Patency

Patency
Bab 3, Aku disampingmu.


__ADS_3

"Ah, Savier. Apa yang kau lakukan disini?."


Membalikan badannya agar bisa melihat sosok yang sedari tadi ditunggu, Savier tersenyum kepadanya. Senyumnya benar-benar terlihat sangat bahagia, sungguh.


"Ah Lesya. Kau mau berangkat?. Aku menunggumu, mumpung rumah kita searah, kupikir akan lebih cepat," Kata Savier.


Lesya mengangguk mengiyakan setelah terdiam beberapa saat. Dirinya masih terkejut karena menemukan Savier, salah satu siswa yang menjadi anggota OSIS itu didepan rumahnya.


"Baiklah, mari kita pergi."


[□][□][□]


"Jadi, kau sudah membaca buku yang kurekomendasikan beberapa hari yang lalu?."


"Iya! Bukunya sangat bagus."


"Bukunya saja? Ceritanya bagaimana?."


"A-ah. Maksudku, ceritanya bagus. Intinya bagus, dan aku menyukainya."


Lesya tertawa, menggoda Savier memang menyenangkan. Siswa kelas 2 yang mengenakan kacamata hitam itu benar-benar polos, pikirnya.


Sudah baik hati, sifatnya yang lemah lembut, ditambah juga rajin mengikuti ibadah, benar-benar sesuai dengan tipe yang diidamkan oleh ketua OSIS tersebut.


"Ah, kita sudah dekat dengan ruang OSIS."


Savier mengangguk, kemudian mundur sedikit dan mempersilahkan Lesya untuk membuka pintu didepan mereka berdua. "Eh, pintunya tidak dikunci? Perasaan kemarin sore sudah dikunci deh," Lesya yang penasaran dengan cepat membuka pintu didepannya.


"Apa yang...."


Savier terdiam di depan pintu, sedangkan Lesya sudah mengeluarkan buku yang tebalnya mencapai 500 halaman miliknya, kemudian berkacak pinggang di sebelah Savier. " Oi familia suidae, bangun kalian."


"Familia.. suidae?. Apa itu?," tanya Savier yang kebingungan.


Lesya menepuk dahi. Dia melupakan fakta bahwa seorang Savier adalah orang yang sangat, sangat, polos.


Ya ampun, lindungi dia. Dia sangat polos dan aku ingin membawanya pulang.


" Familia Suidae itu...intinya babi-babian."


Savier mengangguk kemudian mengeluarkan buku kecil yang sengaja disiapkannya, lalu menulis. "He? Apa yang kau catat-- tunggu, kau tidak mencatat Famili Suidae itu kan?," tanya Lesya.


Savier mengangguk lagi ketika sudah selesai dengan catatannya. "Kupikir ini sesuatu yang bagus. Siapa tahu nanti dibahas ketika pelajaran biologi dimu---"


"Savier." Lesya memegang bahu Savier.


"Oke.."


"Ih kalian berdua lama sekali. Kami sudah menunggu kalian daritadi."


Lesya menatap mereka, sekumpulan familia suidae yang disebutkannya tadi, dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. "Dari jam berapa kalian disini?."


Adelle berpose sedang memikirkan sesuatu yang sangat sulit, sampai kemudian Adriell yang menjawabnya. "Kayaknya dua jam yang lalu kami sudah ada disini."


Astoge sayur toge, dari jam 5 dong!?


"Kalian ini, kalau menyangkut jalan-jalan pasti cepat. Beda sekali kalau membahas pelajaran. Jangankan belajar, buka buku saja rasanya seperti mengangkat beban hidup masing-masing yang penuh dengan dosa."


Kaila yang kebetulan ada disitu sontak berdiri dan memperlihatkan kepada Lesya sebuah bungkusan snack. "Kau sudah memakan snack dengan rasa yang baru ini?."


Mengacungkan jempol tak lupa dengan ekspresi wajah yang sangat datar, Lesya mengangguk. "Tentu saja, keluarnya minggu lalu kan? Aku membelinya dua hari yang lalu."


Beberapa anggota OSIS yang lain hanya bisa diam, tidak mengerti dengan perbincangan kedua orang didepan mereka.


Keduanya berbicara dengan nada yang super datar, seakan-akan mereka tidak merasakan sebuah kegembiraan. Padahal, hal yang sedang mereka bicarakan adalah snack favorit keduanya. Benar-benar sesuatu yang aneh sampai bunyi pengumuman terdengar dengan jelas.

__ADS_1


"Selamat pagi, disampaikan bagi seluruh murid untuk segera berkumpul di lapangan. Sekali lagi, disampaikan bagi seluruh murid untuk segera berkumpul di lapangan. Terima kasih."


Dengan sigap mereka semua keluar dari ruangan OSIS, tak lupa mengunci pintunya dan melangkah pergi sesuai instruksi yang diberikan.


"Eitss bentar, snacknya ketinggalan, awok."


[*][*][*]


Merapikan anak rambutnya yang berdiri sedikit, Zeline menyadari kalau hari ini, siswa yang datang benar-benar hanya setengah dari jumlah sebenarnya.


Perkataan Lesya saat itu benar-benar terjadi. Aku salut padanya yang bisa menebak akan hal itu.


Bapak fisika, sebutan Lesya kepada guru berparas menawan itu, sedang memanggil satu persatu dari mereka semua, agar segera naik ke dalam bus. "Ah, Lesya."


Yang dipanggil menjawabnya. " Iya bapak, ada apa?," tanyanya dengan sopan.


Lebih lanjut, 'bapak fisika' itu bertanya seputar jumlah siswa yang ada, yang dibalas dengan jawaban singkat oleh Lesya.


"Baiklah. Bapak pikir, hasil rapatnya tidak sampai ke telinga mereka."


Lesya tersenyum sembari menggeleng pelan, berusaha meyakinkan guru didepannya. "Tidak kok. Hasil rapatnya sudah dipastikan sampai ke telinga mereka. Saya bisa memastikan itu. Kalau begitu, saya undur diri dulu, masih ada yang harus saya cek lagi."


"Lesya, uiii. Sini dulu."


Lesya mencari darimana suara tersebut berasal, kemudian ketika tahu siapa yang memanggilnya, dia dengan cepat berjalan kesana. "Kenapa? Kau mau bertanya apa yang ditanyakan oleh bapak fisika kepadaku?."


Savier mengangguk mengiyakan, sedangkan delapan orang lainnya tersenyum cengo. "Iyap."


Menghela napas, Lesya mengatakan kepada mereka, apa yang ditanyakan oleh guru tadi kepadanya. "Begitulah. Kuharap dia tahu alasannya, tetapi dia malah bertanya kepadaku."


Yang lainnya mengangguk, berusaha memahami celotehan Lesya yang sebenarnya sudah selesai, kini malah bertambah dan semakin banyak.


"Kalian yang disana, OSIS kan? Ayo segera naik."


Sesaat sesudah menaiki bus, Lesya mengedarkan pandangannya. "Lah, anggota osis semuanya disini?."


Guru itu mengangguk membenarkan. "Iya~ Soalnya, tadi bapak melihat kalian sedang berbicara. Jadi bapak melewatkan absen kalian, dan menempatkan kalian dalam satu bus."


Sip, ada bagusnya ngeghibah dikit tadi. - OSIS yang berbahagia.


"Ah maafkan saya. Apa saya masih bisa ikut?."


Seluruh anggota OSIS yang sudah mendapatkan tempat duduk sontak berdiri dan menemukan Alfred, si murid yang baru saja pindah kemarin.


"Alfred!, tanganmu berdarah!. Ah, tunggu, bapak punya plester dan perban mungkin. Tunggu ya."


Dalam sekejap, guru tersebut kembali dengan memegang kotak mini ditangannya.


Tertegun, Alfred berdeham pelan. Guru didepannya benar-benar mirip dengan kakaknya, pikir Alfred ketika melihat guru tersebut dengan telaten membersihkan lukanya, kemudian membalutnya dengan perban, yang sebenarnya tidak separah itu.


Anggota OSIS yang tadinya berdiri secara tiba-tiba, kini memasang pose yang tak bisa dijelaskan. Satu kaki diangkat, kepala bertumpu pada kepala kursi bus, dan sembari memakan snack, mereka terus melihat adegan dimana seorang guru tengah mengobati muridnya yang terluka, yang sekali lagi kukatakan, tidak separah itu.


"Cakep banget. Kayaknya idaman nih."


"Emang idaman kan. Udah softboy, pengertian, baik hati, lemah lembut, idaman cekalehh epribadee."


Kaila terdiam. "Perasaan semuanya sama saja."


Lesya tersenyum sembari menopang wajah menggunakan kedua telapak tangannya. "Hee~ bagaimana ya. Dia imut sih~."


Kasihan Savier, pikir Zeline. Iyap, Savier menyukai Lesya yang notabenenya adalah orang yang tidak mau terikat namun selalu terpikat. Pada siapapun itu, dalam pandangan pertama. Tapi seperti yang dijelaskan diatas, Lesya tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Termasuk Savier yang menyukainya secara diam-diam.


Lu sih, sukanya diem-dieman. Ungkapin lah. Urusan diterima apa gak mah urusan belakangan, nanti direbut orang nangeees.


"Lesya," panggil Savier sembari menarik kemeja yang dipakai oleh gadis tersebut.

__ADS_1


Menyadari ada yang menarik kemejanya, Lesya menatap kepada Savier. " Iya deh aku duduk," ujarnya sembari duduk dengan sopan.


Di sebelahku Lesya!. Aku harus bersikap normal dan baik juga sopan. - Savier yang polosnya kebangetan


Disebelahku Savier toh, kukira Kaila. Gakpapa deh, mayan ada bahu gratis, mwehe. - Lesya yang.... yah begitulah bunda.


"Semuanya sudah siap? Mari kita berangkat!."


"Ya!!!."


[□][□][□]


Memakan waktu yang kurang lebih sedikit lama dari perkiraan, akhirnya rombongan SMA Saint's Peterson sampai di tempat tujuan. Tujuan karyawisata kali ini adalah sebuah museum yang tempatnya sangat strategis. Tidak jauh dari museum itu, terdapat sebuah pasar malam yang sedang diadakan. Menurut penduduk setempat, pasar malam itu biasanya berlangsung selama satu minggu penuh, atau bisa saja sampai sebulan penuh, tergantung tingkat kesenangan masyarakat, katanya. Dan yah, terdapat banyak wahana dan juga permainan yang disediakan. Benar-benar strategis, pikir Lesya.


Yap, Lesya cukup bangga dengan kerja keras Zeline.


Dua hari sebelum diadakannya Karyawisata, Zeline dan Kenzo bekerja sama untuk melihat beberapa tempat yang berpeluang untuk dijadikan tujuan karyawisata. Dan mereka menemukan tempat ini, sepaket. Ada pasar malam, ada museum, ada penginapan terdekat, dan juga, ada pantai.


"Wah wah, kalian berdua hebat sekali bisa menemukan tempat sebagus ini. Sepaket," puji Lesya kepada keduanya yang kini tersenyum lebar.


Meregangkan sedikit tubuhnya yang dirasa pegal selama perjalanan, Aerylin melihat kedepan. "Pantai ya." Beryhl yang mendengar itu langsung menyauti, " Kita bisa ke pantai nanti malam." Memandang Beryhl dengan tatapan 'benarkah?' sembari memegang pergelangan tangannya, raut wajah Aerylin benar-benar tidak berubah.


Beryhl mengangguk mengiyakan. Adelle yang baru saja turun dari bus menepuk bahu Aerylin. "Tentu saja kami semua akan pergi ke pantai."


Yah, Adellenya gak bisa baca situasi ternyata.- Adriell.


Berjalan bersama menuju penginapan yang sudah diberikan alamatnya, rombongan anggota osis tiba-tiba berhenti.


"Tolong, tolong kami."


Andreas yang berada di sisi paling dekat dengan ibu itu, sontak langsung mendekat dan menanyakan apa yang terjadi. "Tolong aku. Anakku hilang. Sudah 3 hari dia tidak pulang-pulang. Tolong, tolong aku."


Meringis melihat pemandangan didepannya, Kenzo hendak membantu ketika Lesya memanggil mereka semua. "Apa yang kalian lakukan?."


Savier menatapnya, heran. "Kau tidak melihat ibu itu? Dia menangis karena anaknya tidak pulang selama 3 hari."


Lesya balas menatapnya dengan sengit, " ibu apanya? Disitu bahkan tidak ada apa-apa sejak kita datang. Kau gila?."


Adelle mengangguk, membenarkan perkataan Lesya, disusul oleh Zeline, Aerylin dan Kaila. "Disitu hanya ada kardus yang sepertinya bekas tempat duduk orang. Kalian serius melihat ada orang disitu?," tanya Adriell serius. Dia tidak melihat ada ibu-ibu seperti yang dikatakan Savier, sedangkan Andreas terdiam setelah menyadari apa yang dia pegang. "Potongan...baju?. Tapi aku yakin yang kupegang tadi bukan potongan baju melainkan tangan orang."


Kaila menatapnya. "Sudahlah Andreas, nyatanya kau memegang potongan baju dan bukan tangan orang."


"Sebentar saja..."


Sebuah panggilan menghentikan Andreas. Ketika mereka menoleh, yang mereka dapati adalah seorang anak kecil yang berlari ke arah mereka, sembari memegang baju. "Kakak-kakak yang disana!! Tolong tunggu aku!!."


Lesya menatap anak kecil itu begitu dia berdiri dengan senyuman yang sangat lebar didepan Lesya. "Ada apa?." Anak kecil tersebut masih tersenyum. Dia menarik tangan Lesya, kemudian membisikkan sesuatu.


"Kak, dengarkan aku karena aku hanya bisa mengatakannya satu kali."


"Lesya? Sudah bangun?. Kita sudah sampai."


"Hah?. Aku tidur?."


Lesya terdiam.


Dia merasa bahwa tadi mereka semua sudah sampai dan bahkan sedang berjalan menuju penginapan. "Katakan padaku, dimana kita sekarang?."


Savier tersenyum sembari merapikan rambut Lesya yang sedikit berantakan. "Kita sudah sampai Lesya, kita sudah sampai."


Adelle yang melewati mereka berdua ikut menimpali. " Baru bangun ya Lesya? Sama kok, aku juga baru bangun, hehe."


Lesya mengangguk. Dirinya berdiri kemudian menutup mata sebentar. Dirasa sudah cukup, dirinya turun dari bus, tak lupa ada Savier ada disampingnya.


"Sungguh, aku tidak akan jatuh," sungutnya pelan. Savier menggeleng, berusaha untuk tidak jauh dari ketua OSIS tersebut. "Aku disampingmu Lesya. Kau bisa tersandung kapan saja karena langkahmu yang lunglai itu."

__ADS_1


__ADS_2