Patency

Patency
Bab 8, seseorang yang datang dari jauh.


__ADS_3

Kaila meminum air didepannya. "Seperti minyak dan air...maksudnya apa?," tanyanya pada gelas transparan didepannya. Perempatan imajiner muncul dikepalanya tepat setelah bunyi lonceng berbunyi.


Kata-kata mutiara yang sudah dipersiapkan sejak tadi, mendadak hilang setelah mengetahui kalau yang masuk tadi bukan sosok yang ditunggu.


Kaila membuka bungkusan permen rasa cokelat yang dibawanya. "Lama sekali..."


Cahaya matahari menyeruak kedalam kafe.


Kaila menopang dagunya, menatap jendela disampingnya. Air yang masih menempel di jendela menarik perhatian Kaila yang masih melamun. Ponselnya bergetar, memecah lamunan gadis bersurai biru itu.


Di lain tempat, seorang gadis bersurai hitam legam menunduk menatap jalanan yang basah.


Kakinya beberapa kali menendang batu kecil didepannya untuk mengusir rasa bosan yang melanda. Atensi gadis itu tertuju kepada anak-anak kecil yang berlarian didepannya.


Anak-anak itu dengan riang berlarian kesana kemari, lengkap dengan jas hujan yang bermotif.


Gadis itu tersenyum sendu, sorot matanya perlahan redup.


Air perlahan berhenti. Gadis itu mendongak dan mendapati pemandangan gumpalan awan yang tadinya hitam pekat, kini terganti dengan langit biru cerah.


Seorang yang lain muncul didepannya. Gadis itu masih setia di tempatnya berdiri.


"Apa anda, tahu dimana tempat ini?"


Gadis bersurai hitam legam itu kaget dan mendapati seorang pria berusia sekitar 39 tahun berdiri didepannya.


Dengan cepat gadis itu mencoret coret permukaan buku yang dibawanya, kemudian menunjukkan kepada pria tadi.


Pria itu membungkuk, tak menyadari kalau dia membuat kesalahan. "Maafkan saya, saya sungguh tidak tahu. Tapi terima kasih untuk infonya."


Gadis didepannya mengangguk, sedikit menyipitkan kedua matanya sebelum pria itu berlalu dari hadapannya.


Buku berwarna hitam itu dipeluknya erat-erat.


Liana, itu yang tertulis di pojok atas sebelah kiri.


Gadis itu mengusap pelan buku miliknya, ketika sebuah suara datang menyapu pendengarannya.


"Maaf, saya numpang berteduh disini ya? Hehe."


Seorang gadis yang cantik, pikirnya. Surai milik gadis itu seakan bersinar dibawah matahari. Angin bertiup pelan, sedikit memainkan surai mereka berdua.


Aneh, padahal hujan sudah berhenti tapi gadis disampingnya datang berteduh. Gadis yang memiliki surai sedikit panjang itu berniat untuk membuka sebuah pembicaraan sampai sebuah kertas-yang entah datang darimana- menempel di wajahnya.


"Uhh..kertas siapa sih ini," gerutunya sembari menyingkirkan kertas itu dari wajahnya. Kertas itu tampaknya masih baru, dan mungkin tidak sengaja tertiup angin, pikirnya. Lihat saja, kertasnya bahkan tidak terdapat tanda lipatan sama sekali, yang artinya memang masih baru dan sepertinya sedang dipakai. Gadis yang sedari tadi diam itu akhirnya menuliskan sesuatu di bukunya.


Sentuhan di bahu membuatnya berbalik dan mendapati eksistensi gadis surai hitam legam tengah mengangkat bukunya setinggi dada, dengan beberapa halaman yang siap di balik.


"Aku..Niala? Namamu Niala-- ah masih ada lagi di belakang." Gadis yang datang berteduh itu asik membaca tulisan di buku milik gadis surai hitam legam itu, sampai ke sebuah halaman yang membuat suaranya hampir tidak bisa keluar.


"Paman, tanganmu gemetar..."


Alland menatap tangan kanannya yang gemetar hebat. Ya, tangan kirinya dia gunakan untuk menggandeng anak kecil tadi yang berbaik hati memayunginya agar tidak kehujanan. "Nak, orangtuamu dimana? Paman akan segera mengantarmu kepada orangtuamu."


Anak kecil tadi mengerjap, bingung dengan perkataan Alland. Dia menunduk menatap kedua kakinya dan Alland secara bergantian sebelum bicara. "Apa itu orangtua paman?."


Alland tidak bersuara. Anak kecil tadi menggenggam erat tangannya, tatapannya terpaku pada sepatu Alland. "Aku," lanjutnya, "tidak tahu apa itu orangtua.."


Sorot matanya menjadi sayu. Anak kecil didepannya tidak melepaskan genggamannya sama sekali. Alland menatap tempat lain, apapun itu asalkan bukan anak kecil didepannya.


Hujan turun dengan derasnya, seakan tidak mengizinkan mereka berdua untuk pergi dari tempat itu.


Anak kecil itu terus bersuara dengan volume yang sangat kecil, namun tetap bisa didengar Alland yang terus menatap ke tempat lain.


Alland mendapati sesosok bayangan datang mendekat ke arahnya. Dengan sigap tangannya yang satu memegang anak itu, dan tangannya yang lain memegang payung kecil. Bayangan itu semakin dekat, dan ketika wujudnya mulai kelihatan jelas, barulah Alland mengenali siapa itu.


"Pak kepala sekolah?"


"Oh? Anda mengenali saya?"


Yah, dia lupa sama aku.

__ADS_1


Alland tersenyum tipis. "Alland pak, ingat gak? Yang beberapa hari lalu antar adik ke sekolah barunya itu lho."


Pria didepannya mengapit dagu menggunakan jari telunjuk dan jempol sembari berpose sedang berpikir dengan serius. "Oh! Kau yang botak itu?," ujarnya dengan penuh semangat.


"Ngga pak, ini rambut saya masih ada kok. Bapak mah salah orang."


Dikatain botak weh. Sakit hati ini TwT


Alland mengusap dadanya dengan dramatis. Bagaimana bisa dia dikira orang botak sedangkan rambutnya sekarang masih ada? Kan, gak mungkin tumbuh dalam semalam.


Anak kecil yang eksistensinya hampir dilupakan Alland itu meremas genggaman tangannya yang daritadi masih tertaut.


Udara yang dingin ditambah dengan cahaya matahari yang kurang, merupakan sebuah kombinasi yang mematikan bagi sebagian orang.


Surainya yang sedikit panjang melewati bahu itu perlahan bergerak sesuai arah angin. Sedikit menggertakkan giginya sendiri, anak kecil itu melihat ke segala penjuru tempat itu sembari menunggu Alland yang tidak melepaskan tangan mungilnya.


Pria didepannya masih berbincang dengan pria lainnya yang kelihatan lebih pendek. Keduanya asik berbincang dan seakan tidak menghiraukan dirinya.


"Anda mau kemana hujan-hujanan seperti ini pak Alland?"


Yang ditanya tersenyum tipis, menjawab pertanyaan dari pria yang lebih tua darinya dengan sopan. "Saya habis berkunjung ke suatu tempat dan sekarang mau balik, tapi hujan."


"Mau balik sama-sama pak Alland? Saya membawa payung."


Alland tidak menampilkan ekspresi yang lain. Dia mengangguk dan membungkuk pelan. "Maafkan saya, tapi saya masih menunggu sesuatu, terima kasih atas ajakan anda sebelumnya," tolaknya dengan halus.


Kepala sekolah tadi mengangguk dan tersenyum. "Sayang sekali kalau begitu. Baiklah, saya duluan pak Alland."


Alland menatap kepergian kepala sekolah tadi dalam diam. Anak kecil dibelakangnya perlahan menengok, penasaran dengan orang tadi. "Paman, dia tadi siapa?."


"Dia, orang penting." Anak kecil tadi menatap bingung. Alland tak menghiraukan tatapan bingung dari anak itu. Atensinya masih fokus kepada kepala sekolah yang berjalan menjauh dari mereka berdua.


Berusaha untuk tidak berpikir yang aneh-aneh, Alland menggendong anak kecil tadi dan bersiap untuk menerobos derasnya hujan.


[□][□][□]


Kaila mengetuk jarinya beberapa kali ke meja, berusaha agar dirinya tidak meledak-ledak karena marah. Orang yang sedari tadi ditunggunya, entah sekarang dimana. "Ditelfon pun, ngga diangkat. Punya ponsel cuma buat pajangan apa gimana sih."


Benar-benar sepi pengunjung ya..


Jarinya ia bawa ke permukaan ponselnya yang mulus, menekan sebuah tampilan video yang sedari tadi muncul.


Detik menjadi menit, menit menjadi jam, menimbulkan rasa kesal yang menjadi-jadi.


Kaila memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu setelah mempertimbangkannya lebih dari--sepuluh kali pertimbangan.


Si gadis bersurai biru itu baru saja membuka pintu keluar yang kebetulan adalah pintu masuknya, ketika seseorang datang memeluknya dengan erat.


Kaila yang tidak tahu apa-apa dengan cepat mendorong orang itu.


"Kaila Kaila! Kau tidak mengenali siapa aku ini sampai mendorong seperti itu?, " ujarnya dengan nada yang sedih, entah sedih benar-benar sedih atau sebuah sandiwara yang dilontarkan.


Sekilas, Kaila hampir tidak mengenali siapa pria didepannya ini, namun ketika dia mendengar suaranya, maka tahulah dia, siapa gerangan pria didepannya ini.


"Saya mengenali anda?."


Pria tadi, dengan tampilannya yang sedikit mengenaskan, menatap Kaila seolah-olah sedang berkata apa kau bercanda?.


Namun sekuat apapun pria itu menatapnya, tatapan Kaila tidak berubah. Sebuah tatapan yang penuh dengan kebencian, namun didominasi dengan rasa jijik yang menjadi-jadi.


Kaila menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman untuk pria itu.


Kakinya dia bawah dari tempat itu, melangkah kemana saja yang penting menjauh dari pria itu.


Pria tadi tidak menyerah. Dengan cepat dia memegang pergelangan tangan Kaila namun ditepis sepersekian detik.


Tempat itu tidak banyak dikunjungi orang-orang, sehingga pada saat pria itu datang, tempatnya cukup sepi dan diluar hanya ada mereka berdua.


Gadis bersurai biru itu menggenggam dengan erat tangan pria tadi dan menariknya, menjauh dari tempat itu.


[□][□][□]

__ADS_1


Kakinya dia bawa, melangkah kedepan sembari bersenandung kecil. Hari ini ulangtahunnya, makanya dia berjalan dengan perasaan senang. Membayangkan ada apa dirumahnya, apakah orangtuanya akan menyambut dengan pelukan hangat, membuat anak itu tersenyum lebar sepanjang jalan. Surainya yang sedikit panjang itu bermandikan cahaya matahari sore. Angin berhembus pelan, berputar dan seakan melewati anak tadi.


Jantungnya berdetak dengan kencang ketika tangan kanannya memegang gagang pintu rumahnya.


"Tarik napas, hupp...huaaah."


Ta-tanganku gemetar..


Kaila memejamkan kedua matanya. Pria tadi terengah-engah, meraup oksigen sebanyak mungkin kemudian berbicara. "Membuat ayahmu hampir mati kehabisan napas benar-benar tidak sopan, Kaila."


Ayah katanya.


"Ayah! Ibu!."


Anak kecil tadi tersenyum dengan sangat lebar usai berhasil membuka pintu rumahnya. Kakinya melangkah masuk, berjalan--ah tidak, berlari dengan semangat menyusuri rumahnya. Senandung kecil mengisi kesunyian dirumahnya. Tidak jelas, tapi cukup untuk menyenangkan hatinya. Sorot matanya seakan bersinar-sinar.


"Seumur hidupku, aku membenci yang namanya ayah."


Kaila tersenyum miris sembari memandang pria tadi yang menyebut dirinya sebagai ayah. Sorot matanya meredup, berusaha untuk tidak menangis didepan pria itu. "Dalam hidupku, aku mati-matian bertahan." Pria didepannya tidak berkata apa-apa ketika Kaila bersuara dengan nada yang bahkan hampir sama dengan suara tikus yang mencicit.


Netra pria itu berwarna biru gelap, persis dengan netra milik Kaila. Surainya berwarna hitam legam, sedangkan surai Kaila berwarna biru, biru muda yang cantik.


Degup jantungnya semakin cepat, seakan mau melompat dari tempatnya. Napasnya tercekat, pita suaranya seperti tidak mau bekerja, padahal masih banyak yang mau dia ungkapkan.


kau datang dari jauh dan berkata seakan-akan semuanya baik-baik saja.


"Ah, sudah pulang ya nak?."


"Lihat, ayah membelikan sesuatu untukmu lho!."


"Ayah membawa sebuah kue, kejutaaan!."


"Ibu juga membawa minuman dingin kesukaanmu lho~."


Wanita bersurai biru langit itu tersenyum manis. Netranya menatap hangat kepada dua orang didepannya, seorang pria dan seorang anak perempuan kecil. Hari yang bahagia, pikirnya.


Putri kecilnya hari ini berulang tahun, apa yang bisa lebih baik dari ini?


Anak kecil itu menggandeng kedua orangtuanya sembari tersenyum dengan sangat lebar sampai kedua matanya tertutup.


Benar-benar keluarga yang bahagia bukan?


Itu adalah kisahnya, kisah seorang anak kecil bersurai biru langit dan netra biru gelap.


Perpaduan sempurna dari kedua orangtuanya.


Aku akan menceritakan tentang sebuah kisah. Kisah dimana seorang anak kecil dan kedua orangtuanya yang bahagia. Kau tahu, beberapa tahun yang lalu, seorang anak kecil berjalan menuju rumahnya dengan perasaan senang. Mungkin aku tidak perlu menceritakan bagian ini karena diatas sudah kuceritakan.


Lebih tepatnya, aku akan menceritakan tentang pertemuanku dengan seorang gadis cantik bersurai biru langit dan netra biru gelap.


Yang kuingat, beberapa tahun yang lalu ketika dalam perjalanan pulang, aku menjumpai seorang gadis cantik. Waktu itu penampilannya sangat rapi dan yang ada dipikiranku adalah,


"Gadis ini sangat cantik dan rapi, apakah dia seorang putri dari negeri asing?."


Pikiranku saat itu belum fokus saat dia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari balik sakunya, dan menatap kedepan seakan-akan itu adalah hari terakhirnya bisa melihat dunia.


Gadis itu masih menggenggam erat pisau kecilnya, tidak berniat untuk melepasnya.


Aku diam memperhatikan dari kejauhan. Tidak sejauh itu, mungkin sekitar sepuluh atau sebelas langkah dari tempatnya berdiri.


Jika kalian bertanya kenapa aku tidak menghentikan perbuatannya yang mungkin akan menyebabkan kematian bagi dirinya sendiri, maka jawabannya adalah : Aku tidak mau ikut campur kedalam urusannya.


Terkesan jahat sih, tapi itu kan perbuatan mereka. Aku sih menonton saja. Ah, tapi ada kalanya aku akan menolong mereka.


Kembali ke gadis tadi, dia masih diam ditempatnya, tidak ada tanda-tanda mau bergerak ataupun lainnya.


Aku berjalan pelan, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


"Ketimbang membunuh diri sendiri, lebih baik kalau kau membalas dendam," ucapku pada gadis bersurai biru langit.


Ya, dia terkejut dan kenapa aku mengetahuinya? Tentu saja karena kedua bahunya terangkat keatas secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa kau tahu, selama bertahun-tahun aku berusaha mati-matian?"


__ADS_2