
Di sebuah dapur berukuran minimalis, dua gadis dengan surai yang berbeda nampak sibuk mengerjakan sesuatu.
Si surai merah muda dengan cekatan bergerak kesana-kemari mengambil beberapa bahan yang dia perlukan, dan gadis dengan surai cokelat di sebelahnya nampak anteng seraya mengaduk adonan di dalam loyang berukuran sedang.
"Jangan sampai kau salah menaruh garam di adonan itu," gurau Lesya setelah memperhatikan raut wajah Zeline yang sangat serius.
Zeline terkekeh pelan, sedikit menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan agar rambutnya tidak menusuk ke mata. Lesya yang peka pun membantu gadis itu dengan cara menarik lembut rambut depan Zeline dan menjepitnya menggunakan jepitan rambut berwarna hitam.
"Oh, terima kasih."
Lesya tersenyum, merespon perkataan Zeline dan mulai melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
"Ngomong-ngomong, terima kasih sudah menyetujui ajakanku dan datang kesini."
Zeline mengangguk. Kegiatannya mengaduk adonan sudah selesai dan sekarang dia tinggal mengatur bentuk adonan tersebut sesuai dengan buku resep kemudian memasukannya ke dalam oven.
"Kau tidak mengajak Kaila?"
Lesya mencicipi adonan yang dibuat Zeline. "Mhm, Kaila ingin membantu ibunya. Ya quality time bersama keluarga mungkin."
"Kenapa kau mengajakku?"
"Ayahmu yang menyuruhku kok."
Zeline terperangah. "Ayahku? Sejak kapan?"
"Yaiya masa ayahku," canda Lesya seraya membantu Zeline memasukkan adonan tadi ke dalam oven.
Sembari menunggu adonan tadi masak dan berubah menjadi kue yang enak, keduanya memilih untuk mengatur meja makan agar terlihat rapi (meskipun sebenarnya, apapun yang ada dirumah Lesya itu sudah rapi dari sananya) dan menyenangkan.
"Lesya, kau tidak mengajak Adelle? Aerylin mungkin?"
Yang ditanya menggeleng sebagai respon. "Kau tahu," ujarnya seraya menarik kursi dan duduk di dekat oven agar dia bisa melihat adonan yang mulai berubah bentuk sedikit demi sedikit, "aku sudah mengajak mereka dan yang kuterima hanyalah penolakan."
"Miris."
"Sebenarnya, tanggapanmu yang biasa-biasa saja saat berkata 'miris' itu lebih menyakitkan ketimbang penolakan mereka berdua," ujar Lesya dan berpura-pura sedikit merajuk di hadapan Zeline yang mengundang gelak tawa dari keduanya.
...🥀🥀🥀...
"Ibu, apakah semua sudah tertata dengan baik? Kupikir ini sedikit ... miring?"
Seorang wanita yang kecantikannya terpancar dengan jelas berjalan mendekat. Tangannya bergerak sesekali untuk merapikan benda yang semula diatur anak sulungnya.
"Yap dan sekarang sudah rapi."
"Keren," pujinya.
"Kaila, ibu pikir tadi Lesya mengajakmu ke rumahnya. Kau tidak mau pergi?"
Kaila menggeleng. "Tidak ibu, tadi aku sudah menjelaskannya kepada dia."
Ibunya mengangguk beberapa kali. "Ya, kalau kau mau pergi, silakan saja. Pekerjaan disini sudah selesai kan, kau bisa pergi bermain kalau mau--"
"Ibu, ini malam hari. Keluar bermain kemana maksud ibu? Bermain ayunan di taman yang lampunya mulai redup? Tidak terima kasih."
"Lagipula," katanya seraya berjalan menuju kamar, "Lesya tidak selalu harus denganku kan. Aku tidak mau seperti orang yang tidak tahu caranya berteman dan memonopoli waktunya hanya untukku saja."
Arina, ibu dari gadis bersurai biru langit itu tersenyum.
"Kaila tidak memonopoli waktu Lesya kan?"
"Iya," gumam Kaila sebagai jawaban dari pertanyaan Arina.
Wanita itu mengusap rambut Kaila dengan lembut.
"Baiklah kalau itu begitu," ujarnya kemudian berdiri dan berjalan menuju dapur.
__ADS_1
"Ibu akan memasak dulu, nanti jangan lupa panggilkan kedua adikmu ya."
"Iya ibu."
"Oh Kaila, ibu lupa bilang."
Gadis bersurai biru itu menatap ibunya, penasaran dengan apa yang akan dia katakan selanjutnya.
"Apa bu?"
"Ini," ucapnya seraya memberikan ponsel dengan warna yang senada dengan rambut anaknya. "Sepertinya ada pesan yang masuk. Entahlah, ponselmu bergetar beberapa kali."
"Siapa ya?" Kaila mengambil ponselnya dan berpikir keras sebelum menyalakan benda persegi itu.
Dipikirannya, mungkin hanya sebuah iklan yang dipromosikan lewat pesan biasa atau mungkin notifikasi yang lain. Tapi tetap saja, dia tidak kunjung menyalakan benda yang hampir dimiliki oleh semua orang itu.
"Andreas? Teman kakak?"
"!"
"Biasa dong responnya Kak."
Dua orang dengan gender yang berbeda menatapnya penuh tanda tanya. Anak perempuan yang menggunakan jepitan kecil di rambutnya itu mengulum senyum, menyikut pelan kakaknya yang masih terdiam di tempat.
"Oho, siapa itu?~"
"Bukan guru?"
Baik Kaila maupun anak perempuan lain yang merupakan adik paling bungsu diantara mereka sama-sama melongo.
Dio, adik lelaki Kaila sedikit memiringkan kepalanya, bingung dengan reaksi kedua orang yang sama gender di depannya.
"Aku salah ya?"
"Iya Dio, kau salah."
Kaila mengangguk, setuju dengan perkataan Emma.
"Jadi, kalian sedang apa? Ibu sudah memanggil kalian lebih dari tiga kali dan sama sekali tidak ada sahutan."
Kaila terdiam di tempatnya. Aduh, bau-bau dibabat sampe tulang.
"Oh, aromanya sampai sini."
Ibunya langsung berbalik dan tersenyum. "Iya kan? Ibu membuat makanan enak loh," ucapnya dengan nada yang riang.
"Kalau menurutku, mungkin nasi goreng tapi porsinya banyak. Betul tidak?"
Kaila menggeleng, tidak setuju dengan pernyataan Emma. "Menurutku, mungkin ikan yang digoreng dan ada tambahan saus diatasnya," tebaknya dan menatap Dio, meminta pendapat adik lelakinya itu tentang masakan sang ibu.
"Apapun itu pasti enak kan? Membayangkannya saja membuatku lapar."
Seketika suasana di rumah itu menjadi hangat karena perkataan yang keluar dari Dio.
Kaila tersenyum, menatap adik-adiknya bergantian kemudian menatap ibunya.
"Ngomong-ngomong Kaila ..."
"Mhm?"
"Pesan dari seseorang yang bernama Andreas nampaknya belum kau balas juga."
...🥀🥀🥀...
"Ga dibalas dong ..."
"Mentok di read doang ..."
__ADS_1
"Whatsappnya Kaila rusak mungkin ya?"
"Andreas kenapa?"
Pemuda dengan handuk yang masih berada di atas kepala itu menggeleng. "Ngga papa, lagi merenung nasib aja."
"Pake senter dong."
"Lah, apa hubungannya?"
"Biar masa depanmu cerah."
Perempatan imajiner muncul tiba-tiba. Andreas menggulung handuk yang dia gunakan tadi dan mengarahkannya seakan-akan dia siap bertarung.
"Maju kau, ku senggol sampe Dubai juga biar tahu rasa," sungutnya dengan kesal.
"Jangan marah-marah ih, kejam sangats anda."
"Najis."
Lavina menyunggingkan senyum seraya maju dan mengambil alih handuk yang digunakan Andreas. "Kau chattingan sama siapa sampai wajahmu ditekuk begitu?"
"Hanya teman ... mungkin?"
"Lah ga pasti, playboy kau ya."
Andreas mematikan ponselnya beberapa kali setelah pesan yang dia tunggu tidak masuk-masuk.
"Serius, wajahmu kusut kayak kemeja ga dicuci."
"Apasih hubungannya," keluh si pemuda. "Ga nyambung banget tahu," sambungnya seraya mengusap perut kucing gembul di pangkuannya.
"Eh, si Lava suka sama kamu ya Andreas?"
"Siapa namanya?"
Lavina memiringkan kepala sebelum memberikan handuk itu kepada Andreas. "Lava. Namanya Lava."
"KOK LAVA SIH NAMANYA!?"
"LOH KOK NGAMUK!?"
"JANGAN TERIAK WOI, UDAH MALEM!"
"BIBI JUGA TERIAK TUH!?"
Singkatnya, tiga orang dengan rambut yang berbeda itu akhirnya diam dan berakhir dengan makan bersama.
"Enak."
Andreas mengangguk seraya mengambil minum. "Udah gajian ya Bi sampe pesan makanan."
"Biasanya kan ditopang obat maag," lanjut Lavina dan kembali menelan makanan.
"Punya dua keponakan kok barbarnya ga ngotak. Udah dibeliin makanan bukannya bersyukur malah ngelunjak."
"Tapi emang abis gajian kan?," tanya Lavina dan Andreas kompak.
"Iya sih abis gajian."
"Btw makasih ya Bi."
"Masama Bibiku~"
"Lavina, adikmu emang kekurangan sel otak apa gimana?"
"Engga kekurangan Bi, tapi belum selesai kredit."
__ADS_1