
[□][□][□]
Lesya sedikit meregangkan kedua tangannya. Hari ini merupakan hari yang sedikit sibuk dari biasanya.
Minggu depan akan dilaksanakan ujian tengah semester, dan dirinya akan berhadapan dengan musuh terbesarnya.
"Bagaimana Lesya, kau sudah mengerti?"
Satu buku tebal berisi berbagai jenis coretan serta bermacam-macam tempelan kertas jatuh dengan dramatis dihadapannya.
"Maaf Savier, bisakah kau menjelaskannya sekali lagi?"
Savier tersenyum. Kejadian ini sudah terjadi beberapa kali. Belum sampai satu jam mereka belajar bersama, dan buku yang mereka gunakan untuk belajar sudah jatuh--mungkin sekitar sepuluh kali.
"Baiklah Lesya, bagaimana dengan latihan soal?."
Si surai merah muda nampaknya tidak senang dengan usulan pemuda itu. "Aku tidak paham bagian rumusnya, bagaimana bisa aku melangkah menuju bagian penjumlahan?."
"Yah, kau tidak tahu kalau tidak mencoba."
Raut wajahnya menunjukkan kalau dia tidak senang, namun tangannya tetap bergerak mengambil lembaran kertas yang diberikan Savier.
Lesya mengambil pulpen bermotif kelinci berwarna merah muda miliknya, kemudian secara perlahan tapi pasti, mulai menjawab soal-soal yang ada di selembar kertas itu.
Savier tidak terkejut lagi ketika sepuluh soal yang dibuatnya selama satu malam itu berhasil dijawab oleh Lesya, dalam waktu kurang dari lima belas menit.
Murid pintar memang beda, pikirnya.
Lantas kalau begini, apa gunanya mengajak Savier untuk belajar bersama kalau dirinya sendiri sudah pintar?.
Savier melirik buku milik Lesya. Buku itu tampak sering digunakan, terbukti dari adanya berbagai coretan di setiap sisinya, dan di halaman selanjutnya, ada banyak tempelan kertas.
Ini bukan kali pertama dia belajar bersama dengan Lesya. Satu atau dua minggu sebelum ujian dimulai mereka berdua akan belajar bersama.
"Lesya, kau sudah selesai?."
"Ya. Tapi kupikir Savier, ada kesalahan disini."
"Ya? Dimana?."
"Coba kau lihat di kertas ini."
Pemuda berusia enam belas tahun itu memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit melorot dan mulai mencari kesalahannya di lembaran berisi soal tadi.
__ADS_1
"Yang bisa menyelesaikan soal ini, akan diberikan hadiah....tunggu, kapan aku menulis ini?."
Lesya menopang dagunya dan menatap Savier yang masih bertanya-tanya. "Yah, kau harus memberiku hadiah."
Savier menghela napas. "Kau lapar ya?. Kau pasti lapar kan?. Simpan pulpenmu dan mari kita pergi makan sebentar. Kau tidak bisa belajar dengan nyaman kalau cacing-cacing di perutmu itu memberontak."
Lesya mengangguk. Keduanya memutuskan untuk pergi membeli beberapa makanan ringan di minimarket, tentunya setelah meminta izin kepada guru karena mereka masih berada didalam lingkungan sekolah.
"Tidakkah kau merasa kalau cuaca hari ini sedikit panas, Savier?."
"Baiklah baiklah, kita akan membeli minuman dingin."
"Kau yang terbaik Savier."
Keduanya mengambil barang yang dibutuhkan dengan cepat lalu membawanya ke kasir.
Niatnya sih, hanya beberapa barang. Tetapi begitu keluar dari minimarket, 'beberapa' barang itu menjelma menjadi dua tas plastik sedang. Benar-benar diluar perkiraan.
"Kau tidak lupa kan kalau kau sedang berbelanja dengan siapa?."
Oh ya, dirinya bersama-sama dengan Lesya. Gadis yang menjabat sebagai ketua OSIS itu memiliki porsi makan yang sedikit berbeda dengan dirinya. Harusnya dua tas plastik sedang bukan apa-apa baginya.
Begitu mereka berdua sampai didepan ruang kelas, mereka melihat Kenzo. Rambut yang acak-acakkan, kemeja yang kusut, penampilan Kenzo benar-benar berbeda dari biasanya.
Savier mengangguk. "Zeline kan tidak masuk sekolah."
Dari raut wajahnya, Savier dapat menebak kalau Lesya lupa bahwa Zeline tidak bersama-sama dengan mereka sejak beberapa hari yang lalu.
"Kau tidak mendapat info apapun Lesya?"
Si surai merah muda itu menggeleng. "Biasanya, ketua-ketua kelas akan mengirim laporan harian tentang kelasnya masing-masing. Aku baru ingat kalau kelasnya Zeline belum mengirim laporan apapun kepadaku."
Savier mengangguk. "Bagaimana kalau kita pergi mengunjunginya?."
"Ide yang bagus Savier. Tapi kapan?," tanyanya. Tentunya bukan ide yang bagus kalau mereka tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk mengunjungi Zeline.
"Hari ini? Ah jangan. Besok saja bagaimana?."
"Oke, aku akan menyampaikan hal ini kepada yang lainnya. Kau mau ikut Savier?."
Pemuda itu tampak bingung. "Memangnya mereka dimana?."
Lesya tersenyum. "Mereka berada di perpustakaan, sedang belajar karena nilai mereka merah semua."
__ADS_1
Savier tersenyum miris. Untung nilainya masih selamat dan tidak sampai berubah menjadi merah. Yah, tanpa disebutkan namanya pun dirinya tahu, siapa saja yang ada di perpustakaan untuk memperbaiki nilai.
Keduanya berjalan menuju perpustakaan, tentunya dengan dua tas plastik sedang yang masih dipegang. Sepertinya mereka berdua memegang tas itu tanpa menyadari apa yang dipegang.
Begitu mereka berdua sampai didepan pintu perpustakaan, barulah mereka sadar akan keberadaan dari tas berisi berbagai makanan ringan dan minuman dingin itu masih dipegang.
Savier menatap Lesya, ingin memberi tahu kalau gadis itu bisa masuk kedalam, dan dirinya akan menunggu diluar sembari memegang dua tas itu, namun dia kalah cepat dengan Lesya.
Gadis itu langsung masuk tanpa permisi, tidak melihat apakah ada penjaga atau tidak, dan langsung mencari keberadaan dari teman-temannya.
Savier masuk dan berjalan dengan langkah yang bisa dibilang sedikit aneh. Ya, pemuda itu berusaha untuk menyembunyikan tas berisi makanan itu agar tidak ketahuan oleh penjaga.
Andreas adalah orang yang pertama menyadari keberadaan Lesya dan Savier. Dia tidak menyadari akan tas itu dan langsung menanyakan tentang Kenzo.
"Kalian berdua, lihat Kenzo tidak? Daritadi aku menunggunya karena ingin belajar bersama, tapi dia tidak kembali."
Lesya meletakkan tas itu keatas meja perpustakaan. Beruntungnya mereka, tidak ada penjaga disana. "Tadi aku dan Savier melihatnya. Tampilannya bukan Kenzo banget."
Savier melakukan hal yang sama seperti Lesya, kemudian mencari tempat duduk yang nyaman alias didekat gadis itu sendiri. "Ya, hanya kalian berdua yang belajar bersama disini?."
Andreas menggeleng, kemudian menunjuk yang lainnya dengan dagunya. "Mereka disana, sedang belajar pelajaran yang lain."
Karena tidak ada penjaga dan kebetulan hanya teman-temannya yang berada didalam perpustakaan itu, Lesya tak ragu untuk memanggil mereka semua agar berkumpul didekatnya.
"Baiklah, kalian sedang belajar kan?. Aku ingin menyampaikan kalau besok, kita semua akan pergi mengunjungi Zeline. Kuharap kita mendapat izin," ucapnya dengan nada yang pelan di akhir kata.
"Aku, aku ikut!"
Semua yang tadinya sedang mendengar penyampaian dari Lesya, sontak langsung mengalihkan pandangan kearah pintu perpustakaan.
Disana, Kenzo tengah berdiri sembari memegang beberapa botol air minum.
Lesya menahan tawa. "Ya Kenzo, kau memang akan ikut. Dan lagi, kenapa kau membawa banyak botol air minum?..."
"Aku haus dan kebetulan Andreas juga haus. Jadinya beli banyak."
"Sultan," ucap mereka bersamaan.
Lesya melirik buku yang dipegang Andreas ketika matanya tidak sengaja melihat tas yang dibawanya tadi.
"Oh! Ayo kita pindah ke ruang OSIS. Tadi, aku dan Savier pergi membeli beberapa makanan ringan dan minuman dingin," usulnya, kemudian pergi mengambil tas itu dan berjalan menuju pintu keluar. "Ayo semua!."
Mereka semua mengikuti Lesya menuju pintu keluar, sedangkan Savier terdiam di tempatnya. "Amm, kapan kita mulai belajar?..."
__ADS_1