
[□][□][□]
Kuyakin kalian mulai bosan dengan segala kisah antar murid. Jika benar, maka aku mempunyai kabar baik. Aku akan menyoroti hubungan antar dua guru kesayangan siswa-siswi SMA Saint's Peterson, dimana kisah asmara mereka belum menemukan titik terang.
Pagi ini cuacanya sedikit bagus. Matahari bersinar dengan sangat baik dan cukup panas, tapi tak apa. Itu baik untuk penyembuhannya. Penyembuhan?
Ryan diserang penyakit pasangan, istilah dari dirinya sendiri untuk penyakit yang namanya demam. Kenapa penyakit pasangan?. Kalian bertanya-tanya bukan?.
Itu semua karena Ryan. Pria itu berkata, demam adalah penyakit yang selalu menyerang mereka yang memiliki pasangan. Alasan pemilihan istilah itu simpel. Kalau demam, pasti pasangannya akan menjenguk kekasihnya yang sakit kan?. Disitulah masalahnya. Ryan tidak memiliki kekasih, lantas kenapa dia terserang demam?.
Mungkin, demam mengakibatkan sel-sel didalam otaknya sedikit tidak berfungsi. Jika dia paham betul penyebab demam, dia tidak akan menyebut demam dengan istilah penyakit pasangan.
Aneh betul guru yang satu ini.
Tentu saja sebagai siswa sekaligus ketua OSIS yang baik, lagi-lagi Lesya mengusulkan agar mereka semua pergi mengunjungi guru mereka yang tersayang itu. Tapi kali ini, mereka berniat mengajak salah seorang lagi. Kalian bisa menebaknya?.
Ya, tentu saja Kepala sekolah. Gak deng, canda. Tentu saja tak lain dan tak bukan ialah Monic.
Guru yang entahlah menaruh rasa apa tidak ke Ryan itu terkejut ketika dirinya didatangi sepuluh murid, dimana sepuluh murid itu ialah anggota OSIS.
Sedikit terbesit di benaknya kalau sepuluh murid ini datang ke ruang guru dengan tujuan tentang OSIS.
Sayang baginya karena tebakannya salah. Monic mengangguk beberapa kali. "Jadi, pak Ryan sakit dan kalian ingin menjenguknya, kemudian mengajak saya?," tanyanya yang diangguki oleh Lesya.
"Kenapa harus saya?. Kenapa tidak dengan guru yang lain?."
Lesya menatapnya. "Anda pembina OSIS kan?. Pak Ryan dengan Bu Monic adalah pembina OSIS, bukankah baik kalau ibu juga ikut menjenguknya?. Kan, yang menjenguk pak Ryan kali ini adalah anggota OSIS. Wajar kalau ibu juga ikut," jelasnya panjang lebar, tak lupa tersenyum di akhir kalimatnya.
Gadis bersurai merah muda itu sadar betul bahwa guru didepan mereka tidak mau atau tidak siap untuk pergi menemui Ryan. Entahlah, mari kita lihat apakah kekuatan cinta milik Lesya mampu memberi terang kepada hubungan mereka.
"Kaila, pulang ini piket kan? Jangan lari ya sialan."
Oh, kita melupakan Kaila dan Andreas. Keduanya resmi pacaran. Selain Kaila, Andreas dan Lesya, tujuh orang lainnya tidak tahu. Bahkan Zeline yang terkenal akan kepekaannya pun, tidak menyadari hal itu.
Kembali lagi kepada Lesya. Dialah yang membuka pintu menuju atap saat istirahat. Saat Kaila memintanya untuk pergi bersama ke toilet, disaat itulah Lesya mengingat kalau salah satu kelas di kelas satu akan mengadakan drama. Dengan cepat gadis itu pergi ke atap, meninggalkan Kaila. Dan kalian tahu kelanjutannya.
Monic berdeham untuk menetralkan suasana. "Y-ya, kalau begitu ... kita berkumpul lagi usai pulang sekolah, didepan gerbang, ya?."
Usai menyampaikan perihal jenguk-menjenguk, mereka pun undur diri dan berjalan menuju kelas masing-masing, mengingat jam istirahat hampir habis.
Lesya tidak sengaja mengingat kejadian yang sedikit menggelikan sehingga dia tertawa sendiri. Adelle yang berada paling dekat dengan gadis bersurai merah muda itu bertanya, kenapa dia tertawa?
"Maaf maaf, aku hanya--hmpfft--mengingat kejadian lucu minggu kemarin."
[□][□][□]
Satu minggu sebelumnya<<<
"Anda ingin meminta saran?."
Lesya sedikit terkejut ketika mendapati Ryan, guru mereka, memasuki ruang OSIS dengan alasan yang sangat tidak masuk akal. Pria itu hendak meminta saran kepada ketua OSIS itu.
Lesya menyanggupi permintaan itu, karena dipikirnya, mungkin saran yang berkaitan dengan kegiatan sekolah atau semacamnya kan?. Memang untuk apalagi seorang guru datang mencari ketua OSIS?.
Lesya sedikit menaikkan alisnya. "Lantas, saran apa yang ingin minta dari saya?."
__ADS_1
Ryan melihat kanan kirinya. "Y-ya ..."
Lesya menunggu perkataan yang akan keluar dari gurunya. Jika tebakannya benar, mungkin ini berkaitan dengan masalah percintaan.
Entah apa yang merasuki pikirannya sampai datang meminta saran. Jika benar tentang percin--
"Bagaimana cara menyatakan perasaan?."
Lesya tersenyum sampai kedua matanya tertutup. Kan, apa kubilang. Lantas, bagaimana caranya dia memberi saran kepada es batu yang menyamar menjadi guru?.
"Baiklah pak Ryan, dengarkan aku."
Dan selama satu jam kedepan, Ryan mendengarkan dengan penuh harap, segala perkataan yang keluar dari mulut gadis bersurai merah muda itu.
"Baiklah. Aku sudah mengerti. Terima kasih ya Lesya. Aku permisi."
Lesya menatap kepergian gurunya itu sembari memainkan payung berwarna biru gelap. "Dia meninggalkan payungnya kan?. Kalau begitu harusnya rencana ini berhasil."
[□][□][□]
Dan itulah penyebab Ryan terserang penyakit pasangan.
Semua itu, karena Lesya. Entah Ryan mendapat pencerahan darimana dan datang menemui gadis itu untuk meminta saran. Tidak tahukah dia bahwa gadis yang memiliki sejuta saran dan rencana itu tidak memiliki pasangan?.
Aerylin, gadis yang tidak pernah mengeluh itu menatap ke arah sekolah. "Dimana Bu Monic?. Kenapa dia belum datang juga?," tanyanya penasaran. Hari mulai sore dan mereka masih harus pergi mengunjungi Ryan disana.
Lesya menatap layar ponselnya. "Yah, mari berdoa semoga dia lekas datang."
Aku juga harus pergi bekerja..
Kaila melirik Kenzo. "Bukankah kau pergi bekerja hari ini?."
Kaila menggeleng. "Aku nanti besok."
Yang dinanti pun menunjukkan dirinya. Monic berjalan dengan cepat sembari melambaikan tangannya beberapa kali.
Lesya tersenyum simpul. "Yap, itu dia."
Monic sampai dihadapan mereka dengan terengah-engah. "Maaf, hah--tadi ada rapat dan aku lupa."
Mereka menggeleng pelan, menandakan kalau tidak apa-apa. "Jadi, bisa kita pergi sekarang?." Pertanyaan Aerylin diangguki dengan cepat oleh Lesya.
"Aku penasaran dengan rumah pak Ryan. Apakah jauh, atau dekat?. Atau tidak dua-duanya?."
Zeline terus bertanya kepada Kenzo, dan pemuda itu menjawabnya dengan sabar dan tenang. Gadis cantik itu nampaknya sangat penasaran dengan rumah guru mereka. Terbukti dari tadi, selama perjalanan menuju kesana, hanya suaranya dan Kenzo yang terdengar.
Suara Monic menghentikan mereka semua. "Kita sudah sampai, anak-anak. Ini rumahnya."
Lesya menatap rumah didepannya dengan datar. Dia tidak sebodoh itu. Gadis itu tahu dengan pasti kalau Monic tinggal didepan rumah ini. Atau kata lainnya, mereka berdua tetanggan, tapi sikapnya seakan-akan mereka tidak saling mengenal dan hanya menjalankan tugasnya sebagai guru.
"Pak Ryan tahu?."
Lesya mengangguk sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan Adelle. Mana mungkin dia berani mengajak mereka semua untuk menjenguk Ryan kalau pria itu tidak tahu.
Hanya saja, dia tidak tahu kalau Monic ikut bersama-sama dengan mereka.
Hitung-hitung, supaya rencananya Ryan berhasil kan?.
__ADS_1
Pintu dibuka, menarik atensi mereka bersepuluh yang ada diluar tanpa sadar. Seperti dugaan Lesya, pria itu tidak terkejut ketika mendapati sepuluh anak didiknya berada didepan rumahnya. Tapi begitu dia melihat kesamping, terkejutlah dia, karena sang pujaan hati ternyata bersama-sama dengan mereka.
Ryan menatap Lesya dengan penuh harap. Tatapannya seakan-akan berkata, apa ini? Kenapa dia ada disini?.
Lesya mengabaikan itu dan melangkah kedepan. "Selamat sore, Pak Ryan. Apakah anda merasa lebih baik?," tanyanya, tak lupa memasang senyum.
Ryan menatap dengan datar. "Ya, aku sudah sembuh."
"Oh, anda sudah sembuh?."
Pertanyaan Monic membuat Ryan salah tingkah. Dia hanya ingin membalas Lesya dengan berkata seperti itu, dan dia lupa kalau Monic juga ada bersama-sama dengan dia.
"Ti-tidak, bukan begitu maksudku..."
"Bisakah kita masuk?." Itu Aerylin. Entah kenapa, selalu dia yang bertanya dengan berani.
Ryan mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam rumahnya.
"Maaf, aku benar-benar tidak menyiapkan apapun untuk kalian," sesalnya begitu mereka duduk.
Zeline mengibaskan tangannya. "Tidak apa-apa. Kami membawa minuman dan makanan sendiri."
Monic dan Ryan saling menatap, heran. "Minuman ... sendiri?."
Lesya mengangguk. Dia dan teman-temannya melakukan hal yang sama, yakni mengeluarkan beberapa benda dari dalam tas mereka.
Diantaranya ialah, beberapa minuman dingin dan tentu saja makanan ringan.
Ryan menggeleng. "Hah ... aku tidak bisa berkata-kata."
Monic menatap anak didiknya, tak percaya kalau mereka bersepuluh membawa makanan dalam tas sekolah mereka. Mana banyak lagi.
Lesya menepuk tangannya sekali. "Ah, aku lupa!. Aku harus membeli barang yang penting!," ucapnya, kemudian undur diri untuk pergi ke minimarket, dan berjanji akan segera kembali.
Teman-temannya yang lain pun melakukan hal yang sama, dengan berbagai alasan. Ada yang meminjam toilet, dan lain sebagainya.
Tinggalah Monic dan Ryan di ruang tamu. Keduanya disambut keheningan yang cukup lama. Baik Monic atau Ryan, keduanya tidak pandai untuk mencari topik perbincangan.
Berdeham untuk menetralkan perasaannya, Ryan mencoba untuk membuka keheningan yang melanda. "Apa, kau menyukainya?."
"Ya?. Menyukai apa?."
Bodoh bodoh bodoh!. Apa maksudnya?. Kenapa malah kata "menyukai" yang keluar?!.
"Ah, lupakan itu. Apakah anda benar-benar sudah sembuh, Pak Ryan?." Monic bertanya dengan hati-hati. Dia harus bisa mengendalikan, antara pekerjaan dan perasaannya sendiri. Dia tidak boleh melibatkan kedua hal itu secara bersamaan. Yang ada nanti, dirinya sendiri yang tidak tenang. Lagipula, meskipun dia menyukai pria didepannya, tidak ada hal yang bisa menjamin kalau pria itu juga menyukainya.
Tidak ada, karena dia pun pasti tidak menyukai dirinya. Karena itu, dia akan mencoba untuk mengendalikan perasaannya, dan mulai merelakan Ryan. Toh, pria itu tidak akan berbalik kepadanya.
Lesya yang melihat semua itu dari ponselnya hanya bisa menghela napas. Ya, gadis bersurai merah muda itu memasang kamera mini didepan tas sekolahnya, kemudian pergi keluar untuk memberi ruang kepada dua gurunya agar mereka nyaman. Tapi nampaknya, rencananya itu adalah pilihan yang buruk.
"Kalau seperti ini, bukan kedekatan yang menanti mereka, tapi perpisahan," gumamnya, kecewa dengan dirinya sendiri.
"Baiklah, mari melihat rencana Kaila."
Tentu saja, untuk masalah asmara dari kedua guru tersayang mereka, sepuluh murid itu tetap mengambil peran didalamnya. Seperti saat ini, Kaila bersiap untuk mematikan aliran listrik dirumah Ryan, dengan harapan agar keduanya bisa semakin dekat.
"Kalau rencana ini tidak berhasil, aku sangat berharap kepada Lesya."
__ADS_1
Duo gadis yang mengambil peran cukup besar itu nampaknya saling mengharapkan satu sama lain.
Apakah rencana mereka akan berhasil, atau malah sebaliknya?.