
Hari benar-benar sudah gelap ketika serombongan orang datang menginjakkan kakinya ke sebuah area. Yeah, pasar malam.
"Ah, aku dan Beryhl mau ke pantai, Dah."
Yang berbicara itu adalah Aerylin. Dirinya memang tidak seheboh Adelle, tapi tatapan antusiasnya mengalahkan Adelle. Dengan cepat Aerylin memegang pergelangan tangan milik Beryhl kemudian melesat menjauh, pergi ke area pantai yang sedari tadi memang ditunggu olehnya.
Kaila menghela napas. Tidak ada Lesya sebagai penengah. Jujur saja, begitu melangkah keluar dari dalam rumah, dirinya dihantui dengan perasaan takut. Yeah, Kaila yang biasanya tampil dengan ciri khas orang yang suka marah-marah, mendadak takut karena Lesya tidak ada.
Ah, aku benar-benar tidak suka berada di keramaian.
Ryan sedang meminum kopi miliknya ketika netranya tak sengaja menangkap pergerakan orang yang tak jauh dari tempatnya sekarang. Ya, dua orang yang tidak asing baginya, Aerylin dan Beryhl yang tengah berjalan kaki menuju suatu tempat.
"Anda melihat apa pak Ryan?."
Tersentak dari lamunan yang datang tiba-tiba, Ryan refleks berteriak setengah tertahan. Monic diam seketika, berusaha mengontrol dirinya agar tidak tertawa. Ayolah, dia sudah menertawai pria yang berprofesi sebagai guru, sama seperti dirinya tadi. Dan sekarang? Menertawakan orang yang sama dengan permasalahan yang beda benar-benar tidak sopan, setidaknya itu yang ada dipikiran Monic.
"Tertawa saja. Kelihatannya anda seperti mau mati jika tidak tertawa." Ryan berkata dengan nada sedikit sarkas pada akhiran ucapannya. Ya, tapi itu tidak berpengaruh kepada Monic. Lihat? Wanita itu tertawa dengan riangnya tanpa mempedulikan sekitarnya.
"Maafkan saya, sungguh. Tapi wajah anda benar-benar mengundang gelak tawa dari siapapun yang melihatnya," ujar Monic diselingi dengan tawanya yang khas. Ryan hanya menatapnya dengan datar, tidak paham dengan jalan pikiran wanita didepannya yang masih tertawa sembari memegang perutnya sendiri. Mengusap air matanya yang sedikit keluar karena tertawa, Monic akhirnya bisa mengontrol dirinya sendiri. "Maaf maaf. Hah. Apa yang anda lakukan? Anda menatap ke arah sana dengan penuh seksama."
Ryan mengangguk membenarkan. "Aku melihat Aerylin dan Beryhl," ujarnya sembari menunjuk jalan tadi menggunakan dagunya. Monic mengikuti arah pandangnya. "Ah, mungkin mereka sedang jalan-jalan. Saya dengar disini ada pasar malam."
Ryan berdiri dari tempat duduknya, kemudian berbalik untuk menatap Monic yang tengah menatap langit malam penuh bintang. "Besok malam, bersiap-siap. Kita akan pergi jalan-jalan." Perlahan, sosok pria tersebut menghilang di ambang pintu, meninggalkan wanita yang baru saja diajaknya tadi.
Monic tersenyum menanggapi. "Baiklah~."
***
"Adriell, lihat!."
Yang dipanggil mengangguk. Dibiarkannya gadis bersurai merah sedikit terang itu menarik dirinya berjalan menyusuri pasar malam. Mereka berdua baru saja berpisah dengan Andreas dan Kaila yang pergi untuk mencari tempat bermain. Katanya sih, mau cari permainan yang hadiahnya snack keluaran terbaru.
"Ah, bagaimana kalau wahana itu!? Itu juga!." Adelle tersenyum sangat lebar sangking girangnya. Sedangkan Adriell yang berdiri disampingnya, kini menautkan kedua tangan mereka. Adelle menatapnya sembari bertanya,"Kenapa?."
Yang ditanya tersenyum. "Nanti kau hilang di tengah kerumunan orang sebanyak ini."
Menganggukan kepalanya beberapa kali sebagai tanda bahwa dia mengerti, Adelle kembali menarik pergelangan tangan Adriell. Ralat, dirinya menarik tangan mereka berdua yang sedang bertautan satu sama lain.
"Ah, mau coba baik komedi putar?."
Adelle yang tadinya tersenyum dengan lebar mendadak berhenti, kemudian menatap Adriell yang tengah tersenyum kecil di belakangnya sembari mengerucutkan bibirnya. "Aku sudah dewasa, untuk apa naik komedi putar?."
Adriell mengangguk. Yah, salahnya juga. Dirinya benar-benar gugup ketika Adelle tetap memegang tangannya, sehingga tanpa sadar dia menyarankan agar mereka berdua menaiki komedi putar. "Ka-kau tidak suka ya. Maaf, aku benar-benar tidak tahu."
Terdiam selama beberapa detik, Adelle kemudian menarik kembali Adriell yang masih asik menunduk. Keduanya berhenti didepan mamang penjual gulali warna pink yang kemasan plastiknya gambar doraeitssmon. "Abang, beli dua ya. Eh gak jadi, empat aja."
Adriell tertegun. Gadis disampingnya baru saja memesan gulali sebanyak 4 bungkus!.
"Adelle, kau akan sakit gigi kalau banyak makan manis. Dua saja ya? Kalau empat, nanti gigimu akan sakit."
__ADS_1
Adelle menggeleng. "Kan aku beli untuk kita berdua."
Kita berdua...
Kata-kata itu terus menari dengan indah dalam benak Adriell bahkan setelah Adelle selesai membeli gulali yang dinanti. Jika kalian berpikir bahwa Adelle akan menanyakan keadaan Adriell yang lebih mirip patung, maka jawabannya, Ya.
Adelle tidak peduli. Yang penting gulali sudah ditangan, urusan lain mah belakangan, awok.
"Kaila, lihat."
Kaila mengikuti arah pandang Andreas, kemudian menemukan sebuah kios-kios yang didalamnya tentu saja ada abang-abangnya dan berbagai macam permainan, tak lupa dengan hadiahnya. "Lesya benar. Snack keluaran terbaru itu ada disini," ujarnya sembari berpose ala-ala orang yang tengah serius.
Andreas mengangguk. Telunjuknya terangkat, menunjuk hadiah yang ada diatas permainan si abang tadi. Kaila mengangguk begitu melihat Andreas melakukan hal yang sama.
"Baiklah, mari kita menangkan permainan ini."
***
Ruang tamu yang tadinya ramai, kini menjadi sepi. Zeline tengah bersenandung kecil ketika dirinya mendapati Kenzo tengah duduk di tempat tadi, ruang tamu.
Perlahan dirinya mendekat, berusaha mencari tahu apa yang dilakukan pemuda tersebut dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
"Dia tidur?"
"Kok disini sih?"
"Disini dingin lho. Kenapa dia tidak bangun dan pindah saja?"
Pemuda yang mengambil bagian dalam OSIS sebagai wakil ketua itu seketika merasakan kehangatan yang menjalar ditubuhnya. Membuka matanya dengan cepat, dirinya mendapati sebuah selimut berada di atas tubuhnya. Ya, selimut berwarna cerah yang tentu saja, dia tahu siapa pemiliknya.
"Ah. Kemana pemiliknya ini hm?."
"Lesya!"
"Wuah kaget kucing!"
Si pelaku terdiam, sedangkan Lesya yang terjungkal kedepan karena kaget tertawa dengan keras. "Hahahah, aduh aduh perutku."
Si pelaku alias Savier ikut tertawa melihat sosok didepannya berguling di tanah.
Mengusap air matanya yang sedikit keluar akibat tertawa tadi, Lesya merapikan bajunya. "Kenapa kau memanggilku?."
Teringat akan tujuannya, Savier menyuarakan hal yang ada di kepalanya.
"Buku yang kau pinjamkan beberapa hari yang lalu, sangat keren!."
Lesya mengangguk. "Tentu saja. Itu salah satu buku terbaik yang kumiliki," ujarnya tak lupa tersenyum. Savier menatapnya dengan tanda tanya. "Salah satu? Artinya kau punya banyak buku?."
"Iyaps. Aku punya banyak buku dirumah. Kenapa? Kau ingin membacanya?."
__ADS_1
"Kalau kau mengizinkan, tentu saja akan kubaca."
Lesya tersenyum. Pemuda didepannya sangat sopan. Savier menunduk kala tatapannya bersinggungan dengan netra Lesya. "Kaila dan Andreas akan membawa apa ya.. apakah mereka akan menang?."
Savier menatapnya. Lawan bicaranya menatap langit sembari berbicara, mungkin bertanya padanya, mungkin juga berbicara pada dirinya sendiri. "Ngomong-ngomong, kenapa kau kelihatan tidak senang berada disini? Terlihat seperti ragamu ada bersamaku, tetapi jiwamu entah kemana."
Lesya menatapnya. Malam itu bulan bersinar dengan terang, seakan menyoroti mereka berdua yang sedang duduk di belakang rumah. Dapat dilihat oleh Savier, netra Lesya yang seakan bersinar dan juga surainya yang perlahan bergerak mengikuti arah angin, menambah kesan elegan yang kuat.
Sembari memainkan sedikit ujung surainya, Lesya berbicara. Suaranya kecil, tetapi Savier bisa mendengarnya dengan jelas, apa yang dikatakan Lesya kepadanya.
"Baiklah, mari kita masuk kedalam karena sekarang mulai dingin. Kita berdua bisa sakit."
***
Pasar malam yang tadinya ramai, kini perlahan-lahan sepi pengunjung. Ya, jarum jam menunjukan angka 11 ketika gerombolan orang perlahan meninggalkan area pasar malam yang berada tak jauh di belakang mereka.
"Mampus. Tadi janjinya mau pulang sebelum jam sepuluh, ini sudah jam sebelas." Andreas berujar sembari menatap jam tangan yang terlingkar sempurna di tangan Kaila. "Ya.. berdoa saja semoga dia tidak menunggu kita didepan pintu." Kaila membalas keluhan Andreas. Adelle dan Adriell di samping mereka tampak tidak ada masalah. Kedua orang tersebut kelihatan senang. Adelle senang dengan gulali ditangannya, sedangkan Adriell senang dengan tautan tangannya pada tangan Adelle. Didepan mereka, Beryhl dan Aerylin sudah menunggu.
Kaila menatap Aerylin dan Berhyl secara bergantian. "Kenapa tidak masuk?" Aerylin menatap Berhyl sesaat, kemudian menatap Kaila. "Kami tidak diizinkan masuk sampai kalian datang."
Kan, mampus.
"Wah~ berisik-berisik apa ini diluar?~ orang-orang sekarang sudah berada di tempat tidur masing-masing, kenapa masih ada orang diluar sini? Kalian siapa?~."
Kaila meneguk ludahnya sendiri, diikuti oleh mereka yang berada di luar ketika sebuah suara terdengar. Suara yang halus nan lembut, bagi sebagian orang bukan masalah. Tetapi bagi mereka, itu ada pertanda bencana.
"Aku bertanya lho~ tidak dijawab juga. Kalian patung ya?~."
Kan, marah dianya. - Andreas.
"Ahahhaha, aduh, jam berapa ini ya. Oh! Jam ku rusak hahaha, lihat-lihat, jamnya menunjukkan angka 11 padahal ini baru jam 9 kan? Hahaha."
Kaila menatap Andreas yang tengah melemparkan candaannya kepada Lesya. Gadis bersurai pink itu tidak marah, dirinya tersenyum, senyuman yang membuat mereka yang berada di luar, merinding dengan hebat.
"Masuklah. Kalian pasti lelah kan? Ganti pakaian kalian dan segeralah makan. Ada makanan didalam. Setelah itu, cuci muka kaki dan tangan, jangan lupa gosok gigi."
Mereka mengangguk, tidak mau menyia-nyiakan kebaikan Lesya yang kini melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti oleh mereka berenam. "Wah wah. Lihat siapa yang datang. Jam berapa ya ini. Oh, jam tanganmu rusak ya Andreas?."
Kenzo yang melihat mereka tidak tahan untuk mengejek Andreas. Lihat wajahnya, sangat konyol, pikir Kenzo.
Zeline mencubit pelan lengan pemuda berkacamata itu, pelan tapi efeknya cukup besar. Ejekan Kenzo berhenti.
Savier yang baru keluar dari kamar mandi, kaget ketika melihat beberapa tas plastik ukuran jumbo yang terletak begitu saja di ruang tamu. "Ah! Apa ini? Hadiah!?."
Lesya menatap kearahnya, kemudian berjalan menuju ruang tamu. "Kalian memenangkan ini semua?."
Bagai tersambar petir, Kaila dan Andreas saling menatap seakan batin mereka terikat.
Omagah lupa. Lesya kan gampang dibujuk!- Kaila dan Andreas.
__ADS_1
Lesya menatap mereka berdua secara bergantian. "Aku bisa membeli ini kalau aku mau. Sogokan kalian agar aku tidak marah dengan snack-snack ini, tidak berguna."
Baik. Lupakan rencana itu. Itu tidak akan pernah berhasil dan mari pasrah saja.