Patency

Patency
Bab 29, Bertemu.


__ADS_3

"huft ... Menunggu wanita itu lama juga yah. Ah tapi tidak masalah sih, kan dia istriku, hehehe ..."


"Ketawa sendiri, kenapa?."


Seorang wanita, dengan senyum yang manis berdiri tepat di samping pria itu.


Tangan kecilnya sedang menggendong anak lelaki yang tak kalah manis parasnya.


"Mama, papa tertawa sendiri sudah dari tadi," adu anak lelaki yang seluruh ciri-cirinya merupakan kloningan dari wanita yang dipanggil mama itu.


"Eih benarkah?. Aldrian, kau kenapa?. Haruskah kita pergi ke dokter?," guraunya karena tak kunjung mendapat jawaban.


Menyadari kalau dirinya terlihat bodoh di hadapan istri serta kedua anaknya, Aldrian sontak menggendong Alland, anaknya yang sulung dan menarik pinggang istrinya agar lebih dekat.


"Iya, kita ke dokter. Tapi sepertinya dokter itu akan tercengang begitu melihat diriku. Pasti dia akan berkata 'astaga, pria tadi begitu tampan' dan akan terus menatap ke arah pintu keluar. Bukankah begitu sayang?. Apa kau masih mau pergi ke dokter dengan resiko seperti itu?. Aku sih tidak masalah."


Tiga orang yang memiliki warna mata yang sama hanya bisa menatap ke arah pria yang sedang membanggakan dirinya sendiri, tanpa menyela atau apapun itu.


Anna, wanita dengan paras manis itu berusaha melepaskan rangkulan Aldrian dari pinggangnya.


Bukannya tidak mau, hanya saja ...


Ini di pusat perbelanjaan!


...🥀🥀🥀...


"Hah ... Kepala sekolah benar-benar tegas tadi."


Keluhan demi keluhan terus keluar dari bibirnya. Bukan tanpa alasan, dia baru saja keluar dari ruang kepala sekolah, dan menerima berbagai laporan tentang kinerjanya yang menurun.


"Kalau kinerja anda terus menurun, saya tidak tahu keputusan terburuk apa yang bisa saya ambil."


"Hiii ... Mengingatnya lagi membuatku jadi takut."


Berjalan dengan pelan, Monic berhenti di depan kelas 2-A, kelas si ketua OSIS.


Kalau di pikir-pikir lagi, tugasku jadi selesai karena di bantu oleh Lesya. Aku harus berterima kasih dengan baik.


"Maaf, anda menghalangi jalan. Bisakah saya minta tolong agar anda sedikit menjauh dari pintu masuk?. Terima kasih."


Wanita itu sedikit kaget ketika ada suara yang masuk ke gendang telinganya. Tanpa melihat siapa yang ada di belakangnya, Monic langsung berlari begitu saja.


"Aneh, bukankah aku sudah menyebut maaf, minta tolong dan terima kasih?. Kenapa dia terburu-buru seperti itu?."


"Mungkin karena kau menakutkan. Cepat masuk Alfred, pelajarannya akan segera dimulai."

__ADS_1


Alfred mengangguk, kemudian membuka pintu kelas dan masuk, tanpa membantah sama sekali.


Raymond sedikit memiringkan kepalanya, bingung dengan kejadian langka tersebut. "Dia jadi penurut ya sekarang?."


Menggelengkan kepalanya beberapa kali, pria berkacamata itu berusaha untuk tidak memikirkan hal yang tidak penting. Dia harus mengajar hari ini, dan kelas yang akan dia ajari hari ini adalah kelas 2-A.


Ah, kelasnya Lesya.


"Entah mengapa, jantungku berdetak lebih cepat ketika melihat atau memikirkannya," ucapnya, tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi.


Pria yang sudah berada dalam usia matang, selalu bertindak dengan segala perhitungan yang tepat, menjadi bingung dan kewalahan dengan segala bentuk perhatian yang dia terima dari seorang siswi sma berusia enam belas tahun.


Dimana itu adalah hal yang wajar karena Lesya menyembunyikannya dengan sangat baik.


Melangkah masuk, hal yang pertama kali dia lakukan adalah tersenyum sembari memandang semua murid yang ada.


Senyumnya sedikit cerah ketika matanya tak sengaja bertemu dengan mata biru berkilau milik surai merah muda yang ada disana.


Ya, Lesya. Siswi SMA tahun kedua sekaligus ketua OSIS yang sedang tersenyum manis ditempatnya, sedang menatap ke depan. Mencurahkan semua atensinya kepada pria berkacamata yang sedang menjelaskan materi dengan pembawaan yang sangat tenang.


Menyenangkan, pikirnya setiap kali pria itu mengajar.


"Kau menyukainya hanya karena dia tipe idamanmu kan?."


"Sepertinya. Entahlah, aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Kenapa?."


Kaila mengalihkan pandangannya. "Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran."


Gadis bersurai biru itu hanya bisa menatap dengan sayu ke arah papan tulis. Teman seperjuangannya benar-benar misterius. Siapa yang dia sukai? Siapa yang benar-benar dia cintai?


Kaila bukannya ingin mencampuri urusan pribadi Lesya. Hanya saja, dia bukan orang bodoh yang tidak peka dengan tatapan Savier.


Pemuda itu begitu sabar menghadapi Lesya, berharap bahwa suatu hari nanti, keduanya menjalin hubungan yang lebih dari kata teman.


Tapi apa daya, guru yang mengenakan kacamata itu lebih menarik di mata Lesya. Yah, kalau dipikir lagi, tipe idaman Lesya ya Raymond, bukan Savier.


Tapi tidak ada yang tahu kan?.


"Psst---. Kaila."


Tersadar dari lamunannya, Kaila sontak menatap ke depan, berusaha untuk terlihat kalau dia sedang fokus pada pelajaran.


"Kaila, oi."


Gadis pemilik surai biru itu menatap ke samping, ke arah Lesya yang sekarang sedang mengangkat jari telunjuknya.

__ADS_1


Kaila mengikuti pandangan Lesya, dan menemukan seorang pemuda tengah melambaikan tangannya.


"Acailah, merona dia."


"Pacarnya tuh, samperin gitu, aelah romantis dikit napa Kai?."


"Tuli ya sekarang. He'em, ngga bisa dengar ya ternyata."


Dan berbagai ocehan Lesya lainnya tidak dihiraukan Kaila. Gadis itu masih sibuk melihat lambaian tangan Andreas dari balik jendela.


Lesya menatap Kaila dengan datar, kemudian tersenyum.


Kan, Kaila itu jatuhnya sama Andreas, bukan sama yang lain.


"Ah, jam pelajaran sudah selesai. Terima kasih semua. Mmhm, Lesya bisa bantu bapak?."


Sebelum melangkah menuju kantin, Savier menatap punggung Lesya yang mulai menjauh.


Kalau begitu Lesya, kepada siapa kau akan menaruh hati?. apakah padanya?.


...🥀🥀🥀...


"Iya. Ini Alland udah di jalan. Dekat, mungkin lima menit lagi sampai. Iya, dah."


Senyum terpatri di wajahnya. Pria yang mengenakan kacamata hitam itu berjalan dengan cepat.


Hari ini dia akan berkunjung ke rumah orang tuanya. Atau lebih tepatnya, rumah ayahnya.


Entahlah, sejak dulu dia memanggil papa, tapi semenjak usianya bertambah, rasanya canggung baginya untuk memanggil pria itu dengan sebutan papa.


Ah, saking canggungnya, aku tidak pernah memanggil ayah ataupun papa. Durhaka sekali aku ini.


"Ah, aku harus menjemput Alfred---"


"Tidak tidak. Itu ide yang buruk."


Alland sedikit mengubah rencananya. Tadinya dia ingin berhenti di depan sekolah Alfred, tapi dia mengurungkan niatnya.


Bukan ide yang bagus untuk mengajak Alfred pergi ke rumah orang tua mereka. Benar-benar berbahaya.


Alland menggeleng beberapa kali. Tiba-tiba saja dia teringat kejadian beberapa tahun silam, sebelum segala sesuatu terjadi kepadanya.


Orang tuanya bercerai pada tahun 2014.


Tahun yang menyedihkan bagi Alland, dan juga Alfred. Adiknya yang pada saat itu baru menginjak usia 10 tahun, diperhadapkan dengan kenyataan orang tua mereka yang berpisah.

__ADS_1


__ADS_2