Patency

Patency
Bab 18, Makan malam.


__ADS_3

[□][□][□]


Hari ini jadwal piketnya. Berhyl sedang mengunci ruang kelas ketika Aerylin muncul secara tiba-tiba di belakangnya.


"Berhyl."


"Astaga kaget!."


Gadis itu menatap Berhyl dengan polos. Pemuda yang hampir saja menjatuhkan kunci kelasnya itu hanya bisa menghela napas pelan. "Ya Aerylin. Ada apa hm?. Kenapa kau muncul tiba-tiba seperti itu?."


Aerylin menggeleng. "Yah, kau tahu. Keluargaku mengundangmu untuk makan malam dirumahku."


Berhyl mengangguk. "Oh ... makan malam. Tunggu, makan malam dimana?!."


Kali ini gantian Aerylin yang mengangguk. "Ya, aku bercerita kepada keluargaku tentangmu, dan mereka setuju untuk mengajakmu makan malam, hari ini. Tentunya kalau kau tidak sibuk atau memiliki acara lain."


Berhyl langsung mengiyakan ajakan Aerylin tanpa pikir panjang. "Ya, baiklah. Aku akan kesana. Jam berapa ya?."


"Sekarang saja."


"Ya?."


Berhyl ingin memastikan kalau pendengarannya tidak rusak. Tolong, perkataan Aerylin benar-benar membuatnya kaget luar biasa. Mengundangnya?. Makan malam dirumahnya?. Apalagi, atas ajakan keluarganya?. Tadi malam dia makan apa sampai mendapat kabar ini?.


"Kau tidak perlu takut karena keluargaku dan aku adalah manusia. Kami tidak menggigit," katanya dengan nada yang datar.


"Ya, siapapun juga tahu kalau kalian adalah manusia."


Pemuda itu menghela napas, lagi. Dia tidak bisa mengontrol dirinya, alhasil pemuda itu tanpa sadar terus tersenyum sepanjang perjalanan.


"Kalau kau senyum terus begitu, wajahmu tidak bisa kembali. Kau akan senyum terus sepanjang hidupmu."


"Entah mengapa, itu terdengar menakutkan."


Perjalanan dari sekolah menuju rumah gadis itu tidak terlalu jauh. Iya, karena keduanya asik berbincang, meskipun lawan bicaranya selalu membalas dengan nada yang datar.

__ADS_1


"Tapi Aerylin, apakah kau yakin?. Maksudku--"


"Begitu ajakan keluar dari mulut mereka sendiri, percayalah kalau kau tidak akan kenapa-kenapa begitu tiba dirumahku. Santai saja."


Itu, itu masalahnya!. Aku tidak bisa santai!.


"Aku gugup."


Aerylin beralih menatapnya, setelah menatap jalan selama beberapa menit. Gadis itu juga sedikit tak percaya ketika ayah dan ibunya, serta adik dan kakaknya menyuruh dia untuk mengajak pemuda disampingnya.


"Anggap saja kita impas. Kau tidak tahu kalau kau diajak oleh keluargaku, dan aku tidak tahu kalau kau datang. Bagaimana?."


Berhyl menahan tawa. "Entahlah. Tapi pasti susah untuk berpura-pura tidak tahu karena kau sudah mengetahuinya."


"Yah, kupikir itu bisa membantumu."


Berhyl menatap jalan didepannya. Dia memang menaruh rasa kepada gadis berwajah datar itu, jadi dia terkejut ketika gadis itu berkata bahwa keluarganya mengajak dia untuk makan malam dirumahnya.


Apakah ini berkat dari Tuhan?


"A-aku berusaha Aerylin, tapi tidak bisa!."


Keduanya pun tidak langsung masuk kedalam rumah, melainkan terlibat dalam urusan kaki Berhyl yang tidak mau berhenti gemetar.


Tanpa pikir panjang, Aerylin menendang kaki sebelah kanan Berhyl, membuat pemuda itu mengeluh kesakitan.


"Berhenti?. Berhenti tidak?. Kakiku masih cukup kuat untu--"


"Tidak tidak!. Hah ... kakiku sudah berhenti gemetar. Ma-makasih ya..."


Keduanya melangkah ke dalam rumah. Aerylin yang pertama kali masuk dan memberi salam, kemudian diikuti oleh Berhyl.


Seorang anak perempuan, mungkin usianya sekitar tujuh tahun, berlari dan memeluk Berhyl. Pemuda yang mendapat pelukan tiba-tiba itu sedikit terhuyung ke belakang. Aerylin menatap keduanya dengan datar.


"Ellie, kalau kau memeluk orang asing seperti itu, kau bisa diculik," katanya, tidak sadar kalau perkataannya menusuk Berhyl, tepat di hatinya.

__ADS_1


A-aku ... orang asing ...


"Oh, Aerylin sudah pulang!. Ibu, ayah!. Aerylin sudah pulang!."


Itu pasti kakaknya. Pasti kakaknya. Aku berani bertaruh untuk itu.


Terdengar suara wanita dari dalam. "Oh, apakah dia membawa temannya itu?."


Lelaki yang nampaknya berusia sembilan belas tahun itu mengangguk. "Iya ibu. Dia membawa temannya. Wah, halo. Kau pasti Berhyl. Senang bertemu dan berkenalan denganmu. Ah, ayo masuk. Ellie, jangan bergelantungan di kaki orang seperti itu."


Berhyl tersenyum. Keluarga yang sedikit aneh, tapi hangat dan nyaman. Dia menyukai hal seperti ini, dan dia juga menyukai Aerylin.


Begitu menginjakkan kakinya di ruang makan, Berhyl seakan-akan adalah anak mereka, dan Aerylin adalah tamunya.


Disuruh duduk, diambil tasnya, diberikan sandal rumah dan diberi minum, Berhyl merasa seperti dia sudah pulang ke rumah. Pemuda itu merasa nyaman di rumah Aerylin. Mendapat perlakuan yang hangat dari orang sekitarnya, Berhyl benar-benar senang, namun sedikit tidak nyaman.


Dia takut kalau Aerylin tidak menyukai dirinya karena hal ini.


Bagaimana kalau Aerylin cemburu dengan segala perhatian yang dicurahkan kepadanya, dan kemudian gadis itu tidak mau berbicara dengannya?.


"Kau ingin minum jus?. Kupikir air putih bukan ide yang bagus Kak. Dia lelah setelah berjalan kaki dari sekolah. Dia butuh minuman yang segar."


"Oh, benar juga. Aku akan mengambilnya."


Aerylin seakan bisa menebak pikiran Berhyl. Gadis itu mendekat dan berbisik. "Kupikir ini cukup bagus kan?. Aku tidak cemburu atau marah atas perlakuan mereka padamu. Aku ikut senang kalau kau senang."


Pemuda itu tidak bisa menahan senyumnya. Yah, ayahnya sedang berusaha keras untuk bekerja di luar kota selama beberapa waktu, dan dia sendirian dirumah.


Mendapat perlakuan yang hangat seperti ini, benar-benar membuatnya sangat senang.


Aerylin tersenyum kecil. Dia ingat ketika waktu itu, dirinya hendak meminjam payung kepada Lesya. Dan seperti yang sudah terjadi sebelumnya, kisah percintaan mereka semua tidak lepas dari campur tangan si ketua OSIS. Lesya berkata kepada Aerylin bahwa bercerita tentang kehidupan sekolah kepada keluarga dirumah adalah hal terbaik.


Itulah yang dilakukan Aerylin. Kemudian, keluarganya menyuruh gadis itu untuk mengajak Berhyl makan malam bersama.


Hebat kan?

__ADS_1


Sementara itu, Lesya tersenyum ditempatnya. "Satu lagi berjalan dengan lancar. Apa aku buka biro perjodohan saja ya?"


__ADS_2