Patency

Patency
Bab 20, Melihat sesuatu.


__ADS_3

[□][□][□]


"Padahal aku baru saja berkata untuk tidak terlibat dengan segala urusan ini, tapi tetap saja ..."


Surainya seakan menari di bawah sinar mentari. Dirinya yang dibalut dengan seragam SMA nampak berjalan dengan cepat memasuki area sekolah. Beberapa orang melihat dan menyapanya, sekedar memberi salam atau menanyakan kabar.


Pintu dibuka, seorang pemuda menatapnya dengan tatapan yang tidak dia mengerti. "Baiklah, apa yang terjadi kali ini?," tanyanya dengan nada yang sedikit berbeda.


Adelle, gadis yang berlarian sepanjang koridor itu mengangkat tangannya. Lesya mengangguk, dia mengerti kalau gadis itu ingin meminta waktu sebentar. Melirik ke sekitarnya, nampak beberapa susunan kertas yang menumpuk di atas mejanya.


Hah ... aku akan mengurusmu nanti, wahai kertas sialan.


"Jadi, semua bermula ketika aku dan Alfred sedang berbelanja di minimarket."


Ketika Adelle mulai menjelaskan kejadian tadi dengan rinci, Lesya sedikit tidak fokus. Gadis bersurai merah muda itu langsung menyela perkataan Adelle untuk meminta agar gadis itu menjelaskannya lagi dari awal.


"Maaf, penjelasanku terlalu cepat ya?."


Lesya menggeleng. "Tidak, aku tidak fokus, jadi aku memintamu untuk menjelaskannya kembali."


Begitu Adelle mengambil satu tarikan napas panjang, penjelasan yang super duper rinci langsung menyapa pendengaran Lesya. Dia mengangguk beberapa kali ditengah penjelasan Adelle, berusaha untuk mengingat semuanya dalam ingatannya, namun dicatat beberapa karena bahasanya menurut Lesya sangat bagus.


"Baiklah. Aku sudah mendengar ceritamu dan akan segera pergi. Oh, dan untukmu Alfred ... "


 


Pemuda itu diam saja daritadi, namun begitu Lesya memanggil namanya, sekujur tubuhnya nampak gemetar dengan wajah yang datar. Lesya menatapnya, berusaha untuk tidak tertawa. Bagaimanapun, wajahnya benar-benar lucu!.


[□][□][□]


"Sebelah sini."


"Hm, kau hebat juga menemukan tempat ini. Ah, kau pesan apa?, atau kau membawa makanan dari rumah?."


Aerylin menatap pemuda didepannya dengan kesal. "Satu-satu bisakan. Huft ... aku membeli dua bungkus roti, kemudian aku membawa makanan dari rumah. Ah, ini untukmu."


Berhyl menatap tak percaya kotak makan didepannya. "Ini untukku?, serius?, kok bisa?."


Aerylin mengangkat bahunya, menandakan kalau dia tidak tahu. Pemuda itu masih menatap kotak makan berwarna hitam itu dengan takjub. Dari tatapannya, Aerylin berani bertaruh kalau pemuda itu sedang berandai-andai apakah akan ada peri atau naga yang keluar dari kotak makan itu. Tentu saja, itu tidak akan pernah terjadi kecuali mereka sedang berada didalam mimpi. Jadi, gadis itu dengan cepat membuka kotak makan yang tadi dikeluarkannya, kemudian menyuruh Berhyl untuk lekas makan.


"Wah, ini enak sekali!," komentarnya usai berhasil menelan makanan. Pemuda itu makan dengan sangat lahap, sampai-sampai Aerylin berpikir, apakah seenak itu?.


Berhyl tidak sengaja mengangkat pandangannya dari makanan dan menemukan Aerylin yang menatapnya dengan datar, namun penuh antusias.


K-kok, tatapannya kayak mau sesuatu ya?.


Berhyl memberanikan diri untuk menawari gadis itu makanannya. "Ma-mau mencoba--"


"Hap."


"..."


Ternyata dia memang mau makanannya ...


Berhyl tersenyum. Dia menatap Aerylin yang tengah sibuk mengunyah makanannya, dengan wajah yang tentu saja datar. "Kenapa sih ekspresimu itu selalu datar?," tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Akwu twidak twahu."


"Yah, telan dulu makanannya."


Keduanya makan dengan lahap. Beberapa kali Aerylin mengambil makanan Berhyl dan pemuda itu hanya bisa tersenyum. Toh makanannnya dari gadis itu juga. Diambil sedikit rasanya tidak apa-apa.


Tepat ketika mereka berdua menutup kotak makannya masing-masing, gadis bersurai merah muda berjalan melewati mereka. Berhyl yang pertama kali melihat Lesya, langsung berkata kepada Aerylin, bukankah itu Lesya?


"Oh, benar. Tapi kenapa dia terlihat buru-buru begitu?."


 


 


[□][□][□]


"Cepat, cepat ... aku harus cepat ..."


Tak dihiraukannya sapaan dari beberapa orang yang dilewatinya. Fokusnya kali ini adalah tempat itu. Dia harus pergi kesana, secepat mungkin yang dia bisa.


"Terima kasih telah berbelanja."


Pria itu tersenyum. Cuaca yang sangat indah, makanan yang ada di tangan, bukankah ini sangat sempurna?.


"Ah, bibi!, makanan ringannya sudah masuk belum?!."


"Astaga kaget."


Didepan sana, seorang gadis yang memakai seragam SMA sedang berbicara dengan wanita penjaga kasir. Keduanya berbincang cukup singkat, kemudian gadis itu berlari menuju ke tempat bagian makanan, dan kembali dengan setumpuk makanan ringan rasa rumput laut dan, entahlah apa yang lainnya itu.


"Lesya?."


Guru itu, Raymond namanya, tersenyum sampai kedua matanya tertutup. "Ceria seperti biasanya ya, Lesya."


Gadis itu masih mempertahankan senyumnya. Dia berniat untuk membeli makanan ringan kesukaannya begitu benda itu masuk ke minimarket dekat sekolah, dan dia berhasil mendapatkannya. Lupakan sejenak masalah Alfred. Urusan perutnya jauh lebih penting. Sekarang gadis itu malah bertemu dengan gurunya di sini.


Benar-benar kebetulan yang mantap!


Matanya melirik tas belanja yang dipegang gurunya itu. Bukannya dia berniat untuk mencari tahu apa isinya tapi,


Tas plastiknya kok rada transparan ya?. Bukan salahku lho ya kalau aku tahu apa isinya.


"Lho? ... itukan ..."


Pria berkacamata itu hendak membuka tas yang dipegangnya ketika Lesya menatap dirinya dengan tatapan apa kau serius?


"A-ada apa ya, mmhm?," tanyanya dengan gugup. Gadis didepannya menatap dengan curiga. Itu membuatnya sedikit gugup, juga takut.


"Pak guru ...." Gadis itu mendekat, membuatnya mundur beberapa kali dan menabrak dinding minimarket dibelakangnya. Pria itu bisa merasakan kalau sekujur tubuhnya gemetar. Entahlah, padahal gadis didepannya tidak melakukan apapun, hanya maju beberapa kali dan berkata pak guru kepadanya.


Anda, mengambil cemilan yang salah."


"Eh?."


Lesya menghela napas. "Kutebak, pasti anda mengambil cemilan itu karena bungkusnya yang menarik, kan?."

__ADS_1


Guru itu tanpa sadar langsung mengangguk, membenarkan perkataan gadis bersurai merah muda itu. "Kalau anda tidak membacanya dengan teliti, anda bisa berada dalam keadaan berbahaya lho, coba lihat ini," ucapnya kemudian meminta izin dan mengambil cemilan yang dimaksud. Jarinya menunjuk tulisan yang berada di bagian depan.


"Mengandung ... kacang?--. He? Kacang?!."


Lesya mengangguk beberapa kali. "Bukankah anda alergi kacang?. Aku masih mengingatnya dengan jelas ketika anda memperkenalkan diri sebagai guru fisika yang baru di kelas dua."


Guru itu menghembuskan napasnya, kentara sekali kalau dia kecewa. "Padahal ini kelihatan enak ..."


"Yang kelihatan enak belum tentu enak."


Nampaknya guru itu benar-benar kecewa, pikirnya. Lihat, guru itu bahkan tidak bergerak sama sekali dari tempatnya sekarang. Lesya melirik jam tangannya. Dia masih mempunyai urusan dan harus pergi. "Pak guru, hey, anda mendengar suara saya?."


"Ah, ya. Saya bisa mendengar suaramu."


Lesya mengangguk. "Saya harus pergi sekarang. Cobalah untuk melihat cemilan lain yang tidak mengandung kacang. Aku yakin pasti ada. Anda hanya harus mencarinya lebih giat lagi," katanya, tak lupa tersenyum untuk meyakinkan guru didepannya yang masih murung.


 


 


[□][□][□]


Alfred menendang batu-batu kecil di hadapannya saat menyusuri jalanan. Dia tahu kalau dia harus pulang, tapi entah mengapa, dia ingin berjalan lebih jauh dari biasanya. Dia akan pulang, pasti. Dia hanya ingin pergi ke suatu tempat, entah dimana itu.


Matanya tidak sengaja menangkap pergerakan seorang wanita didepan sana. Mungkin, usianya sekitar lima puluh, atau dibawahnya?.


Wanita itu nampak kesusahan membawa dua tas belanja berukuran sedang ditangannya. Alfred masih diam ditempatnya, tidak berniat untuk maju atau mundur.


Kira-kira kalau ibu masih hidup, umurnya pasti seperti wanita itu kan?.


 


 


.


.


.


 


"Alfred dimana ya ..."


Dirumah, Alland menatap layar ponselnya dengan gelisah. Sudah jam lima sore dan adiknya belum pulang juga.


"Padahal, katanya tadi dia akan pulang cepat ... Sekarang ada dimana dia?."


Alland memutuskan untuk keluar dan mencari adiknya di sekitar rumah. Jika memang adiknya tidak ada sampai jam enam, maka dia akan mencarinya di tempat yang jangkauannya lebih luas.


"Oh, Lesya!."


Gadis itu berhenti dan menoleh ke belakang. Disana, Alland menatapnya dengan cemas. Yah, Lesya bisa menebaknya.


"Aku tidak tahu dimana adik kecilmu itu berada."

__ADS_1


Langkahnya terhenti. Dia menatap gadis itu dengan tatapan kecewa. Dia bahkan belum bertanya kenapa gadis itu bisa langsung menjawabnya?.


"Apakah kau yakin tidak melihatnya?," tanyanya dengan murung. Sungguh, dia benar-benar tidak tahu dimana adiknya berada. Lagipula, kemana adiknya sekarang?.


__ADS_2