Patency

Patency
35. Bola dan Bulan


__ADS_3

Surainya seakan menari mengikuti pergerakan angin. Dinginnya malam mulai menusuk secara pelan namun tak dihiraukan oleh dirinya yang masih duduk di tempat yang sama.


"Kupikir kau akan duduk di tempat yang sedikit hangat. Kau tahu kan, sekarang hari sudah gelap dan tak baik duduk lama di luar tanpa penghangat di tubuhmu."


"Kau sendiri? Kau kesini tanpa menggunakan jaket atau apapun itu kan."


"Setidaknya aku ini lelaki, aku lebih kuat darimu Lesya."


Lesya, ketua OSIS dengan ekspresi serta sikap yang baik atau bisa dibilang ramah, duduk sekitar 15 menit di atap sekolah. Jangan tanyakan alasannya apa.


"Ingin mencari angin, maksudnya apa? Di perjalanan pulang nanti kan ada angin."


Lesya memejamkan kedua matanya seraya memeluk tubuhnya sendiri. "Kau cerewet sekali ya Savier," gumamnya pelan. Gadis itu tak mengira kalau pemuda yang duduk di sampingnya akan mengomel hanya karena dirinya tidak membawa jaket atau apapun yang serupa untuk menjaga tubuhnya tetap hangat saat berada di luar ruangan.


"Kupikir kau pendiam." Kini, gadis itu yang mulai berbicara.


Keduanya masih duduk di tempat yang sama dengan topik pembicaraan yang mulai jalan kemana-mana.


Seperti, kenapa satu tambah satu sama dengan dua dan bukan tiga.


"Kita harus pulang sebelum satpam mengunci pagar."


"Mmhm? Ya, kau benar."


Savier yang sudah berdiri sontak menatap ke belakang karena merasa tidak ada pergerakan. "Berdiri Lesya, kita mau pulang."


Meski awalnya menggerutu karena tidak ingin pulang, pada akhirnya Lesya tetap berdiri dan berjalan menuju pintu yang membawa mereka ke atap sekolah.


"Ngomong-ngomong, atap sekolah ternyata menyenangkan."


"Menyenangkan kalau kau datang saat siang hari."


Lesya mendengus pelan. Langkahnya sedikit cepat ketimbang Savier. Pikirannya saat ini ialah keluar dari sekolah secepat mungkin, tanpa dilihat satpam.


"Suasana hatimu sepertinya tidak baik, kenapa?"


Si gadis dengan surai merah muda itu menatap lapangan di bawah melalui jendela.


"Yah, kau tahu ..."


Delapan jam yang lalu di aula sekolah.


"Kenapa acaranya harus jam satu siang? Panas tahu," gerutu Adelle yang mengangkat satu kotak berisi lilin kecil.


Aerylin mengangguk, setuju dengan gadis bersurai merah itu. "Kupikir acaranya akan dimulai sekitar jam sembilan atau sepuluh pagi, ternyata malah jam satu siang."


Sekolah mereka akan mengadakan acara dalam rangka ulang tahun sekolah. Atas hasil rapat yang diselenggarakan beberapa minggu yang lalu, diambil keputusan bahwa acara ulang tahun sekolah akan diadakan pada hari ini. Seperti biasa, yang mengurus dari awal sampai akhir adalah mereka-mereka yang tergabung dalam OSIS.


"Kenapa juga acaranya melenceng jauh dari tanggal yang sebenarnya?"


Kaila mengangkat kedua bahunya, bingung dengan guru-guru yang ikut dalam rapat tersebut.


"Dengar-dengar sih, ulang tahun kepala sekolah bertepatan dengan ulang tahun sekolah, jadi ya gjtu."


"CUMA ITU!?"


Lesya tertawa kecil. "Bercanda."


"Ngomong-ngomong, para lelaki yang kuminta beli kue kok belum ada ya?"

__ADS_1


Para gadis yang sedang sibuk mendekor aula itu saling bertukar pandang sebelum teman mereka yang satunya yaitu Zeline, datang dengan nafas terengah-engah sembari memegang sebuah kotak transparan berisi kue.


Keempat orang yang masih memegang berbagai hiasan di tangan itu menatap Zeline dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Maaf teman-teman, apa aku terlambat?"


Lesya menelan salivanya dengan susah payah. Ya, dibilang pun terlambat, entah mengapa aku jadi kasihan.


"Yang lain kemana Zeline?"


Yang ditanya sontak menjawab dengan nyaring.


"Mereka ada di bawah!"


Lesya tersenyum. Diletakkannya hiasan yang hendak di tempel ke atas meja dan berjalan menuju pintu keluar.


"Oh, di bawah itu maksudnya di lapangan?"


Zeline mengangguk seraya meletakkan kotak transparan berisi kue itu di atas meja. Ditatapnya pintu keluar tadi sebelum berbalik dan menjawab pertanyaan Kaila. "Ya, entah apa yang mereka lakukan di bawah. Begitu aku lewat, Andreas memberikan kotak ini kepadaku. Kalau aku tidak salah dengar, dia bilang 'ini pertarungan antara hidup dan mati!' begitu."


"Dan sekarang dia yang akan mati karena Lesya sudah pergi ke bawah sana dengan aura yang sangat menakutkan," sambung Aerylin seraya memeluk tubuhnya sendiri.


"Pasti mereka main bola," tebak Adelle. Gadis itu cukup paham perilaku mereka karena Adriell sering berkata kalau bola adalah belahan jiwa mereka sendiri, dan dapat disimpulkan kalau mereka memang bermain bola di bawah.


Gadis dengan surai merah itu perlahan mendudukkan dirinya, singkatnya melantai tanpa adanya kursi.


"Mau duduk juga susah, kursinya tidak ada," sungut Kaila yang sudah selesai dengan hiasan-hiasan di dinding.


Zeline sedikit membersihkan lantai sebelum dia duduk diatasnya. "Yang mengangkat kursi kan para lelaki."


"Dan mereka sedang melakukan sesuatu--entah apapun itu di bawah sana," sambung Aerylin dengan datar.


Dan mari kita berpindah sebentar. Gadis dengan surai merah muda serta senyuman yang menawan itu sedang menatap lurus kedepan. Disana, terpampang nyata empat pemuda dengan baju olahraga sedang asik mengoper bola ke teman satu tim mereka. Satu orang pemuda di tengah nampaknya bertugas sebagai wasit.


"Anak-anak? Bukannya kalian disuruh Lesya untuk membeli kue dan mengangkat kursi? Kenapa malah main bola disini?"


Hm? Macam suaranya pak Raymond. Apa salah dengar ya?


"Gapapa pak, kami sudah minta izin!"


Andreas bego, mana ada dia minta izin. Btw itu betulan pak Raymond ternyata.


"Oh, saya pikir kalian tidak minta izin, soalnya daritadi Lesya menatap kalian dari sana."


Tepat setelah Raymond menyelesaikan perkataannya, sebuah bola melayang dengan indah dan mendarat mulus di jidat Andreas.


"Nice shoot!"


"Nice shoot gigimu. Kalian kan kusuruh beli kue sama angkat kursi, kenapa malah main bola disini ha?," omel Lesya begitu sampai di lapangan.


"Bolanya menggoda kami Lesya," adu Adriell seraya menunjuk bola yang tadi mencium jidat Andreas.


Lesya menganggukan kepalanya beberapa kali, tidak berniat membalas ucapan Adriell atau dia akan gila sendiri.


"Cepatlah, diatas sana hanya ada mereka berempat. Kalian berlima juga disuruh baik-baik malah pergi bermain."


"Maaf," sesal Savier yang mulai mengikuti langkah kaki gadis bersurai merah muda itu.


"Kau, kenapa tidak main bola?"

__ADS_1


"Ya?"


Tunggu, bukankah tadi Lesya memarahi kami?


"A-aku tidak bisa main bola ..."


Lesya sontak berhenti dan berbalik menatap Savier. "Kau? Kelas dua SMA tidak bisa main bola?"


Yang ditanya mengangguk sebagai bentuk jawaban. "Sama sih, sans," lanjut Lesya dan mulai kembali berjalan, meninggalkan Savier yang kebingungan di belakang.


"Ciee bicara sama crush. Gimana, senang?"


Savier menyingkirkan rangkulan tangan Andreas. Meskipun mulutnya berkata tidak, raut wajahnya benar-benar tidak bisa berbohong.


Kenzo yang berada di paling belakang hanya bisa menghela napas. Kisah percintaan Lesya sesungguhnya lebih rumit daripada mereka semua.


Kembali ke waktu yang sebenarnya.


"Maksudku, kau merajuk karena kami? Ah, memang salah kami sih."


Lesya menggeleng. "Sebenarnya sih aku tidak merajuk, tapi kau yang mengatakannya duluan dan sekarang aku akan merajuk."


"Jangan merajuk, aku tidak tahu cara membujuk orang," celetuk pemuda itu tanpa menatap lawan bicaranya.


"Ya anggaplah sekarang kau belajar membujuk orang yang merajuk. Tidak masalah kan?"


Keduanya kini berada di depan sekolah. "Baiklah Savier, sekarang kau harus pulang."


Pemuda dengan surai hitam keabu-abuan itu mendadak menatap ke arahnya. "Kenapa? Kau mau kemana?"


"Tanya satu-satu bisa kan," cibir Lesya kepada Savier yang menatap penuh tanda tanya ke arahnya.


"Aku ingin pergi bekerja."


"Malam-malam begini? Kau kerja apa?"


"Bercanda Savier."


Gadis itu berjalan dengan cepat menuju halte terdekat. Savier yang melihat itu pun mengikuti langkah kaki Lesya dengan cara berlari kecil beberapa kali karena takut ditinggal.


Dia menatap dalam-dalam punggung si gadis yang dekat dengannya itu.


Savier menunduk sejenak. Keduanya duduk sembari menunggu bus yang akan datang.


"Savier, apakah ada yang kau suka di sekolah kita?"


"A-apa? Aku tidak ..."


Si pemuda yang tadi mengangkat pandangannya sontak memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai menjalar dengan cepat.


"I-itu ... mmhm ..."


Lawan bicaranya sedikit memiringkan kepala ke sebelah kiri. "Aku hanya bertanya Savier, sikapmu yang malu-malu itu seperti kau menyukaiku saja," kekeh Lesya pelan, sedikit bergurau untuk memecah suasana yang perlahan hening di antara mereka.


"Ah, busnya datang."


Sekali lagi, pandangannya tertuju kepada punggung si gadis bersurai merah muda itu. Savier berani bersumpah kalau cahaya bulan seakan-akan hanya menyoroti gadis itu.


Ketika bilah bibirnya terbuka seperti hendak menyampaikan sesuatu dalam diam, Lesya dengan cepat berbalik dan tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


Saat itu, senyum dari gadis dengan paras menawan di depannya seakan-akan mampu menghentikan waktu.


Tanpa sadar, pemuda itu pun ikut tersenyum tepat ketika semilir angin memainkan surai keduanya.


__ADS_2