Patency

Patency
Bab 16, Patah hati.


__ADS_3

[□][□][□]


Kaila memutuskan untuk pulang lebih cepat. Teman-temannya sangat menyayangkan tentang dirinya yang langsung pulang dan tidak pergi ke taman bermain bersama mereka, tapi perasaannya benar-benar tidak enak, sepertinya sesuatu akan terjadi, atau sudah terjadi.


Begitu dirinya sudah berada didepan rumah, perasaan tidak nyaman mulai merajalela. Biasanya, kedua adiknya akan langsung berteriak dan menerjang dirinya ketika sudah sampai dirumah. Kini, suara kedua adiknya tidak terdengar, padahal keduanya merupakan anak yang aktif dan suaranya benar-benar kuat sampai bisa terdengar di luar rumah.


Kaila melihat kesekelilingnya. "Baiklah, kalau memang ada apa-apa, aku tidak akan menahan diri..."


Begitu tangannya hendak membuka pintu masuk, suara dari dalam rumah mengagetkannya. Kaila yang memang sudah yakin dengan penyebab semua ini langsung membuka pintu itu, dan mendapati sesuatu yang membuat darahnya mendidih.


Didepan sana, kedua adiknya saling berpelukan dan menangis, sedangkan ibunya mati-matian memegang kotak yang mana itu adalah tempat uang mereka disimpan untuk sementara.


Tanpa diberi tahu pun, gadis bersurai biru itu tahu, siapa yang ada didepannya. Maka, tanpa pikir panjang dia pun masuk dan menampar orang itu.


Ibunya terkejut. Bukan terkejut karena suara tamparan yang begitu keras dan nyaring, tapi terkejut karena putrinya begitu berani dan maju untuk menampar orang yang berusaha mengambil uang mereka.


"Mundur ibu, orang ini tidak tahu diri dan tidak punya otak. Kalian juga, mundur cepat. Jangan biarkan kalian berada dalam jangkauannya," perintahnya. Kaila tahu kalau satu tamparan masih belum cukup untuk orang didepannya, dan jika dia akan melayangkan serangan yang sama, pasti itu akan terbaca dan tidak mempan lagi untuk orang itu.


Kedua adiknya dengan cepat berlari ke belakang Kaila dan ibunya, sambil sesegukan keduanya memegang ujung kaus ibunya dan berusaha agar tidak berada dalam jangkauan orang itu.


Usai memastikan semua berada di belakangnya, Kaila kembali fokus kepada pria didepannya. "Entah terbuat dari apa isi kepalamu itu. Kau meninggalkan kami demi wanita kaya, lalu kau kembali?."


Kata demi kata yang diucapkan oleh Kaila tentunya bukan kata yang dirangkainya sendiri. Itu adalah fakta. Fakta dimana ayahnya meninggalkan mereka semua demi wanita kaya yang muncul tak lama di hidupnya. Hanya beberapa hari wanita itu muncul dan ayahnya pergi meninggalkan mereka yang masih membutuhkan uluran tangan seorang ayah.


Kaila menggertakkan giginya. Tidak, dia tidak boleh terlalu larut dalam amarah. Dia harus mengusir orang didepannya dengan halus agar ibunya tidak khawatir padanya. Tapi bagaimana caranya?


"Kaila, anakku. Kau tidak merindukan ayahmu ini?. Ayah, ayah sudah salah dan ingin memperbaiki kesalahan ayah. Tidak bisakah kau memberi ayah kesempatan?," lirihnya, berusaha mengambil hati Kaila. Dia sangat yakin kalau gadis kecilnya yang kini sudah tumbuh menjadi cantik itu pasti akan luluh.


"Berharaplah sampai kapanpun. Kesempatan itu tidak akan pernah menghampirimu, bahkan didalam mimpi sekalipun!."


Pintu ditutup. Kaila berhasil menyeret keluar pria itu, kemudian menutup pintu dengan sangat keras dihadapannya. Entah itu akan membuatnya jera atau tidak, Kaila berharap dia segera pergi.


Ibunya memeluk mereka semua secara bergantian. Dapat Kaila rasakan kalau tangan ibunya sedikit gemetar.


"Semuanya baik-baik saja," katanya. "Kalian sekarang aman, lagipula Emma, kenapa kau tidak menelponku?. Kau punya ponsel kan?. Dio juga, bahkan ibu. Kalian semua punya ponsel, kenapa tidak menelponku?."


Emma, adik terakhir Kaila tersenyum, menampilkan sederet giginya yang putih bersih meskipun air matanya masih sedikit bercucuran. "Ponselku sedang diisi daya, ponsel kakak dan ibu diletakkan di kamar. Kami tidak sempat mengambilnya."


Dio, adik pertama Kaila masih menangis sesegukan. "Ka-kalau saja aku mengunci pintunya seperti yang dikatakan kakak kepadaku, a-ayah pasti tidak akan bisa masuk danmenyakiti ibu."


Kaila tidak mengatakan apapun. Demi nilai Lesya yang selalu tinggi di sekolah, adiknya benar-benar imut!.


Sudut matanya yang sembab, hidungnya yang agak memerah, serta suara yang dikeluarkannya akibat menahan tangis. Ya, secara tidak langsung, Kaila berubah menjadi Lesya yang selalu bisa mendeskripsikan seseorang.


Meskipun ibunya terus berkata kalau dia tidak apa-apa, nyatanya, pergelangan tangan ibunya sedikit memerah. Kaila mengetahui hal itu. Ibunya tidak pandai menyembunyikan sesuatu, dan Kaila sangat pandai untuk menemukan apapun itu.


"Ah, bagaimana kabar temanmu itu?. Siapa namanya ya, ibu lupa. Zel? Zeli?."


"Zeline. Dia baik-baik saja dan besok akan masuk sekolah. Ujian juga sudah dekat kan. Sayang kalau dia tidak masuk."


Ibunya mengangguk beberapa kali. "Lalu, kenapa kau sudah pulang?."


Kaila berdeham. "Yah, suara hatiku berkata kalau aku harus pulang, dan aku pun menurutinya."


Dio, anak itu mengusap air matanya dan menatap Kaila. "Kak, bukannya kau harus bekerja?."


Emma menatap Kaila, penasaran dengan jawaban gadis berusia tujuh belas tahun itu. "Tidak Dio, aku tidak bekerja setiap hari. Aku bekerja selama beberapa hari dalam seminggu, atau ketika tempat kerjaku benar-benar membutuhkan pekerja. Aku akan datang," jelasnya panjang lebar.


"Aku, aku juga ingin bekerja sepertimu, Kak!."


"Tidak." Kaila langsung membantah mentah-mentah permintaan antusias anak lelaki itu. Raut wajahnya yang tadi sangat bersemangat, kini berubah menjadi sangat muram.

__ADS_1


"Kenapa?," tanyanya dengan lirih. "Padahal kalau aku ikut bekerja, uang yang didapat lebih banyak dan Kakak juga tidak le--Aduh!."


Kaila menyentil dahinya. Tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk membuatnya mengaduh kesakitan. "Tugasmu adalah belajar, umurmu juga belum cukup. Mau kerja apa kau dengan tenaga seperti itu?," cibirnya di akhir kalimat.


Emma yang bosan dengan pemandangan didepannya, lantas pergi kedapur untuk menyusul ibunya. "Ibu, ibu ada makanan apa untuk malam nanti?."


Ibunya lantas menghentikan kegiatannya. "Apa ya ... rahasia deh, Emma."


Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya sesaat, kemudian tersenyum lebar sampai kedua matanya membentuk bulan sabit.


[□][□][□]


"Oh, itu dia!. Kaila!, disini!."


Si surai biru langit itu mendengar suara yang memanggilnya. Ketika dia berbalik, gadis bersurai merah muda tengah mengangkat tangannya di tengah keramaian.


Lesya mengulum senyum. "Kaila, kenapa kau kemarin langsung pulang?. Apakah terjadi sesuatu?."


Kaila sadar kalau pertanyaan Lesya hanyalah pancingan baginya. Bagaimanapun, gadis itu pasti sudah tahu masalah kemarin, entah dia tahu darimana. Yang pasti, Lesya sudah tahu dan ingin mendengarnya dari mulut Kaila sendiri.


"Pria itu datang."


Tidak perlu penjelasan yang lebih tentang siapa pria yang dimaksud Kaila. Lesya tahu dan cukup peka akan masalah yang dihadapi oleh setiap anggota OSIS, salah satunya adalah Kaila


Keduanya larut dalam perbincangan. Suasana kantin siang itu benar-benar ramai, tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka sangking ramainya. Jadi, Kaila bebas mengutarakan kejadian kemarin kepada Lesya.


"Ngomong-ngomong, dimana yang lainnya?."


Lesya masih mempertahankan senyumannya. "Mereka dipanggil ke ruang guru. Diantaranya adalah Andreas, Kenzo, Aerylin, Berhyl, dan Adelle."


Kaila menatap gadis didepannya dengan tatapan datar. "Kenapa lagi mereka?. Langganan sekali kayaknya dipanggil ke ruang guru. Kemarin-kemarin dipanggil karena nilai rendah, sekarang apalagi?."


Lesya menatap bungkus roti didepannya. "Yah kau tahu, ketika yang satu melakukan kesalahan, entah bagaimana yang lainnya pun ikut terseret masalah itu."


Lesya bertepuk tangan. "Tepat sekali. Lebih tepatnya, mereka menghancurkan hiasan kelas, lagi. Kali ini hiasan di ruang kelas tiga, dimana itu dibuat oleh pengrajin terkenal."


Kaila tidak tahan untuk tidak menyambung ucapan Lesya. "Iya terkenal. Terkenal akan kebohongannya. Aku tahu cerita itu. Wali kelasnya benar-benar tidak tahu diri. Main hutang sana-sini dan akhirnya melimpahkan semuanya kepada OSIS. Sialan, mengingatnya membuatku makin sakit hati."


Lesya tertawa. "Yah, itulah kasus mereka kali ini."


"Sialan, mereka berlima terlalu banyak membuat kesalahan. Dosa sudah segunung, ditambah pula dengan kasus di sekolah."


Lesya yang pada dasarnya adalah orang yang gampang tertawa, tidak henti-hentinya tertawa ketika mendengar perkataan Kaila. "Kupikir, selera humormu semakin baik ya Kaila?."


Si surai biru itu mengangguk. "Cepat makan Lesya, lalu temani aku ke toilet."


"Badan doang yang gede, ke toilet aja masih suruh temenin."


[□][□][□]


Lesya sialan. Disuruh temenin malah pergi duluan. Emang sialan betul merah muda ngambang itu. Lihat saja, ku makan semua snacknya nanti--


"Kak Andreas!."


Mmhm?


Kaila langsung keluar dari toilet begitu selesai. Dia penasaran dengan teriakan siswa perempuan, apalagi dia meneriakkan nama Andreas. Ada apa dengan dia?. Kenapa meneriakkan nama pemuda itu?. Tidak tahukah dia kalau Andreas adalah pemuda yang suka menyatakan cinta secara blak-blakan kepada siapapun?.


Kaila mencuri dengar pembicaraan mereka. Dia menempelkan badannya ke dinding dan sebisa mungkin, tidak terlihat oleh mereka berdua.


"Ini benar-benar gawat. Sejak kapan aku mencuri dengar pembicaraan orang begini?," gerutunya dengan suara yang sangat pelan.

__ADS_1


Gadis itu melihat lurus-lurus kedepannya. "Hm, aku tidak bisa mendengar suaranya dengan jelas. Apakah aku harus mendekat lagi?," tanyanya kepada diri sendiri.


Menyadari sesuatu, Kaila menggerutu."Ck, bodoh. Nanya kok sama diri sendiri."


Kaila yang penasaran pun mendekat, dan berusaha untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.


Perbincangan sebelumnya tidak dapat didengar Kaila karena suara mereka berdua benar-benar kecil.


"Kalau tidak dapat didengar lagi, aku akan pergi--


"Kumohon, jadilah pacarku!."


Hening. Baik Kaila ataupun Andreas tidak mengeluarkan suara selama beberapa detik. Keduanya terkejut dengan pernyataan atau lebih tepatnya ajakan pacaran oleh adik kelas. Bayangkan teman-teman, adik kelas!. Adik kelas menyatakan perasaannya kepada kakak kelas yang notabenenya selalu menyatakan cinta secara blak-blakan, kepada siapapun kau tahu!.


Kaila yang tidak tahan akan suasana yang membuatnya mendidih, memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


Sayang bagi Kaila karena pemuda yang baru saja diajak pacaran oleh adik kelas itu melihat dirinya.


Surainya bergerak seringan kapas, tentu Andreas sempat melihat pergerakannya.


"Baiklah nona, kupikir latihanmu cuma sampai disini, kan?."


Adik kelas itu mengangguk sembari memasang senyum. "Terima kasih."


Fokus utamanya sekarang adalah mencari gadis bersurai biru langit. Pasti gadis itu salah mengira kejadian tadi dan mulai menjauhinya. Tidak tidak, itu tidak boleh terjadi. Andreas menyukai Kaila, setidaknya biarkan Kaila mengetahui perasaannya yang sebenarnya, barulah gadis itu bisa menjauhinya.


"Ah, itu dia."


Disana, tepat didepan sana, gadis yang sedari tadi dicarinya sedang duduk sendiri. Kalau kalian mau tahu dimana tempatnya, akan kuberi tahu. Kaila berlari entah kemana dan menemukan pintu atap yang tidak dikunci. Dipikirnya, Andreas tidak melihat dirinya yang berlari, jadi pasti pemuda itu tidak akan kepikiran untuk pergi ke atap.


Andreas tersenyum. Gadis didepannya ternyata cukup polos. Sampulnya saja yang garang. Aslinya dia lembut dan benar-benar seperti anak kecil yang baru mengenal dunia.


"Mengeluh sendirian disini tidak akan membuat hidupmu berubah lho."


Kaila terkejut. Sosok yang sedari tadi ingin dihindarinya mendadak muncul!. Gadis itu hendak berdiri, namun ditahan oleh Andreas. "Kau, yakin tidak salah dengar yang tadi?,"tanyanya penuh harap.


Kaila mengangguk. "Aku mendengarnya dengan jelas. Jadi, pergilah dan jalan-jalan sana dengan pacarmu."


Pemuda itu tersenyum semakin lebar. "Tapi aku tidak menyukainya. Bagaimana dong?."


"Kau menyukainya atau tidak, itu bukan urusanku sialan."


Andreas ingin meluruskan segala kesalahpahaman ini, jadi dia berusaha untuk bicara baik-baik dengan Kaila. Salah langkah sedikit, bisa-bisa dia pulang dengan wajah yang memar karena dipukul.


"Kau tahu, seorang adik kelas mendatangiku dan meminta bantuan."


Kaila tidak berkata apa-apa. Hati dan pikirannya saling bertolak belakang mengenai pilihan untuk langsung lari tanpa mendengar penjelasan Andreas, atau tetap duduk dan mendengar sampai habis.


"Adik kelas itu berkata, bisakah kau membantuku dalam drama?. Aku sedikit gugup dalam kalimat ini, jadi aku ingin meminta bantuan seseorang."


Kaila tidak tahan untuk tidak menanyakan pertanyaan di pikirannya. "Lantas kenapa harus kau?. Bukankah dia bisa meminta bantuan kepada orang lain?."


Andreas mengangguk. "Aku tepat berada diluar ketika dia keluar dari toilet. Aku bisa apa?. Aku mana tahu kalau kau mendengar pembicaraan kami."


Kaila bisa merasakan kalau pipinya perlahan menjadi panas. Dia malu. Dia malu karena sudah berpikir yang tidak-tidak.


Bodoh bodoh. Perasaan mulai membutakan akal sehatmu Kaila!!.


"Huh, lantas apa maumu sekarang?," tanyanya, berusaha menahan detak jantungnya yang mulai tak beraturan.


"Yah, kau harus tahu bahwa aku benar-benar tulus menyukaimu. Aku menyukaimu bukan karena fisik, tetapi karena sifatmu, pendirianmu, dan segala yang ada padamu. Itu membuatku menyukai dirimu, Kaila."

__ADS_1


Gadis itu menatap dalam-dalam ke matanya. Kaila berusaha mencari celah, tidak ada yang tahu kalau dia hanya memainkan candaan kan?.


Tapi Kaila tidak menemukan itu. Andreas benar-benar tulus ketika menyampaikan perasaannya. Hatinya mulai luluh. Dia bingung, harus memberi respon apa untuk Andreas?.


__ADS_2