Patency

Patency
Bab 4, Kita yang bersama.


__ADS_3

Berjalan menuju penginapan dengan langkah gontai karena matahari sangat bersemangat, Lesya masih belum bisa melupakan mimpinya yang tadi.


"Anak-anak!."


Melihat ke depan,nampak seorang guru yang mengajar di sekolah mereka tengah melambaikan tangannya dengan semangat sampai rasanya mungkin akan patah.


"Kesini!" Sepuluh orang yang berpartisipasi dalam OSIS itu mendekat, mencari tahu apa yang ingin dikatakan guru tersebut.


"Ah, kalian sudah menemukan penginapan?" tanyanya dengan lembut.


Andreas mengangguk setengah ragu-ragu," Ya..sepertinya? Hehe." Kaila merotasikan matanya dengan cepat sembari menghela napas.


Lesya tersenyum, kemudian guru tersebut mengangguk, menandakan bahwa dia mengerti. "Bagaimana kalau kalian menginap di rumah saya? Kebetulan, saya tidak akan berada di rumah selama beberapa hari kedepan."


Lesya tertegun. Menyadarkan diri dari situasi yang tidak diketahuinya, Lesya tersenyum menanggapi ajakan guru tersebut. "Terima kasih bu, kami akan menghubungi guru yang berada di penginapan sana."


Guru tersebut sekali lagi mengangguk, kemudian berjalan menjauh. Andreas menatapnya tak percaya, yang kemudian dipukul oleh Kaila, lagi.


"Kenapa kau berkata seperti itu Lesya?," tanya Zeline sembari melihat ke arah gadis bersurai pink itu. Menanggapi Zeline, Lesya tidak bersuara lebih, dia hanya tersenyum. "Tidak apa, mari kita pergi ke penginapan terlebih dahulu."


[□][□][□]


"Ah, Pak Ryan!."


Perlahan tapi pasti, yang dipanggil menoleh ke belakang, berusaha mencari tahu siapa yang memanggilnya. "Ah, Bu Monic. Ada apa memanggil saya?."


Monic, salah satu guru di SMA Saint's Peterson, tengah berdiri di hadapannya, dia, guru yang mendapat julukan guru es karena sifatnya yang kaku dan juga tutur katanya yang cenderung singkat nan padat. Sifat mereka berdua yang cenderung berbeda, sempat digadang-gadang akan menjadi pasangan yang keren oleh beberapa siswa dan guru yang ada. Tapi ya, tidak ditanggapi oleh guru es itu, dan dianggap sebagai candaan oleh Monic.


"Ah, kenapa anda belum pergi?."


Menatap sepatunya sendiri, Ryan, guru yang mendapat julukan es itu terdiam. Sebenarnya dia mau berangkat bersama-sama dengan siswa tadi, tapi yah.


"Saya salah menyetel alarm. Harusnya jam 7 pagi, bukan jam 10."


"Pfft--."


Berdeham untuk menetralkan dirinya sendiri, nyatanya Monic tidak bisa menahan tawa. Bersandar pada dinding disampingnya, Monic terus tertawa ketika Ryan terus menatapnya dengan datar. Benar-benar tidak merasa terganggu dengan tawa Monic yang sedikit menggelegar.


"Ah. Maafkan saya. Tapi sungguh, itu sangat pfft-- kasihan."


Ryan terus menatapnya. Monic berdeham. Perutnya sedikit sakit karena dia terus tertawa. "Bagaimana kalau kita pergi sekarang? Saya rasa, mereka menunggu kita."

__ADS_1


Ryan menatapnya dengan tatapan yang bertanya-tanya. "Mereka? Siapa?." Monic tersenyum kepadanya sebelum menjawab. "Anggota OSIS."


.


.


.


.


.


"Wah."


Ungkapan rasa kagum terus menerus terdengar. Lesya dan beberapa anggota OSIS inti lainnya masih berada di penginapan, sedang berbicara dengan kepala sekolah. Sedangkan sisanya?. Ya betul, disinilah mereka. Melihat rumah yang ditawari oleh guru tadi.


"Rumahnya, tidak kecil juga tidak besar. Sedang!," ujar Adelle dengan semangat.


Adriell menatapnya sembari tersenyum kecil. "Lihat lihat! Bahkan dibelakang rumahnya ada taman taman mini gitu!," ujar Andreas dengan penuh semangat.


Savier mengangguk, " Mau bagaimanapun, rumah ini betul-betul kelihatan nyaman."


Aerylin menatap dengan malas. " Yang kelihatan nyaman belum tentu betulan nyaman. Dan lagi, kenapa Lesya lama sekali?."


Kenzo mengangguk membenarkan. "Padahal hanya rumah, kenapa sih," sungutnya tak terima.


Zeline menatapnya kemudian tersenyum kecil. "Sudahlah. Tidak apa, yang penting sudah selesai. Mari kita masuk ke dalam dan mulai merapikan barang-barang kita."


Hari mulai gelap ketika Monic dan Ryan tiba di penginapan. Menatap langit, Monic menghela napas. Ryan baru saja menurunkan tas miliknya dan Monic ketika empunya tas yang satunya lagi masih setia menatap langit. "Kalau anda tetap berdiri disini, anda bisa sakit dan itu akan menyusahkan saya. Tolong jaga kesehatan anda."


Jas yang tadinya berada di dalam mobil kini berada di bahunya. Kaget karena ada sesuatu di bahunya, Monic dengan cepat berbalik untuk mencari keberadaan pemilik jas tersebut. "Anda tidak perlu repot-- ah, dia sudah pergi duluan. Aku ditinggal."


" Hm? Saya tidak meninggalkan anda kok. Saya masih berada disini," ujarnya.


Mengusap tangannya, Monic tersenyum sembari mencuri pandang. "Terima kasih."


Ryan mengangguk, kemudian mengangkat dua tas berbeda warna tersebut. "Ah! Tidak perlu membawakan tas itu. Saya bisa membawanya sendiri."


Melembutkan tatapannya, Ryan menggeleng pelan sembari mempertahankan tas yang dipegangnya. "Tidak perlu. Tangan anda akan sakit. Itu akan menyusahkan saya."


Aku tidak akan menyusahkanmu kok. Kau saja yang berlebihan, dasar es.

__ADS_1


Mengalah pada pria didepannya, Monic mengangguk. Ryan berjalan disampingnya.


Tangan hangat nan besar terasa di telapak tangannya. Tidak berani menatap sosok disampingnya, Monic membalas genggaman tangan tersebut. Ryan tersenyum kecil, kemudian kembali ke wajahnya yang datar seperti biasanya.


"Maaf. Saya pikir ini cara yang efektif agar anda tidak hilang di tengah kerumunan. Itu akan sangat merepotkan saya."


Senyum tetap terpatri indah di wajah Monic. Sungguh, rasanya dunia benar-benar sedang berbaik hati padanya.


"Jangan lepaskan dan terus pegang tangan saya."


***


"Hai anak-anak, gimana? Mau jalan-jalan?." Adelle tersenyum lebar sembari menatap teman-temannya. Surai merah sedikit terang itu tetap mempertahankan senyumnya yang lebar. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling, Adelle menutup matanya sebentar, kemudian membukanya kembali. "Mau bagaimanapun, rumah ini nyaman yah. Guru tadi benar-benar baik hati sampai mengizinkan kita untuk tinggal sementara disini."


Lesya yang baru saja membereskan barang-barangnya di lantai dua, kini bergabung dengan mereka di ruang tamu yang berada di lantai satu. "Oya, kalian mau pergi ke pasar malam?."


Adelle mengangguk. "Rencananya sih begitu. Ah, Lesya juga mau ikut?."


Aerylin melesat dengan kecepatan yang tak terhingga ketika mendengar kata pasar malam. "Aku, aku mau ke pantai dengan Beryhl."


Semuanya terdiam. Beryhl yang baru keluar dari kamar sontak kaget ketika melihat mereka semua kecuali Aerylin, menatapnya dengan tatapan 'ah, Beryhl-ku sudah dewasa'.


"A-ada apa ya?."


Lesya mengangguk. "Cinta anak muda ya~ semoga berhasil," ujarnya sembari tersenyum kecil dibalik telapak tangannya.


Kenzo menatapnya dengan geli. " Kau berbicara seakan-akan sudah tua. Gayamu sekali," ujarnya sembari menggeleng pelan.


"Jadi gimana? Jadi gak?."


Aerylin mengangguk. Andreas cemberut. "Ayo dong Kaila. Ya ya? Ya?." Yang ditanya tetap mempertahankan raut wajahnya.


"Sekali tidak ya tidak--."


"Disana ada snack keluaran terbaru lho~. Kudengar juga, katanya ada permainan yang jika kalian memenangkannya, kalian bisa membawa pulang hadiahnya~."


Kaila tertegun. Semuanya kecuali Lesya terdiam, sedangkan si pemilik netra berwarna biru itu tersenyum. Andreas tersenyum ketika netranya bertemu dengan netra kucing milik Lesya.


Sip, makasih Lesya- Andreas.


Aku menantikan berita yang baik ya~ - Lesya.

__ADS_1


Kan kalo menang emang bisa dibawa pulang...- Kaila


"Baiklah! Sudah diputuskan, kita akan pergi jalan-jalan!."


__ADS_2