
Kediaman Monic, pukul 18.00 tepat.
Wanita yang menguncir surainya itu bersenandung pelan sembari berjalan kesana-kemari. Tangan kanannya memegang satu bungkus terigu yang belum dibuka, dan tangan kirinya mengambil gunting yang ada diatas meja di ruang tamu.
"Lain kali aku harus meletakkan barang-barang di tempat yang seharusnya," gumamnya begitu satu bungkus terigu tadi sudah terbuka di bagian atas.
Bukan masalah besar sebenarnya, tapi wanita itu sedikit kewalahan saat menyadari kalau gunting hitam yang biasa dipakai itu tidak ada di dapur. Kemudian dia mencoba untuk mengingat dengan keras, dan gunting hitam itu ternyata ada di ruang tamu.
Seulas senyum ditariknya dengan pelan. "Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku jarang membuat kue seperti ini."
"Jarang?," ulangnya tanpa sadar.
Monic menggeleng dengan cepat dan segera meralat ucapannya sendiri. "Bukan jarang, tapi aku memang baru pertama kali membuat kue."
"Aku jadi sedikit khawatir, apakah rasanya akan enak atau tidak ya?"
...🥀🥀🥀...
Di tempat yang berbeda namun di hari yang sama.
"Eh? Kalian mau menginap di rumahku? SERIUS!?"
Kaila langsung menutup kedua telinganya. "Uh, iya, mau menginap. Boleh?," tanyanya dengan pelan seraya mengusap kedua tangannya.
Adelle yang berdiri paling dekat dengan Lesya ikut menimpali perbincangan itu. "Satu malam deh, gimana? Nanti kami minta izin dulu, boleh ya?"
Para pemuda yang tadi berjalan bersama dengan mereka sudah pulang ke rumah masing-masing, tentu saja karena usiran halus dari sang ketua OSIS.
Lesya nampak menimbang-nimbang. Sebenarnya tidak masalah kalau para gadis itu ingin menginap di rumahnya. Sangat tidak masalah.
"Baiklah, tapi aku akan membersihkan rumahku dulu. Kalian bisa pulang dan meminta izin terlebih dahulu. Bagaimana?"
Tiga gadis dengan warna mata dan surai yang berbeda itu mengangguk. "Ah, aku sudah mendapat izin kalau bersama dengan Lesya."
Si gadis bersurai merah muda itu langsung menatap tak percaya ke arah Zeline. "Serius? Siapa yang kasih izin?"
Gadis itu tersenyum. "Papa. Katanya boleh selama ada Lesya."
"Kalau begitu, ke rum--"
"Jangan main-main," potong Kaila dengan cepat sebelum Lesya berhasil menyelesaikan perkataannya.
Si surai merah muda menggerutu, kemudian berbalik dan segera masuk ke dalam rumah begitu berpamitan dengan teman-temannya yang lain.
Lesya menghela napas. Memang bukan masalah besar kalau teman-temannya ingin menginap, tapi dia tidak terbiasa dengan suasana dimana rumahnya penuh dengan orang lain selain dia.
"Oh, sekalian beli cemilan ah."
Gadis itu dengan cepat langsung membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat. Tidak memakan waktu yang lama karena memang rumahnya juga sudah bersih dan satu-satunya yang butuh penanganan adalah tubuhnya.
Baru saja ingin keluar rumah, ponsel milik gadis itu berdering.
...🥀🥀🥀...
__ADS_1
"Ada acara?"
Pria itu berbalik dan mendapati pria lainnya yang menatap ke arahnya. "Ah, bukan acara besar tapi ..."
"Tapi?"
Pria itu sedikit menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis. "Penting bagi saya."
"Ah, begitu. Baiklah, semoga berhasil ya."
Ryan mengangguk, kemudian berdiri dan mulai berjalan keluar dari ruang guru.
Pria itu hendak menyalakan mesin motor ketika pikiran tentang apa yang harusnya dia bawa tiba-tiba masuk ke dalam ingatannya.
"Ah, haruskah aku membawa bunga?"
"Bunga apa tapi?"
"Di sekitar sini ada yang jual bunga tidak ya?"
Dan berbagai pertanyaan tentang bunga lainnya yang membuat pria itu berpikir keras.
"Masalahnya ...," ucapnya seraya melihat langit.
"Aku belum pernah kencan."
Ryan tiba-tiba mengingat sebuah kejadian dimana dirinya, tanpa sadar mengajak Monic untuk jalan-jalan.
Pria itu menarik napas dalam-dalam. Monic langsung menolak mentah-mentah ajakannya dan selama satu minggu, Ryan merenungkan kesalahannya terhadap wanita itu.
Aerylin mengangkat pandangannya dari layar ponsel. "Ya ... itu memang pak Ryan. Kenapa?," tanyanya pada gadis bersurai merah itu.
Adelle menggeleng pelan. "Tidak ... hanya merasa sedikit aneh saja."
Gadis yang memiliki surai sependek bahu itu mengangguk. Keduanya melanjutkan perjalanan menuju tujuan awal.
"Kalau dipikir lagi, bukankah itu arah menuju rumah seseorang?"
"Setiap jalan ini memang mengarah ke rumah orang."
"Ah, iya juga."
Dua gadis dengan warna surai yang berbeda itu terus berjalan.
"Tapi Aerylin, bukankah aneh?"
Gadis dengan raut wajah yang datar itu menatap lawan bicaranya. "Aneh kenapa? Dia punya kaki lengkap, matanya dua, tangannya juga, dan dia masih berjalan di ta--"
"Tidak tidak, bukan itu maksudku," potong Adelle sebelum Aerylin berhasil menyelesaikan perkataannya.
"Lalu apa?"
Adelle memasang raut wajah serius, seolah-olah sedang berpikir keras. "Bukankah itu jalan menuju rumah bu Monic?"
__ADS_1
Hening beberapa saat sebelum Aerylin berbicara. "Mungkin, mereka kencan?"
"Oh, kencan. TUNGGU, KENCAN!?"
Aerylin mengangguk setelah selesai mengusap kedua telinganya yang dirasa berdengung karena teriakan si gadis bersurai merah.
"T-tapi mereka berdua itu--"
"Itu hal yang wajar. Keduanya juga sudah berada di usia yang matang, apa salahnya kencan satu atau dua kali?"
Adelle mengerucutkan bibirnya, sedikit kesal dengan jawaban sekaligus pertanyaan dari gadis dengan raut wajah datar itu. "Bukannya aku tidak suka kalau mereka kencan, lagipula, itu kan urusan mereka. Aku hanya merasa aneh mengingat pak Ryan dan bu Monic tidak sedekat itu sebelumnya."
Aerylin memutar kedua matanya dengan malas, mulai jengah dengan tingkah laku gadis di sebelahnya. "Intinya kau tidak suka kan?"
"Ih, bukan begitu maksud--Aerylin, dengarkan aku dulu~"
"Kalau kau lama, aku akan meninggalkanmu sendirian disini."
"Hih, kau tidak akan punya pasangan dengan sifat seperti ini."
Begitu mendengar kata pasangan, gadis dengan raut wajah datar itu sontak berhenti.
"Mhm? Aerylin kau kenapa?," tanya si surai merah.
Aerylin menggeleng, kemudian kembali berjalan dengan ritme cepat.
"Heh?! Aerylin kena--woi biasa aja jalannya!"
...🥀🥀🥀...
"Aku heran."
"Kena--"
"Jangan memotong pembicaraanku."
Dua orang, satu perempuan dan satu lelaki, duduk di sebuah kursi taman. Yang satu memegang dua botol minuman, dan yang satunya sibuk menatap langit.
"Apakah kau selalu keluar malam seperti ini? Terlebih, ini bukan daerah yang bisa kau jangkau dengan mudahnya."
Lawan bicaranya mengangguk, mengerti maksud dari pembicaraan yang dilayangkan gadis itu kepadanya. "Yah, tentu saja aku sudah minta izin."
Meskipun aku tidak tahu apakah kakak sudah membaca pesan yang kutulis tadi sore sebelum keluar. Ah, semoga dia membacanya.
Nalea menghela napas, mulai jengah dengan sikap pemuda itu. "Dengar, bahaya datang dari mana saja. Meskipun kau lelaki, tingkat kewaspadaanmu harus tinggi. Jangan menganggap remeh segala sesuatu yang baru kau lihat."
Alfred mengangguk. Semua perkataan yang keluar dari gadis disampingnya itu, semuanya benar.
"Ngomong-ngomong, apakah kau sudah makan malam?"
"Belum. Aku langsung kesini begitu kau menelfonku tadi. Kupikir ada sesuatu yang penting."
"Eh, bukankah itu adalah alasanmu? Penting atau tidak, nyatanya kau tetap pergi ke tempat yang kuminta kan?"
__ADS_1
"Itu ... lupakan saja."
Alfred sedikit mengulas senyum seraya membuka botol minuman yang memang sudah dia beli sebelum dirinya menelfon gadis itu. "Sekarang, siapa yang tingkat kewaspadaannya harus tinggi?"