
[□][□][□]
Sumpah serapah mewarnai perjalanannya ke sekolah. Jangan salahkan dirinya, salahkan berbagai kesialan yang menimpa dirinya. Jatuh dari tempat tidur, shampo yang mendadak habis (kebetulan kakaknya baru saja membeli shampo yang baru dan lupa menggantinya), dan dasinya yang kena tumpahan parfum milik Alland, kakaknya yang terkasih.
Alfred hanya bisa berdoa dalam hati, semoga tidak ada kesialan yang menimpa dirinya dalam perjalanan menuju sekolah.
Tentu saja, ekspektasi tidak selalu sesuai dengan realita, kan?.
Dari jauh, Alfred bisa melihat bangunan sekolahnya, serta jalanan yang sepi. Namun ketika dirinya bersiap untuk menyeberang, mendadak berbagai kendaraan lewat dan yah, dirinya pun merasa kalau ini adalah bentuk kesialan.
"Terobos ngga ya.."
Tidak tidak, itu bukan ide yang bagus, pikirnya. Begitu dia menyeberang dengan segala kecepatan yang tak terhingga, mustahil dia bisa sampai dengan selamat. Yang ada nanti, akan ada berita yang menyampaikan bahwa seorang siswa SMA meninggal karena tidak ingin terlambat masuk sekolah.
"Auh, aku tidak mau mati sia-sia seperti itu."
Mengedarkan pandangannya ke lain arah, Alfred menemukan seorang pria yang berdiri. Pria itu tidak melakukan gerakan yang mencurigakan. Dia hanya berdiri disana, entah menunggu apa.
"Wop, holang kaya nih pasti. Lagi nunggu jemputan trus mobilnya yang panjang kek dosa. Yakin aku."
Sayang bagi Alfred karena dia tidak bisa melihat apakah pria tadi betul-betul naik mobil yang panjang itu atau tidak.
Didepan sana, gerbang mulai ditarik oleh satpam dan mau tidak mau, untuk menghindari hukuman pertamanya di sekolah baru, Alfred harus bergegas bukan?
Tenang, dia tidak akan mati karena ditabrak kendaraan saat menyeberang. Ketika dia hendak berlari, kendaraan terakhir lewat dan pouf! Jalanannya langsung sepi.
Tanpa pikir panjang, Alfred langsung berlari dan masuk ke dalam sekolah.
Ya, bagi Alfred, sepertinya kesialan itu sudah pergi.
Baru saja dirinya ingin membuka pintu kelas, sebuah suara masuk menyapa pendengarannya.
Tuh kan, baru aja mau masuk ke kelas, udah sial.
Butuh waktu sekitar dua menit bagi pemuda itu untuk melihat siapa yang memanggilnya.
"Lekas masuk sebelum kau disebut terlambat. Ah, memang terlambat sih, tapi gurunya belum masuk."
Netranya melebar. Bukan, itu bukan guru. Itu adalah Zeline!
Ya, Zeline. Salah satu anggota OSIS yang sering bersama-sama dengan gadis bersurai pink. Ah sebenarnya, semua anggota OSIS memang selalu bersama-sama dengan gadis itu sih. Setidaknya itu yang diperhatikan Alfred ketika dia pindah ke sekolah ini.
Semua anggota OSIS, sering bersama-sama dengan Lesya, entah itu mereka semua, atau hanya satu dua orang.
"Hey, mau sampai kapan kau berdiri disitu? Kelas sudah mau dimulai, lekas masuk."
Alfred yang tadinya asik melamun, langsung masuk begitu mendapat teguran dari salah seorang guru.
[□][□][□]
Sekiranya sudah dua jam sejak bel sekolah berbunyi. Dirinya bisa saja untuk pulang sendiri, jika saja ayahnya tidak menyuruh dia untuk menunggu.
Sekarang hujan dan segalanya menjadi buruk di mata Zeline.
Jalanan yang basah serta air deras yang turun dari langit, membuat gadis itu berpikir dua kali untuk pulang sendiri.
Berbagai bentuk pertanyaan mulai timbul didalam pikirannya. Bagaimana jika air hujan bisa membuatnya terbang? Bagaimana jika air hujan yang mengenai tubuhnya akan mengakibatkan kedua kakinya tidak bisa digunakan? Dan bagaimana semua pertanyaan itu bisa terjawab?
"Zeline? Belum pulang?"
Yang dipanggil berbalik dan mendapati eksistensi seorang pria berumur sekitar 30-an sedang berdiri memegang payung dan tersenyum kepadanya.
Tipikal guru yang baik, menurut Zeline.
Gadis bersurai panjang itu mengangguk beberapa kali sebagai jawaban.
Guru itu, Raymond namanya, adalah guru yang diidam-idamkan Lesya karena sifatnya, parasnya, dan segala yang ada padanya.
Zeline memaklumi itu, karena dia pun mengakui kalau guru didepannya benar-benar sesuai dengan segala pujian yang dilontarkan oleh Lesya.
Menyadari adanya kecanggungan diantara mereka, Raymond memutuskan untuk undur diri.
Zeline mengangguk-sekali lagi-dan jemputan miliknya pun datang.
"Lekas naik dan mari kita pulang."
Sepertinya, kegiatan menganggukan kepala mulai menjadi kebiasaannya. Sebagai respon atas ucapan ayahnya, Zeline cepat-cepat naik ke dalam mobil. Keadaan di dalam mobil benar-benar hening. Tidak ada diantara mereka berdua yang berniat untuk membuka pembicaraan.
Zeline tidak mengharapkan adanya pembicaraan yang serius. Pembicaraan yang santai saja. Seperti, apa kabarmu? Bagaimana hari ini? Apakah ada kejadian yang menyenangkan hari ini?
"Aku mendengar kalau nilaimu turun."
__ADS_1
"Nilaiku baik-baik saja. Ayah bisa memastikannya ketika penerimaan hasil nanti."
Ario-ayah Zeline-memandang lurus-lurus kedepan. Keduanya disambut keheningan yang panjang selepas Zeline menjawab pertanyaannya dengan seulas senyum diakhir.
Pria itu mencuri-curi pandang ke arah Zeline, dimana Zeline sendiri masih mempertahankan senyumannya.
Tidak ada emosi didalam senyumnya. Bahagia, sedih, marah, apapun itu, Ario tidak dapat menemukannya didalam senyum Zeline.
[□][□][□]
"Aduh aduh, anak kecil ini mau kemana ya?"
Dengan cepat gadis itu berbalik dan mendapati seorang pemuda tengah tersenyum-lebih tepatnya senyum yang menyebalkan-kepadanya.
Gadis itu tidak menghiraukannya dan berjalan lebih cepat.
"Ah, kenapa kau berjalan lebih cepat? Tunggulah aku--"
"Diam ya Alfred si tuli, aku lelah menghadapi dirimu yang kebodohannya merajalela," sungutnya.
Alfred tetap mempertahankan senyumannya. "Aiya jangan marah-marah Nalea, nanti kau cepat tua lho~," ucapnya dengan penuh penekanan pada kata tua.
Keduanya berjalan beriringan, entah menuju ke mana.
Nalea sontak berhenti dan menatap Alfred. "Tunggu, kenapa kau disini?!"
"Tentu saja untuk mengambil barangku yang ketinggalan. Tertinggal di kamar waktu karyawisata itu lho."
Nalea menganggukkan kepalanya beberapa kali. Gadis itu kaget karena jarak dari sekolah Alfred dan rumah dimana pemuda itu menginap selama karyawisata sedikit jauh dan tiba-tiba saja, Alfred sudah berada didekatnya.
Nalea sempat berpikir kalau tadi dia salah mendengar suara, tapi ternyata tidak.
Tentu saja ketika Nalea menyadari bahwa Alfred ada bersama-sama dengannya, jarak mereka dengan rumah tidak terlalu jauh alias hampir sampai.
Entah apa yang merasuki dirinya, Alfred tiba-tiba mengingat suatu kejadian dan ingin menceritakannya kepada Nalea.
Dipandangnya gadis itu dari belakang. "Hey hey, coba dengar ini," ucapnya.
Nalea yang pada dasarnya adalah orang yang penasaran, langsung berbalik dan menatap Alfred."Baiklah. Cerita apa yang kau punya?."
Nalea menghentikan Alfred yang tengah bercerita."Maksudmu, ada seorang pria yang pulang menggunakan mobil yang panjangnya kayak dosa? Begitu?"
Alfred menggeleng."Bukan bukan, maksudku itu, dia pasti holang kaya yang pulangnya pake mobil sepanjang dosa."
Nalea iya-iya saja ketika Alfred menjelaskan arti dari perkataannya tadi. Kini, keduanya berpisah karena Nalea pergi ke kamarnya, dan Alfred naik ke lantai dua untuk mengambil barang(entah apa itu) yang tertinggal.
Beralih ke tempat Nalea sekarang, gadis itu tengah menggerutu karena suatu hal.
Iyap, suatu hal. Alat-alat untuk menggambar miliknya semua sudah rusak. Sebenarnya, gadis itu bisa menggambar dengan baik, asal niatnya benar-benar ada.
Tapi untuk kasus kali ini, semua (catat ya, semuanya) alatnya benar-benar rusak.
Diantaranya, ada yang patah dan ada yang tinggal sedikit karena habis digunakan.
"Duh, malas mau beli, tapi kalo gak beli, gambarnya pake apa? Kan gak lucu kalo gambar pake kasih sayang."
Lima menit dihabiskan Nalea untuk berdebat dengan pikirannya sendiri. Merasa bahwa pergi membeli peralatan yang baru adalah solusi terbaik, maka dirinya pun hendak bersiap-siap untuk pergi membeli barang itu.
"Eh tunggu, terakhir kali aku pergi kan tahun lalu..."
Ya, Nalea sang gadis yang hobinya menggambar, pundung di pojokan karena lupa jalan untuk pergi ke toko.
"Nalea?"
Yang dipanggil menoleh ke arah suara. "Ya?"
Hening. Tidak ada sautan dari balik pintu, membuat Nalea berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke arah pintu.
"Sia--oh, Alfred. Kenapa?," tanyanya begitu melihat Alfred berdiri didepannya.
Alfred menatap Nalea lurus-lurus. Bilah bibirnya terbuka beberapa kali, kemudian tertutup, begitu seterusnya sampai Nalea ingin membuang pemuda itu kemana saja.
"Apa sih?"
Alfred memandang ke bawah, kemudian menatap lawan bicaranya sebentar. "Mau pergi bersamaku? Kita bisa pergi ke toko untuk mencari alat gambar."
Nalea tidak menjawab pertanyaan Alfred. Entah, mungkin masih kaget karena ajakan dari pemuda itu. "Kau? Kau melihat kesini tadi ya?!"
Dan detik selanjutnya, Alfred berusaha lari dari kejaran Nalea yang dengan ganas melempar segala benda yang ada didekatnya.
__ADS_1
[□][□][□]
Hujan benar-benar tidak berhenti sejak dirinya memasuki area rumah. Kini, gadis bersurai sepanjang punggung itu tengah duduk, bersiap untuk makan karena ayahnya sudah memanggil.
Ngomong-ngomong, sekarang hari sudah gelap. Sekiranya sudah jam tujuh malam, dan sekarang ayahnya belum turun untuk makan bersama.
Zeline memainkan ujung tali celana yang dikenakannya. Celana panjang berwarna biru muda, dan dipadukan dengan atasan berupa kaus yang sedikit longgar.
Bunyi langkah kaki memecah keheningan. Didepan sana, ayahnya baru saja duduk dan bersiap untuk mengambil makanan.
Baru saja Zeline ingin mengambil makanan didepannya, suara lain menyambutnya. "Apakah kau masih bergaul dengan teman-temanmu yang itu?"
Zeline memegang erat-erat sendok yang dipegangnya. "Ya. Aku masih bersama-sama dengan mereka."
Ario memandang tak suka. "Bukankah sudah kukatakan kalau jangan bergaul lagi dengan mereka?"
Lidahnya kelu. Itulah yang dirasakan Zeline ketika ayahnya mulai bicara tentang teman-temannya. Iya, siapa lagi kalau bukan anggota OSIS, salah satunya Kenzo, pacarnya.
Masih ingat kejadian saat karyawisata? Disaat itulah Kenzo menyampaikan perasaannya kepada Zeline.
Gadis itu menerimanya, dan sejak itu keduanya mulai berpacaran, tanpa sepengetahuan ayahnya.
"Berhenti bersikap seperti anak-anak Zeline. Kau sudah dewasa."
"Tidak. Aku belum dewasa," bantahnya, tidak peduli apa ayahnya akan marah atau tidak.
Ario menatap Zeline lurus-lurus. "Ulangi perkataanmu."
"Aku, belum, dewasa." Zeline benar-benar menekan setiap suku katanya. Kali ini, dirinya harus mengutarakan segala masalahnya.
Ayahnya menanggung semua biaya hidupnya, tapi sama sekali tidak memperhatikan pertumbuhannya. Ya, Zeline mengalami itu. Disaat anak lain bermanja-manja dengan orang tua mereka, gadis itu hanya bisa memandang dari kejauhan, kemudian pergi.
Zeline bahkan mempunyai teman ketika dia masuk smp, itupun karena mereka satu kelompok.
Bisa dipastikan jika tidak ada kerja kelompok di waktu itu, maka Zeline tidak mempunyai teman.
"Apakah aku tidak pernah mengajarimu sopan santun?"
"Ayah bahkan tidak pernah memperhatikanku."
Baik, kali ini Ario benar-benar menatap dengan penuh amarah karena berani membantahnya daritadi.
Sedangkan Zeline, dia tidak menatap ke arah ayahnya. Gadis itu menunduk, berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Selama aku hidup, aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah."
Hening. Ario tidak menyela atau membantah perkataan Zeline.
Gadisnya masih berusaha untuk mengatur napas, dan Ario masih menunggu perkataan Zeline selanjutnya.
Dilihat-lihat, anak semata wayangnya benar-benar sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik.
Surainya yang lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya, Ario benar-benar baru memperhatikannya sekarang.
Pertumbuhan anaknya sendiri tidak dia saksikan.
Kembali kepada gadis kesayangan kita, Zeline. Disana, dia sedang berusaha untuk mengatur agar tidak menangis. Tenggorokannya sedikit sakit ketika berusaha agar tidak mengeluarkan suara saat menangis.
Didalam benaknya, muncul ingatan dimana anak-anak seusianya saat smp sedang menunggu orang tua mereka untuk datang menjemput.
Kejadian itu tiba-tiba melekat sempurna didalam ingatannya.
Bayangan tentang bagaimana respon ayahnya ketika dia pulang sembari menggenggam kertas ujian dengan nilai sempurna diatasnya benar-benar berhasil membuat air matanya meluncur bebas.
Tidak dipedulikannya ayahnya yang duduk diujung sana.
Hatinya benar-benar sakit ketika memikirkan kembali, bagaimana dirinya di masa lalu yang membutuhkan kasih sayang seorang ayah dan ternyata, seluruh ekspektasinya tidak sesuai dengan kenyataan.
Kenyataan bahwa ayahnya hampir tidak pernah menatap dirinya dengan penuh kasih, atau sekedar menanyakan kabar.
Tidak ada satupun diantara itu. Asal dirinya bisa menjadi yang terbaik, itu akan membuatnya dianggap.
"Aku bahkan dilarang berteman dengan mereka. Lantas dengan siapa aku bisa berbagi cerita?," tanyanya dengan air mata yang mengalir.
Zeline tidak mempedulikan air matanya yang terus mengalir, ditambah dengan ayahnya yang hanya menatap dari ujung sana, tanpa mengeluarkan suara apapun.
"Apakah aku masih menjadi prioritasmu? Apakah aku masih ada didalam doamu? Apakah ada?"
Ario tidak membantah atau menyela perkataan Zeline. Dibiarkannya gadis itu menangis dengan napas yang sedikit tertahan. Dirinya tahu betul kenapa Zeline menangis. Dia mencurahkan segala kesedihannya selama ini, dan itu semua karena dia, ayahnya sendiri.
__ADS_1