
Matanya menatap tajam sesuatu didepan sana.
Tidak tidak, dia tidak ingin melakukan kejahatan. Dia hanya ingin memastikan sesuatu.
Ya, dia membuntuti seorang pria. Sebenarnya, dia tidak sengaja melihat pria itu ketika dirinya hendak kembali.
Menyadari kalau pria itu adalah sosok yang sama dengan yang dia lihat selama beberapa minggu berturut-turut, sontak mengundang rasa penasarannya.
Apa yang dia lakukan disini?
Kenapa arahnya selalu sama?
Apakah ada keluarganya disini?
Dan berbagai pertanyaan lain yang mulai memenuhi pikirannya.
Pergerakan dari pria tadi langsung menarik seluruh atensinya.
Kakinya ikut bergerak, mengikuti jalannya pria itu.
Meskipun ini adalah tindakan yang tidak sopan, dirinya terus maju ke depan.
Mengunjungi seseorang di makam bukan kejahatan kan?.
Siapa saja bisa melakukannya, tak terkecuali dirinya dan pria itu. Tapi tetap saja, rasa penasaran yang terus membuncah dalam hatinya seakan-akan haus jawaban.
"Ah, dia berhenti didepan makam ..."
Eh?
Tanpa sadar, dirinya melangkah maju dan menghampiri pria yang sedang memegang bunga itu.
Langkahnya menjadi sedikit terseok-seok karena terlalu cepat.
Begitu pria tadi berbalik, dia menemukan seseorang lainnya yang sedang menatap ke arahnya dengan tajam.
Tatapan itu sangat tajam, sangat tajam seperti akan menusuk dan menghancurkan jantungnya sendiri.
...🥀🥀🥀...
"Kesimpulan saat mengunjungi museum?"
Lesya menatap Kaila, tak percaya dengan perkataan yang baru saja keluar dari gadis bersurai biru itu.
"Kata siapa?"
"Pacarmu."
"Aduh hatiku."
Belum selesai perbincangan kedua gadis itu, pintu tiba-tiba dibuka dan menampakkan beberapa orang yang terengah-engah, mungkin mereka lelah.
Kaila yang pertama kali bertanya ada apa, disusul tatapan bingung dari Lesya. Kedua gadis dengan warna surai yang berbeda itu saling menatap satu sama lain.
"Buku--"
__ADS_1
"Buku?," ucap Kaila dan Lesya bersamaan.
Adelle menarik napas panjang dan berteriak. "Buku kita semua ketinggalan di rumah karyawisata!!!!!!!"
"Hah?!"
.
"Jadi, kalian ingin minta izin untuk mengambil buku kalian yang ketinggalan di rumah karyawisata?"
Sepuluh orang mengangguk. Sebenarnya itu bukan rumah karyawisata, pikir Lesya. Itu rumah seseorang, tapi di berikan izin untuk tinggal selama karyawisata berlangsung.
Raymond melepaskan kacamata yang sedari tadi bertengger di wajahnya. "Lesya juga?"
Gadis bersurai merah muda itu mengangguk, membenarkan pertanyaan guru itu. Helaan napas dapat mereka dengar. Sepuluh orang yang berada dalam ruangan itu sedang berdiri sembari menundukkan kepalanya masing-masing.
Niatnya sih, mereka ingin meminta izin untuk pergi mengambil buku, kemudian kembali dan menulis kesimpulan. Seperti itu, tapi namanya ekspektasi tidak selalu sesuai dengan realita, mereka malah berdiam diri di dalam ruang guru dan tidak kemana-mana.
"Baiklah. Saya memberi izin kepada kalian semua dengan satu syarat."
Mengangkat kepalanya masing-masing, mereka mendapati guru yang biasa menebar senyuman dan aura bahagia itu sedang menatap mereka semua dengan tajam.
"Kembalilah sebelum jam pulang sekolah. Dan juga untukmu Lesya," ucap Raymond sedikit menggantung perkataannya agar mereka mendengarkan, " jangan membeli cemilan apapun sebelum kesimpulanmu selesai dan dikumpulkan," tandasnya.
Lesya hendak membantah, namun si gadis bersurai biru itu dengan cepat mengangguk kepada Raymond dan keluar sebelum si surai merah muda meledak.
...I🥀🥀🥀I...
"Ck, apa-apaan itu. Jangan membeli cemilan sebelum aku menyerahkan kesimpulanku?! Dia sangat kejam!"
Si surai biru itu memilih untuk menyandarkan tubuhnya. Kalau begini, dia jadi bingung. Mendukung Savier atau guru mereka, Raymond?
Masalahnya ...
Lesya ini banyak banget orang yang dia suka. Aduh jadi pusing.
"Ah Kaila, udah sampai."
Kaila yang belum lama memejamkan matanya untuk istirahat sejenak, sontak membuka matanya. "Hah?! Demi apa kok cepet banget?!"
Lesya menatapnya dengan raut wajah yang datar. "Perasaan lama deh. Kau ngapain sih?"
Kaila menggeleng pelan. "Yaudah ayo turun."
Andreas berjalan lebih dulu, kemudian disusul oleh Kenzo dan savier. Sisanya berjalan dengan ritme biasa di belakang.
Rumah yang mereka tempati beberapa waktu yang lalu tidak terlalu jauh, namun tidak terlalu dekat jaraknya dengan halte.
"Ah, rumahnya terlihat."
Zeline terlihat takut dan langsung memegang kemeja Lesya. Kenzo yang melihat itu pun langsung bertanya, apakah ada sesuatu di wajahnya?
"Ma-maaf. Aku hanya sedikit merinding begitu melihat rumah ini."
Lesya memaklumi. Bangunan di depan mereka nampak tidak terurus sejak terakhir kali mereka tinggal di dalamnya.
__ADS_1
Atau mungkin, luarnya saja yang tidak terurus. Bisa jadi bagian dalamnya rapi.
"Ukh, menyengat banget. Bau apa ini?"
Savier menutup hidungnya menggunakan tangan dan berjalan memutari rumah itu, berusaha untuk mencari dimana atau apa yang menyebabkan bau luar biasa menyengat disitu.
Berbeda dengan Savier, Lesya langsung maju dan membuka pintu depan. Tidak dikunci karena sepertinya ada orang di dalam.
Namun, bukan orang yang menyambut mereka, melainkan sesuatu yang lain.
...🥀🥀🥀...
"Maaf, saya pikir anda siapa," ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Alland menatap pria disampingnya dengan sendu. "Sepertinya saya juga berlebihan, maafkan saya."
Keduanya duduk di dekat minimarket dan sesekali menatap langit.
"Aku ... Bisa dibilang berteman dengan kakakmu."
Ryan tidak menyela perkataan pria itu. Dia asik menatap langit, dan membiarkan suara pria itu mengalun masuk ke pendengarannya.
"Dia adalah gadis yang baik."
Aku tahu itu.
"Dia adalah orang yang menatap mataku dan berkata kalau aku bukan pembawa sial."
Ryan masih menatap langit. Dia tertarik dengan kisah Alland tentang kakaknya, Rea.
Dia tidak memiliki banyak kenangan dengan gadis itu, dan ketika menemukan seseorang yang punya banyak kisah tentang kakaknya, Ryan pun memilih untuk mendengarkan semuanya.
Alland menjelaskan semuanya dengan rinci. Mulai dari awal pertemuannya dengan Rea, sampai hari dimana dia harus berpisah untuk selamanya dengan gadis itu.
Gadis yang merupakan orang pertama yang menatap matanya dan berkata kalau dia berharga di mata orang yang tepat.
Gadis yang membantunya disaat dia susah.
Gadis yang menemaninya bermain di taman kala tidak ada satupun yang mau bermain bersama dengannya.
Gadis yang tertawa bersama dengannya.
Gadis yang menenangkannya disaat tidak ada satu orang pun di dekatnya.
Gadis yang kini, tidak bersama-sama dengannya di dunia ini.
Gadis itu telah pergi untuk selamanya.
Meninggalkan dirinya, dan keluarganya sendiri.
Tanpa sadar, air mata membasahi pipinya. Ryan langsung mengusap pipinya sendiri, berusaha agar tidak terlihat lemah di hadapan Alland.
Tanpa dia sadari, pria yang bercerita tentang Rea itu sudah menangis dalam diam.
Air matanya bahkan sudah kering. Dan seakan-akan tidak terjadi sesuatu, Alland berdiri dari tempatnya.
__ADS_1
"Ayo, harusnya guru berada dalam sekolah kan?"