarnya.
"Aku akan ganti baju. Tunggu diluar saja, tidak lama kok."
Suara pintu yang ditutup mengundang helaan napas lega dari seseorang yang berada di ruangan itu.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya, baik-baik saja."
Alfred tidak sepenuhnya berbohong. Dia tetap berjalan menuju lemari dan mulai mencari baju sembari dirinya terhubung melalui panggilan suara dengan seseorang di seberang sana.
"Aku matikan teleponnya ya?"
"Jangan!"
"Dih?"
"B-bukannya kau bilang, paket telepon yang kau buat tempo lalu akan habis hari ini?"
"Iya sih ... lalu?"
"Daripada terbuang percuma, lebih baik habiskan saja melalui panggilan ini."
Nalea yang sedang tersambung melalui panggilan suara dengan Alfred sontak menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap dengan seksama benda persegi itu.
"Ga kakak, ga adik, sama saja," gumamnya dengan suara yang sangat pelan, berusaha agar ucapannya tidak terdengar oleh pemuda itu.
"Kau masih disana?"
"Iya, masih disini. Kau sudah mau pergi?"
"Belum. Tiba-tiba kakak ingin buang air kecil jadi aku disuruh tunggu di ruang tamu."
Nalea sedikit menarik kedua sudut bibirnya, merasa geli sendiri begitu mendengar Alfred memanggil Alland dengan sebutan kakak.
Bagaimana pun keduanya adalah saudara kan, wajar kalau Alfred memanggilnya seperti itu.
"Halo?"
"Ya."
Alfred menatap sepatu yang dia kenakan. Dirinya sedang duduk di sofa, menunggu sang kakak seraya berbicara dengan Nalea. "Jangan matikan panggilannya."
"Ya ...? Kenapa begitu?"
"Tidak apa-apa."
Di seberang sana, Nalea menaikkan satu alisnya. "Katanya tidak apa-apa tapi disuruh jangan matikan panggilan ..."
Hening menyambut keduanya. Agak lama sebelum akhirnya suara pemuda itu kembali terdengar.
"Aku ... Kakak sudah kembali dari toilet. Maaf karena membuatmu bingung dan terima kasih karena sudah menerima panggilan dariku. Ku matikan ya?"
Tepat setelah pemuda itu bertanya, suara pertanda panggilan telah dimatikan berbunyi.
__ADS_1