
Tas yang dia gunakan sepanjang hari ini dilempar sembarang, mengundang decakan dari seseorang yang sedang memegang pena.
"Bisa tidak, kau letakkan dengan baik tasmu itu?"
Tatapan sinis dilayangkannya kepada pemuda itu. "Urusanmu apa?" Kaki jenjangnya melangkah menuju kamar, meninggalkan seorang pemuda di ruang tamu tanpa sepatah kata pun.
Kedua alisnya menukik tajam. "Kalau saja dia tidak berpihak kepada gadis itu ...," gumamnya dengan suara pelan.
Kupastikan dia akan menyesal dan memperbaiki sikapnya.
...π₯π₯π₯...
"Nampaknya kesal sekali, ada apa?"
"Saudaraku. Saudara perempuan yang menginap di rumahku."
Lesya menatapnya dengan bingung. "Lalu? Kau ada masalah dengannya? Kau memukulnya atau dia yang memukulmu?"
"Aku tidak pernah membuat masalah apa pun dengannya."
"... terus?"
"Dia yang membuat masalah denganku."
Apa bedanya sinting, sama-sama bermasalah itu.
"Coba ceritakan," pinta gadis itu. Dengan gerakan cepat dia menarik kursi yang ada di dekatnya kemudian mempersilakan pemuda itu untuk duduk.
Kenzo menarik napasnya dalam-dalam sebelum bercerita. Beberapa kali dia hendak menyampaikan sesuatu sebelum akhirnya bilah bibir itu tertutup rapat.
"Kau niat cerita atau tidak sih?," sungut Lesya dengan kesal.
Dia menunggu pemuda itu untuk bercerita apa pun yang bisa meringankan masalah yang mungkin saja dia bawa ke sekolah, tapi apa yang dia terima hanyalah helaan napas diikuti bilah bibir yang terbuka dan tertutup.
Persis seperti ikan yang mau mati.
"Hm? Suara bising apa itu dari luar?..."
Kenzo yang berpikir kalau dia harus siaga karena dia adalah lelaki pun dengan spontan langsung berdiri dan berjalan menuju pintu dengan langkah yang nyaris tidak menimbulkan suara, membuat Lesya menatapnya dengan datar dari ujung sana.
Jalan biasa kan bisa Ken, sepatumu juga bukan tipe sepatu yang akan berbunyi seperti mengajak perang satu kelurahan begitu menginjak lantai.
"Suaranya makin bes---ADUH!"
Suara pintu yang menghantam kepala seseorang itu langsung menyita seluruh atensi Lesya.
"Loh kok bisa kau cium pintu!?"
Perempatan imajiner muncul di atas kepalanya. "YA MANA KU TAHU, INI JUGA SIAPA YANG DORONG PINTUNYA PAKAI KEKUATAN DALAM HA!? KEPALAKU DICIUM NIH!"
__ADS_1
Tepat setelah teriakan Kenzo yang begitu melengking berakhir, seorang gadis dengan surai sebahu pun menampakkan diri, diikuti seorang pemuda yang menatap dengan cemas.
"Maaf Kenzo, yang mana yang sakit?"
Kenzo menatap Berhyl dengan kesal. "Ini, ini nih yang sakit," keluh pemuda berkacamata itu seraya mengusap dengan pelan kepalanya.
"Sakit, huhu ..."
Aerylin mendorong (dengan sangat pelan. Ku ulangi, dengan sangat pelan) kepala Kenzo. "Lebay," ejeknya seraya melangkah masuk ke dalam.
Lesya tersenyum kikuk saat Kenzo menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca dan dengan bibir yang melengkung ke bawah.
Biasa aja tatapannya bro, jan bilang u mau nangis.
"Ngomong-ngomong," ucapnya dengan nada santai, "kalian berdua marahan?"
"Tidak," elak Berhyl dengan cepat namun masih lebih cepat Aerylin yang langsung mengangguk.
"Kenapa?," tanya Lesya lagi. Jarang kedua orang di depannya bertengkar, apalagi Aerylin menyukai Berhyl.
Pemuda yang datang bersama dengan gadis itu memilih bungkam.
Kilas balik satu hari yang laluΒ ...
"Aduh, pegal."
Berhyl menggeleng pelan. "Kau anak muda tapi kelakuannya seperti orang tua. Apa benar kau berusia 16 tahun?"
"Ulang tahunmu ... kapan?"
Mendapat pertanyaan secara random membuat Berhyl hampir tersedak air yang dibelinya tadi. "Kenapa kau menanyakan itu?"
Aerylin yang sedang melepas dasinya sontak menatap pemuda itu dengan datar seperti biasanya. "Salah ya? Maaf deh."
"Bukan begitu maksudku."
"Lalu?"
"Ya ... ini sangat mendadak dan tak seperti dirimu yang biasanya."
Gadis dengan surai sebahu itu tidak menyela perkataan Berhyl. Raut wajahnya terlihat sangat serius. "Jadi, maksudmu aku orangnya tidak peduli sekitar?"
"Lah? Kok kesitu pula pikiranmu ..."
"Lalu apa?"
Berhyl menghela napas dalam-dalam. Dia agak bingung dengan pertanyaan Aerylin. Atau lebih tepatnya, dia sangat terkejut karena gadis di sampingnya hampir tidak pernah berbasa-basi.
"17 April."
__ADS_1
Aerylin menatapnya. "17 April? Ulang tahunku juga--"
Gesekan antara ban dengan jalan spontan menyita atensi mereka berdua. Aerylin yang lebih dulu melihat ke depan seketika tidak dapat berbicara selama beberapa detik.
Tempat yang tadinya sedikit sepi langsung ramai. Beberapa orang yang datang ada yang membantu, dan yang lainnya sekedar melihat apa yang terjadi dari dekat.
"B-Berhyl, ayo kita ban--"
Pemuda itu langsung menahan Aerylin dengan cara memegang pergelangan tangannya saat gadis itu hendak berlari ke depan sana. "Tidak usah," ucapnya dengan nada yang berbeda, seperti bukan dirinya sendiri.
"Apa?"
"Aku bilang tidak usah, kau tuli?"
Gadis itu sedikit menyeringai, berusaha menahan kesal yang teramat sangat. Aerylin menghela napas, lagipula di depan sana sudah ada beberapa orang yang menolong anak tadi. Harusnya sekarang dia tidak apa-apa. Dari kecelakaan tadi pun, sepertinya tidak terlalu parah.
"Baiklah, ayo pul--"
"Itu adikku. Kau tidak perlu ikut campur."
Tingkat kekesalan Aerylin pada hari itu langsung meningkat dengan sangat drastis.
Kembali ke masa kini ...
"Astaga, lalu anak itu bagaimana?"
"Aku pun tidak tahu, tapi sepertinya dia baik-baik saja." Dengan nada yang sengaja dibuat-buat, Aerylin berharap kalau pemuda disampingnya peka akan memberikan informasi tambahan atau apa pun tentang adiknya yang kemarin ditimpa musibah.
"Kau gila ya? Adikmu kecelakaan dan kau berangkat sekolah? Tidak kau pastikan dia baik-baik saja sebelum kesini?"
Berhyl merotasikan bola matanya dengan malas. "Untuk apa? Aku tidak harus melakukan hal itu. Lagipula dia dirawat oleh ibuku, harusnya dia sudah sembuh sekarang."
Aerylin langsung menoleh kepada gadis bersurai merah muda yang sedang menatap mereka semua dengan seksama. Dia berharap kalau Lesya bisa membantu pemuda yang berhasil membuatnya kesal sampai ingin memukulnya di tengah jalan.
"Kau seriusan tidak membantu adikmu Berhyl?"
Orang yang ditanya Lesya sedikit mengerutkan keningnya, nampak kalau dia sangat tidak suka dan ingin keluar dari topik itu secepat mungkin.
"Nampaknya kau tidak ingin berbicara. Aku tidak akan memaksamu karena itu juga masalah keluarga kan?"
Kenzo mengangguk. "Mari kita keluar dan pergi ke kelas masing-masing. Jam pertama akan dimulai beberapa menit lagi."
Tepat sebelum ketiga temannya itu menghilang dari pandangan, Lesya menangkan sorot mata Berhyl yang seakan-akan memanggil dirinya dalam diam.
Pintu ditutup, meninggalkan gadis dengan surai sepanjang punggung itu sendirian di dalam ruangan yang didominasi dengan warna putih.
Mengambil benda persegi yang daritadi sengaja dia letakkan di meja, gadis itu mulai menggeser layar dan mencari aplikasi yang ingin dia mainkan sebelum masuk ke kelas.
"Ah, ketemu."
__ADS_1
Kalian tahu apa yang dia cari di aplikasi dengan sejuta video dari berbagai belahan dunia? Ya betul. Seorang anak kecil dengan beruang.