
"Halo?"
Lesya mengangguk beberapa kali, tanda kalau dia paham akan ucapan dari orang di seberang sana.
"Kalau begitu, sepulang sekolah nanti aku akan kesana. Ya tidak apa-apa, baik."
"Ada masalah Lesya?"
Seorang pemuda dengan dasi yang berada di dalam genggaman itu masuk dengan langkah santai.
Dia mendudukkan diri di kursi yang tak jauh dari tempat Lesya berdiri, sedikit menatap si gadis bersurai merah muda sebelum fokus kepada dasi yang dia pegang sedari tadi.
"Hanya panggilan biasa dari atasan di tempatku bekerja paruh waktu."
Adriell beberapa kali bergumam tak jelas sebagai tanda kalau dia mendengar ucapan Lesya.
Lesya memainkan ponselnya sejenak."Dasimu kenapa?"
"Aku terburu-buru dan tanpa sadar dasi yang sudah rapi ini tersangkut di gagang pintu. Untung aku tidak mati karena hampir tercekik dasi sendiri," keluh Adriell seraya melihat pantulan dirinya di ponsel Lesya yang tiba-tiba berada di depannya.
"Terima kasih, kau peka sekali."
Gadis itu tersenyum. "Peka adalah nama tengahku, haha."
"Jam pertama siapa?"
"Hm, entahlah? Sepertinya Pak Raymond."
Adriel menaikkan satu alisnya. "Kok sepertinya?"
Lesya mengangkat kedua bahu, tanda kalau dia tidak tahu. "Aku hanya asal menjawab. Mana tahu betul dia yang masuk di jam pertama."
"Oh, kalian berdua cepat sekali."
"Adriell, lihat tugasmu dong."
__ADS_1
Di pintu masuk, berdiri Aerylin dan Andreas. Penampilan keduanya terlihat sangat kontras, dimana Aerylin yang sangat rapi lengkap dengan dasi dan Andreas yang jauh dari kata rapi.
"Kancingkan dulu kemejamu itu," tegur Lesya merasa gemas. Saking gemasnya sampai-sampai rasanya dia ingin memukul pemuda itu karena tidak memakai seragam dengan baik.
"Ngode Kaila ya? Sayangnya Kaila belum datang," tebak Kenzo dari belakang, disusul Zeline dan Adelle.
"Selamat pagi Lesya," sapa Zeline dan diikuti Adelle. Keduanya memilih untuk duduk di kelas Lesya terlebih dahulu sebelum pergi ke kelas mereka di sebelah.
Lesya tersenyum dan mengangguk. "Pagi Zeline, pagi Adelle."
Usai memperbaiki kemeja, Andreas mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas Lesya. "Kaila mana?"
"Mungkin masih di jalan. Dan kau Andreas, kemarin piketmu dan kau tidak bertugas kan? Cepat bantu aku."
Mereka yang berada di dalam kelas hanya bisa menggelengkan kepala melihat Andreas yang bersikeras tidak mau pergi dan Berhyl yang terus menyeret pemuda itu agar pergi bersama-sama dengan dia ke kelas mereka yang berada di paling ujung.
"Tidak biasanya Kaila terlambat, iya kan Lesya?"
"Maklum, Kaila juga manusia biasa. Wajar kalau dia terlambat," sahut Aerylin yang sedari tadi sibuk dengan game di ponselnya, sedikit mewakili Lesya karena gadis bersurai merah muda itu nampaknya tidak mendengar pertanyaan Adelle.
Lesya mengalihkan atensinya begitu suara dari luar masuk ke dalam gendang telinganya. "Bunyi apa itu?"
Memutuskan keluar agar tidak penasaran terlalu lama, enam orang itu dikejutkan dengan tampilan Savier yang berusaha menahan Kaila.
Di depan sana, beberapa orang berkerumun dan ada mobil yang nampaknya siap jalan.
"Bawa dia kesini Savier," ucap Lesya dan langsung menangkap Kaila yang hampir jatuh begitu jarak keduanya mulai dekat.
"Kau kenapa--"
Pertanyaan Adelle terpotong begitu saja saat Savier menunjuk kerumunan di depan dan memberi gesture agar mereka tidak bertanya lebih kepada gadis bersurai biru itu.
Mereka mengangguk paham, dan langsung masuk ke dalam.
Savier mendekat kepada Lesya dan membisikkan sesuatu kepada gadis itu.
__ADS_1
Si gadis bersurai merah muda mengangguk paham, kemudian membiarkan Adelle dan Zeline yang membantu Kaila menuju kelas.
...🥀🥀🥀...
"Kaila?"
"Kakak sudah pergi ke sekolah Ibu."
Wanita itu menatap Dio dengan cemas. "Kakakmu meninggalkan ponselnya di atas meja makan. Tidak biasanya dia begini."
Emma yang baru keluar kamar pun ikut dalam pembicaraan tersebut. Dia meyakinkan sang ibu bahwa kakaknya hanya lupa dan tidak ada sesuatu yang harus di khawatirkan oleh wanita itu.
"Emma benar Ibu. Kakak pasti hanya lupa. Biar Dio antarkan ponsel itu," tawarnya kepada sang ibu yang makin menatap cemas ke arahnya.
"Nanti Dio tersesat," ungkap sang ibu dan mengundang helaan napas dari Emma.
"Ibu, Dio ini sudah SMP. Yang patut dikhawatirkan itu aku karena aku ahlinya tersesat," bangga Emma dan mengundang gelak tawa dari Dio dan ibunya.
"Baiklah, ibu harap di perjalanan nanti Dio tidak apa-apa dan ponsel ini bisa sampai dengan aman," harap wanita itu seraya memberikan ponsel dan mengecup singkat dahi sang anak.
Usai mengucapkan salam dan keluar dari rumah, sang ibu yang baru sadar menatap penuh tanda tanya kepada Emma.
"Kalian berdua tidak sekolah?" Yang ditanya menggeleng penuh semangat. "Kalau aku, guru-gurunya sedang rapat jadi libur," ujarnya kemudian menaruh jari telunjuk di dagu, berpose serius seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.
"Kalau Dio sih ... kalau tidak salah ya Ibu, sekolahnya Dio ada kegiatan apa gitu, aku tidak tahu. Yang kudengar dari Dio hanya itu," sambungnya dan menatap ke arah sang ibu yang mengangguk beberapa kali.
"Kalau Kaila tahu kalian berdua libur, bisa-bisa dia merengek seharian penuh karena hanya dia yang pergi sekolah."
Emma menggeleng mendengar ucapan sang ibu. "Kakak sangat kekanak-kanakan."
"Meskipun begitu, dia adalah kakak kalian," celetuk sang ibu.
Gadis kecil itu mengangguk. "Dia adalah kakakku, aku bangga padanya dan aku sangat senang memiliki keluarga ini."
Sang ibu tersenyum, hati kecilnya tersentuh dengan ucapan Emma.
__ADS_1
Mengetahui kalau seseorang sangat senang berada di dalam keluarga yang sama membuat wanita itu hampir menangis saking terharunya.