Patency

Patency
Bab 13, Bayangan yang kuat.


__ADS_3

[□][□][□]


"Terima kasih sudah berbelanja"


Menjadi kebiasaan bagi Alland untuk pergi membeli sebotol air mineral terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.


Tubuhnya dia bawa menuju suatu tempat disana. Sebuah tempat yang menawarkan ketenangan baginya, namun juga menjadi kepedihan tersendiri kala ingatan itu datang membayanginya.


Alland duduk disamping makam itu sembari menatap langit.


Hari itu cerah tak berawan, cuaca yang sangat disukai Alland karena menurutnya, disaat seperti itu adalah saat dimana semua orang tidak akan sedih karena cuacanya sangat bagus.


Namun nyatanya, meskipun cuaca yang sangat disukainya itu muncul pada hari ini, suasana hatinya tidak senang sama sekali.


Alland masih mempertahankan posisinya. Dia duduk dan membiarkan angin menerpa pelan tubuhnya, sembari matanya terpejam sesaat.


"Ah, itu dia!"


Alland membuka matanya dengan cepat ketika sebuah suara menyapanya. Begitu matanya terbuka, yang pertama kali dilihatnya adalah sesuatu yang berdiri didepannya. Ketika Alland memastikan penglihatannya, barulah dia melihat dengan jelas, apa yang ada didepannya.


"Paman, dompetmu jatuh didepan sana. Ini, aku membawanya untukmu."


Alland tersenyum, malu dengan perbuatannya yang ceroboh. Bagaimana kalau dompetnya jatuh dan tidak kembali lagi kepadanya?


"Ah, siapa namamu nak? Terima kasih sebelumnya ya"


Anak itu tersenyum. "Sama-sama paman. Namaku Kenzo. Tolong lain kali untuk lebih hati-hati lagi. Saya permisi dulu."


Alland mengangguk. Pemuda itu tersenyum lagi dan undur diri dari tempat itu, meninggalkan Alland yang masih mempertahankan senyumannya.


"Lihat, aku hampir menghilangkan dompet ini. Kau masih ingat dompet ini?"


Alland bertanya, entah pada siapa. Tidak ada sautan, benar-benar hanya hembusan angin yang terdengar.


Meskipun begitu, Alland terus berbicara.


Apakah disana baik-baik saja? Apakah disana nyaman? Apakah semua kejadian itu tidak akan terjadi apabila dia tidak ikut naik kedalam bus bersama-sama dengan mereka?


[□][□][□]


"Mie instan untuk aku, minuman bersoda untuk Lesya, susu untuk Savier...tunggu. Dia masih mengonsumsi susu? Serius nih?."


Andreas menggeleng pelan mengingat dirinya melupakan kebiasaan Savier yang masih meminum susu. Katanya sih, bagus untuk pertumbuhan.


Andreas membawa keranjang belanjaannya menuju kasir ketika netranya tidak sengaja menangkap seorang gadis yang duduk sendiri diluar sana.


Dengan cepat pemuda itu melihat ke arah jam dinding, kemudian beralih ke penjaga kasir.


"Mbak, ini belanjaannya hitung dulu ya, saya mau keluar sebentar. Gak lama kok mbak. Mbak bisa lihat saya dari dalam sini."


Menyadari kalau wanita penjaga kasir itu tidak percaya padanya, Andreas meletakkan ponselnya dan berkata bahwa itu adalah jaminan bahwa dia akan segera kembali.


"Woy Kaila, ngapain disitu?!"

__ADS_1


Merasa bahwa dirinya dipanggil, dia pun berbalik dan mendapati wajah Andreas yang terkejut setengah hidup.


"Hehe, Aerylin tadi memintaku untuk mencoba rambut palsu ini dan-- ADAW!!"


"MEMANG TIADA OTAK KAU BERHYL! KENAPA PULA KAU DUDUK TERUS GAYANYA KEK KAILA!?"


"Permisi mbak, saya temannya kedua orang disana. Saya mau membayar belanjaan itu dan mengambil ponselnya," ucapnya sembari mengeluarkan sejumlah uang.


"O-oh...baiklah."


Aerylin keluar sembari membawa tas belanjaan di tangan kirinya, dan ponsel milik Andreas di tangan kanannya.


"Oi, ayo cepet. Lesya sama yang lainnya udah nunggu," ucapnya dengan nada datar, namun berhasil menghentikan kegiatan duo manusia yang kebodohannya merajalela itu.


Andreas mengangguk dan berjalan bersama-sama dengan mereka berdua, menuju sekolah.


"Weh, ponselku--"


"Ada. Tadi sekalian kuambil."


"Bodoh banget jadi manusia ndre."


[□][□][□]


Menjadi sedikit dingin ketika Alfred menginjakkan kakinya didalam rumah. Sembari mengedarkan pandangannya ke setiap sudut, dirinya tidak dapat menemukan Alland.


Ada dimana dia?


"Oh, telpon masuk."


"Halo?"


"Oh, halo Alfred."


Alfred sedikit menjauhkan ponselnya guna melihat siapa yang menelponnya. Nihil, tidak ada nama yang tertera, hanya barisan angka yang ada disana.


"Siapa ya?"


"Ini aku, Nalea. Maaf kalau aku menghubungimu secara tiba-tiba. Kau pasti terkejut."


Alfred mengangguk. Mendapat telpon tiba-tiba seperti ini memang mengejutkannya. Apalagi, ketika tadi dia sedikit melamun. Jantungnya seperti mau melompat saat mendengar nada deringnya sendiri.


"Jadi, ada apa kau menelponku malam-malam begini?"


Alfred yang ditemuinya secara langsung dan Alfred yang berada di telpon benar-benar berbeda. Nalea cukup memaklumi itu karena pasti, Alfred tidak tahu kalau dirinya akan menelpon.


"Ya, kau tahu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menemaniku kemarin. Kurasa aku belum mengucapkannya dengan benar."


Terdengar gumaman dari seberang sana. Alfred tidak mengatakan apapun, membuat Nalea berpikir kalau pemuda itu pasti merasa terganggu dengan dirinya yang tiba-tiba menelpon.


"Maaf, kau pasti mengantuk sekarang. Kalau begitu, kumatikan--"


"Jangan!"

__ADS_1


Alfred tanpa sadar sedikit meninggikan nada suaranya. Dia takut kalau Nalea langsung memutuskan sambungan telponnya secara sepihak, sedangkan dia belum mengatakan apa-apa.


"Am...oke. Apa ada yang mau kau katakan? Kupikir kau mengantuk jadi akan segera kumatikan."


Tidak ada sautan dari seberang. Nalea dengan sabar menunggu ucapan Alfred selanjutnya. Barangkali itu adalah hal yang penting kan?


"Ya. Sama-sama. Terima kasih."


Pip!


Nalea langsung menatap layar ponselnya. "Dia mematikan telponnya?! Serius?! Setelah aku menunggunya karena kukira ada yang penting?! Alfred!!!"


Sedangkan si pemuda di tempat yang jauh disana, memukul bantalnya beberapa kali karena terlalu senang.


Iya, senang karena gadis itu menelponnya, dan sedikit sedih karena dirinya gugup dan langsung memutuskan telponnya secara sepihak tanpa mendengar suara gadis itu lagi.


"Ah..padahal aku penasaran.."


[□][□][□]


Langkahnya tidak beraturan. Beberapa kali dirinya jatuh dan berdiri lagi. Alam seakan-akan melimpahkan seluruh air hujan kepadanya. Ya, sekujur tubuhnya basah dan dia pergi tanpa membawa kendaraan. Merasa bahwa rumahnya sudah dekat tidak membuat pria itu terus berjalan. Ada sebuah taman mini disana dan dia lebih memilih untuk pergi ke taman itu ketimbang berjalan sedikit lagi dan menginjakkan kakinya dirumah yang pastinya hangat.


Berbicara tentang sekujur tubuhnya yang basah, Alland merogoh kantung celananya dan mendapati kalau ponselnya tidak ada.


"Ah. Apakah ponselku ketinggalan? Kalau benar, aku harus kembali untuk mengambilnya," ucapnya, kemudian berdiri untuk pergi mengambil ponselnya, namun sedetik kemudian kembali duduk.


"Tidak, sepertinya ponselku ada dirumah. Toh, meskipun ponselku hilang, tidak akan ada yang menyadari hal itu. Tidak apa-apa. Aku bisa membelinya lagi dan semuanya akan kembali seperti semula."


[□][□][□]


Begitu matanya terbuka, hal pertama kali yang dilihatnya adalah langit-langit kamarnya sendiri.


"Bagus. Lain kali kalau mau pergi, tinggalkan semuanya dan tidak usah kembali lagi. "


Itu Alfred. Alland sangat mengenali suaranya dan kini dirinya sedang berbaring, di dalam kamarnya sendiri.


Alfred datang membawa air minum dan makanan, serta beberapa permen rasa cokelat.


"Kenapa harus permen?," tanyanya bingung.


Alfred berpikir sebentar. "Entahlah. Bukankah rasanya cukup manis?. Barangkali lidahmu terasa pahit."


Alland menatap bubur didepannya, tidak berniat untuk langsung memakannya karena tidak berselera.


Alfred langsung keluar dari kamarnya setelah memastikan semuanya ada di tempatnya.


Alland mencoba untuk mengingat bagaimana caranya dia bisa sampai ke rumah, namun dia tidak bisa mengingat kejadian itu.


Yang diingat adalah, dirinya sedang duduk di taman mini dan semuanya menjadi gelap. Kemudian ketika matanya terbuka, tahu-tahu dia sudah berada di dalam kamarnya sendiri.


Alland berhasil menghabiskan sepiring bubur dan tiga permen rasa cokelat. Seperti kata Alfred tentang lidahnya yang terasa pahit, kini sedikit membaik usai memakan permen itu.


Seharusnya sekarang dia sudah tidur, tapi pikirannya seakan-akan tidak memperbolehkan hal itu terjadi.

__ADS_1


Alland tidak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu, dimana semuanya terjadi dan dia menyalahkan dirinya sendiri akan segala hal.


__ADS_2