
"Lesya, kenapa kau kemarin langsung pulang?"
Si surai merah muda yang sementara mengunyah roti itu menatap Kaila sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya.
"Woi, ditanya tuh jawab."
Lesya mengangguk, namun tidak mengeluarkan suara. Gadis itu masih asik mengunyah roti rasa cokelat yang baru saja dibelinya sebelum masuk kelas.
Kaila menatap Lesya dengan datar. Apa roti itu sangat enak sampai pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban?
Hey, tolong beritahu gadis bersurai biru langit ini, kalau Lesya benar-benar akan melupakan apapun itu begitu dirinya berhadapan dengan makanan.
Dia lemah dengan makanan kau tahu.
"Aku kesal. Semua buku kita basah dan beberapa diantaranya, tintanya luntur dan membuat halaman lain jadi hitam semua."
Kaila mengangguk. Lesya memang benar, semua buku mereka basah begitu ditemukan. Padahal jika diingat, rumah itu dalam keadaan kering, sama sekali tidak ada tanda-tanda basah atau pun atap yang bocor.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Si surai merah muda menggerutu. "Apa lagi?"
"Kenapa langsung pulang kemarin?"
Kaila benar-benar penasaran dengan Lesya. Tak biasanya gadis itu langsung pulang saat bersama dengan mereka semua.
Biasanya mereka akan singgah untuk membeli cemilan. Kalau lapar sih, paling beli mie instan. Maklum masih pelajar, uang belum banyak.
"Aku kesal setengah mati kan gara-gara buku itu. Kemudian ..."
Perkataan Lesya yang sengaja ditahan itu membuat Kaila penasaran. "Kemudian apa?"
"Aku tidak sengaja melihat sekumpulan anak smp dan satu anak sd. Sepertinya dia dirundung. Dibawa ke tempat gelap soalnya. Jam segitu mana ada yang lihat kan."
Kaila mengangguk, masih mendengarkan cerita Lesya sembari membuka bungkusan roti yang dia beli tadi.
Dia tidak berbohong kalau roti yang sama persis dengan yang dimakan Lesya itu enak, jadi dia sempat membelinya tadi. Tidak sebanyak Lesya sih. Gadis itu membeli sekitar sepuluh sampai dua belas bungkus, sedangkan Kaila hanya membeli dua karena takut tidak habis dan hanya berakhir di tempat sampah.
"Aku hanya menyapa mereka kau tahu, tapi ekspresi mereka saat itu langsung pucat dan berlari tanpa arah."
Mendengar cerita Lesya yang bagian 'hanya menyapa' membuat Kaila hampir tersedak.
Iya sih cuma menyapa, tapi pasti juga dia mengulas senyum. Anak smp pun akan lari kalau melihat senyumannya yang mematikan itu.
Lesya menghela napas. "Hanya itu. Aku langsung pulang pun karena ingin makan."
"Kau meninggalkan teman-temanmu cuma karena itu?!"
"Hey, aku ingin menonton Masha and The Bear di tv, dan kemarin memang sudah waktunya tayang!"
"Kau bisa menontonnya di Youtube!"
__ADS_1
Kedua gadis itu berdiri dan sama sekali tidak mau mengalah. Lesya dengan pendiriannya kalau menonton di depan tv itu lebih bagus, dan Kaila dengan pendiriannya kalau menonton di Youtube itu lebih efisien karena bisa dibawa kemana-mana.
Keduanya benar-benar beradu mulut serta menunjuk satu sama lain. Mereka bahkan tidak sadar kalau sedari tadi ada beberapa pasang mata yang melihat semuanya.
"Daripada bertengkar, lebih baik kalian makan saja."
"Benar! Aku akan memakanmu!"
"Ayo! Siapa takut!"
"Woi woi, bukan begitu maksudnya."
Zeline masuk dan menatap mereka semua dengan gugup. "Kita semua dipanggil ke ruang guru."
Lesya yang masih berdebat dengan Kaila tentang tv atau Youtube sontak melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap tak suka.
"Apa lagi sekarang?"
"Entahlah. Mereka hanya memintaku untuk memanggil kalian semua."
Kaila memutar kedua matanya dengan malas. "Apa-apaan ini ... Dipanggil tanpa alasan?"
Lesya merapikan bungkus roti tadi dan berjalan menuju pintu keluar.
"Mau kemana?"
Lesya tidak menjawab pertanyaan Kaila, melainkan berbalik dan hanya membentuk gestur dengan kedua tangannya.
"Aku tahu!"
Sembilan orang lainnya hanya diam, tidak berniat untuk menyela perkataan apapun yang akan keluar dari mulut pemuda itu.
"Ayo kita ke sana sekali lagi!"
Kedua alisnya menukik tajam begitu Andreas berkata kalau mereka bisa menulis kesimpulan lagi kalau mereka mengunjungi tempat itu sekali lagi.
"Kau tidak punya ide lain? Masa kita harus pergi lagi," keluhnya karena jarak dari sekolah menuju museum sedikit jauh.
"Ayolah Aerylin, ini adalah satu-satunya cara!"
"Kita bisa melihat penilaian museum itu dari internet dan menambahkan sesuai apa yang kita lihat waktu itu. Selesai kan?"
Andreas terdiam. Pemuda itu tidak berkutik kala Kenzo menatapnya dengan datar. Pemuda berkacamata itu sedikit menghela napas.
"Rasanya aneh ya."
Sembilan orang yang asik dengan pikirannya masing-masing, sontak memusatkan seluruh atensi mereka kepada gadis bersurai merah muda yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Aneh kenapa?"
Lesya berjalan masuk, kemudian menutup pintu tersebut dan menguncinya. Tindakannya itu mengundang berbagai pertanyaan dari sembilan orang lainnya. Saat mereka semua mendekat karena gadis bersurai merah muda itu memberi tanda, seketika bulu kuduk mereka berdiri.
__ADS_1
"Bercak darah? Tapi siap--"
Posisi mereka saat ini ialah berkerumun dibalik pintu sembari melihat keluar. Tentunya, melalui lubang kunci dan cermin yang sengaja dipasang di atas.
Zeline sedikit mendongak untuk melihat cermin yang dia pasang saat mereka belum lama dilantik menjadi OSIS.
Kupikir tidak akan berguna ...
Hari mulai gelap dan mereka semua belum beranjak sama sekali.
"Ah, aku mendengar langkah kaki. Dari sebelah kanan," bisiknya.
Berhyl yang sedang mengintip melalui celah dibawah pintu sontak berdiri dan berbisik kepada mereka semua.
"Astaga, padahal sudah disuruh ke ruang guru. Kemana anak-anak itu?"
Lesya langsung menatap Kaila yang sedang menempelkan telinganya ke pintu.
"Itu Pak Raymond!"
"Aku tahu, diamlah sedikit bodoh."
Savier menatap mereka semua. Dia sedikit penasaran dengan bercak darah tadi. Apakah itu darah hewan? Atau mungkin ...
"Psstt--- ayo pulang sebelum ketahuan."
Mereka keluar dengan sangat hati-hati, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apapun itu.
Usai mengunci pintu ruangan OSIS, Lesya berbalik dan mengangguk kepada mereka semua.
Tepat jam 6 sore, seluruh anggota OSIS itu keluar dari area sekolah dengan perasaan yang campur aduk.
Apa yang terjadi?
Bercak darah apa itu?
Apakah ada yang mereka lewatkan?
Apa mungkin, ada siswa yang terluka sampai darahnya membekas di lantai?
Lesya menjambak rambutnya dengan kedua tangannya sendiri, tanda kalau dia muak dengan semua kemungkinan yang bermunculan di kepalanya.
"Hey, kenapa kalian berjalan ke arah sini?"
Sembilan orang yang berjalan di depannya berhenti dan menatap ke depan.
"Lah, kok ke rumah Lesya kita?"
"Ini jalannya udah di atur biar samaan apa gimana?"
"Aduh gabutnya malah ke sini."
__ADS_1
Tiga orang yang berbicara tentang ketidak sadaran diri mereka saat berjalan ke sini ialah Andreas Kenzo dan Berhyl, sisanya hanya terdiam, terlalu kaget dengan kenyataan kalau mereka berjalan di arah yang sama.