Patency

Patency
39. Foto (1)


__ADS_3

"Kenapa menatapku seperti itu sialan?"


Andreas menggeleng dengan cepat. Bagusnya jangan menyela atau membantah ucapan Kaila ketika mood gadis itu tidak baik.


Dan mood gadis itu memburuk karena dirinya. Iya, karena dia, Andreas yang sangat receh akan segala hal.


Contohnya ini, dia mati-matian menahan tawa di depan Kaila dan berakhir dengan menara imitasi di kepalanya.


"Kau menertawakan apa ha?"


"Ti-tidak kok. Siapa yang tertawa?," elaknya tanpa berani menatap sang empunya netra biru yang hampir selaras dengan surainya.


"Oh, sudah ada orang ternyata. Kupikir masih kosong."


Baik Andreas dan Kaila langsung melihat ke arah pintu, dimana teman mereka yaitu Savier menatap lurus-lurus ke arah mereka berdua.


"Kalian berdua kenapa? Sakit atau sehat? Mau kuambilkan betadine?"


Raut wajah si gadis bersurai biru menjadi datar sedatar-datarnya mendengar pertanyaan Savier, sedangkan Andreas hanya bisa terdiam.


Perhatian sih, tapi pertanyaannya bikin orang emosi - Kaila ft. Andreas


"Ck, tidak bisa minggir sedikit?"


Itu Aerylin. Gadis dengan rambut sebahu yang datang dengan dua tas plastik berukuran sedang. Tanpa ditanya pun, Kaila tahu milik siapa itu.


"Orang yang beli ini mana?," tanya Kaila seraya menunjuk benda yang dibawa masuk olehnya.


Aerylin mengangkat kedua bahunya singkat, kemudian menggeleng pelan dan mengangkat pandangannya dari tas plastik tadi. "Masih di ruang guru," jawabnya.


"Siapa yang di ruang guru?"


Kali ini yang datang Adelle dan Zeline. Keduanya melihat Kaila dan Aerylin secara bergantian sebelum masuk ke dalam.


"Cemilan?"


"Yang beli pasti Lesya," celetuk Zeline yang mendapat anggukan dari Kaila dan Aerylin.


"Hey, yang lain mana?"


Andreas sedikit memajukan tubuhnya agar bisa melihat isi dari tas plastik tadi. "Kebanyakan cemilan sih ini."


"Dan ada minuman," balas Aerylin seraya mengeluarkan satu botol air minum dan meletakkannya di atas meja, persis apa yang disuruh Lesya tadi.


"Ho ... kenapa dia membeli cemilan sebanyak ini?"


"Seperti tidak tahu Kaila saja."


Kaila yang mendengar namanya disebut sontak menatap Andreas. "Loh kok jadi aku?"

__ADS_1


"Eh maaf, maksudnya Lesya," ralat Andreas. Takut kalau gadis bersurai biru itu akan memakannya dengan sadis.


Brak!


"LESYA DATANG DENGAN TIGA BABU!"


"Engsel pintunya hampir lepas, tenaga kuda memang."


"Bukan, bukan tenaga kuda," sanggah Adelle seraya menatap Kaila. "Itu tenaga super namanya."


"Permen?"


Pertanyaan Savier sekali lagi mendapat tatapan datar dari Kaila dan Andreas. "Kok bisa melenceng jauh ke permen ..."


...🥀🥀🥀...


"Sebenarnya kita ini mau apa?"


Itu Kenzo. Pemuda dengan kacamata yang hup lah di wajah tampannya itu nampak mulai bosan sekaligus kesal. Sudah setengah jam mereka hanya duduk dan membahas tentang sesuatu yang sebenarnya tidak berfaedah. Catat, sangat tidak berfaedah. Sangat!


"Ya ... kumpul-kumpul," balas Lesya dengan santai seraya membagikan cemilan kepada masing-masing orang.


"Serius, kalau gitu mending aku pulang."


"Anda pulang, ga temenan kita."


"Bodo amat."


Dengan secepat kilat Kenzo kembali duduk di tempat semula begitu mendengar kata putus.


Hoho, sudah kuduga kau tidak akan menang.


"Ngomong-ngomong, kesimpulan museum kalian diterima tidak?"


Lesya mengangguk. Hasil kesimpulannya diterima dengan baik oleh guru penanggung jawab, berbeda dengan teman-temannya yang lain (teman-temannya yang lain : para cowok yang rata-rata saling salin, kecuali Savier).


"Aku kena ceramah karena katanya punyaku disalin," keluh Andreas seraya memasukkan potongan cemilan ke dalam mulutnya.


Kenzo yang tadinya tidak ingin bicara sama sekali, sontak mengeluarkan suara. "Kau kan memang salin punya orang. Punya Savier lagi yang disalin. Apa ga ketahuan itu sama guru?," ujar pemuda berkacamata itu dengan nada mengejek.


"Diam, jangan buka kartu. Kau juga salin punya Zeline kan? Cih, pacar macam apa kau."


"Beban," sambung dua orang yang sebenarnya biasa saja dan tidak ada kerennya sama sekali alias Adriell dan Berhyl.


(Tapi ga tahu ya kalau ada yang bilang mereka keren. Hati manusia kan ga ada yang tahu)


Lesya anteng saja di pojokan sembari memakan cemilan.


"Oh, aku ada sesuatu," ujar Andreas yang membuat semua orang disitu penasaran, tak terkecuali Lesya yang asik dengan dunia cemilannya.

__ADS_1


...🥀🥀🥀...


"Jeng jeng!"


Fyi, yang ditunjukkan Andreas adalah ponselnya sendiri. Apa? Ya benar, ponselnya sendiri. Ku ulangi, ponselnya.


Lesya menatap Andreas dengan kesal. Ingin melempar cemilan yang ada di dekatnya tapi cemilan itu lebih penting ketimbang pemuda yang sedang memamerkan sebuah ponsel pintar dengan aura gemerlap di sekitarnya.


"Kalau itu juga kami semua punya," balas Zeline seraya menunjuk ponsel-ponsel yang tergeletak di samping pemiliknya masing-masing.


Si pemuda yang menunjukkan ponselnya dengan bangga itu terkekeh pelan. "Kalau kalian mengira aku hanya akan menunjukkan benda pintar ini, maka kalian salah."


"Iya tahu, paket internetmu habis kan?"


Perempatan imajiner muncul di atas kepala Andreas.


"KENZO! JANGAN MERUSAK SUASANA YA!"


Andreas berdeham, kembali ke dunia dimana dia akan menunjukkan isi ponselnya alias sesuatu itu kepada teman-temannya.


"Sebenarnya apa sih yang mau kau tunjukkan?," keluh gadis dengan rambut sebahu itu seraya mencomot cemilan Adelle.


"Ini loh, ini," balas Andreas tak sabaran, mulai kesal karena teman-teman seperjuangannya saat menghadapi matematika itu tidak mengerti juga.


Lesya yang selesai meneguk satu botol air minum berukuran sedang sontak menaikkan satu alisnya. "Itu rumah yang kita tempati saat karyawisata lalu kan?," tanyanya yang mendapat seruan dari Andreas.


"Iya! Benar sekali!"


"Seratus untuk Lesya," sambung Kenzo seraya bertepuk tangan, sedangkan ketiga pemuda lainnya hanya bisa bersiul--entah kenapa mereka bersiul, mungkin ingin meramaikan suasana (?)


"Serius woi." Itu Kaila yang mulai lelah dengan sikap Andreas yang tak kunjung mereda.


"Oh, kalau diperhatikan lagi ...," Zeline yang memang duduk di dekat Andreas pun sedikit mencondongkan tubuhnya dan memperbesar foto tadi. Andreas tersenyum sesaat setelah foto tadi berhasil diperbesar.


Menyadari kalau teman-temannya tidak paham dengan maksud Zeline, Andreas pun memperlihatkan kepada mereka, apa yang menarik atensi gadis bersurai hitam kecokelatan itu.


Satu menit, dua menit. Teman-temannya menghabiskan waktu sekitar lima menit untuk memandangi foto yang ada di ponsel Andreas dengan seksama.


Si pemilik ponsel tersenyum bangga. Akhirnya dia bisa menceritakan kalau di rumah itu--


"Furniturenya bagus tapi berdebu," komentar Adelle dengan datar.


"Tapi hebat ponselmu bisa mengambil foto sedetail ini," puji Kaila (yang sebenarnya ini sangat jarang terjadi, dimana Kaila yang biasanya tidak pernah memuji kecuali orang terdekatnya).


"Merk ponselmu apa?," tanya Kenzo penasaran karena ponsel milik temannya itu berhasil mencuri perhatiannya.


"Bukan itu maksudku ..."


Tiga orang yang memberi komentar tadi sontak mengangkat pandangan dari benda persegi itu dan menatap Andreas dengan tanda tanya di atas kepala.

__ADS_1


Lesya menghela napas. "Perhatikan lagi fotonya baik-baik."


__ADS_2